
Dentuman keras berdengung di telinga Wiza , kepalanya mulai pusing ,karena hampir sejam ia minum sendirian.Kepulan asap rokok menemani kesunyian pikiran Wiza ,entahlah malam ini harusnya ia berdoa untuk arwah kedua orang tuanya yang pergi meninggalkan ia dan Gisel bertahun-tahun yang lalu.
Namun ia memilih menghabiskan waktu malamnya di klub ini, ia lelah untuk berpura-pura kuat di hadapan Gisel dan ketiga sahabatnya.
Saat hendak berdiri Wiza hampir saja terjatuh , namun ada tangan yang cepat menangkap tubuhnya, yang sudah sangat berat untuk berdiri.
"Lo gak apa-apa?" Wiza mengaguk dan melepaskan tangan yang mencoba membantunya berdiri .
Dengan langkah gontai Wiza berjalan keluar dari klub tersebut, lagi-lagi ia terjatuh kali ini ia tetap duduk di depan klub itu,membiarkan tubuhnya merasakan dingin dari angin malam ini.
Lagi dan lagi ada tangan yang memberikan jaketnya untuk menghangatkan separuh tubuhnya. Sekilas Wiza menatap wajah seseorang yang memberikannya jaket,namun semua yang ia temukan hanya buram dan suara dari laki-laki yang makin lama makin hilang.
Kepalanya terasa berat,Wiza masih sangat mabuk saat matanya terbuka karena ia merasa kantung kemih nya sangat penuh ,namu ia bingung ini bukan rumahnya. Tanpa berpikir ia segera masuk kedalam kamar mandi.
"Aaaaaaa." Teriak Wiza saat melihat pemandangan di dalam kamar mandi," Lo siapa? Mau ngapain di rumah gue?" Wiza menutup matanya ,sosok yang kini hanya mengenakan dalaman itu menghampirinya.
"Ini rumah gue,kirain Uda sadar,taunya masih mabok." Setelah mengambil handuknya laki-laki itu pergi meninggalkan Wiza dengan wajah yang sangat kebingungan.
"Rumah dia,trus maksudnya gue dirumah dia. Ngapain gue di sini?" Sambil duduk di kloset Wiza menyelesaikan misi awalnya.
"Lo mau di situ terus?" Teriakan dari lelaki itu membuat Wiza terkejuta.
"Gue gak mau keluar sebelum Lo jelasin kenapa gue bisa ada di rumah Lo?"
Tidak ada jawaban dari luar sana,mungkin lelaki jangkung itu sudah tidur,apa yang harus Wiza lakukan sekarang? Ia pun memilih untuk keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya ia saat melihat tatapan menyeramkan dari lelaki yang kini sudah berada di atas kasur yang tadi ia tempati untuk tidur.
"Lo siapa sebenarnya?" Tetap tidak ada jawaban ,tetapi tatapan mata lelaki itu sangat mengintimidasinya.
"Lo mau tidur atau gue buang ke tempat sebelum gue pungut Lo?" Suaranya cukup seksi di telinga Wiza,"kenapa,masih mabok?"
Wiza menggeleng kepalanya kuat-kuat.
"Gue pulang aja deh,kayanya masih ada taksi jam segini," namu Wiza sangat terkejut saat melihat jam di dinding kamar milik lelaki itu.
"Ya Uda pulang,gue mau tidur jangan lupa tutup pintu." Setelah itu si lelaki mematikan lampu kamar dan masuk ke dalam selimutnya.
Wiza hanya berdiri dalam kamar gelap itu sambil menatap ke arah lelaki yang mungkin sudah nyenyak dalam tidurnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mencari tasnya untuk menelpon Maira,namun nihil bahkan handphonenya pun ikut mati seperti otaknya saat ini.
Wiza keluar dari kamar lelaki itu, sepertinya malam ini ia harus tidur di sofa seorang lelaki yang tidak ia kenal.
__ADS_1
"Kena karma kan ,harusnya Lo ke gereja doain Mama Papa, bukannya mabuk ." Wiza mengomeli dirinya sendiri dan membaringkan tubuhnya di sofa.
~
Fay terbangun sekita jam lima lewat tiga puluh menit pagi ini, ia sudah mulai susah tidur mungkin karena perutnya yang sudah mulai membesar. Karena ini pagi pertama ia di rumah Johnny Fay berinisiatif membutkan sarapan untuk Johnny.
Fay sibuk mencari apa saja isi dalam kulkas Johnny yang bisa di jadikan sarapan. Fay mulai mengolah daging babi serta sayuran lainya untuk menu sarapan pagi ini. Fay terkejut saat pintu ruangan kerja Johnny terbuka ,dan ternyata laki-laki itu keluar dari ruangan itu dengan mata yang masih mengantuk.
"Kok Uda bangun?" Johnny menguap saat mendekat ke arah Fay.
"Gue gak bisa tidur ,makanya bangun buatin Lo sarapan, Lo Uda tidur atau baru mau tidur?"
"Gue tidur berapa jam aja,ini mau buat kopi gak mungkin gue tidur lagi ,jam delapan gue ada rapat soalnya."
