Bukan Gadis Lagi

Bukan Gadis Lagi
Part 11


__ADS_3

“Sudah lama?”


Aji bertanya pada Naswa yang tengah berdiri gelisah di depan kantor. Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan yang entah. Tidak bisa dideskripsikan lagi. 


“Aku—“


“Ayo pulang.”


Aji berujar dingin. Suasana hatinya tergambar jelas seperti suasana hari ini. Mendung menggelatuti hati. Lelaki itu tidak mampu menjelaskan apa pun lagi. selera humornya telah jatuh pada dasar terdalam karena pesan tadi.


Selama perjalanan, Naswa berusaha memberanikan diri untuk meminta maaf pada Aji. Namun, setiap kali ia ingin membuka suara ada ragu yang menghambat semua. Pada akhirnya semua tertelan oleh keheningan yang membekukan.


Baru setengah perjalanan, motor yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Sontak, Naswa turun dengan raut kebingungan. Apalagi hari mulai gelap dengan rintik hujan yang mulai membasahi Bumi.


“Sepertinya motormu mogok karena businya perlu diganti, Nas. Apa ada bengkel di sekitar sini?” tanya Aji mencoba melupakan masalah yang masih menetap di pikiran.


“Ada, tapi mungkin agak jauh.”


Mereka pun mendorong matic itu dalam keheningan. Setelah lima meter perjalanan dengan hujan rintik-rintik, sebagian dari baju mereka basah. Beruntung, bengkel yang tadinya akan tutup itu mau menerima.


“Aku minta maaf.” Naswa berkata lirih.


Aji menatap netra istrinya yang terlihat sedih itu. “Jadi siapa?”


Tanpa dijelaskan pun Naswa tahu apa maksud pertanyaan Aji. Wanita itu menunduk dalam sembari menarik napas panjang. Berusaha menyiapkan hati agar tetap tegar saat ia menceritakan sejarahnya pada Aji.


“Bolehkah jika nanti saja kalau di rumah. Aku akan menjelaskan semua.”


Aji mengangguk, tanpa kata jari jemarinya meraih punggung tangan Naswa. “Aku akan menunggu hingga kamu mau menceritakan semua. Aku hanya tidak rela dia menyimpan fotomu itu.”


“Maaf jika aku gagal menjaga kehormatan—“


“Kamu tidak gagal. Hanya dia saja yang terlalu biad*b.”


Dalam keremangan lampu dan rinai hujan yang semakin menderas, Aji mendekatkan wajah ke arah Naswa. Lelaki itu mencium puncak kepala istrinya. Sembari bergumam kalimat yang mampu membuat jantung Naswa berdetak degan cepat.


“You are mine.”


***


Sesampainya di rumah, kedua orang tua Naswa terlihat khawatir.Mereka menatap sepasang pengantin baru itu dengan tatapan tanya. Aji hanya bisa tersenyum dan menggandeng tangan Naswa.


“Maaf kami pulang telat. Tadi di jalan motor Naswa mogok.”

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau begitu. Bapak kira ada sesuatu buruk yang terjadi. Syukurlah kalian tidak apa-apa.”


“Sudah cepat mandi, Nduk! Nanti kalau masuk angin.”


Pasangan pengantin baru itu berjalan bergandengan menuju kamar. Sebuah senyum terpatri di bibir kedua orang tua Naswa. Mereka merasakan bahagia melihat putrinya mendapat jodoh yang baik.


“Kamu atau aku dulu yang mandi?” Naswa bertanya sesaat setelah memasuki kamar.


“Bareng, yuk!”


Aji kembali mengerling ke arah Naswa. Satu cubitan gemas langsung mendarat di pundak lelaki itu. Sifat tengilnya memang membuat istrinya gemas sekaligus malu.


“Eh, Nas. Aku mau sesuatu hal.”


Naswa yang tadinya membuang muka kini menatap Aji. “Sesuatu apa?”


“Kamu jangan lagi panggil aku Aji. Secara aku sudah jadi suamimu, loh! Jadi, kamu harus panggil aku yang sopan.”


Naswa mengangguk membenarkan perkataan Aji. “Lalu, aku harus memanggil kamu apa?”


“Sayang?!” jawab Aji tersenyum lebar.


“Ih, enggak, deh! Aku punya alternatif lain. Kamu manggil aku Nanas dan aku panggil kamu Mas Jijiq.”


“Ayolah, Nas! Panggil aku sayang satu kali saja.”


Naswa menggeleng dan menyeringai. “Enggak mau, Mas Jijiq.”


Mereka berdebat hingga terjadi momen kejar-kejaran. Aji yang gemas dengan kegesitan Naswa bersemangat mengejar tanpa lelah. Sampai terjadilah accident kaki wanita itu tersangkut dengan selimut. Jika saja Aji tidak bergegas menahan pinggangya bisa jadi perasaan sakit akan melingkupi pinggangnya.


