Bodyguard Cantik Penakluk Hati

Bodyguard Cantik Penakluk Hati
negosiasi


__ADS_3

Raline memesan seporsi iga bakar lengkap dengan nasi hangat dan es jeruk peras tanpa gula.


Dia menikmati setiap suapan iga bakar ukuran jumbo di hadapannya. Tak ada istilah jaga image di dalam kamus kehidupan Raline. Seporsi makanan lezat itu telah habis tak tersisa di piring Raline. Hanya ada tulang besar di sana dan beberapa batang tangkai lalapan yang memang tak enak di makan.


Kevin melihat heran pada gadis bertubuh semampai itu. Raline tak canggung seperti karyawannya yang lain saat di ajak makan. Padahal mereka hanya makan berdua.


Kevin pun sampai lupa dengan niatnya ingin bicara empat mata dengan Raline.


"Tuan, saya sudah selesai. Kenapa piring tuan masih penuh?"


Kevin gelagapan karna dia hanya makan dua suap di dari piringnya.


"Saya juga sudah selesai."


Kali ini Raline melotot, melihat sisa makanan di piring majikannya itu. Karna menurutnya, itu sama saja membuang-buang makanan.


"Taukah anda tuan? Di luaran sana, banyak anak kelaparan. Mereka hanya bisa makan satu kali dalam sehari. Bahkan tak sedikit yang hanya bisa makan satu Minggu sekali karna ada program Jumat berkah dari para dermawan." Raline menasihati majikannya dengan lantang dan dengan khas ibu-ibu mengomeli anaknya yang tidak mau makan.


"Sekarang makan, habisin. Saya tunggu sampe selesai kalau belum habis jangan ngomong sama saya." Kali ini raline justru malah mengancam bosnya itu.


"I - Iiya." Kevin menurut dengan perkataan Raline. Dia menghabiskan makan siangnya itu dengan lahap. Tanpa bicara sepatah katapun.


Setelah menghabiskan makananny, Kevin teringat dengan niatnya membawa Raline kesini.


"Aaahhh ya, saya ingat. Saya kesini ingin membuat negosiasi dengan kamu."


Raline menunjuk kearah dirinya sendiri


"Saya? Negosiasi apa?"


"Ya, karna kamu adalah kandidat yang di pilihkan oleh mama saya, saya belum tau apa saja kemampuan kamu. Yang saya tau, kamu hanya mantan bodyguard anak seorang konglomerat." Kevin memang tidak setuju awalnya dengan pilihan sang mama yang menginginkan Raline menjadi bodyguardnya. Tapi apa daya, mamanya malah mengancam akan menetap di Rusia jika dia gak menuruti keinginannya.


"Saya mengasai beberapa ilmu bela diri dan juga dapat menggunakan senjata Laras pendek. Itu garis besar yang nyonya inginkan dari saya." Jelas raline.


"Apa kau punya lisensi??"


"Sedang di urus" Jawab Raline padahal dia sendiri tidak tahu tentang pengurusan lisensinya.


Kevin tak gentar, dia mencari alasan agar Raline menyerah dan tidak membayanginya lagi.


"Pekerjaanmu kali ini tidak mudah, tidak seperti kau menjaga anak kecil. Kamu juga harus mengerti jadwalku. Dan mengikuti apa saja kegiatanku."

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Raline bingung dengan perkataan Kevin.


"Aku hanya ingin berbaik hati padamu, jika kau ingin menyerah, aku akan melepaskannya secara mudah. Tapi jika kau masih memaksa, kau harus membayarkan sejumlah denda."


Ooowwww, mau ngetes aku rupanya. Okey tuan muda, kita liat, siapa yang lebih cerdas di sini.


"Maaf tuan, saya sudah membuat perjanjian dengan ibu anda sebelum kita membicarakan kesepakatan ini."


heeeeeh,


Kevin tertawa mengejek


"Mama menjadi urusanku." ujar Kevin sombong


"Tapi saya tidak mau di kutuk menjadi batu." ucapan Raline itu membuat Kevin mengernyitkan jidatnya kebingungan.


"Maksudnya?" Kini Kevin yang kebingungan dengan kata-kata Raline.


"Anda bisa tanya pada ibu anda sendiri tuan." Ucap Raline sambil tersenyum manis.


MENYEBALKAAAAANN!


Kevin mencoba masih terlihat tenang di hadapan Raline. Tangannya sudah mengepal sampurnajaya dan giginya sedikit mengeras.


Waktu telah menunjukan pukul 17.20


Kevin masih belum keluar dari ruangannya. Sudah molor dua puluh menit dari waktu jam pulang kantor. Siska sudah cemas menunggu karna sudah di jemput sedari tadi.


"Kau ingin pulang duluan Siska?" Tawar Leo pada Siska.


"Bagaimana jika tuan marah? Aku tidak ingin mencari masalah." Jawab Siska lemas.


Raline yang dari tadi sudah jenuh menunggu pun akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu besar di sebelahnya


"Ya, masuk" suara berat itu keluar dari speaker di dinding samping pintu.


Raline masuk, dan mengecek keberadaan tuan mudanya itu.


"Apa ada yang anda butuhkan tuan? Apa anda membutuhkan bantuan agar cepat selesai?"


"Aku tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa." Jawab Kevin sombong, tak sedikitpun dia melihat pada Raline.

__ADS_1


"Baik, jadi anda bisa ijinkan Siska dan Leo pulang terlebih dahulu. Karna mereka masih menunggu anda di luar."


Kevin mengangkat kepalanya, menatap tajam pada Raline. Tapi dia yg tak gentar.


"Suruh mereka pulang, tapi kau temani aku di sini. Mungkin kita akan pulang larut malam."


"Baik"


Raline memutar badannya, memberitahu kepada Leo dan Siska tentang titah yang di berikan majikannya itu.


"Serius Lin?" Tanya Siska gak percaya.


"Iya, masa aku bohong. Udah sana, kasian kamu di tungguin dari tadi."


"Okeh, terimakasih ya Raline. Besok aku bawain sarapan buat kamu" Siska segera menyambar tasnya dan mencubit pipi Raline lalu berlari kecil sambil berpamitan.


"Tuan ga ikut pulang?" Tanya Raline pada Leo.


"Ini sudah bukan jam kantor kan, jangan panggil aku tuan, panggil saja Leo." Leo merasa canggung jika Raline masih memanggilnya tuan.


"ya gak sopan doong."


heheheh


"Apa saja asal jangan tuan"


"eeemmm" Raline mencoba mempertimbangkan permintaan Leo.


"Bapak?"


"Aku belum tua" Klaim ini Leo malah protes.


"Kakak?"


"Boleh juga."


"RALIIINE" suara di speaker dinding itu menggema di ruangan yang hanya ada leo dan Raline.


"Padahal ga teriak juga kedengaran. Aku masuk lagi ya, dah ka Leo. Sampai jumpa besok."


"daaaaahh"

__ADS_1


Ternyata Raline adalah wanita yang menyenangkan, hanya saja dia sedikit ceroboh di awal-awal.


Diam-diam Leo menaruh hati pada bodyguard cantik itu.


__ADS_2