Bunda | NCT

Bunda | NCT
6.sudah


__ADS_3

Hari ini Jhonny uring-uringan, bagaimana tidak hari ini ia akan menemui kedua orangtuanya . Sebenarnya jika ia datang tiba-tiba kerumah ,kedua orangtuanya akan sangat senang ,tapi hari ini ia bahkan datang dengan membawa seorang wanita yang tengah mengandung anaknya .


"Kalau bentar gue di bunuh bokap , gue cuma mau bilang anak gue yang ada di perut Lo harus ada nama Prasetyo-nya." Fay hanya diam saja,mungkin ia juga sama gugupnya seperti Jhonny.


"Gue takut Joh," Johnny menatap Fay ,pandangan wanita itu seperti kosong . Ia memberanikan diri menggenggam satu tangan Fay dan membiarkan tangan itu berada di pahanya.


"Mami baik kok ,dan asal Lo tau mereka akan seneng banget kalau tau gue bawa cewek kerumah apa lagi tiba-tiba gue ajak nikah."


Fay mengaguk,ada banyak pikiran yang ia khawatirkan. Sejak Johnny mengajaknya menikah,hanya satu yang ia takutkan, Johnny akan tahu bagaimana keadaan keluarga juga hidupnya yang sebenarnya.


"Joh." Johnny mencium tangan Fay yang dari tadi ia genggam.


"Gue tau,Lo banyak pikiran, tapi untuk hari ini tolong banget,Lo cukup mikirin anak kita ya." Fay diam seribu bahasa sampai detik di mana ia akan bertemu kedua orang tua Johnny pun hanya kosong yang menemani langkahnya.


Setelah selesai makan siang Mami Johnny mengajak mereka duduk di ruang tamu,saat itu Papi Johnny belum pulang dari kantor, Johnny terlihat sedikit santai .


Namun kesantaian Johnny tidak berjalan dengan waktu yang lama ,karena laki-laki paruh baya yang sudah mereka tunggu dari tadi kini sudah berada di hadapan mereka .


Sangat berwibawa,dari cara ia berjalan hingga duduk pun semua terlihat bijaksana. Mungkin Johnny tua akan telihat seperti Papi nya saat ini.


"Pi,anak kita tumben bawa cewek ke rumah." Mami menggoda Johnny yang kini tidak mau menatap ke arah Papinya.


"Nama kamu siapa Nak?" Tanya Papi ,suaranya begitu lembut tidak seperti yang di bicarakan Johnny.


"Fay om."


"Kok om,panggil Papi aja biar makin akrab,kalian Uda makan?"


"Uda." Kalau itu Johnny yang menjawab.


"Gimana kerjaan lancar?"


"Lancar Pi."


"Kok malah ngomongin kerjaan si," Mami mulai emosi,pasalnya jika anak semata wayangnya itu sudah berkunjung keruamah selalu saja membahas tentang pekerjaan.


"Pi,Mi. Johnny mau ngomong sesuatu." Wajah Johnny berubah tegang .


"Apa?" Tanya Papi yang juga dengan suara tidak kalah dingin.


"Fay Ama Johnny mau nikah."saat mengatakan itu Johnny dan Fay saling berpegangan tangan.


Mami hampir menangis mendengar perkataan putranya itu," kamu serius Joh mau nikah?"


"Iya Mi, soalnya." Johnny tidak mampu lagi melanjutkan perkataannya.


"Soalnya apa?" Di tambah lagi suara mengintimidasi dari Papinya.


"Fay hamil." Saat itu juga Mami bangkit dari duduknya dan memeluk erat tubuh Fay. Wanita paruh baya itu sangat berkaca-kaca sambil melihat ke arah perut Fay .


"Kamu hamil Nak , anak Johnny,ini cucu Mami?" Fay mengaguk pelan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya karena ia tahu mungkin saja suaranya tidak di butuhkan.


