
Keheningan masih bertahan sedari tadi. Aji yang tidak nyaman akan hal ini mulai berpikir untuk mencari bahan pembicaraan. Sedangkan Naswa hanya mampu terdiam dengan amarah yang masih belum mereda.
“Kamu cemburu, kan, Nas?”
Naswa melemparkan tatapan tajam ke arah Aji. Namun, wanita itu juga ragu. Apa yang dirasakan saat ini adalah rasa cemburu? Ia pun tidak tahu pasti.
“Aku enggak cemburu. Cuman enggak suka aja ada yang zina di depan aku.”
Aji mengerutkan kening. “Zina gimana, to?”
“Ya gitu peluk-peluk, emangnya Sabrina itu mahram kamu?”
Aji yang gemas langsung mencubit pipi Naswa. Lelaki itu justru merasa senang, karena merasa diinginkan dan dimiliki. Setelah puas mendengar rintihan istrinya, ia melepaskan cubitan tadi.
“Sakit, kan? Kalau kamu enggak suka aku deket dengan Sabrina ya bilang saja, Nanas! Dalam kamus lelaki, kata nggak sukamu itu memiliki arti cemburu.”
“Pokoknya aku enggak cemburu!”
Aji diam merasakan embusan ac yang tidak bisa mendinginkan suasan panas di antara mereka. Lelaki itu akhirnya menyerah. Ia lebih memilih mengalah daripada memenangkan perdebatan ini.
“Ya sudah, kamu enggak cemburu tapi kamu cinta sama aku.”
Kerlingan Aji membuat Naswa salah tingkah. Beruntung sekarang mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan toko. Sedikit tergesa wanita itu hendak turun, tetapi tangan suaminya menahan.
“Tunggu dulu!”
“Apa lagi?” tanya Naswa jengkel.
Sekarang justru Aji yang keluar dari mobil. Lelaki itu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu dekat Naswa. Tanpa terlupa, ia juga mengulurkan tangannya.
“Tuan Putri ataupun Ibu Negara adalah wanita istimewa, jadi izinkan Kapten atau pangeranmu ini membukakan pintu kereta kencana."
"Dih, ini mobil bukan kereta kencana!”
Sembari menahan senyum, Naswa menerima uluran tangan Aji. Pasangan pengantin baru itu pergi ke toko cincin dengan wajah bahagia. Cuaca terik seolah isyarat bahwa semesta juga bahagia melihat cinta halal mereka.
“Jangan lupa, kamu pakai cincin perak.” Naswa menatap Aji yang sedag memilih cincin di etalase.
“Memangnya kenapa?”
“Menurut agama haram hukumnya lelaki memakai perhiasan emas. Menurut penelitian hal tersebut bisa memicu terjadinya penyakit alzheimer.”
“Penyakit apa itu?” Aji bertanya dengan wajah tertarik.
__ADS_1
“Penyakit alzheimer?” Ia kembali berkata dengan nada tanya.
“Iya penyakit yang menghancurkan memori dan fungsi mental lainnya.”
“Oh gitu, ya! Ternyata aku tidak salah.” Aji berkata seraya menatap lekat Naswa.
Naswa menaikkan sebelah alisnya. “Tidak salah apa?”
“Tidak salah pilih istri, dong! Wanita dinikahi karena empat perkara yaitu harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Lelaki yang beruntung itu memilih wanita yang paham dengan agama dan itu kamu, Naswa Farida.” Aji tersenyum tulus.
“Heleh, ternyata Aji Mahendra itu tukang gombal,” ketus Naswa.
Bisa Aji lihat istrinya itu tengah menahan senyum. Padahal rona merah telah menjalari pipi wanita itu. Ternyata gengsi Naswa belum turun juga. Namun, itu juga yang membuat Aji sulit berpaling dari istrinya itu.
***
“Jadi, apa kamu mau?”
Suara serak itu memenuhi ruangan remang-remang tersebut. Lelaki itu menatap wanita yang air matanya belum kering. Samar ia mengangguk.
“A—aku mau. Terima kasih.”
Wanita itu terbata seakan ragu dengan ucapannya sendiri. Namun, inilah akhir dari kisahnya. Menjadi boneka karena telah terbuang.
Suara sang lelaki kembali memenuhi ruangan itu. “Sekarang, kamu boleh pergi. Ingat, lima hari lagi!”
Setelah itu, tawa membahana memenuhi ruangan kumuh tersebut. Membiarkan pikiran licik yang telah tersusun rapi. Satu rencana gagal, maka masih banyak cara lain yang dia lakukan.
