
Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 waktu setempat. Tapi tubuh Raline sepertinya masih setia di atas kasurnya. Enggan beranjak dari sana karna semalam mereka pulang jam 02.00 pagi.
Sudah beberapa kali alarmnya berbunyi. Dengan mata masih terpejam sempurna, Raline mengusap layar ponselnya. Mematikan alarm sekaligus mengecek jam berapa sekarang.
06.20
Raline harus bergegas bangun dan bersiap untuk kerja. Meski tak kesiangan dan kantornya 0 KM, dia tak ingin performanya kelihatan buruk di mata majikannya.
Raline bergegas bangun dan mandi.
Setelah selesai mandi, dia kedapur khusus pelayan untuk membuat sarapan.
"Kamu mau ngapain Raline?"
"Mau bikin sarapan pak" Jawab Raline santai.
"Nanti dulu, tuan muda sudah nunggu kamu. Bapak di suruh buat manggil kamu nduk." Ucap pak Totok membuat Raline syok.
Sepagi ini dia sudah mengerjaiku? Ya tuhaaan, terbuat dari apa hamba mu yang satu itu?
Dengan sedikit kesal Raline pergi menemui Kevin. Perutnya yang dari semalam belum terisi apa pun itu membuatnya gampang tersulut emosi. Mungkin, jika sekarang ada musuh di hadapannya, tak akan di biarkan terlepas oleh Raline.
Raline mencoba untuk tetap profesional. Dia mendatangi bosnya dengan wajah tersenyum.
"Anda memanggil saya tuan?"
"Duduk dan makanlah."
Mata Raline terbelalak mendengar ucapan. tuannya itu. Terlebih lagi saat Raline melihat meja penuh terisi dengan makanan empat sehat, lima sempurna, enam enak, tujuh banyak, delapan menggiurkan, sembilan perbaikan gizi, sepuluh kenyang.
"Cepatlah Raline, kita harus berangkat pagi karna aku ada meeting penting jam delapan nanti." Ucapan Kevin membuyarkan lamunan Raline tentang makanan itu.
Raline segera mengambil duduk berjarak dengan Kevin. Tak enak jika dia harus bersanding dengan. sang majikan.
"Aku tidak rabies, jangan menjaga jarak berlebihan seperti itu."
"Maaf tuan, tapi tak enak jika pelayan seperti saya bersanding terlalu dekat di meja makan dengan tuan." Raline benar-benar sungkan. Di ajak makan bersama saja sudah merupakan kehormatan untuknya.
Mereka makan dalam diam. Raline sangat menikmati sarapan mewahnya itu. Tanpa merasa curiga akan tuan mudanya itu.
__ADS_1
Tak lama nyonya Lusi ikut makan bersama Raline dan Kevin. Tak ada canggung pada Kevin dan mamanya yang makan satu meja dengan raline. Justru Raline yang sangat kikuk di tambah lagi gemetar karna harus semeja dengan majikannya.
Nyonya Lusi bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Raline. Di sendokkan lagi dua potong daging dan tumisan sayuran kedalam piring Raline.
"Sudah nyonya, sudah cukup." Raline menolak dengan sopan.
"Kau harus banyak makan. Karna semalam kau tidak makan. Jangan pikir aku tidak tau kalian pulang dini hari." Nyonya Lusi justru menyinggung anaknya yang berada di ujung meja sana.
"Maaaaa." Kevin protes.
"Jangan semena-mena dengan bawahan mu. Mama tidak suka." Tatapan tajam nyonyanya membuat Kevin diam tertunduk.
Raline tak berani menoleh ke arah nyonyanya pun tuan mudanya itu.
Acara sarapan mereka selesai. Raline menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya. Nyonya itu tak mau dia kelaparan karna ulah anaknya.
"Apa kau mau membawa bekal?" Tanya nyonya Lusi
"Tidak nyonya, tidak usah repot-repot." Raline benar-benar merasa tidak enak dengan perlakuan spesial nyonyanya itu.
"Aku pamit ma." Kevin mencium kening ibunya dan pergi meninggalkan Raline di belakang.
