Bunda | NCT

Bunda | NCT
7.Yang punya


__ADS_3

Aroma bumbu dapur tercium kemana-mana , tangan Yuta sangat sibuk mengolah masakannya. Wiza hanya diam saja karena lelaki itu tidak mengijinkan nya untuk ikut memasak,sebab saat terakhir kali Wiza memasak, wajan yang ia gunakan untuk merebus air membuat mie instan terbakar karena ia yang sibuk bermain game dan melupakan pekerjaannya.


"Ni coba,amis gak ikannya?" Yuta meniup kuah ikan kuning dan menyuapi Wiza pelan.


"Emm,enak kok gak amis ."


"Bumbunya gimana Uda pas?" Wiza mengangguk dan kembali menyicipi masakan Yuta.


"Teman-teman Lo belum pada pulang?" Wiza melihat ke arah luar untuk memastikan tapi sepertinya belum ada tanda-tanda kepulangan dari para sahabatnya itu.


Berselang beberapa menita Wiza mendapatkan telpon bahwa Sasa tidak pulang lagi malam ini , dan Maira masih berada di panti asuhan tempat ia tinggal dulu .


"Jadi gak ada yang pulang?" Yuta sedikit berteriak, pasalnya ia sudah memasak dengan susah paya agar segerombolan wanita-wanita itu bisa menikmati hasil masakannya.


"Kan ada gue sama Gisel ,heboh banget Lo ."


"Tapi gak seru kalau gak ada Sasa ," Yuta melipat tanganya kali ini ia membiarkan Wiza mengaduk nasi yang baru saja matang.


"Ya Uda Lo ikut aja ama Sasa ke apartemennya Jae. Biar barengan di sana Lo bertiga ."


"Ya Uda mana alamatnya? gue mau nyusul si Sasa."


"Gila Lo ."


"Lah gimana si? Kan lu yang nyuruh pea."


"Ya gak harus juga kali Lo ikut kesana ,emang Sasa seasik itu ya?"


"Yoi,Sasa tu tipe cewek cool dan bodoh amat , seksi lagi ,anjir keren banget kalau punya cewek kek Sasa ."


Wiza yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas," ya Uda sana pacaran sama Sasa ,habis itu betumbuklah kau sama Jaefry ."


"Dihhh mending sama jomblo kaya Lo ,free ." Wiza terdiam ia melempar kain lap yang baru saja ia gunakan untuk melap meja yang kotor ke arah Yuta.


"Anjir wajah tampan gue,sini gak Lo ." Gisel yang terkejut pun lari menghindari kemarahan Yuta yang wajahnya baru saja ternodai.


"Maaf Yutaaaa,maaf anjir geli goblok." Yuta mengelitiki Wiza kuat-kuat,lalu tanpa sengaja kaki Yuta terpeleset karena ada tumpahan air di lantai yang ia pijak dan akibatnya membuat Yuta hampir saja terjatuh. Untung saja Wiza cepat menarik tangan Yuta tetapi Lelaki itu malah menghimpit tubuh kecilnya ke meja makan .


Lama mereka bertatapan dalam diam,Wiza terlihat salah tingkah ,bahkan ia dapat mendengar detak jantungnya. Namun lelaki yang kini masih menatapnya kelihatan begitu tenang.


Yuta melepaskan genggaman tangan Wiza ,Lalu tanpa aba-aba laki-laki itu menc*** bibir Wiza. Wiza yang tidak tahu harus berbuat apa hanya memejamkan matanya dan membiarkan Yuta mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan dengan masih saling bertautan.


Yuta semakin memperdalam ci***nya saat tangan Wiza melingkar manja di lehernya,ingin rasanya Yuta menelan bibir manis yang hampir membuatnya mabuk itu.


