Bosku Ternyata Seorang Vampir

Bosku Ternyata Seorang Vampir
Chapter 3. Darah Legendaris


__ADS_3

Luna menyipitkan kedua bola matanya. Disebut dengan domba, tentu adalah hal tidak sopan bagi wanita. Namun meskipun begitu dia tidak bisa komplen karena orang yang berada di depannya telah menyelamatkan hidupnya.


“Luna pulang lah bersamaku,” ajak Andre dengan nada ringan, matanya terfokus ke Luna sambil tersenyum.


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri-“


Belum selesai Luna berbicara, Andre sudah bergerak dengan cepat. Kedua tangannya merentang, mengangkat gadis itu ke dalam pelukannya. Jantung Luna berdebar dengan kencang dia tidak menyangka akan tindakan diluar dugaan ini.


“A-apa yang tiba-tiba kamu lakukan?”


“Tidak perlu takut Luna,” bisik Andre dengan suara lembut sambil tersenyum, seakan membaca keraguan dalam pikiran Luna. "Aku akan mengantarmu pulang.”


Kedua punggung Andre menumbuhkan sayap hitam. Bentuknya sama seperti pria yang mengejarnya, seperti sayap kekelawar. Dengan lekukan sayap yang menakjubkan, mereka berdua melayang di udara.


Angin malam membelai wajah mereka. Rambut Luna berkobaran seperti api, mengikuti gerakan angin. Di bawah mereka pemandangan kota dengan banyaknya kendaraan serta lampu-lampu yang menyala terbentang luas. Seperti kilauan gemerlap di kegelapan malam.


“wah…” helaan napas Luna, menatap pemandangan bawah kota.


Andre tersenyum lembut. “Indah bukan?”


Seakan-akan pertanyaan Andre hanya angin lewat. Luna tidak membalasnya, dia masih terpesona akan keindahan kota dari atas.


Mereka terus melayang, menembus langit dan merasakan hawa sejuk di malam hari. Luna merasa sangat nyaman dengan hal ini, dia membentamkan kepalanya ke dada Andre dan tangan yang tadinya erat memegang baju Andre mulai melonggar.


Matanya perlahan-lahan mulai terasa berat, dan kelelahan akhirnya menyerang. Luna mulai tertidur dalam pelukan Andre. Sayap hitam Andre terus membelah udara, dia sedikit memperlambat kecepatannya agar Luna tidak terbangun.


“Tidurlah yang tenang, Luna,” bisik Andre dengan nada lembut, dia mempererat pelukannya.


*


Luna membuka matanya perlahan. Dia menatap langit-langit atap kamar kos yang baru saja dia sewa beberapa hari ini. Ada rasa bingung di kepalanya, kenapa dia bisa kembali ke sini? Selang keheningan beberapa saat. Ingatan kemarin malam menyerbu, mukanya dengan cepat berubah menjadi merah muda.


“Dia dan aku terbang… apa itu mimpi?”


Luna mempertanyakan dirinya sendiri. Apa yang terjadi kemarin malam begitu mustahil untuk dipercayai. Terbang bersama Vampir sudah seperti dunia mimpi.


"Aduh!" Ditengah pemikirannya, Luna merasakan rasa nyeri dan gatal di pergelangan tangan. Secara alami dia mengangkat lengan tersebut ke atas, melihat bekas goresan luka.


Dia teringat bahwa ini adalah luka dari pria misterius yang mengejarnya. Beruntung dia diselamatkan oleh Andre kalau tidak mungkin sekarang dia sudah tinggal nama, meskipun begitu dia menjilati darahnya Luna.


Luna merasakan hawa panas yang mengitari tubuh. Sensasi tersebut masih membekas. Tidak bisa hilang begitu saja.

__ADS_1


“Memalukan, dia bahkan sampai menjilat darahku… jadi Andre benar-benar… seorang Vampir?” pertanyaan itu menggantung di pikirannya.


Merasa percuma karena terus berpikir, Luna memutuskan untuk segera bangun. Ini adalah hari kerja, dia mana mungkin membolos.


