Bukan Gadis Lagi

Bukan Gadis Lagi
Part 15


__ADS_3

“Jadi perlu ada pinggitan atau tidak?”


“Tidak perlu.”


Naswa dan Aji bertkata dengan kompak. Ruangan yang tadinya serius, kini dipenuhi tawa. Pasangan pengantin baru itu pun salah tingkah.


Hari ini kedua orang tua Naswa dan Aji berkumpul untuk membicarakan masalah resepsi. Meskipun orang tua Naswa baru pulang tadi pagi, tetapi merka tetap bersemangat. Apalagi setelah melihat senyum putrinya terbit, rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh hilang sudah.


“Kompak sekali. Pengantin baru memang seperti itu, ya!” ledek Mama Aji yang tersenyum.


Naswa hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya. Lain halnya Aji yang menggaruk tengkuk, salah tingkah. Kemudian, tawa terbahak kembali terdengar.


“Lagian Aji mikirnya begini loh, Ma, Pa. Pinggitan itu biasanya harus seminggu sebelum akad. Lah, inikan tinggal beberapa hari.”


Papa Aji tersenyum menyeringai. “Bilang saja kamu ndak kuat kalau harus jauh dengan Naswa. Begitu saja, lho, Ji! Jangan gengsi.”


Aji mendesah pasrah seraya mengangkat tangan. “Terserah, deh. Aji ngalah, kalian pasti tahu yang terbaik.”


“Haha! Sudah, iya tidak ada acara pinggitan, nanti malam kamu masih bisa tidur dengan Naswa, Le!” Mama Aji ikut menimpali.


Kembali ruangan tersebut riuh dengan tawa. “Sudah, ya! Sekarang lebih baik kita membahas acara resepsi lagi.”


Tanpa terkesan menggurui, Ayah Naswa mengatakan kalimat tadi. Semua orang kini kembai berbincang santai. Sesekali terdengar godaan yang masih tertuju untuk Aji dan Naswa.


Sekitar pukul sebelas siang, orang tua Aji berpamitan dengan wajah bahagia. Tanpa gurat kebencian, Mama Aji menyalami menantunya. Wanita paruh baya tersebut berbisik di telinga Naswa.


“Jadi menantu yang kuat, Nas. Mama percaya kamu bisa membahagiakan Aji.”


Kalimat yang terdegar lirih tetapi penuh penekanan membuat Naswa tersenyum. Angin segar telah ia hirup. Perilaku Mama Aji telah menunjukkan lampu hijau diterima dirinya sebagai menantu. Sesungging senyum tidak luput dari bibir Naswa. Ia bahagia sekaligus terharu dengan kado terindah dari Tuhan yang tidak henti datang.


***


“Malam terakhir.” Aji bergumam seraya menatap Naswa yang tengah menyisir rambut.


Indera pendengaran Naswa mampu menangkap keluhan dari bibir Aji. Wanita itu berbalik sekaligus menatap suaminya yang menampakkan wajha muram. Keputusan final rapat dua keluarga tadi adalah tidak akan ada pinggitan, tetapi sehari sebelum akad Aji harus kembali ke rumahnya.


“Kenapa hanya satu hari, kan?!” tanya Naswa dengan senyuman.


“Ya hanya satu hari, 24 jam, 1.440 menit, dan 86. 400 detik. Bagiku itu menyebalkan. Bahkan saat di kantor aku juga ingin melihat wajahmu.”


Satu kalimat terakhir terdengar lirih, tetapi masih mampu Naswa dengar. Wanita itu beranjak mendekati Aji. Masih dengan surai yang tergerai.


“Tadi termasuk godaan atau apa?” tanya Naswa sembari mengangkat sebelah alisnya.


“Bukan godaan, Nas. Bisa dikatakan kenyataan bahwa aku tanpamu adalah butiran debu.”


Naswa mencubit hidung Aji gemas. Wanita itu merasa bahagia dan kesal secara bersamaan. Kelakuan suaminya sungguh berbahaya untuk kesehatan, karena setiap pujian tadi terlontar, maka jantung Naswa akan bertalu abnormal.


