
Hari itu juga merupakan hari pertama Raline bekerja pada keluarga Ibra. Benar saja kata pak Totok tadi, Raline dtidak diperkenankan memakai pakaian formal, dia di suruh berganti pakaian kantor seperti wanita karir kebanyakan.
"Cepat pakai, kita berangkat sepuluh menit lagi." Ujar Leo asisten pribadi Kevin.
Raline segera bergegas memakai pakaiannya. sedikit merubah dandanannya, dan tatanan rambutnya.
haduuuh, aku paling anti sama high heels. Kenapa dia kasih aku ginian sih. Bodyguard mana yang pake high heels? ilmu belum sampai setinggi itu heeeiii tuan muda.
Raline tak menyentuh sepatu hak tinggi itu. Dia memang tak terbiasa mengenakan sepatu tinggi itu karna tak terbiasa.
Setelah selesai bersiap-siap. Raline keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ruang tengah dimana dia sudah di tunggu oleh ajudan yang lain.
Raline berkumpul bersama ajudan yang lain. Leo yang terkesima dengan kecantikan Raline tak berhenti menatap gadis bertubuh semampai itu.
"Maaf tuan?"
Sapaan Raline membuyarkan lamunan Leo. Seketika leo menjadi salah tingkah atas perbuatannya sendiri.
"eeehhemmm, emm pengumuman untuk semua. Perkenalkan ini Raline. Dia adalah lapisan terdalam. Jika ada yang membutuhkan sesuatu, hubungi Raline jika aku tidak ada di tempat." Leo membuat pengumuman pada semua ajudan kevin.
Raline makin di buat bingung oleh tingkah laku orang kaya, padahal sudah memiliki banyak ajudan, tapi dia masih saja menyewa bodyguard. Padahal, untuk membayar jasa Raline saja, mereka merogoh kocek sepuluh juta rupiah untuk satu bulan. Itu pun di luar hari lembur.
Tak lama berselang, Kevin keluar dari ruang makan bersama nyonya besar rumah tersebut.
"Kau sudah paham apa saja tugasmu Raline?" Tanya nyonya Lusi
"Ya, sudah nyonya"
"Baik, aku percayakan keselamatan anakku padamu."
Jantung Raline berpacu dua kali lipat lebih cepet dari biasanya. Tanpa sadar Raline memegang dadanya, seolah yang di dalam sana akan loncat keluar.
"Apa kau tidak memberi dia sepatu yang benar Leo?" Ucap Kevin membuat keadaan semakin tegang.
"Maaf tuan."
__ADS_1
"Tidak tuan, tuan Leo sudah memberikan saya high heels, tapi saya tidak bisa menggunakannya. Terlalu riskan jika saya menggunakan sepatu itu jika ada musuh." Penjelasan Raline membuat Kevin kehabisan kata. Karna ada benarnya juga yang di katakan gadis itu.
"Ma, aku harus berangkat sekarang." Kevin berpamitan pada mamanya. Dan jalan didepan membiarkan ajudannya mengikuti di belakang.
"Kau naik mobil dengan tuan muda dan aku Raline." Leo memberi titah saat Raline kebingungan mau menaiki mobil yang sebelah mana.
Raline mengambil sisi sebelah kanan bangku penumpang. Persis di belakang sopir.
Hanya ada keheningan saat mereka menuju kantor tempat Kevin bekerja. Tuan muda itu diam seribu bahasa. Sepertinya memang orang kaya tak pernah berasa basi dengan orang di sekitarnya.
Satu jam mereka menempuh perjalanan dari rumah hingga ke kantor. Akh, bukan rumah, tapi mansion karna hunian itu sangat besar.
Ya ampiuunn, tadi rumahnya, sekarang kantornya ini gede banget, tinggi pula. mabok ga nih naik liftnya?
Raline semakin takjub dengan kekayaan tuannya sekarang.
Pantes ajudan udah banyak masih nyewa jasa bodyguard juga. Dia bingung kali ya,mau ngabisin duit gimana caranya. Padahal mah dia ngasih gue duit setumpuk juga seharian habis.
