Bunda | NCT

Bunda | NCT
3.finally


__ADS_3

Setelah memikirkan matang-matang , akhirnya Fay memutuskan untuk menghubungi nomor telpon yang tertera di kartu nama yang ia temukan di saku jaket kulit milik lelaki yang tiga bulan lalu ia jumpai di jalan .


Tidak ada satupun dari sahabatnya yang tahu tentang hal itu, Fay berusaha untuk tidak memberitahu mereka bukan untuk melindungi laki-laki itu dari amukan para sahabatnya, hanya saja Fay ingin memastikan apakah laki-laki itu mau bertanggungjawab atas apa yang telah mereka berdua lakukan.


Johnny Prasetyo ,nama itu tertera di kartu nama yang Fay temukan sebulan yang lalu, Awalnya Fay tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu ,karena sahabatnya sudah menerima keadaannya. Tapi Fay lupa anak yang ada dalam kandungannya sekarang juga membutuhkan sosok seorang ayah.


Fay menekan dengan hati-hati semua angka dalam kartu itu,setelahnya ia memberanikan diri mengirim pesan kepada Johnny.



Pukul tiga belas lewat dua puluh lima menit saat Fay selesai mengirim pesan untuk Johnny handphonenya mendapat panggilan , dan layar handphonenya tertulis nama Johnny. Fay sempat ragu untuk mengakat telpon itu,tetapi hati nya berkata lain dan akhirnya jarinya menyentuh tombol hijau.


"Halo."


Fay seperti Dejavu saat mendengar lagi suara itu, padahal mengobrol saja hampir hanya sebentar tapi seperti ada rindu yang Fay pendam untuk suara seseorang yang berada di sebrang sana.


"Hmmm ." Suara Fay lembut menyahut panggilan Johnny.


"Gue Uda nunggu Lo hubungi gue dari tiga bulan yang lalu." Kali ini Fay menutup mulutnya,badanya lemas dan terduduk di samping tempat tidurnya mendengar perkataan laki-laki itu barusan.


Fay tidak pernah menyangka ia akan mendengar perkataan itu dari mulut lelaki yang sahabatnya sebut dengan bajingan.


"Gue gak tau kalau kartu nama ini ada di jaket ."


"Lo nangis? Maafin gue. Lo di mana biar gue jemput atau gimana enaknya Lo aja."


"Gue takut." Fay menangis sejadi-jadinya ia seperti di lahirkan kembali saat mendengar laki-laki yang telah merusak hidupnya kini mengkhawatirkannya.


"Gue ketempat Lo, kirim alamat sekarang."


Setelah itu Fay mengirimkan alamatnya untuk Johnny agar lelaki itu menemuinya .


__


Johnny melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke alamat yang baru saja wanita itu kirim.


"Nama Lo ?"


"Fay."


Sepanjang perjalanan ia terus memastikan bahwa yang mengirim pesan barusan adalah wanita tiga bulan yang lalu.


"Akhirnya gue tau nama Lo . " Seketika Johnny tersenyum, entah untuk apa senyum itu. Bahkan ia tidak sedikitpun terkejut atas pengakuan kehamilan dari wanita itu," Fay."


Saat Fay membukakan pintu rumah , Johnny seperti terbius oleh aura dari wanita itu . Wanita yang memakai gaun putih yang kini duduk di hadapannya itu sedikit terlihat kurus namun tetap cantik seperti saat tiga bulan yang lalu .

__ADS_1


Keduanya duduk dengan diam,damai sekali sore itu bahkan suara nafas keduanya dapat terdengar oleh telinga masing-masing.


Jangan heran jika rumah Fay sepih ,karena parah penghuni sedang mencari rupiah di jam seperti ini.


"Gue gak mungkin nanya kabar Lo ." Jhonny tersenyum canggung,tidak sedikitpun tatapannya ia lepaskan dari wajah Fay .


Fay masih tertunduk,mungkin ia masih malu bertemu dengan Johnny.


"Lo tinggal sendiri?" Kali ini Johnny berusaha untuk sedikit lebih tahu tentang Fay.


"Gak,bareng sama teman . Gue sama mereka buka usaha tokoh bunga,jadi mereka lagi di tokoh sekarang." Fay menjawab seperlunya.


"Maaf," Fay mengakat wajahnya untuk melihat kearah Johnny, "Gue minta maaf karena gak tau gimana keadaan Lo , gue Uda berusaha cari Lo karena gue yakin banget kejadian ini bakalan terjadi , seengkanya gue ada saat Lo butuh . Gue gak tau gimana cara nebus kesalahan gue selama tiga bulan ini, gue juga minta maaf sama anak kita ,gue kaya gak berguna banget." Johnny tertunduk Fay yakin sekali lelaki itu sedang menahan tangisnya, lalu dengan pelan Fay menghampiri Johnny ,mengakat wajah yang sudah memerah itu ,Fay tersenyum sedikit lalu memeluk tubuh lebar milik ayah dari bayi yang ia kandung sekarang .


"Dengan Lo datang kesini aja ,gue Uda bersyukur . Seenggaknya gue tahu nama ayah dari anak gue Johnny Prasetyo biar gue kasih tau dia kalau dia punya ayah."