"Sudah berapa bulan?" Papi membuka dasi dan menggulungkan ketangannya.


"Uda masuk empat bulan pi."


"Setelah berapa bulan kamu sadar kalau dia hamil?"


"Tiga bulan."


"Fay ,cerita ke Papi gimana bajingan ini memperlakukan kamu."


"Pi." Johnny menyela omongan Papi nya yang berujung tamparan keras di wajahnya. Fay yang melihat kejadian itu sangat terkejut ,ia hendak menghampiri Johnny namun di tahan oleh Mami .


"Uda Papi bilang berkali-kali,jangan sampai kejadian seperti ini terjadi." Johnny menghapus bekas darah dari mulutnya akibat tamparan dari Papinya.


Fay diam,ia tertunduk sambil menangis,"Maaf," suaranya pelan ,lalu ia di rangkul kuat oleh Mami Johnny.


"Maafkan anak Mami sayang,kamu pasti sangat menderita."


"Kamu tau Joh,kenapa Papi gak mau kasih kamu seorang adik lagi? Melihat Mami kamu ngidam kamu di Minggu pertama saja itu membuat hati Papi hancur. Kamu tahu gimana sakitnya saat mereka memuntahkan semua makanan yang susah payah mereka telan? Kamu gak akan ngerti walapun sekarang kamu meminta maaf sampai kamu menangis darah." Tuan Prasetyo kembali duduk , harusnya ia tidak memperhatikan semua kejadian ini di depan calon menantunya.


Johnny mendekat ke arah Fay ,ia duduk bersimpuh di hadapan Fay,masih di sakisikan oleh kedua orangtuanya sekali lagi ia ingin meyakinkan Fay untuk menikah dengannya,"Lo mau ya nikah sama gue,gak boleh nolak Fay . Gue mau nebus semua kesalahan gue sama Lo juga anak kita."


Kali ini tidak ada lagi keraguan dari Fay ,ia pun mengaguk dengan yakin. Fay hanya ingin laki-laki yang bersimpuh di hadapannya saat ini tidak merasa bersalah lagi atas apa yang sebenarnya mereka berdua lah yang melakukanya.


__


Papi duduk di halaman belakang rumah , sambil menyesap teh hangatnya, ingatan Papi melayang jauh. Masih berbekas jelas di ingatan pria paruh baya yang kini sudah tidak dapat melihat tanpa bantuan kacamata itu saat istri tercintanya mengalami pendarahan ,air matanya menetes sedikit. Mungkin saja Johnny tidak akan pernah ada di dunia ini jika istrinya tidak memaksakan diri untuk mengandung lagi.


Kesakitan yang Mami Prasetyo rasakan seolah menjadi frustasi dalam hidupnya ,mungkin beliau yang sangat mencintai istrinya atau memang hatinya selembut dan sehangat itu.

__ADS_1


"Boleh ikut duduk?" Setelah di persilahkan Johnny pun ikut duduk.


"Gimana dengan orang tuanya?"


"Dia belum pernah cerita tentang kehidupan dia Pi. Johnny juga belum berani bertanya tentang kehidupan pribadi dia."


"Tapi kamu berani meniduri dia hingga mengandung ? " Johnny tertunduk ,ia mencubit-cubit ibu jarinya .


"Maaf."


"Gak ada gunanya kamu minta maaf ke Papi,yang tersakiti dia sama orangtuanya. Ajak dia ngobrol cari tahu tentang kehidupan dia , pernikahan gak segampang saat kamu ngelamar dia depan Mami juga Papi. Tanya dia bagaimana dia menghadapi kehamilan dia selama tiga bulan tanpa ada yang tahu ." Johnny selalu kagum dengan lelaki paruh baya yang kini duduk menatap matahari sore yang akan terbenam . Semua yang ada di diri Papinya selalu berwibawa dan sempurna.


Johnny menghampiri kamar Mami,ia berhenti sebentar saat melihat bagaimana Mami memperlakukan Fay seperti putrinya sendiri .


