Bukan Gadis Lagi

Bukan Gadis Lagi
Part 7


__ADS_3

"Ma."


Aji berkata seraya menyusul mamanya yang kini teruduk di ruang tamu. Satu keluarga tersebut kemudian berkumpul dengan wajah yang berbeda dan memperhatikan Mama Aji. Wanita paruh baya itu masih berusaha mengendalikan napasnya agar tidak memburu.


"Kenapa kamu memilih wanita itu, Ji? Dia bukan gadis lagi! Bahkan dia sama dengan Rea."


Suara wanita paruh baya itu meninggi. Tidak ada tedeng aling-aling lagi. Kedua lelaki di hadapannya menunduk bersiap mendengarkan ceramah yang mungkin bisa membuat hati tercubit.


"Dia sama dengan Rea. Tidak beda dengan sundal di luaran sana!"


Aji tidak lagi bisa diam. Lelaki itu mengelus pelan punggung mamanya. Berusaha menenangkan wanita paruh baya yang kini marah.


"Sabar, Ma. Dengarkan penjelasan Aji dulu!" Aji berkata diiringi tatapan memohon.


"Apa? Penjelasan apa? Kenapa kamu memilih dia?"


Sedetik kemudian Aji beranjak pergi untuk mengambil air. Ia menyodorkan segelas air tersebut kepada mamanya. Beberapa menit keheningan melanda. Tampaknya emosi yang tadinya membuncah telah mulai berkurang.


"Dengarkan Aji dulu, Ma. Aji bahkan baru tahu kalau Naswa sudah tidak gadis lagi. Justru karena keberanian Naswa mengungkapkan semua kekurangannya, Aji semakin mantap untuk menjadikan dia menantu di rumah ini."


Mama Aji melebarkan matanya. "Kamu gila, Ji! Mama tidak sudi!"


"Naswa berbeda, Ma. Ia berbeda dengan Rea. Sudah dijelaskan kalau Naswa kehilangan kegadisannya karena kejahatan seorang lelaki. Bukan seperti Rea yang memberikan kegadisannya dengan suka rela karena cinta."


Ruangan tamu menjadi hening. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa berkata lagi, Mama Aji pergi ke kamarnya. Dalam hati, Aji berdoa agar mamanya menerima semua yang terjadi.


***


Sepertiga malam terasa dingin. Hujan telah mengguyur kota Surabaya dini hari tadi. Bertepatan dengan gelegar petir yang saling menyambar, Naswa tengah bermunajat. Netranya telah basah dengan bulir bening yang sampai kini masih menghiasi.


Seperti mawar yang telah terenggut mahkotanya. Lantas apa yang bisa dibanggakan lagi. Tinggal tangkai yang berduri dan perumpamaan itu sama seperti hidup Naswa.


Ia merasa telah gagal menjadi wanita yang menjaga izzahnya. Tidak ada celah untuk sekadar mengungkapkan alasan agar seorang lelaki bisa menerimanya. Nyata, kekurangan yang dimiliki memang tidak bisa ditoleransi.


Di kamar lain, seorang wanita paruh baya tengah bersujud panjang. Menggumamkan doa yang menggetarkan langit dan seisinya. Ibu Naswa telah meminta agar anaknya bisa bahagia.


Di malam itu, langit tengah riuh dengan dua doa yang berkesinambungan. Meski tanpa suara lantang, tetapi dengan ketulusan hati, semua malaikat seakan mengaminkan. Entah akan ada kejutan apa untuk esok. Bukankah Allah bisa memberikan skenario yang tidak teduga?


***


[Hari ini saya ingin bertemu kamu di kafe dekat rumahmu.]


Belum sempurna netra Naswa terbuka, selarik pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal tersebut mampu membuatnya kehilangan kantuk. Tertera di baris terakhir bahwa nomor yang tidak dikenal tersebut adalah milik Mama Aji. Jantung wanita itu berpacu mencoba menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia takut untuk melangkah menghadapi kenyataan yang mungkin akan menyakitkan lagi.


Naswa masih mengingat semua. Tatapan sinis yang dilemparkan Mama Aji tampak jelas saat ia mengungkap semua kekurangan yang ada. Namun, menururnya tatapan itu masih dalam batas wajar.


"Naswa ayo cepat salat Subuh, Nak!"


Suara ibunya membuat acara melamun tadi terhenti. Naswa melangkah menuju kamar mandi. Ia akan kembali bermunajat untuk meminta apa pun yang terbaik.

__ADS_1


Termasuk jika Allah menakdirkan Aji bukanlah jodohnya. Mungkin Naswa akan menerima, meskipun ada rasa sesak yang entah mengapa mulai hadir tanpa tabir.


***


"Assalamualaikum, Bu."


Salam Naswa membuat wanita paruh baya itu mendongak. Kini, terlihat jelas gurat wajah renta yang masih menyisakan kecantikan di masa mudanya. Mama Aji memang termasuk ke dalam wanita cantik, walaupun usianya sudah tidak muda.


Ia menggumamkan jawaban salam tadi. Sementara itu kecanggungan mulai muncul. Naswa masih berdiri karena takut untuk sekadar duduk.


"Apa kamu akan duduk sampai satu jam kedepan?" tanya Mama Aji.


Kini dua wanita beda usia tersebut duduk berhadapan. Netra Mama Aji tidak lepas dari wajah Naswa yang enggan membalas tatapannya. Ia berusaha menilai. Dari segi fisik, wanita muda tersebut tidak dapat diragukan, tetapi kekurangan yang diungkapkan semalam menjadi bahan pertimbangan untuk mengangkatnya sebagai menantu.


"Jadi kamu teman lama Aji?"


