
Seperti biasa Maira akan selalu sibuk di dapur ketika matahari sudah mulai menyapa sang pagi , walapun rumah itu sudah agak sepih karena Fay yang tiba-tiba di bawah pergi oleh Johnny ke apartemennya.
Urutan bangun pagi di rumah mereka setelah Fay pergi ,tentunya Maira yang selalu pertama, setelah itu Sasa akan berlari menghampiri kamar mandi untuk membuang semua kotoran yang ia tampung semalam. Kemudian ada Gisel yang ketika bangun harus memastikan apakah ada jerawat baru yang tumbuh di area wajahnya.
"Hari ini kita ada pesanan ya, buat nikahan?" Gisel mengangguk saat Maira memberi tahu tentang pesanan hari ini.
Gisel beralih ke arah rak tempat ia menyimpan segala macam jenis kopi juga cemilan yang ia beli untuk dirinya sendiri.
"Kok kopi gue ilang,mana tinggal satu lagi. Gue yakin banget pasti Genda Jaefry yang minum. Sa,Sasa di mana Lo setan ,balikin gak kopi gue." Maira mulai menutup telinganya,ia merindukan Fay, satu-satunya orang yang bisa menenakan Gisel saat marah ketika Sasa mulai menghabiskan semua makanan juga minuman miliknya.
"Gue gak minum setan,Lo sendiri yang minum kemaren." Teriak Sasa dari dalam kamar mandi.
Sambil mengedor pintu kamar mandi,Gisel terus meneriaki Sasa ,meminta pertanggungjawaban atas kehilangan kopinya.
"Hampir tiap pagi gue harus menyaksikan mereka berteriak seperti ini. Mai, kita jual aja mereka berdua,lumayan duitnya kita pake buat jalan-jalan ke Bali." Wiza yang baru bangun langsung di suguhkan dengan pemandangan yang sudah tidak mengejutkan lagi.
~
Sasa menghirup lalu mengepulkan asap rokoknya yang tinggal setengah,lalu ia mendekati laki-laki yang duduk menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Ribut lagi Ama bini Lo ?" Laki-laki itu tidak menjawab ia meraih tubuh mungil Sasa ke pangkuannya ,dan mulai menc*** leher juga dagu putih milik Sasa .
"Gue mau Lo ,jadi plis jangan ngomongin masalah itu." Dan ke duanya mulai mema*** bib** satu sama lain.
Sasa tahu yang kini ia lakukan bersama laki-laki yang ia kenal dua tahun yang lalu itu adalah kesalahan. Tapi setiap yang ada di diri laki-laki ini selalu membuat Sasa kecanduan.
"Jae," Sasa melepaskan cium** mereka,rasanya ia hampir kehabisan nafas," Lo pulang ya,entar kalau pesanan bunga hari ini kelar gue ke tempat Lo ." Jaefry , laki-laki berdimpel yang memiliki wajah tampan ini selalu hadir di kehidupan Sasa setiap kali ia bermasalah dengan keluarga kecilnya.
Jaefry juga tahu semua yang ia lakukan bersama Sasa adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa ia lepaskan. Seperti halnya Sasa yang selalu kecanduan akan Jaefry, ia akan menjadikan Sasa sebagai narkotika yang membuat dirinya merasa tenang.
~
Johnny sibuk mondar-mandir di depan kamar Fay, ia ingin mengajak Fay ngobrol malam ini, tapi ia bingung bagaimana cara mengajak wanita itu untuk mengobrol dengannya.
Padahal Fay sudah hampir dua Minggu di apartemennya ,namun Johnny masih sangat canggung jika harus bertatapan langsung dengan Fay . Akhirnya ia memutuskan untuk masuk lagi kedalam kamarnya dan memikirkan cara apa yang bagus untuk mengajak Fay setidaknya keluar dari kamarnya.
"Apa gue chat aja ya?" Monolog Johnny sambil menekan nomor Fay di wahtsup nya.
Setelah membaca pesan dari Fay , Johnny berlari kecil untuk menghampiri Fay. Fay tersenyum simpul saat Johnny keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Mau sekalian gue buatin kopi?" Tawar Fay .
"Gak usa,Lo duduk aja ,entar gue buat sendiri." Fay mengangguk dan berjalan menuju ke sofa di ruangan tengah apartemen Johnny.
Keduanya menikmati minuman di gelas masing-masing ,hanya suara tv yang menemani kesunyian di ruangan itu.
"Kok belum tidur ?"
"Gak bisa tidur ,mungkin karena dia Uda mulai besar kali." Fay tersenyum sambil menunjuk ke arah perutnya.
"Emang dia Uda bisa gerak ya?" Fay tertawa begitu kencang menanggapi perkataan Johnny, "kok ketawa? " Johnny hanya tersenyum melihat Fay yang tertawa sambil menggeleng ,itu terlihat sangat menggemaskan .
"Gak gitu juga Jo , ya emangkan dia makin gede,jadi gue makin sulit buat gerak. Tapi di bulan ke empat ini dia belum bisa bergerak,kalau kata orang tua dulu masih belum sempurna bentuk tubuhnya."
Tanpa sadar Johnny membelai rambut Fay lembut , Fay agak sedikit terkejut tetapi ia membiarkan Johnny melakukan apapun yang ia mau.