Lelaki itu terlalu ambisius hingga rela melawan takdir. Ia lupa bahwa takdir harusnya diterima dengan dada lapang. Namun, sifat egois telah melunturkan semua sifat baik yang pernah dimiliki.
***
[Bapak sama Ibu ke Bandung. Maaf mendadak, soalnya Paklek kamu sedang sakit. Mungkin dua hari lgi kami baru pulang.]
Naswa menatap pesan yang ditinggalkan orang tuanya di kursi teras. Wanita itu mengangguk dan menatap Aji. Ada rasa takut yang menyusup karena malam ini kemungkinan dia hanya akan bersama suaminya.
“Kamu bawa kunci cadangan? Kalau enggak, ikut aku ke rumah.”
Naswa menggeleng, setiap hari ia membawa kunci cadangan. “Aku bawa kunci cadangan, kok.”
“Oke. Terus kenapa kamu melihat aku seperti itu?”
“Cuman enggak terbiasa ditinggal Ibu sama Ayah.”
__ADS_1
Aji mengangguk samar. Lelaki itu memilih diam dan memahami keadaan. Benyak pemikiran bahwa Naswa masih menyimpan trauma akan kejadian tujuh tahun lalu.
Kecanggungan pun mulai melekat pada keduanya. Aji memilih diam dan Naswa mencoba meredam rasa takut. Akankah malam ini bisa terlewati?
***
Bakda isya, Naswa yang tengah asyik membaca buku dikejutkan dengan listrik yang padam. Ia bangkit dari kasur dan mencoba mencari ponselnya. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya.
Kini, kaki wanita itu mulai melemah. Tangan Naswa menggapai dinding untuk sandaran. Phobianya kembali pada waktu yang tidak tepat.
Ia berhasil keluar kamar, tetapi sebuah benda mampu membuat langkahnya terhenti. Hampir saja ia terjengkang setelah terbentur sesuatu, jika sebuah dekapan tiba-tiba datang. Air mata Naswa telah berada di pucuk, kini mengalir juga.
“Jangan takut, ini aku.”
Tangan Naswa yang semula enggan membalas pelukan Aji, kini mencengkeram erat pundak kokoh di hadapannya. Tanpa diminta, suaminya telah menghidupkan ponsel. Kini, ia dapat melihat pundak kokoh yang sedang dipeluk.
Aji merasakan debaran halus yang merasuk di hatinya. Jarak dekat dengan Naswa mampu membuat sesuatu yng ada pada dirinya bangkit. Perlahan ia, menatap kedua netra yang telah basah dengan air mata.
“Sudah terang, Nas. Ayo kita ke kamar,” kata Aji membuat wanita itu tenang.
Naswa mengangguk, ia belum bisa berkata apa pun. Entah kenapa kondsi phobianya semakin diperparah dengan kilas kejadian masa lalu yang ikut hadir. Wanita itu masih bisa mengingat, bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak karena perlakuan Rehan.
“Kaki kamu nggak apa-apa, kan?” Aji bertanya membuat buyar semua lamunan Naswa.
Lama tidak ada jawaban, Aji memilih langkah terakhir. Sembari mengucapkan maaf, ia mengangkat tubuh istrinya. Kini, mereka dapat merasakan embusan napas masing-masing dan detak yang tak beraturan turut hadir.
“Maaf jika aku lancang.”
Entah kenapa permintaan maaf Aji membuat air mata Naswa jatuh. Wanita itu pun tidak tahu pasti kenapa hatinya bergetar dengan permintaan maaf tadi. Mungkin ia kagum dengan sifat suaminya. Aji meletakkan Naswa ke kasur dengan hati-hati bak memperlakukan barang pecah belah yang bisa retak kapan saja.
“ Tunggu,” ujar Naswa sembari mencekal tangan Aji sebelum lelaki itu beranjak.
“Jangan pergi dan terima kasih.”
“Aku tidak akan pergi.”
Tanpa kata Aji duduk di samping Naswa. Namun, sebuah kecupan membuat lelaki itu membeku. Tidak salah lagi, istrinya yang melakukan hal tersebut. Meskipun hanya di pipi, tetapi mampu membuatnya membeku.
“Terima kasih banyak, Mas Aji,” bisik Naswa setelah melakukan hal sederhana tadi.
Malam ini, bulan menampakkan pelitanya. Terlihat berseri dengan bintang-bintang yang menggantung di angkasa. Semesta ikut memuji-Nya menyaksikan cinta sederhana dua insan di rumah bercat biru.
Double up, ya, Gaes. 💕
__ADS_1