Yuta membiarkan Wiza bernafas sebentar,lalu ia kembali mel**** bibir itu, kali ini l***tanya begitu kasar membuat Wiza meremas kuat punggung Yuta. Keduanya hampir gila, jika saja Gisel tidak mengetuk pintu,mungkin mereka akan berakhir dengan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.


~


Fay menarik nafas, sebelumnya ia tidak mengatakan di mana keberadaan orangtuanya. Setelah satu minggu berada di rumah orangtua Johnny hari ini Fay memberanikan diri mengajak Johnny bertemu dengan orangtuanya.


Karena terlalu gugup Johnny bahkan mengajak Doyi untuk ikut bersama mereka,rasanya ia tidak mampu membawa mobilnya sendiri hari ini. Selain itu juga pikir Johnny,Doyi akan berguna saat orangtua Fay memukulinya ia bisa meminta tolong kepada laki-laki yang kini duduk dengan wajah frustasi di kursi depan .


"Kalau bokap Fay bunuh Lo ,gue iklas banget." Doyi sangat kesal pasalnya hari ini ia ingin bermanja-manja dengan istrinya di rumah .


Fay hanya tertawa melihat kelakuan dua laki-laki dewasa yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh.


"Lo ngasih alamatnya bener aja kan Fay? " Tanya Doyi saat hendak memasuki area alamat yang Fay berikan .


Johnny melihat sekeliling,tidak ada rumah bahkan setelah gang terakhir yang mereka lewati hanya hutan yang mereka temui.


"Fay ini gak salahkan?"kali ini Johnny coba memastikan, Fay hanya menggeleng.


"Kita berhenti di sini aja,mobil Lo gak bisa masuk .Doyi kalau Lo gak mau ikut gak apa-apa kok ,gue sama Joh aja." Sebenarnya itu yang di inginkan Doyi tapi ia juga penasaran siapa yang mau tinggal di daerah hutan seperti ini .


Johnny mungkin lebih bingung lagi,tetapi Fay mengengam tangan laki-laki yang bahkan memakai pakaian yang begitu rapih untuk bertemu dengan Papanya. Johnny ingin bertanya namun ia membiarkan tangan kecil itu menuntunnya.


Laki-laki yang menggunakan kaca mata hitam itu tertegun melihat sekitar,hanya ada lapangan luas serta gundukan tanah yang terukir nama sang penghuni masing-masing. Apa ini yang di maksud Fay kalau Papa nya tinggal begitu jauh darinya.


"Hai Pa,"


"Fay." Wanita itu tersenyum ke arah Johnny,dengan tatapannya ia ingin Johnny mengerti akan situasi saat ini.


"Pa,dia Johnny . Katanya mau minta ijin ke Papa mau nikah sama Fay,kalau boleh tolong di perlancar semua urusan kami ya Pa." Tangan Johnny terus menggema tangan Fay , lalu di rangkulnya wanita yang tadi memakai gaun hitam . Johnny sekarang mengerti saat Fay memaksanya memakai baju berwarna senada dengannya.

__ADS_1


"Sekarang Papa punya cucu ,kemaren USG dan kata dokter cucu Papa cowok ,ijinin Fay nikah ya Pa,Fay janji akan bahagia seperti yang Papa mau." Johnny memeluk tubuh fay, bahkan sampai Fay selesai berbicara Johnny hanya diam.


Kenyataan bahwa orangtua yang ingin Fay pertemukan denganya adalah sebuah bongkahan tanah bertuliskan nama sang Papa. Johnny meneteskan air matanya, kesedihan yang Fay rasakan menjalar sampai ke dirinya.


"Pa, Johnny ijin nikah sama Fay . Restui kami , Johnny janji akan buat Fay juga cucu Papa bahagia. Johnny janji Pa."


Seharusnya Doyi mendengarkan perkataan Fay untuk tidak ikut bersama mereka ,karena sekarang Doyi bahkan ikut menangis dari kejauhan saat melihat bagaimana sahabatnya memeluk calon istrinya yang menangis sambil bersimpuh di makam Papanya.


