Bunda | NCT

Bunda | NCT
1. One Night


__ADS_3

Fay mengerang frustasi,mobil yang dari tadi coba ia perbaiki malah enggan untuk hidup lagi. Ia mencoba tenang ,waktu bahkan menunjukan pukul dua belas malam. Di jalan yang sepih handphone yang tiba-tiba mati semakin membuatnya frustasi.


"Apa gue tinggal aja ni mobil?" monolog Fay sambil menendang ban mobilnya.,"Tapi gak mungkin gue pulang jalan kaki jam segini?agrrrr." sambungnya lagi sambil mengigit jarinya.


Sekali lagi Fay membuka kap depan untuk sekedar melihat,barang kali ada yang terlewatkan saat ia memperbaiki mobilnya tadi. Tapi nihil,akhirnya ia menyerah dan memilih duduk di dalam mobilnya sembari menghisap rokoknya.


"Ada yang bisa gue bantu?" Fay terlonjak saat ada seseorang yang mengetuk jendela mobilnya. Ia melihat sekitarnya mungkin saja lelaki yang sedang mengetuk jendela mobilnya itu membawa rombongan untuk menculiknya .


"Gue gak bakalan ngapa-ngapain,tapi kayanya Lo butuh bantuan?" Ujar lelaki yang memakai jaket kulit itu sambil melihat kearah kap mobil Fay yang masih berasap.


Satu tarikan lagi dari asap rokoknya ia kepulkan ke udara, Fay memberanikan diri untuk keluar dari mobilnya.


"Lo mau bantu?" tanya Fay saat sudah berada di dekat laki-laki jangkung itu. Tidak ada jawaban dari lelaki itu,ia melihat sekilas dan segera memperbaiki kerusakan yang entah apalah namanya Fay juga tidak paham.


Di bawah lampu jalan yang agak redup wajah lelaki itu begitu tampan,badanya begitu kekar di tambat lagi bekas oli yang mengotori wajahnya menambah keseksian dari lelaki itu.


Fay terus menatap wajah lelaki itu tanpa berpaling sedikitpun sampai saat lelaki itu berpamitanpun Fay tetap tidak fokus .


Saat laki-laki itu hendak pergi ,Fay menarik tangan lelaki itu untuk masuk kedalam mobil sambil mencengkram kerah bajunya dan men**** bibir lelaki itu pelan. Laki-laki itu cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Fay,namun bukannya menolak atau pergi laki-laki itu menangkup kedua pipi Fay dan men****nya kasar .


Laki-laki itu bangun dan duduk di samping kursi,ia mengambil tisu serta selimut yang berada di kursi belakang untuk fay. Ia sempat keluar sebentar ke mobilnya mencari air minum untuk di berikan kepada wanita yang kini menutup matanya.


"Satu." Fay hanya mengangguk saat lelaki itu meminta rokok miliknya yang berada di dashboard mobilnya.


"Gila gue gak pernah kaya gini Ama cewek yang gak gue kenal,apa lagi dalam mobil." Sambil terus menghisap rokoknya laki-laki itu sedikit melirik ke arah Fay yang masih mengenakan selimut .


"Gue juga." Fay mengarahkan rokok ke arah si lelaki ,meminta untuk di nyalakan.


Keduanya terdiam dan menikmati kepulan asap dari rokok masing-masing. Fay hampir menangis mengingat apa yang baru saja ia lakukan dengan Laki-laki yang bahkan namanya saja ia tidak tahu.


~


Kepala Fay sangat pening saat terbangun pagi ini,ia menggaruk dagunya dan mencari handphonenya untuk sekedar melihat apakah ada yang menelponnya.


"Siapa yang peduli si sama Lo fay. Air mana air?kering banget tenggorokan," ia berlari kecil menuju dapur untuk mencari air minum dalam kulkas,namun yang ia temukan hanya pandangan curiga dari ke empat sahabatnya.


"Kenapa Lo pada?" Fay ikut duduk di meja makan bersama para sahabatnya yang kini masih menatapnya serius.


"Lo semalam dari mana? pulang-pulang nangis," Sasa yang mulia duluan bertanya sebab baru kali ini ia melihat sahabatnya itu menangis begitu kencang.


Fay yang hendak mengambil roti terdiam seketika,apa ia semalam menangis tapi kenapa ia tidak mengingat kejadian itu.


"Ya mana gue inget,gue gak tau gue lupa ,dan gue gak apa-apa lebay." Katanya sambil memakan roti selai kacang kesukaannya.


Maira menaruh segelas kopi yang baru saja ia buat di hadapan Fay . Maira lupa kapan terakhir kali Fay menangis dan untuk apa tapi semalam tangisan Fay terdengar sangat kacau.


