
Azan Subuh mulai berkumandang membelah kedinginan malam. Dua insan yang masih menutup mata itu kemudian terbangun. Menampilkan wajah berseri karena kejadian malam tadi.
“Kakimu nggak apa-apa, kan?” tanya Aji menatap Naswa yang tengah menata jilbabnya.
“Enggak apa-apa.”
“Yakin?!” Aji masih berusaha memastikan.
Naswa mengangguk dan sedikit menghindari tatapan Aji. Wanita itu masih malu dengan kejadian tadi malam. Ia sukses melakukan hal agresif yang tidak bisa dideskripsikan.
“Tunggu, Nas.” Aji berkata seraya mencekal pergelangan tangan Naswa.
“Morning kiss, dong!”
“Apaan, sih?!”
Aji mengangkat seblah alisnya. “Ya, seperti tadi malam itu loh—“
“Itu sudah iqomah, lebih baik sana pergi ke masjid,” ujar Naswa sembari menahan debar yang ada di dadanya.
Aji mengembuskan napas pasrah. Apa yang dikatakan Naswa memang benar adaya. Jika saja belum ada iqamah, ia akan menggoda istrinya itu.
“Ya sudah. Aku ke masjid dulu.”
Naswa tersenyum memandang punggung tegap Aji. Masih ada rasa tidak percaya karena ia menikah dengan lelaki yang merupakan sahabatnya dulu. Apalagi tadi malam ia telah memeluk tubuh itu.
Lamunan Naswa terpatahkan mengingat dirinya belum salat Subuh. Dalam sujud panjangya, wanita itu mengucapkan syukur kepada Tuhan. Banyak nikmat yang ia miliki saat ini. Salah satu nikmatNya adalah Aji Mahendra.
***
Pintu berderit menampilkan pemandangan yang tidak terduga. Aji berulangkali meneguk ludah kasar. Sedangkan Naswa terpaku di depan pintu kamar mandi.
“Em, maaf.”
Aji yang terpukau dengan panorama rambut lurus Naswa. Tanpa komando ia berbalik haluan. Lelaki itu kembali menutup pintu dengan desir halus yang menggelayuti kalbu.
Naswa merasakan wajahnya memanas.Wanita itu merutuki diri sendiri karena keteledorannya. Akibat lamunan tentang Aji membuat Naswa tidak cepat salat Subuh dan mandi. Pada akhirnya saat ia sedang mengenakan selembar handuk, Aji datang dan melihat semua. Rasanya ia ingin mengubah wajahnya menjadi orang lain saja.
“Duh, Gusti Allah.”
Aji bergumam sembari mengelus dadanya. Berharap jantung yang berdetak abnormal mampu segera normal. Naswa sungguh membuat dunia lelaki itu menjadi berwarna.
***
“Kenapa sedari tadi diam, Nas?” Aji berusaha mencairkan suasana selesai sarapan.
Naswa berusaha fokus dengan piring kosong yang ada di tangannya. “Ya, enggak ada bahan pembicaraan.”
“Oh, begitu.”
Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Sampai mereka berada di mobil pun belum ada percakapan apa pun. Aji yang sedikit kesal dengan situasi ini mencoba berpikir keras untuk mencairkan suasana.
“Tuan Putri masih marah?”
Aji bertanya seraya memperhatikan jalanan. Naswa hanya berdehem. Wanita itu bingung ingin menanggapi apa.
“Jangan hanya berdehem, Nas.”
Justru perintah Aji membuat Naswa semakin bersalah. Harusnya ia tidak masalah jika suaminya melihat tadi. Di dalam hubungan suami istri tidak dikenal adanya aurat dan juga Aji telah berhak atas dirinya.
“Harusnya aku yang minta maaf. Maafkan aku belum bisa menjalankan tugas istri seutuhnya.”
Aji mengerutkan kening dan menghadap ke arah Naswa. Lalu lintas yang sedikit padat membuat kemacetan terjadi. Hal tersebut membuka kesempatan untuk lelaki itu memandangi wajah istrinya.
“Kamu sudah menjalankan tugasmu, Nas.”
Naswa menggeleng hingga bunyi klakson membuyarkan pembicaraan mereka. Sepajang perjalanan Aji memikirkan perkataan istrinya. Tepat saat mobil berhenti di pelataran kantor, ia mendapat pencerahan.