Setelah makan, mandi, menggunakan jas. Luna telah siap untuk menuju kantor. Ketika dia melangkah dan keluar dari kamar kos, dia kejutkan dengan ibu Yuli-pemilik kos tersebut.


“Luna!”


“I-iya ada apa?” tanya Luna gerogi, di dalam hati dia berharap bahwa tidak akan ada penagihan uang.


“K-kamu sudah punya pacar?” Mat Bu Yuli menjadi berbinar-binar.


Sungguh diluar dugaan alih-alih menjawab Luna justru makin bingung. “Apa yang tante maksud?”


“Ah jangan pura-pura bodoh, bukannya kemarin kamu pingsan dan dia mengendongmu layaknya seorang putri? Dia membawamu hingga ke sini. Aku sangat terkejut saat malam hari ini karena mendapati pria tampan tiba-tiba muncul di depanku,” Bu Yuli terlihat sangat kagum, sungguh ini merupakan ekspresi dan tindakan yang selayaknya tidak dilakukan oleh orang yang telah berumur.


Luna hanya bisa menghela napas pasrah. Mendengarkan semua ucapan dan Bu Yuli. “Dan dia kembali lagi untuk menjemputmu, Luna.” Senyuman nakal tergambar di raut wajah Bu Yuli.


Mata Luna membulat terkejut atas perkataan dari Bu Yuli. Luna dengan cepat melirik ke segala arah, dan makin terkejut bahwasannya ada mobil mewah sedang parkir di depan kos dan menarik banyak perhatian.


Itu merupakan sebuah mobil berwarna hitam dengan seseorang pria tampan berdiri di samping mobil, dia menggunakan jas hitam yang berbadu sempurna dengan lekuk tubuh yang tinggi. Rambutnya hitam rapi, dia terlihat sangat tenang. Tidak perlu dipungkiri lagi bahwasannya dia adalah Andre.


"Hei siapa dia? Apakah seorang artis?"


"Sungguh membuatku iri, sebenarnya siapa orang beruntung yang dia tunggu."


Hiruk piruk muncul dari para warga. Mereka merasa sangat kagum dengan kedatangan sosok seperti Andre, apalagi tempat ini berada di perumahan sederhana, tentu hal seperti ini wajar terjadi.


Luna menghela napas, dia menjadi kerepotan untuk keluar bila seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia terpaksa mengikuti arus, lagipula sebentar lagi akan telat.


Ketika langkah Luna mendekati Andre, gadis itu dengan cepat menjadi pusat perhatian. Tentu tidak ada yang menyangka bahwa orang yang ditunggu ternyata adalah gadis normal seperti dia.


Andre memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan memasuki mobil. "Ayo masuk."


Dengan perasaan sedikit canggung dan ragu Luna memasuki mobil tersebut.


Mobil perlahan melintas, menjauh dari kos Luna menuju ke kantor pusat.


"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Luna, mata dia tertuju ke arah Andre yang fokus dengan kemudinya.


Seperti biasa Andre tidak banyak bicara dan memutuskan mengabaikan perkataan dari Luna. Merasa percuma untuk melanjutkan pembicaraan, Luna menoleh ke jendela mobil. Memandang banyaknya kendaraan yang saling menyalip.

__ADS_1


Lampu lalu lintas berubah menjadi merah, dengan gerakan perlahan. Andre menginjak dan mengerem mobil. Kendaraan tersebut terhenti.


"...Darah legendaris, kamu tahu itu?" akhirnya dia bersuara. Memecahkan keheningan sambil menunggu lampu merah.


Manik-manik Luna membesar atas pertanyaan dari Andre. "Darah legendaris? Apa itu?" Dia sedikit gemeteran. Terakhir kali dia diserang adalah karena hal tersebut.


"Sebuah darah yang hanya muncul seribu tahun sekali, terkenal akan rasanya yang sangat enak dan dapat memberikan kekuatan besar. Itulah darah legendaris..." ucapan itu sedikit terpotong, Andre menginjak pegas, mobil melaju lagi. "Dan kamu adalah pemilik darah itu Luna."