Dalam perjalanan pulang Fay hanya diam ,sambil bersandar di dada Johnny . Tanganya tidak lupa selalu di genggam kuat oleh lelaki yang kini menyandarkan kepalanya ke kepala Fay.


"Lo bersyukur bokap Fay gak bunuh Lo ." Fay sedikit tersenyum mendengar lelucon yang Doyi lontarkan.


Namun ada banyak pertanyaan di benak Johnny.


"Fay." Suara Johnny begitu pelan,ia menghampiri wanita yang kini sedang sibuk menggantung setelan hitam yang Johnny kenakan tadi untuk ia gantung kembali ke dalam lemari .


Laki-laki itu mengajak Fay duduk di depan ruang tv,ia menawarkan secangkir susu untuk ibu hamil yang sengaja di belikan mami untuk stok selama masa kandungan Fay .


Tidak ada yang bersuara ,hanya terdengar suara tv dan seruputan dari cangkir masing-masing.


"Sorry, Lo harus jadi bagian dari hidup gue yang gak menyenakan kaya gini." Ada senyuman ketir dari bibir Fay saat mengucapkan kalimat itu , ia lalu menghabiskan sedikit lagi susu nya hingga cangkir putih itu mengosong.


"Papa Uda lama meninggal?"


"Uda lama banget, sangking lamanya gue lupa Uda berapa tahun Papa ninggalin gue sendiri."


"Gue nyesel banget jadi salah satu orang yang buat Lo hancur." Wanita itu tertawa ,ia menatap lekat wajah Johnny yang duduk lumayan jauh dari dirinya.


"Gue emang uda rusak ,bahkan gue gak mau lanjutin pernikahan kita . Kalau sampai keluarga Lo tau kebusukan hidup gue ,gue yakin banget akan gampang buat mereka nendang gue keluar dari kehidupan Lo ."


"Hidup gue,hak gue. Nikah sama Lo pilihan gue, Sekalipun Mami sama Papi tahu gimana keadaan Lo sekarang,mereka pasti gak akan nyuruh gue buat ninggalin Lo ."


"Berarti semua tergantung Lo ?"


"Iya ,Lo gak bisa nolak bahkan gak boleh. Kita ngelakuin hal gila itu sama-sama tapi yang menderita cuma Lo. Sekarang setelah melihat keadaan Lo dengan segala kesusahan Lo saat ngidam gue paham banget kenapa Papi marah banget dan nampar gue. Papi adalah orang yang paling mengerti keadaan Mami saat mengandung gue ,dan Fay gue mau Lo juga bisa ngandelin gue . Gue mau kalau Lo mau makan sesuatu ngomong ke gue , kita Uda tidur bareng bahkan Uda berkali-kali dan Lo masih malu ke gue?"


Fay tertegun , sebenarnya ini lah yang ia Tunggu selama ini . Setelah tinggal di apartemen Johnny, dan seperti yang lelaki itu katakan bahwa mereka sudah sering tidur bersama,Fay memang masih sedikit malu. Bahkan untuk meminta hal-hal aneh saja ia tidak mau, akhirnya Fay memilih menyusahkan parah sahabat-sahabatnya.


"Gue cuma mau makan semangka tiap hari , tanggal 18 gue USG,gue mau Lo yang temani. Besok juga Mami ngajakin belanja perlengkapan buat persalinan dan gue mau Lo ikut. Joh gue cuma mau tiap Lo pulang kerja gue nyium bau badan Lo karena keringat Lo buat gue tenang , juga kalau Lo habis mandi gue mau meluk Lo tapi badan Lo masih agak sedikit basah . Gue Uda lama mau kaya gini ke Lo cuma gue gak tau gimana caranya buat ngomong ke Lo dan tolong ini karena gue ngidam ."


