Bukan Gadis Lagi

Bukan Gadis Lagi
Part 2


__ADS_3

Gelap dan keheningan adalah dua hal yang tidak pernah Naswa suka. Semenjak kejadian tujuh tahun yang lalu. Luka yang tertinggal melebar menjadi mimpi buruk yang datang tiap malam.


Mungkin sesekali srnyuman bisa ada di bibir tipisnya. Namun, saat kelebat bayang itu muncul Naswa tidak sanggup melihat wajahnya sendiri di hadapan cermin. Ia terlampau malu menyadari dosa yang bertumpuk membuat luka lahir dan batin.


"Naswa."


Tanpa diminta sebuah bulir bening hampir terjatuh membasahi pipi gadis berkulit putih itu. Belum sembuh luka yang ada, tetapi dengan tega Rehan hampir mengulang kejadian masa lalu. Naswa memberanikan diri menatap Aji yang kini juga menatapnya.


"Terima kasih."


Naswa berkata dengan senyuman sederhana yang membuat Aji terpaku. Lelaki itu tidak tahu kenapa dunianya tiba-tiba berhenti hanya karena melihat wanita yang dianggap sebagai teman lama. Buru-buru ia menunduk dan mengabaikan semua.


"Jadi, apa kamu mau cerita tentang semua?"


Naswa menggeleng karena masih merasa kuat dengan keadaan. Ia telah menganggap kelamnya masa lalu sebagai sebuah aib. Aib yang bisa membuatnya terjebak dalam labirin luka.


"Aku baik-baik saja. Anggap saja tadi kamu tidak melihat semuanya."


Sedikit terpaksa Aji mengangguk. Pemandangan indah yang sempat tertangkap oleh netranya masih terbayang. Tentang rambut lurus Naswa dan wajah bersedih wanita itu mampu menggetarkan sesuatu yang ada dalam lubuh hatinya.


"Aku antarkan pulang."


Punggung tegap itu berjalan meninggalkan wanita yang kini masih terpaku. Naswa berterima kasih sekaligus merasa sedikit kagum dengan aksi heroik Aji. Tidak dapat dipungkiri sebuah rasa hangat menyelinap. Sekali lagi, ia lebih sadar diri. Mahkota yang terjaga, telah terenggut secara paksa. Lalu, apa yang perlu dibanggakan oleh dirinya?


***


Rehan mendesis tatkala air dingin membasuh rahangnya. Kejadian yang berlalu beberapa jam lalu masih terkenang. Apalagi kehadiran lelaki yang tidak dikenal yang seketika mampu menyulut emosinya.


"Arrrggghhh!"


Sebuah vas bunga telah terjatuh seiring dengan erangan lelaki itu. Di dalam kamar mandi ia mengutuk takdir. Menyumpahi kenapa bahagia tidak pernah berpihak sedikit pun padanya.


***


"Apa aku masih pantas mengenakan ini?"

__ADS_1


Naswa bergumam di antara sepertiga malam. Mukena yang semula terpasang rapi, kini telah terlepas. Menampilkan rambut hitam lurusnya.


Beberapa menit ia terpaku. Menyusuri wajahnya yang hampir terjamah lagi. Satu tetes kristal bening dan disusul dengan tetesan lain mampu membuat wanita itu menunduk.


Tujuh tahun yang lalu...


Hujan melanda dengan deras. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di rumah hanya ada Naswa, kakaknya Ratna pergi setelah adu mulut dengan kakak iparnya.


Sunyi kian merangkak, tetapi segera terpecahkan dengan ketukan pintu. Sorot lampu remang-remang tidak memberikan celah untuk Naswa menyadari suatu hal aneh saat membuka pintu. Barulah saat sebuah tangan kekar menyelusup ke pinggangnya. Ada suatu hal ganjil yang masih ia terka.


"Kak, lepas!"


Masih dengan intonasi sedang Naswa berkata. Gadis itu berusaha tenang dan mengira bahwa Rehan hanya iseng saja. Namun saat bingkai lelaki itu membungkam, sebuah kristal bening menetes pelan.


Teriakan dan rontaan Naswa tidak berarti. Meskipun jurus-jurus bela diri pernah ia kuasai, tetapi semua tidak berarti. Tenaga Rehan tentu saja lebih kuat dari gadis itu.


Bersamaan dengan gelegar guntur teriakan Naswa melebur. Memberi celah tawa Rehan memenuhi langit-langit kamar. Pada akhirnya batas kekuatan wanita itu melemah.


Naswa menutup mata dengan luka lahir dan batin.


Berulang kali telapak tangannya mengusap kristal yang berhasil meluncur. Wanita itu masih mengingat, berulang kali ia berusaha bangkit dan menutupi lukanya. Namun, ternyata malam nahas yang pernah terjadi menjadi batu sandungan untuk Naswa membuka kisah baru.