Raline pun pamit kepada nyonya Lusi dan berlari menyusul Kelvin.
Mereka tiba di restoran yang di tunjuk oleh client Kevin. Restoran bernuansa Jawa itu sangat teduh. Suasana nyaman bagai di kampung halaman membuat mereka yang datang betah berlama-lama di sana.
Kevin memulai meetingnya dengan Raline yang duduk persis di sampingnya.
"Apakah ini sekertaris baru anda tuan?" Tanya client Kevin.
"Dia asisten pribadi saya." Jawab Kevin santai.
Raline yang menjadi topik pembicaraan hanya tersenyum.
"cantik." Ucap client Kevin dengan menatap Raline menggoda.
Kevin yang tidak suka dengan perilakunya pun menatap laki-laki paruh baya itu tajam. Wajahnya seperti singa yang akan menerkam musuh. Kevin melirik kearah Raline yang juga menunjukan wajah tak suka. Raline salah tingkah membuang wajahnya dari tatapan laki-laki itu.
"Saya kira kontrak kita harus ada pertimbangan lagi." Ucap Kevin tak jadi menandatangani kontrak kerjanya. Terlanjur kesal bodyguard cantiknya di goda lelaki hidung belang.
__ADS_1
"Tapi pak." client Kevin meminta penjelasan atas keputusan sepihak yang Kevin ambil.
"Selamat siang." Kevin pergi dan langsung meninggalkan tempat tersebut. Raline harus bergegas merapikan berkas kontrak kerjasama yang tak jadi Kevin tanda tangani itu.
Secepat mungkin Raline menyusul tuannya yang sudah menaiki mobil. Tapi Raline kalah cepat. dia di tinggalkan majikannya itu. Terpaksa Raline harus menaiki mobil ajudan bersama yang lain.
"Kok bisa ketinggalan mba?"
"Ga usah nanya aku. Tanya tu bos kamu yang aneh itu." Jawab Raline yang masih berusaha mengatur nafasnya karna harus terburu-buru.
Setibanya di kantor, Raline hanya mengawasi Kevin dari jauh, tak ingin mengejarnya lagi seperti kejadian di restoran tadi. Kaki Raline sudah cukup lelah.
Raline menyerahkan berkas-berkas yang dia rapikan tadi kepada Leo.
"Emang gimana ceritanya lu Ampe di tinggal pak bos?"
"ga tau deh bang. Tiba-tiba dia bilang kontrak harus di pertimbangkan, terus bangun, pergi. Ya Alloh bang, cape banget aku ngejar dia. Terus aku malah di tinggal." Curhat Raline pada Rian yang kebetulan ada di ruangan Leo.
"Belom sarapan kali" Celetuk leo.
"Udah kak, kita tadi sarapan bareng malah."
"Salah makan kali, lu tadi makan apa?" Tanya Rian lagi
"Daging, sama tumis sayur.
" Ya dia daging musang kali mangkanya jadi sensi." Celetuk Rian si gesrek.
hahahhahahahhahahaha.
Spontan Raline dan leo tertawa. Tanpa sadar mereka menggibahi bos besar mereka. Kalau saja Kevin tau kelakuan tiga manusia itu. Sudah pasti mereka di pecat saat ini juga.
"Oke, ini biar aku tangani lagi. Kamu yang sabar ya, memang tuan muda seperti itu sifatnya." Ucap Leo
"Aneh?" Tanya Raline.
"Susah di tebak, nanti juga kamu terbiasa. Semangat!" Leo menyemangati gadis cantik yang sedang ditaksirnya itu. Berharap Raline tak gentar dengan sikap Kevin. Agar dia bisa mendekati Raline dengan mudah.
Raline kembali ke ruangannya. Melihat Kevin masih ada di balik kursi kebesarannya. Namun kali ini dia sedang berbicara dengan seseorang di sebrang telpon.
__ADS_1
Ganteng sih sebenernya, cuma sikapnya doang yang aneh. Belom lagi anak mami. huuuuuuffftttt!
Raline mengagumi bosnya itu dalam hati. Memperhatikan tuan mudanya dari ruangannya.