
Di ruangan kerja, Luna tampak sibuk dengan komputer yang dia miliki. Jari-jari kecilnya mengetik sesuatu di kyboard. Dia melakukan pekerjaan seperti biasanya.
Namun kejadian-kejadian beberapa hari ini terlalu diluar nalar sehat, sehingga membuat pikiran dia menjadi terganggu.
Pertama tentang Andre yang ternyata seorang vampir. Silvi yang merupakan Asisten pribadi. Dan terakhir fakta paling mengejutkan, teman barunya, Nayla juga seorang Vampir.
'Sama Seperti Andre, aku adalah Vampir.'
Pada saat itu, Nayla memanggil Andre dengan nama tanpa menunjukkan rasa hormat.
Apakah itu artinya dia punya hubungan khusus dengan bos Vampir itu?
Dan apakah semua orang disini adalah seorang Vampir?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu melekat di pikiran. Membuat performa kerja menurun. Hari ini, dia sudah melakukan kesalahan sebanyak tiga kali, membuat si Andre terus memarahinya.
"Hah," Luna menghela napas, berharap dengan melakukan hal tersebut. Bisa melupakan pikiran yang banyak ini.
Dia melirik ke kursi depan. Tempat biasanya Nayla duduk. Di sana tampak sang sahabat yang masih sibuk akan pekerjaannya.
Dia seolah melupakan apa yang terjadi kemarin malam, padahal Luna merasa canggung tapi gadis vampir ini malah terlihat biasa saja.
"...Nayla?" Pada akhirnya Luna memanggil. Dia sudah tidak kuat atas perasaan canggung ini.
"Ada apa?" Nayla menghentikan aktivitas, dia menatap Luna walaupun tertutup dengan komputer tebal.
"...Apakah semua Vampir seperti itu? Maksudnya bukankah ini siang hari, bagaimana bisa kalian pergi tanpa masalah?" tanya Luna. Dari banyaknya masalah. Ini yang paling aneh menurut dia.
Bukankah Vampir tidak suka sinar matahari?
Mendengar pertanyaan polos dari Luna membuat dia tertawa. "Hahaha... Itu sungguh pertanyaan yang konyol."
Nayla mengatur nafas, agar tidak tertawa lagi. Namun senyuman di wajah masih terlihat jelas. "Dengar Luna... Vampir di dunia asli tidak seperti yang kamu kira, yah. Kelak Andre pasti akan menjelaskan lebih panjang."
Luna terdiam seribu bahasa. Kenapa Andre masuk topik pembicaraan? Dia tidak ada hubungannya.
Bip... Bip..
Ponsel milik Luna bergetar, mata Luna membulat karena melihat sosok yang menelpon. Dengan cepat dia meraih dan membuka telepon darinya.
"Halo, apa terjadi sesuatu dengan ibu. Dek?"
Orang yang menelpon Luna tidak lain adalah adiknya, Alfin.
"Iya... kata dokter ibu semakin parah. Aku tidak terlalu paham, tapi ibu tergeletak dengan lemah di kasur. Dia juga terus bergumam tentang Kakak, jadi apakah kakak bisa kesini?" Suara Alfin terlihat penuh tangisan. Luna menyadari bahwa situasi ini sangatlah serius.
"Aku paham Alfin, aku akan segera kesana!" Luna menutup telepon dari ponsel, dia tanpa banyak basa-basi mengangkat tas dan ingin pergi.
__ADS_1
"Tunggu kamu mau ke mana?" tanya Nayla. Dia tidak mendengar percakapan di telepon.
"Aku ada urusan mendadak... mungkin setelah ini aku akan mendapatkan hukuman, tapi aku tidak peduli. Keluarga lebih penting!"
Selesai dengan ucapannya. Luna berlari sangat cepat, menerobos beberapa orang. Dan tidak peduli akan pandangan orang-orang yang menatapnya.
Gadis itu terlalu fokus ke kondisi sang ibu tidak ada pikiran lain.
Brak
Luna tanpa sengaja menabrak pundak seseorang, beruntung itu hanya sedikit.
"Maaf!" Luna lanjut lari tanpa menatap sosok yang dia tabrak.
Orang yang ditabrak barusan tidak lain adalah Andre, dengan tatapan tenang dia menatap pundak sang gadis.
Anehnya Andre tidak melakukan apapun walaupun sudah jelas bahwa ada karyawan yang ingin pergi tanpa seizin dia.
"Luna, ya? Kenapa dia pergi? Yah. Lupakan itu, hukuman sudah menanti." gumam dia, namun Andre tidak ada niat untuk mengejar, dia justru membalikkan badan dan berjalan ke arah lain.
Luna masih berlari dan kini dia berada di luar gedung kantor. Dia memanggil taksi dan pergi menggunakan kendaraan tersebut.