"Sorry banget ," kali ini tangan Johnny menyentuh perut Fay ,hal yang selalu membuat Fay berdebar. Dan setiap kalimat yang Johnny ucapkan untuk anaknya selalu berhasil membuat Fay menangis secara diam-diam dalam kamarnya.
"Lo gak perlu minta maaf setiap kali gue ngalamin hal kaya gini,ini wajar dan akan terjadi sama setiap perempuan yang sedang hamil."
"Tapi gue merasa bersalah Fay."
Fay menggeleng pelan ,tanganya mengengam kuat tangan Johnny," bukan cuma Lo yang salah ,gue juga, kita. Jadi kalau Lo merasa bersalah jangan ke gue ,ke dia . Mungkin aja ketika dia lahir Lo akan membuat dia kecewa."
Raut waja Fay berubah seketika,bukan ,bukannya Fay tidak mau tetapi apa yang keluar dari mulut Johnny barusan sungguh membuat jantungnya hampir melompat ke lantai.
"Joh,gue gak mau Lo terbebani sama keadaan gue sekarang. Jangan makasin sesuatu yang gak bisa Lo lakuin."
"Kenapa ,katanya Lo mau besarin dia sama gue?"
"Nikah gak semudah itu Joh ."
"Ya kita coba Fay ,gue gak mungkin ninggalin Lo setelah ngelahirin dia,apa lagi kalau Lo nyuruh gue buat jauh dari dia. Gak bisa Fay, gue mau dia tapi harus sama Lo. Masalah perasaan,kita bisa lihat nanti yang gue mau sekarang Lo sama anak gue , gue cuma mau bertanggungjawab Fay ,gak ada niat apapun."
"Tapi Joh,"
"Uda,gak usah bantah , Lo tega kalau gue di bunuh sama bokap karena Lo gak mau gue nikahi." Fay tertawa lagi ," Uda mau ?"
"Maksa,"
"Dihhh sombong amat ," keduanya saling menatap cukup lama, kemudian Fay membuang mukanya ,ia sedikit malu apa lagi memikirkan kejadian di mobil.
__ADS_1
"Emmm Fay . " Kali ini Johnny bersuara lagi.
"Apa lagi?"
"Lo mau tidur bareng gue? Eee maksud gue tidur sama gue di kamar gue biar kalau Lo kenapa-kenapa gue bisa nemenin ."
"Emang Lo gak risih gue tidur di kamar Sama Lo ?"
"Kok risih,gue gak tega lihat Lo ke bangun terus, kalau dekat kan bisa aja gue temani ,gitu maksud gue."
"Kapan?"
"Ya kalau Lo mau malam ini,gue janji gak aneh-aneh"
~
Sasa memeluk tubuh telan*** Jaefry yang kini sedang tertidur, Sasa menatap wajah lelah yang satu jam lalu bercum*" mesra dengannya. Handphone Jaefry berbunyi dari tadi , Sasa tahu siapa penelponnya,namun Sasa tidak berniat membangunkan Jaefry untuk mengakat telpon tersebut ,karena Sasa yakin Jaefry pun tidak ingin berbicara dengan si penelpon.
Jaefry berbalik untuk sekedar mengeratkan pelukannya ke tubuh Sasa, aroma parfum Sasa selalu ingin ia hirup samapi puas.
"Pesan makan beb,lapar." Jaefry belum membuka matanya saat berbisik di telinga Sasa .
"Mau makan apa?"
"Apa aja ,Lo juga boleh ." Jaefry kembali menindih tubuh telanj** Sasa dan menci** bib** wanitanya lembut.
Handphone Jaefry berbunyi lagi , ia memejamkan matanya frustasi, Sasa sangat mengerti dengan situasi saat ini ,maka ia memilih untuk pergi ke kamar mandi.
Apa kah Sasa tidak sedih saat melihat Jaefry harus pergi menemui istrinya,padahal satu jam yang lalu mereka bahkan bercinta dengan penuh gairah?
Jawabannya hanya Sasa yang tahu,bahkan ke empat sahabatnya hanya mampu menjadi penonton yang pandai menasehati.
Mungkin karena sudah terbiasa Sasa hanya akan pasarah pada takdir yang mempertemukan ia dengan Jaefry. Begitu banyak rasa yang Sasa rasakan ketika nama Jaefry terlintas di pikirannya. Apakah ia bisa hidup tanpa laki-laki yang sebentar lagi akan memilki anak itu,atau apakah ia bisa melepaskan Jaefry dan mengikhlaskan Jaefry bahagia dengan wanita yang empat tahun lalu ia nikahi.
Mampu ,untuk ukuran wanita seperti Sasa,ia akan sangat mampu untuk meninggalkan laki-laki seperti Jaefry,namun kenyataannya ia terjebak di labirin tipis yang Jaefry buat untuk dirinya.
Nyatanya walaupun ia mampu meninggalkan Jaefry,lelaki itu yang tidak bisa melepaskan tangannya ,lelaki itu yang kembali mencarinya lagi dan lagi hanya untuk sebuah ketenangan.
Anggap saja keduanya saling mencintai ,lantas apakah ada yang salah dari rasa itu? Sasa yakin tidak,hanya saja semua yang ia lalui bersama Jaefry datang di waktu yang salah.
Happy Reading My Daisy 🌼
__ADS_1
By reading we know someone's character without meeting🤗