“Tunggu, Nas.”
Tanpa kekasaran, Aji mencekal tangan Naswa. Kondisi sekitar yang masih sedikit sepi membuat suasana mendebarkan tercipta. Lelaki itu masih menatap lekat wanita di hadapannya.
“Aku tahu. Pernikahan kita ini baru beberapa hari, jadi kamu jangan mikir macam-macam. Aku tidak menyentuhmu bukan berarti aku tidak ingin. Namun, aku ingin saat nanti tiba kita telah dilanda cinta dengan sebenar-benarnya, tanpa rasa trauma yang mampu membuatmu menangis. Jangan berpikir negatif, ya!”
“A—aku takut—“
“Jangan takut, Naswa. Aku akan menunggu, sampai aku dan kamu menjadi kita yang seutuhnya.”
Dua jari Aji menyentuh bibirnya lantas berpindah ke bibir Naswa. “I am waiting for you, Princess.”
“Thank you, Prince!” ujar Naswa sebelum turun dari mobil.
***
“I love you for a thousand years!”
__ADS_1
Bambang menyanyi sembari memberikan beberapa tumpukan kertas ke arah Aji. Sahabatnya itu kini tengah memandangi laptop dengan pandangan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu.
“Why, Bosque?” tanya Bambang sembari menepuk pundak Aji.
Aji menggeleng lantas berusaha kembali fokus dengan pekerjaannya. “Gue baik-baik aja!”
“Eleh, mana ada. Ntu muka kayak orang nggak diberi jatah semalem."
Tumpukan kertas yang tadinya berada di meja telah berpindah tempat ke bibir Bambang. Lelaki itu mengaduh sembari menatap A ji cengo. Meskipun mereka telah bersahabat lama, tetapi tetap saja sifat Aji yang garis keras mampu membuat lelaki itu kesakitan tiap saat.
“Jangan garis keras kenapa, sih, Ji?”
“Gue nggak akan garis keras kalo lo nggak julid, Buambang!” jawab Aji gemas.
“Gue enggak julid, Zheyeng! Cuman kepo, itu tandanya gue perhatian sama elu.”
Aji menggelengkan kepalanya sejenak. Tadi ia hanya melamun tentang sifat menggemaskan Naswa dan kelakuan biadab Rehan. Entahlah, rasa tenang belum menggelayuti hatinya jika ia belum bertatap muka dengan Rehan.
“Betewe, kenapa lu ngelamun lagi, Tong?”
“Gue lagi banyak pikiran.”
“Tentang paan, sih? Coba cerita sapa tahu gue bisa bantu lo gitu.”
“Tentang bagaimana cara membuat wanita jatuh cinta?!”
Bambang menyeringai sejenak. “Emang bini lo nggak suka sama lo?”
Aji menggeleng, pertanyaan tadi hanya alibi di tengah hatinya yang carut marut. Namun, tidak urung jua lelaki itu meminta bantuan Bambang. Ia akan menghadapi Rehan yang tidak gentar untuk menghadapi Naswa.
“Gue butuh bantuan lo buat cari tahu tentang orang ini.”
Tanpa pertimbangan lebih lanjut Aji menunjukkan foto Rehan pada Bambang. Lelaki itu menampakkan kerutan kening kebingungan. Ia tidak mengerti sekaligus heran.
“Ini siapa? Pimpinan perusahaan baru yang mau nyerang perusahaan kita?”
“Ini bukan permasalahan tentang itu lagi, Buambang! Ini lebih penting.”
Aji menatap Bambang dengan tatapan tajam mengisyaratkan dendam dan amarah yang tidak tersalurkan. “Dia ... orang yang bikin bidadari gue sakit.”
Bambang ingin mengumpat, tetapi tatapan Aji yang mengisyaratkan keseriusan membuat lelaki itu diam. Ia sadar sahabatnya tidak main-main lagi. Lelaki yang berstatus sebagai bos dan sahabatnya sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya.
***
[Tunggu tanggal mainnya. Bisa jadi bom meledak sebelum waktunya.]
Sesaat setelah kata “deal” terlontar dari rekan bisnisnya, Aji keluar kafe. Meninggalkan Bambang yang masih beramah tamah. Lelaki itu sadar dengan kegelisahan bosnya selama meeting berlangsung tadi..
