
Setelah perjalanan yang memakan waktu beberapa saat, akhirnya Luna dan Andre tiba di tujuan mereka.
"Turunlah, dombaku," ucap Andre.
"Aku tahu, bisakah berhenti memanggilku dengan sebutan itu? Ini mulai sedikit mengganggu."
Luna memandang Andre dengan ekspresi jenuh, menunjukkan betapa seriusnya pernyataan itu.
Tanpa menunggu lama, Luna turun dari mobil Andre. Awalnya, dia mengira bahwa akhirnya akan terbebas dari masalah, tapi ternyata masalah baru muncul begitu dia keluar dari mobil.
"Siapa dia? Dia keluar dari mobil Bos!"
"Sungguh, aku begitu kesal padanya."
"Apakah dia pacar atau semacamnya?"
"Tidak mungkin! Aku bahkan belum pernah melihat Bos Andre begitu dekat dengan seseorang."
Saat Luna menyentuh tanah, dia merasa seolah menjadi pusat perhatian. Pemimpin yang membawa seorang gadis di mobilnya, tentu saja itu menjadi bahan perbincangan, dan Luna sempat lupa akan hal tersebut.
Mendengar sebanyak itu orang membicarakan dirinya dan melihat begitu banyak orang menatapnya, Luna mengerutkan kening. Rasa muak akan situasi ini melanda. Di sisi lain, Bos Andre justru terlihat senang dengan perhatian yang diterimanya.
---
Luna dan Nayla kini mengerjakan pekerjaannya di depan komputer seperti biasanya.
"Apakah rumor itu benar?" tanya Nayla sambil mengetik sesuatu di keyboard. Suara-suara ketikan itu bergema dalam ruangan.
Luna masih melakukan pekerjaannya, tapi tenggorakannya merasa kehausan. Dia mengambil kopi kaleng lantas membukanya.
"Apa yang kamu maksud?"
"Ini tentang hubunganmu dengan Pak Andre."
Luna hampir saja tersedak karena pertanyaan di luar dugaan.
"Bisa berhenti dengan pembahasan ini... Dan jangan pasang wajah seperti itu."
Meskipun dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Nayla karena tertutup oleh komputer, namun Luna menyadari bahwa Nayla sedang tersenyum penuh godaan.
"Jangan malu-malu. Kabar itu sudah tersebar satu kantor. Coba perhatikan sekitar."
Luna melakukan apa yang diperintahkan oleh Nayla dan seperti yang dikatakan olehnya. Banyak orang yang menatap ke arah Luna seolah dia adalah sebuah bahan tontonan.
Luna menyipitkan matanya karena bisa mendengar beberapa orang mengatakan sesuatu tentangnya dan itu sangat menganggu bagi Luna sendiri. Andai saja sekarang dia tidak di kantor yang penuh dengan aturan, dia pasti sudah berteriak dengan gila.
"Hah, kamu tampaknya benar. Aku menjadi pusat perhatian." Memutuskan untuk mengabaikan mereka, Luna menghela napas.
"Itu sudah pasti, karena Pak Andre sangat terkenal di sini. Jadi jika tiba-tiba dia membawa seorang gadis di mobil, tentu saja akan heboh."
__ADS_1
"Kamu mungkin benar." Luna memutuskan untuk mengabaikan banyaknya tatapan orang yang berada di sana, dia kembali fokus ke pekerjaan, sambil sesekali menyeruput kopi kaleng yang dia punya.
"Jadi rumor itu benar? Selamat Luna."
"Sudah kubilang itu hanya salah paham!"
---
Waktu berlalu dan kini malam telah tiba. Pekerjaan kantor telah usai dan Luna pergi pulang sendiri, sebelumnya dia telah diberikan tawaran oleh Andre tapi dia memutuskan untuk kabur.
Akan semakin repot jika rumor tentang hubungan mereka menjadi makin buruk, oleh karena itu dia memutuskan untuk kabur dengan berlari di gang-gang sepi.
Di tengah perjalanan tanpa sengaja Luna memandang sosok wanita paruh baya yang tampak familiar, dia menggunakan jas yang sama dengan milik Luna dan memakai kacamata, dia terlihat seperti seseorang yang penuh akan rasa rajin dan komitmen. Dia merupakan orang pertama yang mengantar Luna ke Andre.
Luna mengingat kembali, seberapa dinginnya gadis kacamata yang berada di depannya.
Gadis kacamata itu melirik ke arah Luna yang sedang terdiam. Tatapannya mengintimidasi hingga membuat Luna bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan orang ini.
Gadis itu berjalan mendekati Luna. Dengan ekspresi tegas seperti biasanya.
"Jadi memang di sini tempat tinggalmu, Luna?" Suara dari gadis berkacamata itu terdengar tegas dan tinggi, seolah menggambarkan amarah.
"Ada apa?" Luna bertanya, keringat berjatuhan karena merasa canggung.
"Aku telah mendengar rumor tentang hubunganmu dengan Pak Andre, mungkin kalian terlihat dekat... tapi akulah asisten pribadinya, bukan kamu!"
Luna menundukan kepalanya, entah kenapa setelah mendengar perkataan dari gadis berkacamata tersebut membuat hatinya seolah terkikis. Dia merasakan perasaan yang tidak bisa dikatakan setelah mendengar fakta bahwa gadis itu merupakan asisten pribadi dari Andre.
Luna merenung dan memikirkan semua ucapan tersebut. Berjalan menuju kos dengan perasaan yang telah campur aduk.
Setelah beberapa saat, akhirnya Luna sampai di kos tempat dia tinggal. Wajahnya masih terlihat sangat lesu. Ucapan dari gadis yang mengaku sebagai asisten masih membekas di hatinya.