Raline terus saja berdialog sendiri di dalam hatinya. Matanya tak henti mengitari bangunan tinggi tersebut. Hingga tanpa dia sadar, Kevin berbelok kearah lain dan Raline tidak menyadari hal tersebut.
Leo yang menyadari kehilangan Raline, secepat kilat menyambar tangan gadis muda itu.
Raline hanya mengangguk mengiyakan ucapan leo. hingga mereka menaiki lift khusus, Kevin belum bicara sepatah katapun pada Raline.
Di sebuah ruangan besar paling atas gedung itu, ada seorang perempuan cantik yang sudah menunggu kedatangan Kevin dan Leo.
"Ini Siska, dia sekertaris tuan muda.
Dia Raline, bodyguard tuan muda yang baru. Kau bisa memberitahunya tentang tugas dan kewajibannya di sini." Ucap leo memperkenalkan dua wanita tersebut.
"Raline, ini tab mu. Ini adalah Askes dirimu saat mengawasi tuan muda. Di sana juga ada tugas-tugas yang harus kau kerjakan. O ya, jangan lupa mengecek apakah ada jadwal penting atau tidak. Tugasku hanya membacakan jadwal tuan di pagi hari. tapi tugasmu, harus mengingatkan tuan kan semua jadwalnya sepanjang hari bahkan kau harus tau di hari apa saja meeting penting dengan client dari perusahaan luar. Aku akan meng-email semua jadwal tuan padamu melalui tab ini. Tolong jangan sampai hilang, apa lagi rusak." jelas Siska panjang lebar.
"Baik aku akan belajar" ujar Raline.
Siska membukakan pintu sebuah ruangan untuk Raline.
__ADS_1
"Ruang ini terkoneksi khusus kedalam ruang kerja tuan muda. Jika ingin membuka pintu koneksi ini, jangan lupa untuk mengetuknya terlebih dulu."
"Ya, terimakasih Siska." Raline melemparkan senyum manis pada Siska.
"Semoga kau betah di sini. Aku pusing harus mengulang pelajaran ini setiap bulannya"
"Apa tak ada yang betah bekerja dengan tuan muda?" tanya Raline.
"Mungkin, aku tak tau. Yang pasti mereka akan kabur setelah satu bulan bekerja. Paling lama tiga bulan saja."
Raline mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Membayangkan akan sekejam apa tuan mudanya itu pada dirinya.
Jam terus berjalan, selama tiga jam ini Raline belum melakukan kesalahan. Raline mempelajari semua hal secepat yang dia bisa.
Telpon di meja kerja Raline berdering
"Kita makan di luar." Hanya itu yang keluar dari mulut Kevin.
Raline menghubungi Leo untuk memberitahu tentang ajakan makan di luar oleh tuannya itu.
Leo sudah menunggu di depan ruangan Kevin bersama Raline.
Kevin keluar dan menyernyitkan jidatnya.
"kenapa kau ada di sini?" Tanya Kevin
"Saya yang memberitahu tuan Leo atas ajakan anda tentang makan di luar tuan." Raline merasa bersalah karena dia merasa mendahului perintah tuannya itu.
"Aku hanya mengajakmu.
kau tetap di sini selama aku tak ada" Titah kevin pada Raline dan Leo.
"Baik tuan"
Leo kembali keruang kerjanya. Sedangkan Raline berjalan mengikuti Kevin dari belakang. Raline merasa aneh mereka pergi hanya berdua. Oooww, hampir saja dia lupa. Ada empat orang ajudan lagi di luar sana yang menunggu mereka untuk mengawal boss besar tersebut.
__ADS_1
Mereka berjalan meninggalkan gedung megah itu. Menuju sebuah restoran yang tempatnya tidak jauh dari gedung milik Kevin.
"Pilih lah menu kesukaanmu. Aku tau kau belum makan dari pagi tadi." Ucapan Kevin kali ini membuat Raline kaget. Bagaimana di tau bahwa Raline belum makan sejak tadi.