Bosku Ternyata Seorang Vampir

Bosku Ternyata Seorang Vampir
Chapter 2. Dia adalah Vampir?


__ADS_3

"Serius sebenarnya ada apa dengan Pak Andre? Dia benar-benar menyebalkan!" Luna memukul meja kerjanya. Dia sudah seminggu di sini dan mulai muak dengan perilaku dari Bosnya.


"Hei, Luna. Kecilkan suaramu! Apakah kamu gila?" seorang wanita berambut pendek menegurnya; dia bernama Nayla—teman kerja setelah satu minggu.


Luna kembali memutar beberapa memori setelah satu minggu di sini. Luna telah melakukan segala pekerjaan dengan baik, tapi respons dari Bos Andre sangat dingin dan tertutup.


Dia hanya akan menjawab "jadi begitu?" dan "ya" lalu pergi meninggalkan ruangan. Tidak peduli seberapa dinginnya orang, tapi ada batasnya! Dan Bos Andre sudah melewati batas.


Dia juga kadang-kadang membentak Luna karena alasan tidak jelas dan kadang-kadang menahan untuk tetap berada di ruangan bersama dia. Sungguh tidak jelas.


"Ya, dia sangat menyebalkan!"


Nayla sedikit menyeringai. Luna setiap kali curhat pasti tentang Bos Andre. Ini membuat pikiran nakal menyerangnya. "Meskipun begitu, kamu masih tetap bekerja dengannya, kan? Jangan bilang kamu menyukainya?"


"M-mana mungkin begitu!" Luna menyangkal dengan tegas, walaupun nadanya terdengar gemetaran.


Senyuman nakal makin terlihat jelas di wajah Nayla. "Tapi kamu terus bercerita tentang Pak Andre? Dan kamu selalu marah karena respon dingin darinya. Bukankah itu artinya kamu mencari perhatian lebih?"


Luna tiba-tiba merasa wajahnya terasa hangat dan matanya turun ke bawah. "Itu tidak mungkin...! Lagipula aku tidak punya waktu untuk merasakan hubungan percintaan. Aku ke sini untuk menyembuhkan ibu dari penyakit dan meningkatkan derajat keluargaku, bukan demi Bos itu!" Luna tidak menyadari bahwa suaranya telah bergema dan terdengar di seluruh ruangan. Dia menjadi pusat perhatian.


"Luna, kecilkan suaramu—" Nayla terkejut bukan main dengan reaksi dari Luna. Dia ingin menegurnya tapi sudah terlambat.


"Berhenti bicara dan lakukan pekerjaanmu!" Sesuai dengan apa yang Nayla duga. Pak Andre menghampiri dan memarahinya.


Terdiam seribu bahasa, Luna hanya bisa menundukkan kepalanya. "Y-ya!" suaranya gemetaran.


Pak Andre kemudian kembali pergi, merasa telah selesai dengan urusannya.


"Dia sudah pergi." komentar Nayla, menatap pundak Pak Andre semakin menjauh.


Luna merenung. Oke. Kali ini dia sadar bahwa ucapannya sudah keterlaluan. Dia secara tidak langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan Bosnya dan hanya ingin uang.


Tentu itu adalah perkataan yang kejam.


Jari-jari Luna kembali ke keyboard komputer dan melanjutkan pekerjaan dengan perasaan bersalah.


Hari dikelilingi oleh langit gelap yang membentang akhirnya pekerjaan Luna selesai. Dia merentangkan kedua tangannya ke atas, seolah pundaknya sangat kecapean.


"Aku pulang dulu ya, Luna." Nayla mengangkat tas dan beranjak pergi.


"Ya, hati-hati." Luna dan Nayla saling melambaikan tangan.


"Aku juga harus segera pulang." Merasa kantor semakin gelap, Luna mengangkat tasnya dan pergi untuk pulang.

__ADS_1


Karena jarak antara kantor pusat dengan kos yang dia sewa sangat dekat, Luna memutuskan untuk berjalan kaki. Lagipula dia tidak punya kendaraan seperti motor.


Luna menatap langit yang indah dengan banyaknya bintang yang berkelipan. "Hah, sungguh hari yang melelahkan."


Saat jarak antara kos semakin dekat, Luna menatap seorang pria asing yang berdiri di depannya. Dia terlihat cukup mencurigakan hingga membuat Luna sedikit takut.


Namun meski begitu, Luna tidak ingin menuduh orang yang mungkin hanya lewat. Jadi dia tetap berjalan mendekatinya, melewatinya melalui celah kosong.


"Tunggu!" teriak pria itu. Memegang lengan Luna dengan kuku-kuku tajamnya. Darah dengan cepat berceceran di lengannya.


Kini Luna menyadari adanya ancaman, tanpa mendengar peringatan dari pria tersebut, Luna mendorongnya dan berlari cepat.


Tapi tentu saja, pria itu tidak akan membiarkannya pergi. Dia dengan mantap melangkah lebih cepat, mengejar Luna.