"Kamu pasti menderita banget selama tiga bulan ini." Mami mengelus perut Fay , Fay hanya tersenyum canggung karena tidak dapat berkata apa-apa. Sebab jika ia ingin jujur tiga bulan yang lalu adalah bulan yang sangat menakutkan untuknya.


"Mi,boleh pinjam Fay bentar?" Fay menatap wajah Johnny yang baru saja masuk . Ada prihatin yang Fay rasakan untuk lelaki itu ,namun bukankah ini jalan satu-satunya untuk mereka.


Johnny mengajak Fay berkeliling rumah , sebenarnya Fay ingin mengatakan bahwa jika Johnny ingin berbicara tentang bagaimana kelanjutan hidup mereka Johnny tidak usah repot-repot mengajaknya berkeliling rumah mereka yang membuat kakinya pegal.


"Joh." Fay berhenti sebentar saat akan menaiki anak tangga untuk menuju kamar Johnny.


"Lo kenapa ,ada yang sakit?" Johnny terlihat panik .


"Gue gak kenapa-napa ,tapi harus banget ya kita keliling rumah Lo yang gede kaya gini?" Johnny tertawa membuat Fay bingung apa yang lucu dari kata-katanya barusan.


"Ya Uda sini gue gendeng,gue mau ngobrol sama Lo di kamar gue." Fay menggeleng cepat dan hampir saja mendorong Johnny.


"Gak usa aneh-aneh ,gue bisa jalan sendiri. Cuma rumah Lo menyebalkan banget kaki gue sampai pegal." Kemudian wanita itu menaiki anak tangga satu persatu.


Seharusnya Fay tidak lagi terkejut saat melihat kamar mewah milik lelaki yang kini sedang mengekorinya. Mungkin jika Sasa dan Wiza yang di hamili oleh Johnny mereka akan menjadi wanita paling sombong dan bahagia sedunia ini. Bagaimana tidak kamar untuk Johnny saja seluas rumah yang mereka tinggali bertempat.


Johnny menarik tangan Fay dan duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Fay terkesima melihat pemandangan yang dapat ia saksikan dari balik jendela kamar itu.


"Lo mau ngomong apa,kalau cuma mau minta maaf gue turun lagi."


"Orangtua Lo ?"


Fay memejamkan matanya ,yang ia takutkan adalah Johnny bertanya tentang orangtuanya.


"Kalau Lo belum siap ngomong gak apa-apa Fay ,tapi kita harus minta restu mereka . Gue Uda siap kalau bokap Lo nampar atau patahin tulang gue ." Fay menertawakan kata-kata Johnny .


"Besok ya kita ketemu mereka." Johnny menganguk ia tidak berniat untuk membicarakan orangtua Fay ,cukup kalimat itu yang mewakili pertanyaannya barusan.


"Masih,tapi Uda gak parah . Gue gak berniat buat Lo kepikiran atau merasa bersalah tapi tiga bulan yang lalu gue hancur banget," Fay memegang perutnya dan mengingat lagi bagaimana Minggu pertama kehamilannya yang begitu menyiksanya, " gue bukan nyalahin Lo atau menyudutkan Lo atas apa yang terjadi ke gue ,tapi gue pikir Lo berhak tahu gimana nakalnya anak Lo saat pertama kali dia datang ke kehidupan gue."


"Apa yang harus gue lakuin buat nebus kesalahan itu?"


Fay berdiri ia menarik tangan Johnny untuk ikut berdiri dengannya lalu wanita itu mendekat ke arah Johnny ia memperbaiki pakaian Johnny yang sebenarnya tidak berantakan lalu ia menengadah untuk melihat Johnny yang kini fokus memperhatikannya.


"Gue boleh meluk? " Johnny menganguk, maka dengan nyaman Fay memeluk lelaki besar itu dan menikmati bagaimana Johnny mendekapnya kuat .


