Bunda | NCT

Bunda | NCT
2.siapa?


__ADS_3

Johnny memutar kursinya ke kiri dan ke kanan ,hal itu ia lakukan sudah hampir satu jam pagi ini. Doyi yang frustasi melihat kelakuan sahabatnya itu memejamkan matanya, harusnya Doyi sudah terbiasa dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Lo kenapa?" Suara Doyi terdengar sangat frustasi.


Johnny tidak menjawab ,ia malah memutar penanya secara terus menerus.


"Lo kenapa bajin**?" Karena Johnny tidak menjawab Doyi memutar kursi yang di duduki Johnny untuk menghadap kearahnya.


"Gue seminggu yang lalu tidur sama cewek." Jawab Johnny sambil berdiri melipat tangannya. Doyi menggelengkan kepalanya untuk kesekian kalinya.


"Emang Lo baru kali ini tidur sama cewek? Uda gak usah drama kirain lagi ada masalah Ama bokap Lo?"


"Bentar lagi juga bakalan ada masalah Ama bokap,gue tidur Ama tu cewek gak pake pengaman ,anj** sial** banget. " Doyi yang mendengar itu menutup mulutnya secara dramatis .


"Kont**,gimana ceritanya Lo bisa lupa pake pengaman?"


"Gue main dalam mobil"


"Waaaa parah , emang Lo Uda gak mampu bayar hotel atau penginapan? Anji**,anji**,bang** Lo."


"Gue harap banget tu cewek mau hubungin gue,gue gak tau namanya Doy, gue ketemu baru malam itu ."


"Terus Lo ngarep dia hubungi Lo dengan cara apa Jo?"


"Gue inget banget di jaket gue yang ketinggalan di mobil dia ada kartu nama gue. "


"Lo bakalan mati di tangan Om Prasetyo kalau sampai tu cewek hamil Jo."


Johnny terlihat sangat frustasi, pasalnya ia sangat lupa bertanya perihal nama wanita yang ia tiduri seminggu yang lalu. Entah harus mencari di mana wanita itu ,sampai detik ini Johnny berharap wanita itu mau menghubunginya.


~


Sudah sebulan ini Fay terus merasakan mual,bahkan kepalnya sangat pening setiap kali ia melakukan aktivitasnya. Belum lagi nafsu makan yang berkurang, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?.


Fay mengigit kuku-kukunya kebiasaan yang sering ia lakukan jika merasa gugup atau takut. ia terus melihat handphonenya yang menujukan sebuah artikel tentang gejala ibu hamil ,keringat kecil mulai mengucur di dahinya. Tiba-tiba ia merasakan mual yang parah lagi,kali ini Fay memuntahkan semua isi kopi juga roti bakar buatan Gisel pagi ini .


"Fay." Wiza masuk kedalam kamar Fay,sebab sahabatnya itu belum keluar lagi setelah selesai sarapan tadi pagi.

__ADS_1


Fay hanya menoleh dan membiarkan Wiza masuk.


"Lo gak apa-apa? Muka Lo pucet Fay , akhir-akhir ini juga Lo jarang banget makan." Wiza melap keringat kecil di dahi Fay.


"Gue gak apa-apa ko Ca, kecapean doank, paling tidur bentar juga baikkan kok." Fay coba membuat Wiza tidak khawatir dengan keadaannya,tetapi tetap saja ia semakin tidak bisa menyimpan rahasia dari sahabatnya itu.


Wiza menggenggam tangan Fay " Lo tau kan kita semua ada buat Lo " kali ini Fay akhirnya menangis . Melihat itu Wiza memeluk kuat tubuh Fay yang kini bergetar . Setelah Wiza ,Sasa juga Gisel ikut masuk kedalam kamar Fay . Melihat Fay yang menangis di pelukan Wiza ,Sasa yakin betul Fay sedang tidak baik-baik saja.


"Fay lihat gue," Sasa duduk bersimpuh di hadapan Fay sambil memegang pipi yang kini sudah basah. "Lo kenapa? gue mau Lo cerita , kita Uda janji apapun itu tetap harus saling terbuka. Lo Uda aneh dari sebulan yang lalu, dan gue Uda gak bisa lagi nahan diri jadi gue minta Lo kasih tau kita ada apa sama Lo?" Fay belum membuka mulutnya untuk berbicara,rasanya sangat sulit . Seperti ada ribuan duri yang menghalangi tenggorokannya.


"Kalau Lo gak ngomong ,gue juga gak bakalan ngomong apa-apa lagi ke Lo semua " Gisel ikut menangis melihat Fay yang bahkan untuk menarik nafas saja semakin sulit.


"Gue hamil , gue takut banget sekarang." Maira yang baru saja masuk sedikit terkejuta dan menjatuhkan gelas berisikan teh hangat yang sengaja ia buatkan untuk Fay. Sontak semua yang berada dalam kamar itu terdiam , Gisel semakin kencang menangis.


Maira tidak langsung menghampiri Fay,ia masih sibuk membersihkan bekas pecahan gelas yang pecah akibat ulahnya. Lalu dengan santai ia mendekat kearah sahabatnya yang masih diam seribu bahasa karena kaget akan pengakuan dari Fay.


"Lo Uda ngecek kerumah sakit?" Maira membetulkan rambut Fay dan mengikatnya kuat-kuat. Fay hanya menggeleng pasrah. " Ya Uda ganti baju kita ke rumah sakit."