"Aku pemilik darah legendaris? Tidak itu tidak mungkin... anda hanya salah paham."


"Aku tidak salah paham. Itu kenyataan, darah yang langka tentu mengundang banyak vampir lain. Dan aku tidak suka itu," ucap Andre dengan nada tegas. Menekankan hal tersebut adalah kenyataan.


Lampu lalu lintas kembali berubah merah, mobil berhenti.


Andre melirik arah Luna, dan sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya. "Tadi kamu bertanya mengapa aku ke sini, bukan?"


Luna merasa bulu kuduknya berdiri dalam beberapa detik. Andre semakin mendekatinya, namun, Luna hanya bisa menelan ludah ketika Andre mendekatkan wajahnya ke lehernya.


Tangannya mengusap lembut pipi Luna, dan dia berbicara dengan suara lembut, "Karena kamu adalah domba kecilku... jadi aku tidak ingin orang lain mengambil yang menjadi milikku."


Wajah Luna memanas, dan dengan cepat dia berbalik untuk menyembunyikan pipinya yang merona. "B-berhenti menggodaku!" gumamnya, suaranya terdengar lebih berat dari yang dia inginkan.


Andre tersenyum. Dia semakin mendekat, dan jarak di antara mereka semakin tipis. Luna merasakan napas Andre yang hangat di kulitnya, dan sentuhan itu membangkitkan rasa aneh di dalamnya. Meskipun dia membencinya, Luna tidak bisa mengelakkan fakta bahwa tindakan-tindakan Andre mempengaruhi dirinya.


"Argh... tolong hentikan!" Luna menggerakkan tangannya untuk mendorong kepala Andre yang mendekat. Dia merasa jantungnya berdegup kencang, dan rasa gelitik di perutnya semakin kuat ketika Andre lebih mendekat dan akhirnya mengendus-endus rambut panjang milik Luna.


"Mmn, ngh, kgh..." Luna menggeram, atas perilaku dari Andre. Tidak bisa berpikir dengan lebih jernih.


Tangan ramping Andre perlahan bergerak ke sepanjang kerah jas Luna, seolah-olah melonggarkannya. Dengan perlahan, dia meregangkan kerah tersebut sehingga menampilkan sebuah leher indah dengan pantulan cahaya matahari.


"...Tolong hentikan! ini sangat memalukan." Matanya telah berkaca-kaca dan kedua pipinya merah padam. Mengemaskan. Hanya itu yang terlintas di benak Andre.


Pria itu mendekatinya lagi, menampilkan dua rahang gigi tajamnya. Dia hendak merasakan darah Luna melalui lehernya. Tapi sangat disayangkan hasrat itu tidak bisa terwujud.


Bip. Klakson mobil yang berada di belakang berbunyi, memberitahu bahwa lampu kembali menjadi hijau. Berkat klason tersebut Andre terhenti.


"Tampaknya kamu cukup beruntung, domba kecil... tapi berikutnya. Darahmu akan kunikmati."


Luna mengatur napasnya sejenak, sungguh dia kehabisan akal sehat. Pakaiannya kini berantakan, kerahnya terjatuh mengungkapkan leher dan lengan yang terbuka.


Plak. Melihat adanya celah dari Andre, Luna mendaratkan sebuah pukulan ke Kepala Andre. Pria itu sejujurnya tidak merasakan rasa sakit, sebagai Vampir. Pukulan gadis hanya seperti pijatan bayi.

__ADS_1


Namun tanpa alasan yang jelas, Andre justru berakting seolah dia kesakitan. "Aduh!"


"Jangan pernah ulangi hal ini lagi...! ini terlalu buruk untuk jantung!" ucapan itu bergema dengan berat, dia sangat keberatan karena tindakan Andre meskipun wajahnya sudah memerah seperti bayi yang merasa sedikit marah.


__ADS_2