"Pak saya ingin ke rumah sakit Yap!"
"Siap Nona." Mobil taksi itu melaju cepat, menuju ke rumah sakit Yap.
...***...
"Sudah sampai Nona." Mobil taksi itu terhenti tepat di rumah sakit Yap.
Luna merogoh dompet dan memberikan uang yan pas ke supir tersebut. Tanpa menunggu waktu yang lama Luna berlari menuju kamar 77 yang merupakan tempat ibunya berada.
Srak
Luna menggeser pintu kamar yang dia cari, dengan nafas berantakan dia melihat sekeliling kamar itu.
Ada adiknya Alfin satu perawatan perempuan yang terlihat seumur dengan Luna, dan sosok ibu yang tertidur lemah dengan bantuan alat pernapasan.
"Bagaimana kondisi ibu, Dokter?" Luna bertanya, tidak bisa menghilangkan kekhawatiran ini.
Muka Dokter itu lesuh, tampak susah untuk dikatakan. "Kondisi Ibu Zahra makin parah, jujur saja. Kami tidak pernah menemukan penyakit seperti ini, jadi..."
"Jadi apa? Jangan banyak basa-basi dan katakan!" Luna terbawa emosi. Siapa yang tidak marah melihat kondisi ibu yang mengenaskan.
"...Maaf karena harus mengatakan ini, tapi penyakit dari Ibu Zahra tidak bisa tersembuhkan.Bahkan oleh semua dokter di dunia ini. Penyakit yang dialami oleh Bu Zahra adalah sesuatu, yang diluar penahaman manusia... jadi kami sangat meminta maaf." Dokter perempuan itu mengatakan dengan menundukkan kepala dan meneteskan air mata. sebuah tanda bahwa ini adalah kebenaran.
Tidak bisa diselamatkan bahkan oleh seluruh dokter yang ada di dunia ini. Itu artinya, Bu Zahra sudah tidak punya harapan untuk hidup.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin... jadi ibu akan berakhir mati sama seperti Ayah."
Luna sudah tidak kuasa menahan tangisan, lututnya terjatuh dan Luna menangis sekuat mungkin.
Hancur sudah harapan untuk menyembuhkan sang ibu dan membuat keluarganya kembali hidup enak.
Dia sudah kehilangan sang Ayah, dia sangat tidak mau jika harus kehilangan sang Ibu. Dia masih kuat saja jika menahan rasa sakit.
Tapi bagaimana dengan Alfin yang masih berusia enam tahun? Dia tentunya tidak bisa menahan rasa tangis.
Dokter itu memeluk Luna, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan.
"Saya sungguh meminta maaf."
Itulah perkataan yang dia terima, tapi sudah terlambat. Luna telah hanyut di sungai kesedihan. Tidak ada seorang pun yang bisa menghibur kecuali kesembuhan sang ibu.
Untuk menenangkan diri, Luna memutuskan keluar dari ruangan.
Luna menundukkan kepala, berjalan ke ruang tunggu. Duduk sendiri di salah satu kursi panjang.
Tatapannya terlihat kosong, tampak jelas bahwa dia telah mengalami hal menyedihkan.
"Apa terjadi sesuatu, gadis kecil?"
Luna membuka mata lebar. Sekilas dia mengira ini adalah suara Andre, jadi dia mengangkat kepala.
Tapi, dia bukanlah sosok yang Andre. Melainkan seorang pemuda yang tinggi dengan pakaian dokter.
Wajahnya memang tampan, dan sangat putih. Rambutnya berwana keemasan, sebuah paras yang sangat jarang di temui di negara Indonesia.
Memang sekilas dia memiliki aura yang sangat mirip dengan Andre.
"Anda siapa?" tanya Luna.
Sosok itu tersenyum ramah. "Perkenalkan, saya salah satu dokter disini. Nama saya adalah Michael."
Itu memang senyuman yang sangat indah dan ramah, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk Luna berdiri.
Ini dikarenakan, dua rahang gigi dari Michael terlihat sangat tajam, seperti...
"Vampir?"
sial, Luna tanpa sengaja mengatakan hal itu. Dia menjadi panik dan menutup mulutnya dengan wajah kebiruan.
Sedangkan Michael, juga terlihat terkejut. Karena tebakannya sangat benar.
"Iya, anda benar. Saya adalah seorang Vampir." Dia mengatakan hal seperti itu dengan sangat enteng, seolah tidak masalah jika rahasia terbongkar. Bahkan dia masih sempat tersenyum diposisi seperti ini.
__ADS_1
"Nona Luna. Saya memiliki tawaran, saya bisa menyembuhkan ibu anda. Dengan beberapa syarat."