“Kamu tanpaku itu something, tetapi kamu tanpa Allah itu nothing. Satu hari bukan waktu yang lama,” ujar Naswa santai.


“Memangnya kamu enggak ada rasa rindu untukku?”


Pertanyaan Aji membuat wanita itu tersenyum.Naswa ingin beranjak dari kasur tanpa menjawab persoalan tadi. Namun, sebuah cekalan menahannya.


“Katakan, Nas! Jawab pertanyaan tadi.”


“Rindu itu bukan diumbar dengan rangkaian aksara, tetapi cukup disimpan dan disampaikan lewat doa. Jadi, intinya hanya aku yang tahu. Aku rindu sama kamu atau enggak.”


Aji mendesah lelah. “Duh Gusti Allah, kenapa makhluk wanita mempunyai banyak kode dengan artian yang berbeda?!”


Naswa tersenyum menatap Aji yang kini memelas. Wanita itu masih perlu membuktikan rasa yang seharusnya ada. Meskipun rasa nyaman kerap kali bertandang, bukan berarti rasa cinta sudah mulai ada. Perjalanan yang mereka tempuh masih panjang dan mungkin akan menemukan jalan terjal.


***


Pagi yang harusnya diawali dengan senyuman keikhlasan justru telah ternoda dengan wajah muram Aji. Diam-diam tadi malam, lelaki itu memperhatikan wajah Naswa tanpa henti. Ia tidak bisa memejamkan mata barang sedetik saja.


Rasa-rasanya wajah istrinya mampu menjadi obat pengusir rasa kantuk.


Suara mobil terdengar di teras rumah. Wajah Aji bertambah muram kala kepalanya melongok ke jendela. Kedua orang tuanya telah datang, berarti  ujian hati akan segera datang.


"Mas, sarapan dulu.”


Setelah membalikkan badan, Naswa telah berada di hadapannya. Tidak menunggu waktu lama lagi, lelaki itu menarik istri pendeknya ke dekapan. Dekapan dalam waktu panjang dan tanpa tuntutan.


“Mas.”


Lima menit berlalu, kaki Naswa mulai pegal karena terus berdiri. Pada akhhirnya wanita itu membuka suara dan memecah keheningan yang ada. Aji hanya bergumam tidak jelas dan masih setia dengan posisinya.


“Mas Aji, aku pegal,” ungkap Naswa membuat Aji merenggangkan pelukan.


“Jangan rindu. Rindu itu berat biar Dilan saja. Aku juga tidak kuat.”


Aji berkata seraya melangkah keluar. Naswa mengulum senyuman. Sifat Aji membuat wanita itu merasa diinginkan dan dibutuhkan.


Di meja makan, Aji tampak tidak bersemangat untuk memakan makanannya. Lelaki itu justru sibuk menatap Naswa. Wanita itu benar-benar telah mengalihkan dunianya.


“Jangan hanya melamun, Ji. Pura-pura bahagia juga butuh tenaga. Papa tahu, kamu pasti enggan berjauhan dengan Naswa,” bisik Papa Aji setelah makan.


Lelaki itu menepuk pundak putra semata wayangnya. Seakan berusaha membuat semangat, tetapi justru yang ia dapat hanya desahan lelah Aji. Untuk sejenak ruangan makan diserang oleh keheningan.


“Ayo kita pulang, Ji. Sekalian lihat gedung resepsi.”


Ajakan mamanya membuat lelaki itu bangkit dengan rasa pasrah. Serasa ada lem yang menempel di kakinya untuk tidak beranjak selangkah saj. Apalagi melihat senyum Naswa yang tersungging.


“Kalau Aji pulang ke rumah nanti sore saja, bisa?!” tanya Aji saat sudah sampai di teras rumah.


“Bisa, tapi enggak boleh.”


Setelah menyalami mertuanya, kini Aji menyalami Naswa. Lelaki itu menjabat tangan istrinya. Sedikit canggung istrinya mencium punggung tangannya.

__ADS_1


“Baik-baik. Jaga hati, Tuan Putri. Besok, Pangeran akan bawakan kejutan.”


