Bosku Ternyata Seorang Vampir

Bosku Ternyata Seorang Vampir
Chapter 1. Bos yang aneh


__ADS_3

Di dalam ruangan kantor yang tenang, suara langkah kaki halus Luna mengisi ruangan dengan getaran ringan. Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan ekspresi serius menatapnya dengan mata tajam. Setumpuk dokumen diletakkan rapi di atas meja kayu antik di depan mereka.


"Luna, mulai besok kamu akan dipindahkan ke kantor pusat!" ucapnya tegas, suaranya mencerminkan tekad dan otoritas.


Sinar matahari memancarkan cahaya melalui jendela besar di belakang pria itu, menerangi setengah wajahnya.


Pria itu mengangkat alisnya dengan hati-hati, seolah sadar akan perasaan bimbingannya. "Luna, aku tahu tentang kabar mengenai bos kita yang agak aneh," katanya dengan suara yang lebih lembut. "Namun, tolong pertimbangkan ini dengan baik-baik."


Luna menahan nafas sejenak. Dia tahu ada sesuatu yang berbeda tentang bos di kantor pusat, rumor mengatakan bahwa bos adalah orang sangat dingin, tertutup, dan tidak bisa ditebak jalannya pikirannya. Karena sikap itu, banyak karyawan mengundurkan diri sebab muak akan tingkah sang bos.


Pria paruh baya itu menyadari kebingungan Luna. "Sudah waktunya untuk menghadapi hal-hal yang tidak biasa, Luna. Tapi keputusan ada di tanganmu."


Luna memandang keluar jendela, menyaksikan daun-daun yang bergoyang lembut oleh angin. Dia memang butuh uang untuk menghidupkan keluarga dan ibunya yang sakit.


Maka dari itu, meskipun bos itu adalah orang brengsek, Luna harus kuat.


"Saya terima tawaran itu, Tuan," ucap Luna tegas. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya dia memutuskan.


Seringai tergambar di wajah pria paruh paya itu. "Itu baru masa muda."


Luna keluar dari ruangan tersebut, meskipun menerima tawaran. Namun rasa khawatir akan rumor bos itu masih ada di dalam hati.


"Eh, ada Luna." Luna menoleh ke sisi kanan dan mendapati seorang ibu tua yang telah keriputan sedang membersihkan koridor ini.


Dia adalah Bu Dewi, petugas kebersihan di sini, dia juga adalah teman curhat Luna.


"Ada apa Lun? Kenapa masuk ke ruangan pak Dika, apakah kamu kena masalah?" tanya Bu Dewi khawatir, tidak lupa sembari membersihkan lantai dengan pel.


"Tidak, Bu. Luna disuruh pindah ke kantor pusat." Luna sedikit ragu untuk bercerita, tapi menahan segalanya sendiri hanya akan membuat gila.


Mata Bu Dewi terbelalak, terkejut akan perkataan dari Luna. "Lun itu artinya kamu akan bertemu Bos besar— Andre?"


Luna menganggukkan kepala, itu sudah jadi hal yang pasti terjadi.


"...Bagaimanapun jangan buat dia marah dan sebisa mungkin jangan perlihatkan darah setetespun."


Keheningan mengitari mereka untuk beberapa saat, seakan baru saja mengatakan hal yang tidak perlu, Bu Dewi menutup kedua mulutnya dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Darah apa maksud—" tanya Luna terpotong karena teriakan dari Bu Dewi.


"Lupakan tentang itu!"


Meskipun disuruh melupakan itu percuma, perkataan dari Bu Dewi sudah menancap ke pikirannya, tidak bisa dihilangkan begitu saja.


"Omong-omong kapan kamu akan pergi Lun?" tanya Bu Dewi gemetaran seolah masih takut atas perkataan barusan.


Sebenarnya reaksi dari Bu Dewi menambahkan rasa curiga yang makin dalam, tapi Luna memutuskan untuk melupakan hal tersebut.


"Aku akan pergi dalam satu minggu lagi."


"Jadi begitu... hati-hati ya Lun."


Luna hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Setelah satu minggu berlalu, kini Luna berada di depan sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit. Ini adalah Kantor Pusat tempat Luna pindah.


"Ngg… Sungguh megah," gumam Luna dengan kekaguman, tatapan terpana diarahkan ke arah bangunan tersebut.


Dengan langkah mantap, Luna melangkah ke dalam bangunan yang menjulang. Setiap langkahnya menciptakan gema di koridor yang mewah.