"Gue gak kenapa-napa Mai,Lo pada gak usa hyperbola deh. Anjik."

__ADS_1


Wiza mengaguk pelan sambil menelan makanannya.


"Lo gak di perkosa aja kan Fay?" Celetuk Gisel yang baru saja selesai memasak nasi.


"Anjik mulut lo ," misuh Sasa yang hampir tersedak makanannya.


"Parah banget Gisel ,omongan Lo.kalau kejadian gimana? Kan Uda gue bilang Lo pada harus rajin ibadah jangan dunia malam aja yang di urusin . Tuhan kasih nyawa buat Lo semua untuk di syukuri bukan untuk di rusakin." Maira mulai lagi dengan khotba nya di pagi hari .


"Mai,Gue Islam." Kata Sasa dengan nada mendrama.


"Ya terus kalau Lo Islam gak ibadah?gak sholat? Parah Lo ." Sasa hanya menutup telinganya yang sudah mulai bosan dengan ceramah "Anabel" panggilan untuk Maira.


"Uda gak usa pada drama deh,tuh tokoh di buka Uda jam berapa ni?"


Fay Lovania dan ke empat sahabatnya yang selalu saja ribut di pagi hari. Entah untuk hal sepele ataupun hal yang sangat serius. Kelimanya bersahabat sejak SMA dan kelimanya memutuskan untuk membuka usaha dari hasil kerja mereka selama setahun setelah lulus SMA.


Tidak ada yang bertitel,tidak ada yang menyandang status sarjana di antara mereka. Karena nasib yang samalah yang membawa mereka untuk bertemu .


Tokoh bunga kecil yang kini banyak di kenal orang dengan nama "Daisy" itu dulunya adalah air mata untuk mereka berlima. Ada putus asah ,ada upaya serta usaha dan pantang menyerah dalam merealisasikannya.


~


Fay menghela nafasnya kasar,sudah seminggu ini ia terus memikirkan kejadian malam itu,entah pengaruh alkohol atau memang ia yang kegatalan. Maira juga sebenarnya sudah melihat keanehan dari sahabatnya itu belakang ini namun ia coba mendiamkannya,mungkin Fay butuh waktu untuk bercerita kepadanya.


"Aaa kesel banget, Si Jaefry gue telponi gak di angkat dari tadi." Itu Sasa yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya.


Wiza hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan Gisel. Dua kakak beradik itu selalu saja membuat Sasa kesal untuk apapun yang keluar dari mulut mereka .


"Lo berdua kalau punya cowok bakalan gue sumpahi putus nyambung terus." Sasa membanting handphonenya dan pergi meninggalkan Wiza juga Gisel .


"Lo kenapa lagi ?" Maira menghampiri Sasa yang dari tadi hanya menatap gelas kopi di tangannya.


"Gue capek banget Ama Jaefry ,gak tahan Mai . Pengen banget gue samperin cuma buat nampar mukanya yang nyebelin itu." Maira mendekat untuk memberikan kursi kepada sahabatnya itu .


"Mungkin Jaefry sibuk Sa." Sasa menoleh horor kearah Maira ,ia malas berkata-kata lagi hingga akhirnya ia memilih untuk meminum kopinya yang sudah dingin.


"Si Fay kenapa lagi?" Setelah menyesap kopi dinginnya Sasa beralih ke pertanyaan yang sebenarnya sudah dua hari yang lalu ingin ia tanyakan ke Maira.


"Kita nunggu dia ngomong duluan,mungkin Fay belum siap." Sasa menatap Maira, seteduh itu mata Maira hingga Sasa juga ketiga sahabatnya selalu mencari Maira untuk sebuah ketenangan.


Jika Maira akan menjadi ibu untuk mereka berempat ada Fay yang selalu siap menjadi sosok ayah untuk menjaga keempat sahabatnya itu. Persahabatan yang mereka awali dengan status yang sama , pertemanan yang merek awali dengan luka dan cerita hidup yang sama,kini mampu bertahan bahkan menjadi sebuah keluarga kecil baru bagi mereka.


fay lovania



Maira Aldara

__ADS_1



Wiza Olivia



Gisella Clarissa



Sasa Dwi Putri



Yeri Alvianti/ Yeri Kharisma



Joy Sovia/Joy Pratama



Vany Caksono



Johnny Prasetyo



Doyi Pratama



Jaefry Kharisman



Yuta Aditya



Tiyo Caksono



Happy reading my Daisy 🌼

__ADS_1


by reading we know someone's character without having to meet 🤗


__ADS_2