Naswa tersenyum samar. Perlahan punggung Aji menjauh. Lambaian tangan lelaki itu membuat getar tersendiri di dalam dadanya.


Netranya masih mencoba mencari kala mobil sedan berwarna putih itu telah hilang di kelokan jalan. Naswa menunduk dengan senyum yang masih mencoba ia pertahankan. Wanita itu berusaha teguh dengan pendirian.


“Hanya satu hari dan satu malam,” gumamnya sembari masuk ke rumah.


Matahari mulai menampakkan sinarnya bersama dengan dua orang manusia yang tengah terpisah jarak. Mendung sedikit berarak menambah kesan mendukung untuk tatapan sendu di kedua netra masing-masing. Tanpa mereka ucapkan pun ada rasa rindu yang perlahan mulai menggebu. Kian bertambah tiap menit bahkan tiap helaan napas.


***


[Hai apa kabar dengan rindu? Apa sudah mulai menyerang hatimu?]


Naswa yang tadinya enggan membuka ponsel, kini tersenyum. Seiring dengan surainya yang melambai diterpa sang bayu, wanita itu mulai mengetikkan aksara demi aksara. Lama, waktu terasa melambat setelah kepergian Aji dari rumahnya.


[Entah kenapa apa yang kamu tanyakan, terjadi padaku. Saat ini bahkan untuk memejamkan mata saja, rasanya susah.]


Setelah balasan dari Naswa, Aji ikut tersenyum. Tanpa dapat ditahan jemarinya mulai menekan tombol video call. Untuk beberapa saat ada nada tunggu dan menit berikutnya muncul sesosok wanita yang ia rindukan.


"Apa kabar, Tuan Putri? Bagaimana satu hari tanpa Pangeran?" tanya Aji dengan netra yang tidak lepas dari wajah Naswa.


"Kabarku baik, Pangeran. Hanya saja Tuan Putri merasakan sesuatu yang aneh." Naswa berkata dengan wajah serius.


"Kenapa? Apa yang aneh?"


"Aku rasa ada sesuatu yang hilang dan sesuatu yang kurang. Tanpa sifat tengilmu, apalah arti Nanas ini Mas Jijik?"


Tawa Naswa mengalun merdu. Aji tersenyum kecut mengabaikan panggilan yang sebenarnya tidak ia sukai sama sekali. Namun, berhubung istrinya suka, lelaki itu hanya bisa pasrah asalkan senyum manis tersebut tidak pernah pudar.


"Apa kamu enggak tidur?" tanya Aji.


"Masih belum mengantuk."


Aji melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Pukul sebelas malam, artinya Naswa telah melewati jadwal tidurnya. Ia sendiri pun tidak mengerti kenapa netranya tidak bisa berkompromi.


"Ayo tidur aku temani."


Dua orang tersebut mulai merebahkan diri. Sambungan video call masih terhubung. Tanpa kata, mereka saling bertatap mata.


"Masih belum ngantuk."


"Jaga kesehatan, Nas. Besok pasti capek!" tutur Aji.


"Aku belum ngantuk—"


"Aku nyanyiin lagu. Tapi tolong pejamkan mata."


"Dengarkanlah aku, cerita hatiku. Cerita tentangmu. Aku mau ikhlas. Ikhlas menyayangimu. Tutuplah matamu. Cukup aku dan Tuhan yang tahu."


Lagu Wali Band membuat netra Naswa enggan terpejam. Suara Aji yang merdu membuat wanita itu terenyuh. Tanpa sadar mulai timbul air mata yang menggenang di pelupuk netra.


"Aku tlah berjanji mendampingimu, lahir dan batinku." Naswa ikut menyanyikan lagu tersebut.


"Loh, aku nyanyiin kok enggak tidur? Suaraku fals ya, Nas?!"


"Enggak siapa bilang suara Mas Jijik fals? Suaranya bagus, kok."


Setelah itu tidak ada percakapan yang terjadi. Desir halus mulai menyapa kalbu keduanya. Lima menit berlalu tetapi belum ada percakapan yang mengisi keheningan.


"Nas." Aji kembali berkata setelah keheningan melanda.