Setiap detik saat keinginan itu mulai menyeruak dalam hati, Naswa berusaha menghalang. Semenjak itu, tidak pernah satu pun lamaran yang diterima. Ia merasa tidak pantas untuk diperistri siapa pun. Mahkota yang harusnya terjaga telah tercuri dengan paksa.


Kini, sebuah pergolakan batin kembali hadir. Selembar kain yang menjadi penutup kepalanya setiap hari seolah menjadi hal yang tabu. Apalagi jika disangkut pautkan dengan dosa yang telah ia perbuat. Naswa tidak bisa berkutik kembali.


***


"Jika aku melepas jilbab bagaimana, An?"


Minuman yang tengah disesap oleh Anti mendadak menyembur keluar. Wanita itu terperangah dengan perkataan Naswa. Bagaimana tidak, dalam sejarah telah tercatat bahwa sahabatnya itu yang menyuruhnya berjilbab. Lalu, tidak ada angin tidak ada hujan kenapa bisa sahabatnya itu menyatakan ingin melepas jilbab.


"Berikan aku satu alasan untuk menguatkan bahwa kamu pantas melepaskan jilbab!" Anti berkata dengan tenang.


"Aku terlalu kotor untuk memakai jilbab. Kain ini terlalu suci untuk menutupi kepalaku."

__ADS_1


Pandangan keduanya bertemu. Menyalurkan rasa tanpa lewat kata. Lewat pandangan itu, Anti bisa menyimpulkan bahwa Naswa tengah mengalami pergolakan batin.


"Jadi? Bukankah katamu dulu jilbab adalah identitas wanita muslimah? Lalu kenapa sekarang kamu ingin melepasnya, Nas? Aku tidak memburu jawabanmu, kok."


"Memang benar jika jilbab adalah identitas wanita muslimah, tetapi aku—"


"Akhlak dan jilbab tidak bisa disangkut pautkan, Nas. Tolong, jangan berpikir bahwa jilbab hanya pantas dikenakan oleh wanita yang suci tanpa dosa. Itu tidak benar. Jilbab itu untuk semua wanita muslimah, tidak mengenal pangkat dan derajat."


Naswa bungkam dengan perkataan Anti. Wanita itu tertunduk untuk menghapus air mata yang sempat menggantung kembali. Seperti itulah sahabat, tanpa kata pun mereka mampu merasa apa yang kita rasa.


***


"Bareng, ayo!"


Suara itu membuat Naswa mengerutkan dahi. Sinar mentari sore membuat kesan tersendiri dengan pertemuan dua insan tersebut. Aji telah memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Kenapa ada di sini?"


Naswa heran dengan teman lamanya itu. Tanpa diundang bisa ada di depan kantor. Lalu dengan santainya mengajak pulang.


Sebenarnya Aji pun tidak mengerti dengan jalan pikirnya. Semalaman suntuk lelaki itu hampir tidak bisa memejamkan mata karena bayangan Naswa. Ketika ada kaca-kaca yang menghiasi netra wanita itu, ah ... rasanya ia ingin menghapus itu semua.


Tentu ia masih cukup waras untuk menghapus air mata Naswa. Aji cukup sadar diri, ia bukan siapa-siapa wanita itu. Namun, aneh sekali jika ia peduli.


"Hei! Kenapa melamun?"


Baiklah, Aji hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membiarkan netranya beradu dengan netra Naswa untuk beberapa detik. Keanehan kemarin masih ada, detak jantung yang tidak normal terindikasi tatkala lengkungan bulan sabit muncul di bibir wanita itu.


"Ehm. Oke ayo pulang. Aku hanya sedang tidak ada pekerjaan di rumah. Jadi, lebih baik ke sini."


Alibi macam apa itu Aji pun tidak tahu. Saat sebuah kekehan Naswa terdengar saat itu pula hatinya menghangat. Wanita itu mampu membuat desir-desir halus yang tidak diundang.


"Oke kenapa kita masih di sini?"


Aji berusaha menetralkan pikirannya. Sedikit cepat ia menjauhi Naswa. Mungkin ia harus jaga jarak dengan wanita itu agar tidak memiliki penyakit riwayat jantung.

__ADS_1


Apalagi mengingat tentang pernikahannya yang kurang beberapa minggu. Aji tidak mau jika ada sesuatu yang mengganggu. Berulang kali ia merapalkan nama wanitanya. Berusaha dan berusaha meluruskan hati bahwa ia hanya menolong bukan bermaksud lebih. Namun, bukankah terkadang takdir tidak sesuai ekspestasi?


Tbc.


__ADS_2