
Jam menunjukkan pukul 12.05
Baru saja Raline bangkit berdiri, dering telponnya sudah berbunyi.
"Dengan Raline,"
"Keruangan saya sekarang" Tak perlu menyebutkan namanya, Raline sudah tau siapa yang menelponnya barusan.
Raline mengetuk pintu koneksi antara ruangannya dan ruangan Kevin. Kevin mempersilhkannya untuk masuk.
"Belikan saya makan siang, jus alpukat dan apa saja makanan yang bisa kamu pesan di aplikasi online." Kevin memberikan tidak pada Raline.
"Ada lagi tuan?"
"Belilah juga untukmu."
"Baik."
Baru beberapa langkah Raline ingin meninggalkan ruangan Kevin, suara bariton berat itu menahannya.
"Pesan tanpa kau pergi dari sini Raline."
whaaaaatt??
kenapa ga dia aja sih yang pesen? aaggggrrrhhh dasar orang kaya. Ada aja tingkahnya.
Raline kesal dan ijin mengambil handphonenya.
"Saya ambil handphone saya dulu pak."
"heeeeemmmmph" Kevin menyaut tanpa menoleh kearah Raline.
Sebagai aksi balas dendam, Raline memesan banyak makanan. Lima loyang pizza ukuran jumbo, lima puluh burger, tiga puluh minuman, dua puluh jus alpukat, dan Lima ember ice cream stroberi.
Tanpa bersalah Raline memesan pesanannya itu. Sambil tersenyum manis dia memasukan kode kartu Kevin untuk membayar pesanannya tersebut.
Triiiiingg
Sebuah notifikasi laporan pembayaran masuk di handphone Kevin, tapi pria tampan itu malah mengabaikannya.
heeeeeemmmmm sok cool, abis ini juga jantungan liat pesenan makanannya.
Raline yang masih duduk manis di hadapan Kevin hanya memainkan tablet dan mengecek jadwal penting Kevin.
"Tuan, maaf akhir pekan ini anda ada jadwal bermain golf dengan tuan Alex di.
Kevin menanggapinya malas. Rivalnya selalu saja mencari celah kebangkrutan Kevin.
__ADS_1
"Cancel saja." Ujar kevin.
"Bilang kita ada urusan mendadak"
"Baik tuan"
Raline mengirimkan email kepada tuan Alex atas pembatalan jadwal tuannya itu.
suara handphone Raline memecah keheningan ruangan itu.
"Ya, saya turun kebawah."
Raline meminta ijin pada tuannya itu untuk mengambil pesanan yang dia beli tadi.
Tak lama, Raline datang dengan begiiiitu banyak makanan di tangannya, mulai dari pizza, burger, Jus, minuman, dan ice cream.
Kevin di buat menganga menatap kelakuan asisten sekaligus bodyguard nya itu.
"RAAAAALIIIIIIINNNEE!"
Raline hanya tersenyum melihat bosnya itu murka. Kevin bingung makanan sebanyak ini akan dia apakan? Apa Raline tidak punya pikiran, bagaimana mungkin dia bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Perutku hanya muat memakan satu burger dan satu potong pizza Raline. Lalu mau kau kemanakan sisanya?" Kali ini Kevin memijit keningnya yang berdenyut pusing.
"Anda punya banyak karyawan tuan. Berbagilah dengan mereka."
"Kemari segera."
Setibanya Leo di ruangan Kevin, dia justru malah terkekeh menahan tawanya. Sudah tau pasti dalang semua ini adalah Raline. Kesal karna di tinggal Kevin tadi pagi masih mendendam sepertinya.
"Saya tuan." Leo masuk dan mendekat kearah Kevin.
"Suruh OB untuk mengangkut makanan-makanan ini. Raline, sisakan dua burger, dua potong pizza, dan dua minuman untuk ku dan untukmu. Sisanya bawa ke pantry. Siapa saja boleh mengambilnya. Jangan lupa tawari Siska di depan." Kevin kembali duduk di bangku kebesarannya.
Raline menyengir, memperlihatkan gigi putihnya pada Leo. Leo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata kelakuan Raline bisa membuat Kevin pusing seketika.
Raline menyiapkan makan siang tuannya yang terlanjur kenyang dengan ulahnya itu.
Saat Kevin membuka notifikasi bank di handphonenya, dia kembali di kejutkan.