Luna melangkah ke kamar mandi ingin mengusap wajahnya yang serasa berat dan menyedihkan. Saat dia melihat ke cermin wastafel yang berada di kamar mandi, dia menyadari dari pantulan kaca. Wajah Luna terlihat menangis.
"Kenapa aku menangis? Apakah perkataan dari dia terdengar sangat jahat?" Luna sendiri tidak tahu jawaban yang pasti. Sejak dia meyadari
bahwa Andre punya asisten pribadi. Hati Luna seakan robek.
"...Jangan-jangan aku cemburu?" Dalam kebingungan ini, Luna menyimpulkan demikian. Meskipun dia masih tidak yakin. "Itu tidak mungkin! Aku tidak memiliki rasa dengan orang bejat seperti dia!" Dia tampak marah dengan pikiran bodoh yang baru terlintas. Luna mengusapkan wajahnya dengan air.
Tok... Tok
Kamar kos dari Luna terdengar, Luna menoleh ke arah pintu yang terus berbunyi dengan ketukan. Awalnya dia berpikir siapa orang gila yang datang malam-malam seperti ini? Dan dia juga ingin mengabaikan orang yang mengetuk pintu.
Tok.. Tok.
Luna menghela napas malas, dia mengalah. Dengan rasa malas, dia berjalan dan membuka pintu. "Siapa?"
Tepat saat Luna membuka pintu, dia melihat sosok gadis seumurannya dengan wajah penuh senyuman. Dia adalah Nayla.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan malam-malam seperti ini, Nay?" tanya Luna. Karena tidak wajar ada orang yang datang pada malam hari, terlebih di kos Luna.
"Aku hanya ingin mampir saja. Tidak ada alasan yang penting... Eh, Luna kenapa dengan wajahmu, kamu seperti orang baru menangis?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Dia melihat temannya dalam kondisi menyedihkan.
"Tidak apa-apa... Kamu masuklah dulu, biar kusiapkan minuman."
Dengan perasaan tidak enak, Nayla memasuki kamar Luna. Dia duduk dengan sopan sambil menunggu Luna yang menyiapkan minuman.
Selang beberapa menit, Luna datang dengan minuman berupa teh hangat. Dia berjalan dan duduk di depan Nayla.
"Ini silahkan." Luna memberikan Nayla minuman dan diterima dengan penuh lapang dada.
Setelah itu tidak ada percakapan antara mereka berdua, yang ada hanyalah mata yang saling menatap dalam keheningan. Hal ini tidak lain karena perasaan dari Luna sedang tidak enak.
Merasa muak akan keheningan ini, akhirnya Nayla membuka suara. "Ada apa sebenarnya. Kenapa kamu terlihat menyedihkan seperti itu?" Kali ini suara Nayla terdengar jelas dan tegas. Seolah menggambarkan betapa khawatirnya dia.
Luna menghela napas. Well, sepertinya tidak ada alasan untuk menyembunyikan masalah ini. Luna memutuskan untuk bercerita tentang kegelisahan yang dia dapatkan dari gadis kacamata itu.
"Jadi begitu ya... memang benar Kak Silvi adalah asisten pribadi dari Andre, tapi tidak kusangka dia adalah orang yang seperti itu."
'Jadi nama di adalah Silvi ya?" gumam Luna.
Sekali lagi keheningan mengitari ruangan ini. Untuk menghilangkan perasaan yang bercampur aduk, Luna memutuskan untuk pergi memasak sesuatu.
"Kamu mau kemana?" tanya Nayla.
"Aku punya daging ayam... aku ingin memasaknya." Luna berjalan dan berkata demikian.
Di dapur, semua bahan sudah siap dan Luna sedang memotong daging. Tapi karena perasaan yang bercampur aduk, pisau yang dia pegang tanpa sengaja melukai jarinya, hingga membuat luka dan darah bertetesan.
"Sakit!" Luna merintih kesakitan. Jeritan ini terdengar oleh Nayla.
Dengan perasaan khawatir, Nayla datang ke dapur. "Ada apa?"
Tangan Luna masih mengepul darah di tempat goresan pisau. Dia mencoba tersenyum, berusaha meredakan kekhawatirannya sendiri.
"Tanganku tergores pisau, tapi jangan khawatir, luka ini akan segera sembuh," jelasnya dengan getaran dalam suaranya, mencoba menyembunyikan rasa takut.
Mengabaikan apa yang dikatakan oleh Luna. Nayla berjalan dan memegang tangan Luna, dia memasukkan jari yang penuh darah ke mulutnya, seolah sedang mengemut sebuah permen.
Luna merasakan perasaan bergetar di hatinya saat Nayla mengemut jarinya, merasakan seakan ada ikatan yang aneh terjalin antara mereka. Tapi di balik getaran itu, ada juga rasa malu yang mengintip. Ia bingung oleh perasaannya yang berkecamuk di saat-saat seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Luna dengan bingung, sambil merasakan sensasi yang luar biasa saat Nayla mengemut jarinya.
"Argh!" Luna sedikit mendesah, karena Nayla menyedot jari penuh darah itu dengan penuh semangat. Sedikit rasa nyeri mengitari jarinnya, tetapi ada juga rasa berdebar di hati. Hingga membuat wajah gadis itu merona dan nafasnya tercekak.
Aktivitas itu berhenti setelah beberapa detik, dan mata Luna membulat. Lukanya telah sembuh.
Nayla melepaskan tangan Luna dan berkata, "kukira kamu sudah tahu?"
__ADS_1
"Apa maksudnya?" Luna masih bernapas dengan terputus-putus, sensasi barusan sangat membuat hatinya bercampur aduk.
Nayla tersenyum kecil. "Luna sama seperti Andre. Aku juga seorang vampire."