[Gue ada urusan, jadi tolong handle semua.]
Pesan itu menutup kekhawatiran Bambang. Ia tersenyum sembari menatap mobil yang dikemudikan Aji. Saat sebuah ingatan yang membuat lelaki sadar, seketika senyuman tadi pudar seketika.
“Shit.”
Bambang mengumpat karena baru sadar bahwa ia menumpang mobil Aji, sedangkan sekarang ia tidak membawa dompet sama sekali. Lelaki itu tidak jadi ikut berbahagia karena kisah cinta sahabatnya. Mungkin karena faktor wanita sahabatnya itu melupakan semua.
“Jalan kaki atau ngutang. Duh , Aji Gendeng!” gumam Bambang sembari meninggalkan kafe dengan jalan kaki.
[Nas.]
[Naswa.]
[Tuan Putri.]
[Yuhu.]
[Km di mn?]
Sembari mengendarai mobil, Aji mengirimkan pesan bertubi pada Naswa. Lelaki itu semakin khawatir ketika pesan WatsApp tadi hanya centang satu. Tanpa mengindahkan perasannya, ia tetap berusaha tenang dan fokus dengan jalanan. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan karena pikiran yang tidak-tidak, itu prinsip Aji.
***
“Naswa ada?”
Anti tergagap dari lamunannya. Aji telah berdiri dengan wajah yang mengandung raut khawatir. Suami sahabatnya itu tampak tidak tenang dengan napas yang memburu.
Sembari melirik jam tangannya Anti menggeleng. “Sekitar lima menit tadi, dia izin ke apotek. Kelihatannya dia sakit.”
“Terima kasih.”
Aji kembali berlari meninggalkan Anti yang masih mematung. Jika dilihat, Naswa memang cocok dengan suaminya. Sahabatnya itu memang beruntung memiliki suami yang tampan.
Suasana senja kali ini terasa berbeda, sudah beberapa apotek yang Aji sambangi, tetapi tidak menghasilkan jejak Naswa. Pesan yang setengah jam ia kirim belum terbalas juga. Ditambah kemacetan parah yang mengular sepanjang jalan. Aji ingin mengumpat, tetapi ia rasa umapatan tersebut tetap akan sia-sia.
Setidaknya, setelah mengeluh dalam hati, Tuhan mengabulkan doa Aji. Kemacetan berangsur hilang dan tanpa diminta, lelaki itu sedikit menambahi kecepatan yang ada. Di apotek sudut jalan telah terduduk wanita bejilbab peach.
__ADS_1
“Kamu ke mana?!”
Aji tidak mampu mengontrol suaranya lagi. Naswa sedikit terkejut dengan nada dingin suaminya. Bahkan tampak jelas rahangnya mengeras.
“Aku—“
“Diam!”
Aji berkata seraya menarik tubuh mungil di hadapannya. Ia memeluk Naswa dengan erat seolah takut akan kehilangan kapan saja. Sembari menenangkan napas yang masih memburu, lelaki itu menghirup aroma istrinya dalam-dalam.
Kaku dan berdebar, dua kata itu mendeskripsikan perasaan Naswa kali ini. Ia tidak bisa apa-apa selain membalas pelukan Aji. Dapat terasa embusan napas memburu sumaminya yang menyisakan tanda tanya.
“Ada apa?”
“Empat apotek aku sambangi demi lihat kamu, Tuan Putri. Bahkan satu pun pesanku belum kamu balas. Apa, sih, gunanya ponselmu itu? Apa nggak ada keyboard buat nulis balasan?”
Naswa menggelengkan kepala.
“Duduk dulu—“
“Nggak aku pingin pulang!”
Tanpa persetujuan, Aji menggamit tangan Naswa. Meskipun pikirannya hampir kalut, lelaki itu tetap berlaku lembut. Perlakuan tersebut membuat sebuah bulan sabit melengkung indah di bibir istrinya.
“Besok aku mau beli borgol.”
Naswa menatap Aji yang kini tengah fokus dengan jalanan. “Untuk apa?”
“Biar kamu nggak jauh-jauh dari aku. Satu lagi, besok kamu resign dari kantor dan pindah ke kantor aku. Ini perintah sekaligus paksaan.”
Naswa tersenyum renyah seiring mobil yang mereka tumpangi membelah keriuhan kota. Hati keduanya semakin dekat dan menemukan kenyamanan. Bukankah cinta akan menemukan tuannya?