"Tidurlah. Kamu butuh tenaga banyak untuk besok. Jaga kesehatan dan have nice dream."


"Too."


Sambungan video call pun terputus. Menyisakan Naswa yang masih membuka mata. Pikiran wanita itu mulai mengawang.


Aji berubah sedikit drastis. Bahkan Naswa masih ingat di kampus dulu, lelaki itu tidak banyak bicara dan terkesan dingin. Sempat terdengar gosip miring tentang Aji yang tidak menyukai wanita.


Ingatan Naswa kembali berkelana ke masa waktu SMP dulu. Aji adalah lelaki yang menjadi hironya. Menyelamatkannya dari rasa malu.


Terakhir, hati Naswa kembali melayang mengingat Aji yang mampu menghentikan aksi bejat Rehan. Selama mengingat kejadian tersebut, senyum terus terukir di bibir wanita itu. Ia tidak mampu berkata apa pun lagi.


Naswa menghirup aroma Aji dalam-dalam. Rasa nyaman mulai melenakan. Tanpa sadar rasa kantuk mulai menyapa netranya.


Perlahan dua insan yang tengah terpisah oleh jarak tersebut mulai menutup mata. Bersiap menjemput mimpi dengan segaris senyum yang melekat. Masih dengan rasa yang menghangat.


***


Sebuah mobil hitam tanpa plat telah terparkir di halaman. Beberapa orang dengan pakaian hitam keluar. Satu di antaranya adalah seorang wanita yang rambutnya tergerai.


"Apa ini lokasinya, Bos?" tanya salah satu orang tersebut.


Sembari mengisap rokok, lelaki yang dipanggil bos tersebut mengangguk. Tanpa menunggu lama, salah satu di antara mereka pergi. Tanpa gerak gerik yang mencurigakan.


"Ingat, kerjakan tugas masing-masing tanpa kesalahan apa pun!" titah suara serak yang memecah keheningan malam.


Mata elangnya menatap nanar ke arah wanita yang kini menunduk. "Ingat, jangan sampai ada kesalahan."


Gadis itu mengangguk bersamaan kode seseorang yang tadi masuk. Bersama keheningan Subuh, mereka membelah jalanan. Bersiap melakukan misi saat arunika menyingsing nanti.


***


End untuk pembaca.


Spoiler untuk pembeli novel:


"Ayo, Nas. Kita harus cepat!"

__ADS_1


Naswa tersenyum sembari membuka pintu. Di hadapannya sang ibu telah mengomel. Tanpa kata wanita paruh baya tersebut menggandeng tangannya.


"Kamu nanti harus make up ini itu. Jadi pasti memakan waktu lama."


Naswa mengangguk, satu malam terasa begitu panjang. Namun, pada akhirnya pagi ini semua rasa tersiksa sudah sirna. Wanita itu setidaknya bersyukur tadi malam masih bisa tertidur, meskipun hanya beberapa jam saja.


"Nas, jangan melamun."


"Iya, Bu."


Naswa berkata seraya menatap jalanan yang kini mulai dilewati. Masih pukul tujuh pagi, artinya kurang tiga jam lagi resepsi akan dilaksanakan. Keringat dingin dan debar jantung wanita itu bertambah. Dia sedikit takut untuk melewati fase ini.


"Jangan takut. Semoga pengalaman hari ini menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir untukmu, Nas."


Ibunya berkata seraya tersenyum. Mobil yang mereka tumpangi melesat tanpa hambatan. Sekitar lima belas menit, mereka telah sampai di gedung resepsi.


"Ayo langsung ke ruang ganti."


Ibu Naswa tampak bersemangat. Wanita itu langsung menggandeng tangan putrinya menuju ruang samping tempat berganti baju. Terlihat para perias yang telah bersiap.


"Apa ini pengantinnya, Bu?!"


"Iya, saya pengantinnya."


Naswa berkata seraya tersenyum. Wanita itu langsung duduk ditemani para perias yang bersiap memulai pekerjaannya. Ibu Naswa pun menatap putrinya dengan tatapan bahagia dan haru.


