Bosku Ternyata Seorang Vampir

Bosku Ternyata Seorang Vampir
Chapter 6. Tawaran


__ADS_3

Ruang tunggu yang di duduki oleh Luna terlihat sangat sepi, hanya ada gadis tersebut dan Michael yang tampak saling menatap dalam keheningan.


Orang ini bisa menyembuhkan ibu? Fakta ini tentu mengejutkan bagi Luna, barusan dia mendengar tidak ada satupun dokter yang bisa menyembuhkan, tapi kini. Micheal berkata lain.


Akankah perkataan ini adalah kebohongan?


"Kamu boleh meragukanku, gadis kecil. Tapi aku beri saran, sebaiknya kamu memikirkan ini dengan mantang."


"...Apa yang kamu inginkan agar ibu bisa sembuh?" tanya Luna, meskipun masih tidak percaya. Dia tidak bisa mengabaikan sekecil pun kemungkinan.


kedua kelopak hijau Micheal tertutup rapat, seolah sedang memikirkan sesuatu. Selang beberapa detik tergambar seringai di wajahnya.


Micheal mendekati wajahnya ke wajah Luna. Dengan jarak sangat dekat, Luna merasakan hawa tidak enak dari pria tersebut. Mata hijau miliknya sangatlah tidak ramah.


"Aku tertarik denganmu... Jadilah milikku dan jauhi Andre, dengan begitu aku akan menyembuhkan ibumu."


"Cukup ikut denganku dan jangan pernah mendekati Andre!"


Detakan jantung gadis itu makin cepat, Luna tidak mengetahui kenapa. Tapi dia merasa sesak jika harus menjauh dari Andre.


Ini memang sangat aneh, padahal dia baru saja bertemu dan benci dengan bos yang seenaknya itu.


Tapi, kenapa. Berpisah terasa sangat sesak?


"Pikirkan itu dengan matang, aku akan kembali besok."


Pria tinggi dengan rambut kuning itu, melangkah menjauhi Luna. Menuju koridor, setiap langkah yang dia lakukan menghasilkan bunyi bergema.


"Hah," helaan nafas ini keluar dari mulut Luna, gadis itu sudah tidak paham lagi. Tentang apa yang seharusnya dia lakukan.


Bip... Bip


Ponsel milik Luna bergetar, dengan perasaan penasaran dia mengambil ponsel tersebut. Di sana tertulis nama Andre.


Dia kemudian baru ingat. Bahwa apa yang baru saja dia lakukan sama dengan membolos pekerjaan, entah apa yang akan dikatain oleh Andre.


Glek! Luna menelan ludah ada keraguan untuk mengangkat telepon ini.


"Halo?" tanya Luna di telepon dengan sangat gugup, takut bila dibentak.

__ADS_1


"Di mana kamu? Kembalilah ke kantor!"


"Maaf pak. saya baru saja—"


Luna bahkan belum selesai dengan ucapannya, namun telepon tersebut sudah diputuskan begitu saja.


"Sial! Sudah kuduga dia menyebabkan!"


Gadis itu berteriak, berkat kebaikan hatinya beberapa hari lalu. Dia sempat lupa sosok Bosnya yang memang kejam.


Segitu bodohnya dia mau mengikuti orang seenaknya seperti dia.


"Sudah kuputuskan aku tidak akan kembali ke kantor bodoh itu! Kenapa juga aku harus kembali ke tempat Vampir bejat sepertinya?"


Dengan gerakan mantap, dia berdiri dari tempat duduk. Wajahnya mengambarkan keputusan yang telah bulat.


"Lagi pula dia sudah punya Silvi, seorang asisten pribadi yang bisa diandalkan. Jadi kepergianku tidak akan berpengaruh!"


Dia terus berteriak, seolah itu adalah cara untuk menenangkan diri.


Bahkan dia tidak peduli jika menjadi pusat perhatian.


Sebutir tetasan air mata menetes di pipi Luna, dia menundukkan kepala.