***
“Pinjam ponselmu, Nas!”
Keheningan yang tadinya masih bertahan terpecahkan oleh suara Aji. Tanpa curiga, wanita itu menyerahkan ponselnya. Setelah itu, fokusnya masih tertuju pada buku yang ada di pangkuannya.
“Aku lihat kamu masih punya kuota. Kenapa nggak bales WA-ku?”
“Ponselku tadi kehabisan batrai.”
“Bawa power bank, dong! Ish, apa hobi wanita itu rata-rata meninggalkan tanpa alasan?!”
Naswa tertawa kecil. “Dih, apaan sih?!”
“Ya itu, wanita memang sungguh istimewa. Seperti kamu yang hampir membuat meetingku gagal.”
Kali ini Naswa menutup novel yang tengah ia baca. Netranya menatap lekat netra Aji. Suaminya sedang tidak main-main untuk kali ini.
“Ada apa? Kenapa tadi khawatir? padahal aku nggak ke mana-mana.”
“Si Sethan kirim pesan ancaman. Ya jelas aku khawatir sama bidadariku. Aku kira kamu diapa-apain sama Sethan itu!”
Pembicaraan yang awalnya serius tersebut justru membuat Naswa mengulum senyuman. Ia terkekeh kecil dengan istilah yang tidak dimengerti. Sebagai wanita mungkin ia mempunyai kadar kurang peka yang tinggi.
“Sethan siapa? Bidadari siapa?”
Aji menatap istrinya cengo. “Sethan itu si Rehan dan Bidadari itu ya kamu, Sayang. Suamimu inikan tampan seperti pangeran. Jadi ya, kamu sebagai istrinya itu Bidadari.”
Naswa mencubit lengan Aji gemas. Wanita itu kembali terkekeh kecil akibat sifat tengil Aji. Hari suramnya kini mulai berwarna dengan sifat abstrak suaminya.
“Hust. Rehan itu makhluk ciptaan Allah. Jadi, jangan mengejek namanya begitu.”
“No. Meskipun ia makhluk ciptaan Allah, tapi Rehan itu kelakuannya mirip Sethan. Aku nggak suka sama orang yang membuat bidadariku menangis. Jadi, inti dari perakapn ini adalah jangan membuat aku khawatir!”
“Oke—“
“Sttt! Aku belum selesai bicara. Sekarang sudah malam dan silakan tidur. Kesehatane njenengan niku penting.”
Aji menyingkirkan novel yang ada di pangkuan Naswa. “Sekarang tidur. Eh, apa kamu mau tidur pakai jilbab terus, Nas?” tanya Aji dengan nada santai.
Jantung Naswa berdetak tidak keruan karena pertanyaan Aji. Kini, lelaki itu membalikkan badan dan sibuk mengganti lampu kamar. Setelah Naswa mengembuskan napas panjang kain jilbab tersebut telah berpindah ke atas nakas.
“Jangan diambil hati, tidur saja! Aku hanya bertanya apa pun yang membuatmu nyaman, aku menerima.”
Aji berujar dan masih memunggungi Naswa. Entah kenapa kalimat tadi seperti sihir yang mampu membuat jiwa wanita itu terpesona. Ia terharu dan merasa bahagia.
“Terima kasih.”
Kalimat itu didengar Aji sesaat setelah ia berbalik badan. Pemandangan indah, Naswa yang tidak menggunakan jilbab lagi membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Apalagi senyum indah yang melengkung di bibir bidadarinya itu membuat hawa dingin berubah mejadi hangat.
“Terima kasih telah menerimaku apa adanya. Terima kasih telah bersabar dengan sifatku. Terima kasih telah membuat hatiku berwarna. Terakhir, terima kasih untuk menghargaiku seperti wanita pada umumnya, Mas Aji Mahendra.”
Kalimat panjang tadi ditutup dengan senyum yang tersungging di bibir keduanya mereka sama-sama bahagia dengan rasa nyaman yang ada. Purnama menjadi saksi dua orang yang tengah meniti cinta di hati masing-masing. Bukankah cinta datang karena doa, usaha, dan tebiasa?
__ADS_1
Untuk yang ingin waiting list bisa kirim pertemanan di FB Hisnanad. 💞 Salam sayang.