"Iya, Bu. Saya teman lama Aji."


"Sejak kapan kalian kenal?"


Naswa mengingat sejenak. Kejadian yang sampai saat ini masih melekat dalam ingatannya. Aji telah menolongnya untuk pertama kali.


Kala itu, Naswa tengah melakukan masa MOS di SMP. Gadis itu tengah mengenakan rok putih. Ia tidak sadar bahwa ia tengah mengalami haid untuk pertama kali.


Naswa hanya tahu bahwa perutnya tengah sakit dan melilit. Ia memilih duduk di bangku kelas hingga suara pengumuman membuatnya bangkit. Namun, sebuah suara serak mampu membuatnya berhenti melangkah.


"Eh. Aku kira hanya sendirian di kelas." Naswa berkata seraya menahan rasa sakit yang terus melilit.


"Pakai ini!"


Naswa mengernyit heran. Kenapa bisa anak lelaki ini menyodorkan sebuah jaket kepadanya? Tanpa pikir panjang ia bertanya.


"Untuk apa?"


"Kamu bocor."


Setelah kalimat itu, Aji pergi tanpa mengenalkan diri. Naswa masih termangu dan baru paham saat ia sampai di depan Anti. Sejak saat itu, takdir selalu mengatur kebetulan yang tidak pernah terduga untuk keduanya.


"Kami mengenal sejak bangku SMP."


Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk. Pesanan keduanya datang. Untuk sejenak mereka sibuk berdiam tanpa kata dan meminum jus masing-masing.


"Aji adalah anakku satu-satunya. Sebagai seorang orang tua, pastilah aku berharap terbaik untuk anaknya. Begitupun tentang masalah memilih calon istri.


"Aku tidak tahu kenapa bisa gadis yang kupilihkan untuk menikah dengan Aji justru berkhianat. Satu hal itu bertambah dengan masalah untuk mencari pengantin pengganti karena undangan tersebar. Namun, kenapa bisa kamu yang dipilih Aji dari sekian banyak gadis di luaran sana?"


Kata gadis yang diucapkan oleh Mama Aji diberi penekanan begitu saja. Hati Naswa mulai berontak untuk merasa. Wanita itu tahu, ia bukan gadis lagi.


"Apalagi ketika kamu jujur dengan kekuranganmu tadi malam. Entah kenapa kesan bodoh semakin terpancar. Sejak melihat pertama kali, sebenarnya aku menyukaimu, tetapi sepertinya kekuranganmu mampu meruntuhkan kekaguman yang tadinya beralasan.

__ADS_1


"Jadi, aku hanya ingin bertanya dua hal. Satu, kenapa kamu memilih jujur atas kekuranganmu? Dua, kenapa bisa hal buruk tersebut terjadi padamu?"


Naswa tidak menunduk, meskipun netranya terlihat sayu. Wanita itu masih menatap wajah Mama Aji yang sedikit lebih bersahabat daripada tadi malam. Sejenak, ia terpekur dan berpikir agar menemukan kalimat yang cocok untuk menjadi jawaban.


"Saya hanya ingin menikah dengan landasan saling menerima kekurangan masing-masing. Jadi saya lebih baik jujur dengan kekurangan tersebut."


"Bodoh!"


Mama Aji melirik Naswa lalu membuang muka kembali. Wanita paruh baya itu tidak mengerti jalan pikiran wanita di hadapannya. Umpatan yang ia tujukan tidak sesuai dengan hati yang perlahan terketuk.


Di dalam hati, Mama Aji memuji keberanian Naswa untuk jujur. Namun, ia tidak berani menyimpulkan dan lebih memilih kembali menguji ketegaran wanita itu. Kini, terlihat Naswa yang masih dengan wajah ramahnya.


"Lalu apa jawaban untuk pertanyaan kedua?"


"Saya tidak tahu. Mungkin memang jalan hidup yang harus ditempuh memang begini. Meskipun saya menangis, tetapi tetap saja semua tidak bisa diubah. Saya bukan gadis lagi."


Kini kedua netra Naswa mulai mengeluarkan air mata. Mama Aji membuang muka. Ia tidak tahu pasti kenapa bisa hatinya mulai tergugah.


"Baiklah. Sampai di sini pertemuan kita."


"Saya pamit, Bu."


Naswa berkata sembari mencium punggung tangan Mama Aji. Wanita itu meninggalkan kafe dengan bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui. Ia tidak bisa melupakan setiap perbuatan yang pernah Rehan lakukan.


***


"Aji!" Mama Aji berkata seraya menatap putra tunggalnya.


"Ada apa, Ma?"


Keinginan yang mengganjal di dalam hati wanita paruh baya itu belum keluar. Mama Aji masih sibuk berperang dengan pikiran dan egonya. Namun, setelah menghela napas keluarlah kalimat yang membuat Aji terperangah.


"Mama merestui pernikahanmu dengan Naswa."


Sederet kalimat tadi mampu membuat Aji terpaku. Ia merasa tidak tuli. Namun, kenapa mamanya bisa berubah sedemikian rupa. Berbeda dari semalam yang sempat menentang keputusannya itu.


"Mama, kenapa bisa?" tanya Aji berusaha menyembunyikan kegirangannya.


"Mama merestuinya. Kamu tidak perlu tahu alasannya. Nanti malam kita ke rumah Naswa."


"Terima kasih, Ma!"


Aji berseru seraya memeluk tubuh renta di hadapannya. Mama Aji tersenyum melihat kebahagiaan putranya. Kegiatan tersebut berlangsung sedikit lama.


"Mama merestui pernikahan ini asalkan ...."


TBC!


Jangan lupa share :v.

__ADS_1


__ADS_2