"Gue gak mau Mai." Sontak Fay menolak


"Mai," Sasa menyela ucapan Maira.


"Apapun itu harusnya Lo ngomong, dan harusnya seminggu atau sehari setelah Lo tidur sama bajingan manapun itu Lo kasih tau ke kita. Biar apa? Biar Lo gak gila sendiri karena masalah yang Lo buat . Sesusah itu ngomong sama kita,sesusah itu ngomong kalau Lo tidur Ama cowok dan Lo hamil ? Iya?" Amarah Maira sudah di ujung tanduk , Maira bukan lagi anak kecil yang tidak tahu gejala apa yang tengah Fay alami . Maira hanya menunggu bagaimana sahabatnya itu akan jujur .


"Uda,apa sekarang kita harus ribut? Fay Lo dengerin kata Mai ya,kita ke Rumah sakit atau kalau emang gak mau kita beli tespek aja ya. Mai kita tespek aja biar gak repot?" Gisel yang tidak ingin menambah beban Fay mengusap lembut punggung itu.


"Dia bukan cuma lagi hamil Sel,dia gak makan mukanya pucat dan gue yakin banget hari ini dia udah muntah berkali-kali."


Sasa bangun dari duduknya,ia mengusap sedikit air mata di pipinya. Sasa mengambil BPJS milik Fay serta menyuruh Wiza untuk mengantikan baju Fay .


"Mai benar,kita harus bawa dia ke rumah sakit. Setelah Lo Uda enakan kita akan ngomong masalah ayah dari anak yang ada di perut Lo."


Dan begitulah kini Fay tengah di pasangi infus oleh perawat . Badanya lemas akibat muntah dan kurang makan selama sebulan penuh.


Seharusnya mereka tidak terkejut saat dokter mengatakan bahwa Fay hamil,tapi tetap saja Maira menangis dengan suara tertahan dalam kamar mandi rumah sakit,ia seharusnya lebih keras lagi kepada Fay. Kini bagaimana ia akan mengatakan kepada ayah Fay yang sudah di surga perihal keadaan putrinya yang hancur akbit ia yang tidak bisa menjaganya.


"Maafin Mai om ,gak bisa jaga Fay."

__ADS_1


Sasa duduk depan ruang tunggu,di tanganya ada dua kaleng kopi Nescafe dingin yang sengaja ia belikan untuk Maira. Sasa tahu Maira yang paling terpukul atas apa yang terjadi kepada Fay saat ini. Namun Sasa ingin menjadi orang lain untuk Maira hari ini,setidaknya Maira boleh menamparnya agar kekesalannya kepada Fay bisa lunas.


"Gak nyangka dia Uda sebulan tersiksa kaya gini,dan gue gak tau sama sekali." Sasa memberikan satu kaleng kopi kepada Maira lalu ia sibuk melihat langit-langit rumah sakit.


"Gue Uda curiga ,Lo masih ingat waktu dia pulang subuh terus nangis. Gue yakin malam itu terjadi sesuatu sama Fay." Sasa kembali menatap Maira ,ia menaikan sebelah alisnya .


"Maksud Lo Fay di perko** Mai?"


"Menurut Lo apa waktunya Uda tepat buat nanya siapa yang Uda hamili dia?"


"Gue juga mikir lebih cepat kita tahu lebih baik Mai,biar kita bisa cari laki-laki bajingan itu "


Keduanya kembali meminum kopi ,mungkin saja dengan rasa pahit kopi yang baru saja mereka minum bisa membuat mereka lebih bersabar atas takdir yang datang dan mempermainkan mereka begitu saja.


~


Semua mata tertuju kepada Fay yang kini sudah mulai membaik. Fay tersenyum canggung kearah Sahabat-sahabatnya itu,Wiza duduk di samping Fay dan memeluk sahabatnya.


"Uda sebulan Fay ,pasti dia lucu banget nanti ,apa lagi dia manggil gue aunty Ica." Fay menangis mendengar kata-kata Wiza barusan ,apakah ia juga harus ikut senang atas kehamilannya.


"Lo taukan dia siapa? Kita harus cari Fay ,biar keponakan gue punya ayah ." Gisel menyentuh lembut kepala Fay.


"Mai." Suara Fay serak akibat menangis ,Maira bahkan tidak mau berbicara dengannya.


"Kenapa ,Lo harap gue bakalan senang Lo kaya gini. Gue cuma bersyukur aja Lo gak ngegugurin kandungan Lo ." Maira akhirnya ikut menangis .


"Fay,coba Lo cerita ke kita siapa laki-laki itu" Sasa coba mencari tahu siapa sosok laki-laki yang sudah menghamili sahabatnya itu .


"Gue gak tau Sa, gue juga baru pertama kali ketemu sama dia, setelah itu gue gak tau dia di mana dan dia siapa."


"Namanya Fay ?" Kini Wiza yang bertanya,namun Fay hanya menggeleng pelan tanda ia tidak tahu .


Semuanya diam,tidak ada satupun dari mereka lagi yang berbicara hanya terdengar suara tangisan Fay yang semakin bingung dengan keadaannya sekarang .


Happy Reading My Daisy 🌼


By reading we can know someone's character without having to meet🤗

__ADS_1


__ADS_2