“Ketangkep, kan? Terus gimana? Mau panggil aku sayang atau aku hukum?”


Naswa berusaha terbiasa dengan jarak dekat di antara mereka. Bahkan jika mau sedikit saja, hidung Aji pasti akan menyentuh hidungnya. Wanita itu mati gaya karena berada di posisi berdekatan ini.


“Enggak mau,” ujar Naswa mencoba tidak gentar dengan ancaman Aji.


Tanpa kata lelaki itu mendekatkan wajah dengan seringai. “Kalau begitu, kamu akan mendapat hukuman.”


Satu ... dua ... tiga ....


Dalam hitungan tiga detik, Aji telah menggelitiki Naswa. Tawa terbahak pun memenuhi ruangan itu. Mereka bahkan tidak mendengar panggilan Ibu Naswa. Pada akhirnya wanita paruh baya itu meninggalkan kamar tersebut dengan senyum megembang.


“Sudah!” Naswa berkata dengan napas terengah dan menahan tawa.

__ADS_1


“Panggil aku sayang dulu.”


“Oke, Sayang! Tolong sudah cukup.”


Meskipun panggilan tadi hanya setengah ikhlas, tetapi Aji akhirnya melepaskan Naswa. Lelaki itu sudah cukup puas dengan menghukum istrinya. Tanpa menunggu lama, Naswa lari ke kamar mandi. Panggilan sayang tadi mampu membuat wajahnya memanas.


***


Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Setelah berbincang dengan Ayah Naswa, lelaki itu pergi ke kamar. Ia ingin malam ini juga mendengar penjelasan Naswa tentng siapa lelaki yang telah menjadi pencuri itu.


Tiba di kamar, Naswa masih rapi dengan jilbab yang ia pakai. “Nas, ayo kita bicara!”


Aji berkata seraya duduk di ranjang. Naswa pun mendekat dan mengambil duduk di samping suaminya. Wanita itu berusaha tenang meskipun ada ragu yang kembali menyusup.


“Ceritakanlah!” kata Aji sebari menggenggam tangan Naswa.


“Tujuh tahun lalu, kakakku yang bernama Ratna bertengkar dengan suaminya yang bernama Rehan. Kak Ratna meninggalkan rumah hingga larut malam, sedangkan Kak Rehan entah ke mana. pada saat itu Ayah dan Ibu tengah pergi ke rumah kerabat. Jadilah aku di rumah sendirian.”


Kali ini bulir keringat mulai membasahi dahi Naswa. Wanita itu menggenggam erat tangan Aji. Bahkan napasnya juga ikut tersenggal. Kenangan buruk memang bisa membuat seseorang menjadi seperti ini.


“Saat larut malam ada yang mengetuk pintu, tanpa pikir panjang aku membukanya. Di hadapan berdiri Kak Rehan yang menatapku dengan tatapan yang entah. Sempat tercium bau alkohol dari mulutnya. Tanpa ada apa-apa lelaki itu menyeretku dan melakukan semua.”


Air mata menghiasi netra Naswa. Aji yang mengetahui itu dengan cepat menarik istrinya ke dekapan. Lelaki itu ikut terluka dengan apa yang menimpa istrinya.


“Bahkan dia ha—hampir saja memaksaku lagi jika kamu tidak menolongku dulu.”


Ah, Aji ingat, dua kali pertemuan dengan lelaki biadab itu mampu membuatnya menghafal garis tegas yang menjijikan itu. Rehan memang tampan, tetapi untuk urusan moral perlu dipertanyakan. Mungkin jika ia bertemu dengan mantan kakak ipar Naswa itu, ia akan melayangkan beberapa pukulan untuk membayar tangis Naswa malam ini.


“Tadi siang dia bahkan mengirimkan fotoku tanpa sehelai benang pun. Dia juga mengatakan bahwa foto itu juga dikirimkan padamu. Maafkan aku.”


Air mata sukses membasahi kedua pipi Naswa. Aji menggelengkan kepala sejenak. Ia telah mengetahui semua.


“Bukan, Nas. Itu bukan fotomu. Jika Rehan melakukannya secara tidak sadar lantas kenapa bisa ia mengambil fotomu? Lagian, itu setting tempatnya bukan di sini. Bahkan seperti di hotel bintang lima.”


Penjelasan runut Aji membuat wanita itu terdiam sejenak. Lantas memikirkan semua argumen suaminya. Beberapa menit kemudian, ia mengangguk dan membenarkan.


“Jadi jangan khawatir lagi, Nas.”


Aji berkta seraya menarik Naswa menuju dekapannya. “Jangan khawatir, kamu tidak sendirian lagi.”


Malam itu mereka habiskan dengan pelukan hangat. Hanya pelukan hangat, tidak lebih. Perlahan tanpa disadari rasa nyaman mulai terasa di hati masing-masing.


Tbc.

__ADS_1


:v ayok yang ingin Waiting List, sapa?


__ADS_2