*


Waktu beberapa menit telah berlalu sejak Michael mengatakan bahwa dia akan datang lagi besok. Namun, dalam situasi seperti ini, Luna tidak bisa menunggu lebih lama. Dengan langkah cepat, dia bertanya kepada beberapa perawat dan mengetahui ruangan tempat Michael berada.


Di sebuah ruangan mata, Michael terkenal dengan keahlian memeriksa mata. Saat ini, tidak ada pengunjung, jadi Luna masuk ke ruangan itu.


"Ah, silakan duduk," kata Michael, sambil tenggelam dalam membaca dokumen. Dia tidak menyadari siapa yang ada di depannya, mengira Luna adalah pasien yang ingin memeriksa mata.


"Ini aku, bukan pasien," kata Luna dengan tegas.


Michael menghentikan aktivitas membaca dokumen dan menatap Luna. Sekarang dia menyadari siapa yang ada di depannya.


"Oh, jadi itu kamu... Jadi, apa yang membawamu ke sini? Apakah kamu menerima tawaranku?"


Luna menelan ludah dengan berat hati dan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Seringai tergambar di wajah dokter Vampir itu, dia terlihat sangat puas dengan jawaban Luna. Dia perlahan berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Itu jawaban yang ingin kudengar... Ikuti aku, gadis kecil."


*


Sementara itu, Andre di tempat lain tampak semakin marah karena Luna tidak merespons panggilannya. Dia bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu tidak kembali. Dia sudah memberikan perintah untuk kembali, jadi mengapa Luna belum ada di sini?


Semua pertanyaan ini membuatnya semakin kesal.


"Sial, apa yang sebenarnya dilakukan gadis nakal itu?"


Andre tidak bisa menahan kemarahannya lagi, dan dia tanpa sadar memukul meja.


Silvi, yang berdiri tidak jauh dari Andre, menghela nafas. Meskipun dia merasa agak terganggu dengan ketidakhadiran Luna, melihat Andre yang marah juga membuatnya khawatir.


"Tuan, saya tidak mengerti alasan yang tepat, tapi dia melanggar perintah Anda, ini adalah hal serius!" kata Silvi.


Andre merenung sejenak.


"Tidak, entah kenapa aku punya firasat buruk tentang ini, Silvi. Apakah kamu punya informasi tentang keberadaan gadis itu?"


Pernyataan Andre membuat hati kecil Silvi terkikis. Dia sudah bekerja di samping Andre dalam waktu yang sangat lama, dan pria itu belum pernah menunjukkan minat pada gadis lain. Namun, sejak Luna datang, semuanya berubah. Bahkan dari awal, Andre sudah menunjukkan ketertarikan yang jelas pada Luna.


Silvi juga salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Andre adalah seorang Vampir. Meskipun begitu, dia tidak pernah meninggalkan pria Itu, dan Silvi berharap agar Andre melirik ke arahnya dengan tertarik, bukan ke arah Luna.


"... Aku melihat dia pergi dengan taksi ke suatu tempat. Tujuannya mungkin adalah rumah sakit Yap," kata Silvi dengan rasa sedih, meskipun dia berusaha keras untuk tidak menangis.


“Rumah Sakit Yap? … Jadi dia pergi ke tempat Vampir brengsek itu, ya?” Andre berdesis, menyadari bahwa Luna sedang berada dalam bahaya karena berada di tempat Michael.


“Silvi, maaf. Tolong jaga kantor saat aku pergi.” Sebuah sayap kehitaman muncul di pundak Andre, menyerupai sayap kelelawar.


“Tunggu-”


Blush!


Crak!


Tanpa menunggu ucapan dari Silvi, Andre tiba-tiba terbang melayang di udara, membuat jendela ruangan pecah.


“Cih… Kenapa kamu tidak pernah menatapku?” gumam Silvi dengan nada sedih. Dia menatap ke langit, tempat Andre melayang terbang, merasa tersakiti oleh kenyataan bahwa hati Andre tampaknya telah direbut oleh Luna.

__ADS_1


__ADS_2