"Jadi Lo ngidam cium bau keringat gue." Fay hanya mengangguk dan masih tertunduk. Johnny tertawa begitu keras membuat Fay salah tingkah.


"Malu banget." Fay menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lah ngapain malu ,sini lihat gue coba ," Johnny melepaskan tangan Fay yang menghalangi wajahnya dan memutar tubuh Fay untuk melihat kearahnya," kan Uda gue bilang , masa Uda sering tidur bareng Lo masih malu sama gue ?"


"Ya kan itu anu--"


"Anu apa?" Johnny menaikan satu alisnya dan menggoda Fay .


"Aa tau ,males ," Fay yang sedang dalam mode manja pun membaringkan kepalanya ke dada Johnny ,tangan Johnny tidak lupa mengelus-elus perut Fay .


"Kita coba lebih dekat lagi ya ."


"Gue takut jatuh cinta sama Lo ."


"Gue juga tipe cowok yang gampang jatuh cinta si." Fay mencubit pelan, "a-a sakit ."


"Lo bukan cowok lagi ,Uda bapak-bapak."


"Calon ya, lagian kepikiran aja Tuhan buat ngejodohin kita kaya gini." Fay tertawa lagi-lagi ia mencubit perut Johnny.


"Joh."


"Hmm."


"Kalau gue jatuh cinta sama Lo duluan biarin aja ya ,gue gak pernah jatuh cinta soalnya."


"Pembohong,gak mungkin." Fay bangun dari posisinya nyamanya dan memperbaiki duduknya . Ia menatap dalam-dalam wajah Johnny.


"Sikap Lo ke gue asing banget ,gak ada laki-laki yang memperlakukan gue kaya Lo ." Johnny tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Fay.


"Berarti gue orang yang tepat yang di kirim tuhan buat ngebahagiain Lo ."

__ADS_1


"Geliii gue dengernya Joh,bisa gak si Lo gak usah kaya gini. Mual lagi kan gue."


"Lihat ni,anak gue dalam perut Lo tu Uda jadi bukti kalau semuanya ini tu gak mungkin cuma sekedar doank."


___


Fay yang masih sedikit mual segera berlari ke kamar mandi, saat Mami memasukan bawang merah ke dalam wajah untuk menumis sayur. Mami yang melihat itu segera memanggil Johnny yang sibuk bermain catur dengan Papi nya ,dan tentu saja suami sepupunya yang tidak lain adalah sahabatnya Doyi yang juga ikut berkunjung ke kediaman tuan Prasetyo.


"Lo gak apa-apa, keluar semua donk semangka nya." Johnny memijat batang leher Fay dengan minyak kayu putih .


"Mual aja kok,gak ada yang keluar ,Lo nya aja yang heboh."


"Fay."


"Uda ,gue gak apa-apa Joh ,temani Papi sama Doyi lagi ,gue mau sama Mami aja gak mau sama Lo ."


"Ini maunya si baby apa Lo si Fay?"


"Ya gue gak tau, intinya gue lagi gak mau Deket sama Lo sekarang Joh ."


Johnny sedikit kesal dengan perkataan Fay namun ia membiarkan wanita itu ikut bergabung lagi dengan Mami juga sepupunya Joy .


"Istirahat aja ya sayang kalau gak kuat nyium aroma di dapur." Mami mengelus punggung Fay saat wanita itu datang kembali ke dapur dan memberikan segelas air putih untuk calon menantunya itu.


"Lo duduk aja deh kak,Lo tau kan kak Joh bakalan heboh banget kalau Lo kenapa-napa."


"Joy enak banget Mi ngidam gak mual kaya Fay."


"Joy emang ikut Mama nya,Mama nya dulu juga gak ada tuh ngidam-ngidam kaya Mami dan Kamu gini ."


"Gue gak bisa bayangin jadi Lo Kak , pasti tenggorokan Lo sakit banget ya ?" Fay mengaguk ia kembali meminum air nya lalu duduk di meja makan seperti kucing yang tersiram air .