"Tidur lagi aja Jo,entar sebelum jam delapan gue bangunin." Johnny yang hendak membuat kopi berhenti sejenak .
" Beneran, gak bakalan telat kan Lo bangunin?"
" gak,tidur aja di kamar ,sekalian rengangin badan pasti gak enak banget tidur sambil duduk."
"Lo gak apa-apa gue tinggal?"
"Gue boleh nyapa?" Tunjuk Johnny ke arah perut fay. Fay menganggu dan membiarkan Johnny menyapa si bayi yang dari semalam membuatnya susah tidur, "jangan nakal ya,kasihan Bunda gak bisa tidur ,Dady janji beliin mainan yang banyak kalau kamu gak nakal dan gak buat Bunda kesakitan." Mata juga tangan Johnny tertuju pada bongkahan daging yang tumbuh bertambah besar dalam perut Fay ,ingin sekali rasanya ia mengambilnya dan menanggung kesakitan yang di rasakan wanita yang kini tersenyum kearahnya tanpa sedikitpun menujukan bahwa ia sangat menderita dan tersiksa akibat ulah Johnny.
~
Yuta menyalakan kerang airnya,ia membasahi tubuhnya agar kembali sadar pagi ini,masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
"Katanya mau pulang," gerutu Yuta saat melewati sofa yang di tiduri oleh Wiza .
Ia segera membuat kopi dan membakar roti,paginya selalu tentang kopi ,roti dan pekerjaannya. Tapi sepertinya pagi ini ada hal baru yang akan terjadi , Yuta menatap wanita yang kini sudah bangun dari tidurnya ,dengan rambut yang berantakan.
Wiza menguap sangat lebar membuat Yuta harus menahan tawanya.
"Katanya mau balik,ngapain Lo tidur di sofa gue?" Wiza terkejuta dan menoleh ke arah suara yang barusan bicara dengannya.
Wiza menjatuhkan badanya ke karpet dan menyembunyikan wajahnya di bawah meja.
"Aduu,Wiza Lo ngapain si masih di rumah tu cowok?" Tanpa sadar ia melihat kaki tepat di depan matanya ,Wiza mengacak rambutnya frustasi dan kembali duduk di sofa bekas ia tidur semalaman.
__ADS_1
"Gue mau balik ,tapi handphone gue mati jadi gak bisa di pake buat nelpon gojek." Suaranya makin pelan saat laki-laki itu ikut duduk menghadap ke arahnya.
"Mandi sana,entar gue antar pulang ,gue gak mau di tuduh nyulik cewek kaya Lo ."
"Cewek kaya gue, maksud Lo ?"
"Ya sadar diri si,udah muntah di baju orang ,di tanya alamat malah di tampar , lihat ni muka gue masih ada bekas tangan Lo . " Bola mata Wiza hampir saja terjatuh dari tempatnya mendengar perkataan laki-laki ini barusan," kayanya Lo emang belom sadar."
"M-maaf." Wiza tertunduk lesu ,hari ini rasanya ia ingin kembali kerahim Mamanya.
"Uda mandi , ada baju cewek tu ,Lo pake aja gak usa di balikin." Setelah itu Wiza kabur ke kamar mandi.
Yuta hanya tersenyum melihat kelakuan random wanita pertama yang masuk ke apartemennya.
Wiza tidak berani menatap ke arah lelaki itu namun ia coba mengajak lelaki itu berbicara.
"Gue Wiza , biar kalau Lo mau balas dendam Lo tau nama gue." Katanya sambil terus melihat ke arah sepatunya.
"Panggil aja Yuta,dan gue bakalan cari Lo buat balas dendam." Wiza mengigit bibirnya frustasi ,kenapa ia harus berbicara seperti itu tadi.
"Di sini aja." Kata Wiza saat mereka tiba di sebuah gang.
"Rumah Lo mana?"
"Jangan antar samape rumah deh,gue takut Lo kena interogasi." Yuta bingung dengan perkataan Wiza barusan," gue tinggal sama sahabat-sahabat gue , tapi mereka pada gak tau gue kemana , kalau mereka sampai lihat gue di antar pulang sama Lo ,gue yakin banget Lo gak bakalan selamat."
"Emangnya gue ngapain Lo?"
"Ya kita emang gak ngapa-ngapain,tapi Lo ngertikan maksud gue?"
"Gak ,gue gak ngerti" Wiza memijat lehernya frustasi.
"Ya Uda pokoknya Lo turunin gue di sini aja,kalau emang Lo mau balas dendam ni nomer gue." Dengan lancang Wiza menarik tangan Yuta dan menuliskan dua belas angka nomor handphonenya.
Yuta hanya membiarkan wanita itu lari begitu saja,sangat lucu saat ia berbalik dan melambaikan tangan ke arah Yuta.
"Ngapain dadah dadah kaya gitu,kalau kita bakalan ketemu lagi." Yuta tersenyum dan meninggalkan tempat di mana ia menurunkan Wiza.
Happy Reading My Daisy 🌼
__ADS_1
by reading we know someone's character without having to meet🤗