Bukan Gadis Lagi

Bukan Gadis Lagi
Part 10


__ADS_3

Senyum manis tidak bisa Aji sembunyikan lagi dari bibirnya. Sepanjang perjalanan menuju kantor tidak hentinya lelaki itu mengucap syukur dalam hati. Baru sau hari berdekatan dengan Naswa, tetapi lelaki itu merasakan kebahagiaan sedemikian rupa. Bagaimana jika ia sudah lama berdekatan dengan Naswa? Mungkin hari-harinya akan diisi dengan kebahagiaan semata.


“Pagi, Bos! Kenapa itu bibirnya senyum terus?!”


Bambang bertanya dengan nada heran, pasalnya Aji terkenal dengan profesionalitas tanpa kata ramah. Mungkin jika berpapasan dengan karyawan ia akan mengangguk dengan senyum tipis. Namun, kali ini ia tersenyum lebar seolah tidak sedang menanggung beban masalah apa pun.


Aji menggeleng sembari melangkah memasuki ruangannya. Bambang tidak lagi tinggal diam. Ia mengikuti bosnya itu karena terlampau ingin tahu apa yang terjadi. Tanpa sungkan ia memasuki ruangan bercat putih itu.


“No! Pasti ada yang salah ini!” Bambang berkata seraya menatap Aji intens.


“Sekretaris dilarang kepo dengan urusan bos!” Aji berkata dengan penuh penekanan.


Bambang mengelus dada dengan wajah memelas. Tingkat kekepoannya telah mencapai puncak. Pada akhirnya, pertanyaan demi pertanyaan terus terucap dari bibir lelaki itu. Tanpa memedulikan Aji yang mulai kesal dengannya.


“Kenapa, sih, Ji?! Gue kepo!”


“Gue ... udah nikah.”


Mau tidak mau Aji memberitahukan ini pada Bambang. Lelaki itu tidak suka jika sahabatnya mengoceh tanpa henti seperti tadi. Sekarang justru sebuah tawa membahana memenuhi ruangan tersebut.


“Lo enggak halu, kan?” tanya Bambang sesaat setelah memberhentikan tawanya.


“Seingat gue, lo bakal nikah seminggu lagi sama Rea. Terus kenapa bisa lo ngomong udah nikah?” Bambang mengeluarkan pertanyaannya bertubi-tubi.


“Namanya rencana manusia dan Tuhan yang menentukannya. Jadi, mana gue tahu kalau rencana itu gagal. Gue nikah semalam bukan sama Rea.”


Bambang mengerjapkan mata dan memandang horor ke arah Aji. Ia bahkan tidak pernah memergoki sahabatnya dengan wanita lain selain Rea? Lantas Aji menikah dengan siapa?


“Lo nikah sama manusia, kan?” tanya Bambang dengan nada lirih.


Sebuah buku nota yang tebalnya lima centimeter berhasil mendarat di kening Bambang. Sontak lelaki itu mengaduh kesakitan. Di sampingnya, Aji justru tersenyum puas.


“Eh, sableng! Kalau kepala gue bocor lo mau nambal?”


Aji menggeleng tegas. “Nggak mau, dong!”


“Sableng!”


“Gue waras, Buambang! Cuman lo aja yang kurang satu ons. Seorang Aji Mahendra adalah lelaki normal pada umumnya. Jadi kalau nikah pastinya sama manusia berjenis kelamin perempuan! Bukan sama jin!”


Hilang sudah wibawa Aji jika sudah bersama Bambang. Lelaki itu sebal bukan kepalang karena pertanyaan sahabatnya. Memang sempat tersebar gosip miring bahwa ia gay. Namun, ia enggan menanggapi dan mengklarifikasi.

__ADS_1


“Terus, lo nikah sama siapa?! Kenapa mendahului undangan? Kenapa mantennya bukan Rea? Apa karena lo udah kebelet nikah? Apa karena lo udah buat kembung anak orang?”


“Gue nikah sama wanita.”


“Hah?!”


Bambang bangkit dari meja yang diduduki. Hampir saja tubuhnya terjerembab jika tangannya tidak berpegangan di sisi meja. Lelaki itu benar-benar terkejut dengan berita yang Aji bawa hari ini.


“Seinget gue, lo belum pernah ada kedekatan gitu sama some one wanita. Terus lo nikah sama temen siapa?”


“Sama temen gue semasa SMA.”


Pembicaraan mereka masih berlanjut hingga terputus oleh jam meeting Aji. Sekarang Bambang paham bahwa sahabatnya telah dilanda kasmaran. Mengingat satu pun wanita belum pernah ada yang bisa membuat Aji tersenyum. Lelaki itu memang punya selera berbeda.


***


“Nas.”


Anti memanggil sahabatnya yang masih fokus dengan layar monitor. Wanita itu belum melontarkan banyak pertanyaan pada Naswa terkait jawaban tadi pagi. Sahabatnya itu seolah merasakan bahagia dan jatuh cinta.