Kenapa dia mengejarku? pertanyaan itu muncul di benak Luna. Dia merasakan detak jantung semakin berdegup, seiring dia berlari.


Swosh!


Pria itu terbang begitu saja, tampak dua sayap berwarna hitam di pundaknya. Tentu Luna sangat terkejut, sosok yang tadinya berada di belakangnya sekarang berada di depan karena baru saja terbang.


Dia mendekati Luna dengan senyuman mengerikan, dan kedua gigi rahang tajam yang terlihat jelas.


"Akhirnya kita bertemu. Darah legendaris!" Pria itu melompat ke arah Luna seperti macan yang ingin menerkam mangsanya.


Tapi...


Brak


Sebuah suara benturan terdengar sangat keras dan Luna membuka matanya lebar. Dia melihat Andre yang tiba-tiba muncul dan menendang kepala pria tersebut. Membuat dia mental beberapa langkah


"Sangat disayangkan, dia milikku! Bukan milikmu." Nada dari Andre sangat, seakan-akan perkataannya adalah hal serius.


"Cih, datang juga pengganggu... sepertinya ini saat untuk pergi," ucap pria misterius tersebut seraya menghilang seperti dimakan oleh kegelapan.


Napas Luna tidak beraturan. Meskipun dia telah diselamatkan namun jantungnya masih saja bergetar. Dia juga tidak memahami dengan situasi yang terjadi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Andre.


"Ya... aku baik-baik saja."


Andre menghela napas lega, dia menatap langit-langit. "Yang tadi adalah Vampir."


"Vampir? Hal seperti itu benaran ada?"

__ADS_1


"Ya. Itu adalah rahasia umum dan hanya diketahui beberapa orang. Vampir memang nyata."


Luna makin tidak percaya dengan apa yang terjadi, dia menundukkan kepala.


Mata Andre melirik ke arah Luna yang mematung tampak sedikit rasa khawatir yang muncul di tatapannya. Kemudian mata tenang miliknya terbuka lebar.


"kenapa tanganmu berdarah?" Dia terlihat terkejut atas luka yang ada di lengannya.


"Ini.. hanya luka gores!" Luna memegang tangannya, dia teringat perkataan dari Bu Dewi. Tentang 'jangan tunjukkan satu tetes darah di depannya'


"Jangan berbohong." Andre merentangkan lengannya, memegang lengan berdarah milik Luna. Dia melihat seksama darah tersebut.


Andre mendekatkan wajahnya ke tangan Luna, memeriksa semua pergelangan tangannya. Dengan jarak setipis kertas, hembusan napas pria itu menggelitikki Luna.


"Aku tidak apa-apa." Wajah Luna memerah karena malu. "Jadi biarkan saja seperti ini."


"Darah seperti ini. Sangat mubazir jika dibuang." Setelah mengucapkan itu, Andre menjulurkan lidahnya dan menjilat bagian lengan yang penuh darah.


Dia tampak sangat ahli dan mempesona. Luna dapat merasakan sensasi aneh, campuran kengerian dan ketertarikan, saat dia menyaksikan adegan yang tak biasa ini.


Seiring Andre menjilati tangannya. Setiap sentuhan lidah terhadap kulit dari Luna membuatnya merasakan sebuah perasaan yang saling bertentangan.


Dia merasakan malu yang teramat sangat terhadap kontak fisik yang sudah masuk ranah imoral ini. Di sisi lain, Luna menyilangkan kakinya karena sebuah sensasi geli nikmat yang aneh tiba-tiba muncul di tubuh bagian bawahnya.


"Hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Luna merasa seperti ada aliran listrik yang melintasinya saat Andre menjilati tangannya. Tubuhnya bergetar, dadanya berdebar tak teratur, dan napasnya tercekat.


"Sudah selesai." Andre melepaskan lengan Luna berhenti menjilatinya.


Luna akhirnya bisa bernapas penuh kelegaan. Dia sendiri sudah seperti tomat dengan kedua pipi yang merah padam.


"Bodoh apa yang kamu lakukan tiba-tiba!?" dia berteriak tidak bisa menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.


Andre mendekati wajahnya dengan wajah Luna. Dengan jarak sangat intim, dia memegang pipi Luna dan membisikkan sesuatu.


"Sudah kuduga darahmu sangat manis. aku sudah menahan diri semenjak satu minggu, berusaha untuk menjaga jarak. Tapi sudah kuduga kamu sangat mengoda."


"Eh? Berhenti mengatakan hal seperti itu!"


Andre tersenyum, sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Luna. Seorang bos yang terkenal dingin, tersenyum?


"Aku jadi makin menyukaimu... tentunya yang kumaksud adalah darah milikmu."


"Bisa berhenti menggodakku! Berhenti berkomentar tentang darahku."

__ADS_1


"Luna seperti yang kukatakan barusan. Vampir itu nyata dan aku adalah salah satunya.... Kemudian kamu." Andre mengacungkan jari ke arah Luna. "Adalah domba milikku."


__ADS_2