"Kaya gini aja cukup Joh ."


~


Setelah pulang dari gereja Wiza bermalas-malasan dalam kamarnya,entahlah hari ini semua penghuni rumah menghilang, seperti hanya ada dirinya di dunia ini.


Sedang asik membaca novel yang baru ia beli kemarin , handphone Wiza berbunyi ,ia pikir itu salah satu dari sahabatnya ternyata nomor baru. sebenarnya ia malas mengakat telpon yang tidak penting seperti ini ,namun tetap saja tangannya menekan tombol hijau.


"Halo." Hening,tidak ada suara yang membalas sapaannya,"hallo ini siapa?"


"Yuta." Seketika Wiza melempar handphonenya,ia duduk sambil menutup mulutnya.


"Ngapain tu orang nelpon gue? Apa mau balas dendam beneran?" Ia kembali mengambil handphonenya dan menempelkannya ketelinga.


"Lo kenapa?" Teriak Yuta dari sebrang sana.


"Gak kenapa-kenapa,ngapain Lo nelpon gue?"


"Lo belum terimakasih ke gue ,atas tumpangan buat tidur dan tumpang untuk pulang." Wiza membulatkan matanya malas.


"Trus Lo maunya gimana,ya Uda terimakasih Yuta." Setelah nya Wiza mematikan sambungan telponnya.


Belum sempat ia berbaring, handphonenya berbunyi lagi dengan penelpon yang sama.


"Apa?"


"Lo kurang ajar banget main matiin telpon orang,gue mau balas dendam. Keluar Lo gue Uda di depan rumah Lo." Wiza hampir saja berteriak,ia keluar untuk memastikan apakah laki-laki brengsek itu sedang berada di luar rumahnya.


"Lo di mana,kok gak ada?"

__ADS_1


"Cie nyariin,gue depan gang keluar Lo." Dengan hati dongkol Wiza pun keluar ke depan gang ,padahal ia sedang tidak ingin menemui siapa-siapa hari ini.


Wiza mematikan sambungan telponnya setelah melihat sosok menyebalkan yang kini sedang mengoloknya dengan senyuman remeh .


"Jangan bilang kalau Lo mau jalan kaya gini sama gue?" Yuta memperhatikan penampilan Wiza yang hanya menggunakan celana pendek serta baju oversize.


"Yang bilang mau jalan siapa?,stres Lo ."


"Lo pulang ganti baju,atau gue seret dengan penampilan Lo yang kaya gini."


"Apaan siii,gue lagi gak mau keluar."


"Satu."


"Yuta."


"Dua."


"Yutaaaaa."


"Tig,"


"Izzz nyebelin banget si." Belum lagi Yuta selesai menghitung ,Wiza sudah berlari masuk kedalam gang yang menuju arah rumahnya.


"Good girl."


Sepanjang perjalanan Wiza mengomeli Yuta yang datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu,hari liburnya yang berharga harus hancur karena lelaki itu mengajaknya entah kemana.


"Uda gak usa manyun-manyun ,turun ." Wiza melihat sekeliling ,mereka ada di sebuah cafe .


Yuta sibuk menyapa temannya yang ternyata pemilik cafe yang mereka datangi , Wiza yang tidak ingin ikut kegiatan Yuta hanya duduk termenung di meja dekat jendela. Mungkin ada baiknya ia sesekali keluar walaupun harus bersama dengan laki-laki menyebalkan yang kini sudah menghampirinya.


"Mau makan?"


"Kalau Lo bayarin?" Lalu Yuta pergi meninggalkannya lagi , " Apaan si ?"


Tidak banyak yang mereka bicarakan saat berada di cafe tadi,Yuta hanya meminta Wiza memakan semua makanan yang ia pesan. Wiza juga bingung , mungkin Yuta tidak tahu cara menghabiskan uangnya maknanya Yuta bersedia membelikan Wiza makanan yang super enak dan mahal seperti tadi.