"Sayang minta es batu lagi donk ,om Setyo malah ngajak nyabut rumput di taman bunga mana panas banget lagi ." Doyi datang dengan cerek kosong yang Joy yakin isinya sudah di habiskan oleh ke tiga orang laki-laki itu .


"Kan Tante Uda bilang,kalau main ke sini tunggu om mu gak ada dulu ,jadi report kan." Mami menuangkan sirup ke dalam cerek tidak lupa Joy menambahkan batu es kedalamnya.


"Kan rame Tan,ada kak Fay . Lagian mereka sibuk terus ,kan jarang-jarang ngumpul kaya gini ."


"Untung lagi hamil kalau gak--"


Joy memberikan lirikan maut," kalau gak kenapa emang?" Lalu laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu kabur dengan membawa cerek yang kini sudah berisi penuh kembali.


"Kemaren Johnny ketemu sama Papa nya Fay ." Mereka bertiga duduk di kursi taman ,di temani lagu keroncong kesukaan tuan Prasetyo , Johnny akan bercerita tentang calon istrinya.


"Apa mu yang patah?" Doyi hampir saja tertawa ,namun ia tahan karena takut suasananya akan semakin canggung.


"Tenang om ,kali ini Johnny aman." Doyi mengejek Johnny dengan tampang yang sangat menyebalkan.


"Terus kapan Papi dan Mami bisa bertemu mereka untuk membicarakan pernikahan kalian?" Johnny dan Doyi saling melirik karena bingung menjawab pertanyaan Papinya.


"Kayanya Papi gak bisa ketemu sama Papa Fay."


"Kenapa,kalian gak di restui?"


Papi menatap ke arah Johnny menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan.


"Papa Fay Uda meninggal Pi." Tuan Prasetyo sedikit terkejut lalu ia meminum es sirupnya untuk menyejukkan tenggorokannya.


"Apa kalian senang menyakitkan hati seorang wanita?" Doyi menutup matanya. Seperti sudah hafal dengan sifat om nya, wejangan seperti saat ini akan sangat membuat mereka berdua trauma.


"Gak Pi ."


"Gak Om."


"Kalian tau,wanita punya hati yang lembut . Sudah kodrat mereka untuk menjadi makhluk yang manja ,jika tubuh yang lukanya bisa terlihat saja masih bisa kalian sakiti bagaimana dengan hati yang lukanya terlihat samar?"


Johnny meneguk liurnya,ia selalu berkeringat jika tuan Prasetyo sedang dalam mode serius seperti saat ini . Tidak ada jawaban dari kedua pria dewasa yang kini duduk tegang bak patung hidup itu.


"Papi gak mau kalian hidup dengan bangga saat ada hati yang tersakiti. Itu bukan sifat manusia ,bintang saja punya rasa simpati . Joh ,Doyi kalian sama-sama sudah dewasa bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah ,tugas kalian menjaga pasangan kalian. Pernikahan itu seperti cangkang telur yang mudah retak , sedikit saja tersengol kalian tentu tahu apa yang akan terjadi . Tidak gampang menemukan seorang wanita yang rela hidup dengan kita bertahun-tahun , melayani kita ,sabar menghadapi kita. Gak ada susahnya kita sebagai laki-laki menghargai kehadiran mereka dalam hidup kita." Tuan Prasetyo berdiri , menyemprotkan air ke bunga-bunga yang istrinya tanam dengan sejuta senyum.


"Sembuhkan luka itu Joh. Pelan-pelan, akan susah saat di awal karena Papi yakin lukanya masih begitu basah . Obati semua yang terlihat memar walau bukan kamu yang melakukanya , jaga hatinya mungkin sekarang dia sedang menahan dirinya untuk tidak lari dari semua ini."


Happy Reading My Daisy 🌼

__ADS_1


by reading we know someone's character without having to meet🤗


__ADS_2