***


"Kenapa jamnya melambat, sih, Pa?!" Aji menggerutu sembari menatap jam di dinding.


"Itu bukan karena jamnya melambat, Ji. Kamu saja yang terlalu ngebet."


Mama Aji menimpali perkataan


anaknya dengan nada santai.


Aji hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Ia terus merapalkan kata sabar yang mungkin jumlahnya sudah lebih dari selaksa. Lelaki itu kembali menatap jam di dinding yang kini menunjukkan pukul delapan pagi. Berarti masih kurang dua jam lagi ia bertemu dengan Naswa.


***


Setengah jam sebelum akad, Naswa telah selesai dengan riasannya. Wanita itu terlihat cantik dan elegant. Saat asyik difoto oleh salah satu perias. Wanita itu dikejutkan dengan seseorang yang datang memanggil dengan nada meyakinkan.


"Mbak, ada temannya yang ingin bertemu!"


Seketika Naswa berdiri dari duduknya. "Di mana?"


Sembari menggamit tangan Naswa wanita yang ikut berpartisipasi sebagai perias tersebut tersenyum.


"Di parkiran sebelah, Mbak."


Tanpa curiga Naswa mengikuti wanita tersebut. Kedua orang tua Naswa pun tidak mengetahui jika putrinya telah keluar dari gedung. Wanita itu percaya dengan ucapan dari salah satu perias tersebut.


Saat kaki Naswa telah menginjak parkiran, seorang telah membekap mulutnya. Lelaki yang membekap mulut Naswa pun membawa wanita itu ke mobil. Lima belas menit, seorang wanita menggunakan pakaian pengantin tetapi mengenakan penutup muka.


"Sudah?!"


Ia mengangguk. Bersamaan dengan mobil hitam yang kini melesat membelah keramaian kota. Tanpa kesalahan, masing-masing dari mereka melakukan tugasnya dengan baik.


"Sudah, Mei?"


Wanita yang dilempari pertanyaan mengangguk. "Iya sudah. Mbak Pengantin katanya mau buat kejutan untuk masnya. Jadi aku beri penutup wajah.


Temannya hanya mengangguk tanpa curiga. Sebersit senyum tersungging di bibir masing-masing. Mereka berharap agar rencana bosnya berhasil.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Naswa Farida binti Kusuma Dirja dengan mas kawin sebesar seratus ribu dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


Aji mengembuskan napas lega. Penantian panjangnya telah berbuah manis. Netra lelaki itu mencari-cari Naswa.


"Berdoa dulu, Aji. Naswanya sedang dirias. Harap bersabar!" kata Mama Aji sembari menepuk pundak anaknya.


Aji mengangguk dan berusaha abai dengan rasa khawatir yang mulai mendera. Seorang wanita yang keluar dengan gaun pengantin dan penutup wajah membuat lelaki itu mengerutkan kening. Bukan karena ia tidak terpesona, tetapi entah kenapa ada rasa janggal.


Naswanya terasa asing dan berbeda untuk hari ini. Tanpa diminta Aji pun mengulurkan tangan. Saat tangan istrinya menyentuh lelaki itu ada rasa yang tidak bisa dideskripsikan.


Bukan debar-debar halus yang terasa, justru rasa tidak asing tetapi Aji berusaha tetap sabar. Selesai acara penyematan cincin. Lelaki itu berbisik di telinga istrinya.


"Kenapa memakai penutup wajah, Nas?"


Pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar karena belum terjawab sampai beberapa menit. Sebelum penandatanganan buku nikah, Aji mencekal tangan tersebut. Tanpa diduga ia menyibak penutup wajah tadi.


Netranya bersirobok dengan netra tidak asing. Tidak menunggu lama, tangan Aji membuka sebuah kain penutup setengah wajahnya. Para tamu undangan terkejut dengan peristiwa tersebut.


"Kamu?!"


Semua orang yang ada di gedung tidak percaya.


End!


💞 With love Hisnanad.


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini.


Untuk yang ingin pesan yaa tolong ditunggu. Saya masih buat naskah :v. Doakan saja, insyaAllah lebih cetar wkwk. Sekian.

__ADS_1


__ADS_2