Dia merenung sejenak, mata terbuka lebar dalam kekaguman. Bangunan ini terdiri dari tiga tingkat yang kokoh, dengan langit-langit yang menjulang tinggi. Koridor terbentang dengan sangat luas seolah tanpa ujung, ditemani oleh lampu-lampu sebagai pencahayaan.


Namun meskipun terlihat indah dan megah, Luna tidak melihat satu orang pun pegawai di sini. Sangat sunyi seolah ini adalah bangunan yang kosong tanpa penghuni.


"Apakah hari ini libur? Ini sangat sepi." Luna melirik ke segala arah, tidak ada satu orang selain dia. "Permisi, apa ada orang?" suaranya menggema, akan tetapi tidak ada respon.


Entah kenapa perasaan tidak enak kini ada di hati Luna, susah dijelaskan. Tapi yang pasti tempat ini terlihat mencurigakan.


"Apakah anda Nona Luna yang pindah ke sini?" Luna mengangkat kedua pundaknya. Terkejut, dia melirik ke belakang dan mendapatkan seorang wanita menggunakan pakaian karyawan dengan kacamata yang menggambarkan bahwa dia adalah orang tegas.


Di dalam hati dia mulai lega karena ternyata ada juga karyawan di sini. "Ya, perkenalkan saya Luna yang mulai hari ini dipindahkan ke kantor pusat. Salam kenal."


Meskipun Luna telah memberikan sambutan yang sopan


, namun tidak ada perubahan ekspresi dari gadis tersebut. Ia masih saja sadar dengan wajah kakunya.

__ADS_1


"Ikuti saya." Alih-alih memperkenalkan diri, ia justru melangkah maju untuk memandu Luna ke suatu tempat.


Luna mengikuti langkahnya, dia mulai berpikir, apakah semua pegawai disini tidak punya rasa sopan santun?


Mereka memasuki lift dan menuju lantai dua. Keheningan mengitari dua orang tersebut, merasa udara semakin berat. Akhirnya Luna membuka suara, "Permisi... Kita mau ke mana?"


Seperti sebelumnya tidak ada jawaban. Hingga akhirnya lift terbuka dan mereka sampai di lantai dua.


"Ikuti aku!" Dia sekali lagi memandu dan melangkah ke tempat yang tidak diketahui arahnya.


Katakanlah sesuatu!


Luna terus mengekor di belakang mengikuti wanita tersebut. Langkah keduanya terus bergema dan akhirnya berhenti di pintu besar berwarna kecoklatan.


Wanita itu mengetukkan pintu beberapa kali dan akhirnya dijawab saat ketukan kedelapan oleh sosok didalamnya.


"Masuklah." Ini adalah suara pria yang sangat elegan dan memenangkan, mendengar suara saja Luna tahu dia adalah bos Andre.


Wanita itu membuka pintu dan mata Luna terbelalak, melihat sosok tampan dengan pakaian jasnya sedang duduk di kursi dengan tumpukan dokumen.


Dia mempunyai rambut hitam gelap yang rapi, postur tubuh yang tinggi, dan kelopak mata hitam yang sangat tenang. Segala tentang pria itu sangat menenangkan, bahkan Luna terdiam melihat pria itu.


Dia sangat tampan. Luna merasakan kedua belah pipinya memanas dan hatinya berdebar setiap melihat pria tersebut.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Duduklah!" suara dengan cepat menjadi tegas.


Luna menghela napas, baru saja dia kagum tapi sekarang perasaannya berubah karena teriakan menggema dari sosok yang mungkin Bosnya.


"Baik." Dengan gugup, Luna berjalan dan duduk di depan bosnya.


"Perkenalkan, nama saya Luna, saya pindah dari kantor cabang menuju pusat. Saya harap kita bisa menjadi rekan yang baik." Luna memberikan senyuman sebaik yang dia bisa dia lakukan, meskipun jantung berdebar karena alasan tidak diketahui.


"Jadi begitu." Tidak ada respon yang istimewa dari Bos itu, dia hanya menatap beberapa detik saja. Kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke suatu tempat.


"Lah, anda mau ke mana?"


"Itu bukan urusanmu... domba kecil." Dia berjalan menjauh, tidak peduli seberapa besar perkataan tidak terima dari Luna.

__ADS_1


Dia benar-benar pergi meninggalkan Luna sendiri. "Ada apa dengan dia?!"


__ADS_2