"RAAAAALIIIIIIINNNEE"
Suara menggelegar Kevin membuat tiga orang office boy yang sedang merapikan makanan itu begidik ngeri. Tapi justru yang menjadi sasaran amukan Kevin hanya cuek saja.
"Saya di sini tuan Tidak usah berteriak saya dengar." ujar Raline sambil menyodorkan makanan pada tuannya itu.
"Apa-apaan ini Raline? Hampir sepuluh juta hanya untuk belanja makanan?" Ujar Kevin kesal.
__ADS_1
"Itu hanya nol koma nol nol nol nol nol nol satu dari kekayaan anda tuan. Berbagilah dengan karyawan yang lain. Anggap saja ini sedekah." Raline tersenyum sambil mengedipkan matanya.
Perempuan ini benar-benar berani membuat emosi Kevin naik turun bagai roller coaster.
Amarah Kevin terhenti ketika Raline bilang sedekah. Seperti di tampar oleh wanita cantik itu. Entah kapan terakhir dia bersedekah dengan niat yang bulat. Dia pun lupa.
"Makanlah! Banyak tugas menunggumu setelah ini."
Raline tak malu ataupun canggung ketika makan dengan Kevin. Dia dengan leluasa membuka mulutnya untuk menggigit burger yang lumayan besar itu. Saus dari burger yang berantakan di mulutnya pun dia bersihkan dengan lidahnya sekali usap. Memberikan rasa yang aneh pada Kevin. Bukan perasaan jijik, tapi justru Kevin senang melihat Raline makan dengan lahap seperti itu.
Sambil memikirkan bagaimana caranya untuk membalas dendamnya pada Raline. Kevin melahap burger dan segelas jus alpukat di hadapannya. Raline yang makan dengan sangat menikmati itu tak sadar jika dirinya diperhatikan oleh sang tuan.
Selesai menyantap makan siangnya. Raline membereskan dan merapikan kembali meja yang tadi mereka gunakan untuk makan.
Setelah itu Raline pamit pada Kevin untuk kembali ke ruangannya, namun di tolak. Kevin memintanya untuk duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangan Kevin. Raline pun menurut dan duduk di sana. Suasana hening dan pendingin ruangan yang kencang, membuat Raline menguap berkali-kali.
Lama kelamaan matanya perlahan terkantuk. Saat Raline memejamkan matanya sesaat, tangan Kevin menjaga agar kepala Raline tak jatuh kelantai. Sontak membuat Raline spontan memelintir tangan Kevin dengan cepat.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaggghh" Kevin berteriak kesakitan.
Raline sontak kaget dan meminta maaf sambil mengelus tangan Kevin pelan.
"Maaf tuan maaf saya refleks. Tuan maaf tuaaaaannn" Raline masih meminta maaf sambil mengusap tangan tuannya itu. Sedangkan Kevin harus menahan sakit di tangannya.
Niat baiknya justru di salah artikan oleh sang asisten.
"Sepertinya tanganku patah Raline" Ujar Kevin menakuti Raline.
"Ga mungkin, saya melintir cuma sedikit qo, ga pake tenaga juga."
Kevin terbelalak
Apa tadi dia bilang? tidak pakai tenaga? Segini sakitnya dia bilang ga pake tenaga. Bagaimana kalau full tenaganya?
Kevin membatin, kekuatan bodyguardnya ini memang sudah tidak di ragukan lagi.
Namun itu juga membuat Kevin lebih berhati-hati lagi dengan Raline. Salah-salah bisa dia yang menjadi samsak perempuan cantik itu.
Kevin masih mengaduh kesakitan, sedangkan Raline masih diliputi oleh rasa bersalahnya.
Sebuah ide pun terlintas untuk mengerjai Raline.
"Bagaimana jika aku tidak bisa beraktivitas nantinya? kau harus bertanggung jawab. Jadilah pengganti tangan kananku. Ini semua karna ulah refleks mu yang menyeramkan itu."
"Gimana caranya jadi tangan kanan?" Raline protes.
"Semua yang dilakukan oleh tangan kananku, mulai sekarang kau gantikan." Ujar Kevin sambil pura-pura menahan sakitnya. Padahal rasa sakitnya sudah berangsur berkurang sedari tadi.
__ADS_1
Raline menggigit bibir bawahnya. Mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.