"Lo gak ada kerjaan apa? Pacar atau teman yang mau di ajak jalan atau makan kaya gini. Gue tu lagi menikmati masa libur gue yang cuma sehari." Kini mereka berada di sebuah taman.


Yuta sengaja mengajak Wiza ketaman pikirnya terlalu cepat untuk pulang saat ia masih mau berada di luar rumah bersama dengan wanita yang kini masih sibuk mengoceh sambil memakan buah rambutan yang sengaja Yuta beli di pinggir jalan saat mereka menuju ke taman ini.


"Gak ada,gue gak ada teman. lagian semua yang berteman sama gue cuma minta di bayarin makan kaya Lo barusan." Yuta tersenyum mengejek ke arah Wiza .


"Gue gak kaya gitu, ya kan Lo yang ngajak jalan . Lagian Yuta gue mana mampu bayar makanan mahal kaya tadi ." Yuta tertawa ,ia senang melihat bagaimana wanita berbaju coklat itu berkata jujur kepadanya.


"Sorry."


"Buat?"


"Makasa Lo jalan hari ini, padahal kita belum lama kenal . Gue suka aja lihat Lo lagi marah kaya hari ini."


"Lo emang sikopat ."


"Gue bisa bunuh siapa aja yang buat Lo marah ,karena cuma gue yang boleh kaya gitu."


"Dihhh apaan si norak banget ,keren Lo kaya gitu? Gue mah geli dengernya." Yuta mengacak-acak rambut Wiza karena terlalu gemas dengan tingkah laku wanita itu.


"Ayo gue anter pulang." Yuta berdiri ia mengulurkan tangan untuk Wiza agar wanita itu gampang untuk berdiri.


Suasana begitu hening ,saat mata-mata para wanita penghuni rumah Wiza menatap Yuta horor. Bagaimana tidak saat mengantarkan Wiza pulang Yuta begitu sial karena harus bertemu dengan sahabat-sahabat Wiza .


"Cowok Lo Ca?" Wiza menyenggol bahu Sasa .


"Apaan deh?"


"Diem," suara Maira mulai meninggi ,sekilas Yuta menatap wajah wanita yang baru saja membuka suaranya itu,auranya sangat menakutkan, "Sorry banget buat Lo ,kita gak ada maksud apa-apa,tapi gue bakalan terus terang ke Lo . Kalau emang mau pacaran gue harus tahu,gak penting Lo mau ngajak Wiza tidur atau melakukan hal aneh lainya ,intinya gue sama yang lain tahu . Gue gak mau kejadian yang aneh terulang lagi."


Sebenarnya Maira hanya takut jika yang terjadi pada Fay akan terulang lagi. Itu mungkin saja, mengingat kehidupan para sahabatnya yang begitu liar dan nakal.


"Kakak boleh sering kesini kok,asal jangan sampai Wiza hamil . " Wiza hampir saja membunuh adiknya itu jika Sasa tidak menghentikan pergerakannya.


"Gue Sasa ."


"Yuta ,sorry banget buat Lo pada uring-uringan . Gue kira ini bocah tinggal sendiri . Btw kok muka kalian mirip?" Yuta menujuk ke arah Gisel dan Wiza .


Sambil mengulurkan tanganya Gisel memperkenalkan dirinya," Gisel ,gue cuma beda setahun aja kok sama dia kak, hihi".


Dan pada akhirnya Yuta kembali dan selalu kembali keruamh itu ,untuk berbincang dengan Maira tentang nama-nama bunga ,membelikan ice cream kesukaan Gisel dan mengajak Sasa ikut ke klub tempat ia sering menghabiskan malamnya dan tentu saja Yuta akan kembali ke rumah kecil itu hanya untuk melihat apakah hari ini Wiza masih mau marah dengan perbuatan randomnya.


Happy Reading My Daisy 🌼

__ADS_1


by reading we know someone's character without having to meet 🤗


__ADS_2