“Ada apa, Ti?”


“Ayo makan!” Anti berujar dengan nada memelas.


“Kamu duluan, ya!”


“Dih, enggak mau. Aku itu mau sekalian tanya-tanya sesuatu. Tentang suami kamu itu.”


Ada nada menggoda dari kalimat yang dilontakan Anti. Sebuah semu merah muda terpancar dari pipi Naswa. Wanita itu sedikit terusik dengan godaan tadi.


“Memangnya suamiku kenapa?”


“Ya. Aku pingin tahu aja.”


Belum sempat Naswa menjawab perkataan Anti ponselnya berdering. Sebuah pesan yang tertera di layar ponsel membuat keningnya berkerut. Nama “kapten” yang tertera membuat wanita itu sedikit gagal fokus.


[Ibu Negara, jangan lupa makan. Kapten takut Ibu Negara sakit. Jadi, jaga kesehatannya.]


Sederet kalimat tadi ditutup dengan emotikon love. Tertera nama Aji Mahendra di pojok pesan tersebut. Sontak saja Naswa hanya mampu menggelengkan kepala. Entah mengapa kelakuan narsis Aji membuatnya bahagia.


“Ya Allah ampuni aku. Dasar manten anyar. Ya gitu, deh! Kalau manggil Ibu Negara dan Kapten, kalau udah lama nikah pasti berubah jadi biasa.”

__ADS_1


Anti mengomel setelah melirik pesan tadi dan kemudian meninggalkan Naswa. Wanita itu bahagia dengan status baru sahabatnya. Namun, ia sedikit baper melihat isi pesan di layar ponsel tadi. Tenyata suami sahabatnya itu romantis meski terkesan pecicilan.


Di sisi lain Naswa hanya mampu menahan bibir agar tidak melengkung. Pesan Aji tadi mampu membuat dunianya terhenti untuk sejenak. Kini hal berbeda hadir di relung hatinya, ia merasakan rindu.


***


“Waw! Dilanda telah berpindah dari Bandung ke Jakarta. Ternyata kamu juga bisa gombal ke istri wahai Aji Mahendrah!” Bambang bertepuk tangan sembari membawa ponsel Aji.


Aji yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Bambang dengan garang. Tanpa kata lelaki itu merampas ponselnya. Ternyata belum ada balasan dari Naswa sedari tadi.


“Mungkin istrimu kaget kamu gombalin,” celetuk Bambang.


Aji membenarkan dalam hati, tetapi sebaris kalimat manis membuatnya tersenyum lagi. Naswa masih menutup diri dengan gengsinya. Wanita itu terlalu unik dimiliki tetapi terlalu sayang untuk dibiarkan.


[Aku masih marah, ya! Terus kenapa nama kontaknya diganti kek gitu?! Dih, macam ABG!]


Kedua orang itu berbalas pesan dengan wajah berseri. Mengabaikan orang sekitar yang tengah menatap heran. Memang jatuh cinta itu membuat dunia terasa berdua.


***


Pukul empat sore sebuah pesan membuat Aji mengerutkan kening. Baru saja lelaki itu akan beranjak dari duduknya dan berencana pulang.


Namun, sebuah pesan dari sebuah nomor tiak dikenal mengusik hati. Setelah dibuka, netra lelaki itu melebar. Foto Naswa tanpa sehelai benang membuat darahnya mendidih.


[Bahkan sebelum kamu tahu semua tentang istrimu. Aku sudah mencicipinya!]


Berbagai umpatan telah bersarang di kepala Aji. Lelaki itu mengepalkan tangan dan keluar dari ruangan. Emosinya tertuju pada satu titik. Tidak salah lagi, ia ingin menghabisi seseorang yang telah merendahkan Naswa. Mungkin malam nanti.


Aji meninggalkan kantor menggunakan motor matic dengan kecepatan tinggi. Ia butuh pelampiasan untuk sekadar menenangkan diri. Bagaimana pun ada rasa tidak rela jika apa yang seharusnya hanya bisa dilihat oleh dirinya dilihat oleh orang lain.


Di sisi lain sebuah pesan juga masuk di ponsel Naswa. Wanita itu lemas  seketika melihat foto memalukan itu. Terlebih sederet kalimat menutup pesan tersebut.


[Suamimu pun sudah tahu semua, Sayang.]


Rasanya Naswa tidak mampu untuk sekadar berdiri lagi. Ia merasa berdosa terutama kepada Aji. Sebagai istri, ia belum bisa menjaga apa yang harusnya terjaga.


Meninggalkan dua orang yang dilanda kegelisahan itu, Rehan tersenyum menyeringai menatap ponselnya. Kabar tadi malam membuat amarahnya memuncak. Namun, lelaki itu membalas amarahnya dengan rencana licik. Naswa hanya miliknya.


Tbc.


Mulai sekarang jangan lupa nabung Qaqa. ❤️InsyaaAllah AjiNanas akan dibukukan.

__ADS_1


__ADS_2