"Dia emang punya ayah dan bakalan terus sama-sama dia samapi lahir,gue gak akan biarin anak gue sendiri lagi sama Lo kaya gini."


Maira,Sasa ,Wiza dan Gisel hanya terdiam sambil menahan tangis melihat kedua orang yang terjebak karena takdir kini tengah menangisi keadaan. Sasa ingin berteriak untuk berterimakasih kepada lelaki yang kini sedang mengecup lembut kepala Fay, dan mereka berjanji akan terus mendukung apapun yang kedua insan itu lakukan.


Fay membiarkan Johnny masuk kedalam kamarnya,membiarkan laki-laki itu melihat keadaannya saat ini. Masih banyak yang harus ia tahu tentang laki-laki yang kini sedang melihat foto-fotonya bersama ke empat sahabatnya.


Johnny mendekat kearah Fay yang duduk melipat bajunya,ia bersimpuh di depan perut Fay.


"Gue boleh nyapa dia?" Tanya Johnny menujuk kearah perut Fay yang sudah mulai membesar.


Johnny meminta Fay untuk tinggal bersamanya ,agar ia dengan mudah mengontrol fay dan juga anaknya,namun ia belum mendapatkan ijin dari ke empat sahabat Fay.


"Mereka masih lama ya pulangnya?" Tanya Johnny sambil melihat jam yang ada di tangannya.


"Harusnya si Uda pulang."


Belum lagi Fay selesai menjawab pertanyaan Johnny ,keempat sahabatnya masuk begitu saja kedalam kamar dan memeluk Fay erat. Johnny cukup terkejut karena kakinya baru saja di injak,dia bahkan tidak tahu siapa yang menginjak serta mendorong tubuhnya barusan.


Maira mengajak Johnny keluar ke teras sebentar.


"Makasi Lo Uda mau datang." Maira memberikan segelas kopi untuk Johnny yang kini duduk santai di bale depan rumah milik mereka.


"Gue yang makasi karena Lo semua Uda jaga anak gue." Maira terdiam lalu ia tertawa pelan sambil terus melihat ke arah Johnny," ada yang lucu?" Karena heran Johnny pun bertanya perihal tawa dari Maira .


"Gue kira Lo laki-laki brengsek yang cuma mau enaknya doank,hampir tiap hari Sasa sama Wiza nyumpahi Lo ." Kali ini Johnny ikut tertawa.


"Gue pantes banget di sumpahi,gak kebayang dia selama tiga bulan ini kaya mana?"Johnny menarik nafasnya panjang dan lagi-lagi menyesali kebodohannya," Gue emang salah,gue juga brengsek banget."


"Dia hancur banget,bahkan setelah satu bulan hamil Fay baru berani ngomong ke kita tentang keadaan dia , gue ngerasa gagal banget jadi sahabat sekaligus saudara buat dia. Gue harapan Lo harus terus berterimakasih ke Fay karena dia gak pernah berniat sedikitpun untuk gugurin kandungannya." Mata Maira mulai berkaca-kaca lagi.

__ADS_1


"Terimakasih Untuk semua yang uda kalian korbankan ,gue bakalan jaga Fay juga anak gue,gue janji ."


~


Sedari tadi handphone Doyi berbunyi,hampir saja Joy memaki si penelpon.


"Sayang,ini telponnya bunyi terus " teriak Joy kearah kamar mandi .


"Siapa?"


"Ya gak tau,kamu gak kasih nama ."


Namun setelah itu Doyi pun mengakat telponnya dengan wajah yang suram.


"Lo kemana aja seharian brengsek?" Belum sempat Johnny membuka mulutnya Doyi sudah memakainya duluan.


"Breng*** Lo , Doyi Lo ingat kan cewek yang gue ceritain tiga bulan yang lalu." Doyi tidak menjawab ,namun satu alisnya ia naikan dan berpikir sedikit , lalu Doyi mengangguk seperti Johnny dapat melihat anggukanya .


"Gue ingat,kenapa emang ,mau nyari kemana lagi Jo? Udahlah nyerah aja mungkin dia baik-baik aja sekarang ."


"Dia sekarang lagi di apartemen gue set**." Mata Doyi terbuka lebar,ia melirik ke arah istrinya yang sedikit menguping pembicaraannya dengan Johnny.


"Lo Nemu di mana?"


"Anji**,Lo kira barang. Dia hubungi gue asli kaget banget pas baca pesan dari dia."


"Terus ,Lo mau apain lagi tuh anak orang,harusnya Lo minta maaf karena Uda mainin anak orang dalam mobil,bukan Lo bawa ke apartemen Lo bang***."


"Ya mau gue nikahi , dan Lo tau gue entar lagi juga bakalan jadi Ayah,gue lebih unggul dari Lo ,anak gue Uda tiga bulan sedangkan Lo baru satu bulan." Kali ini mulut Doyi terbuka lebar,Joy juga sangat terkejuta dengan perkataan Johnny barusan.


"Jadi maksud kak Jo,cewek itu hamil anak kakak gitu?" Kali ini Joy yang coba memastikan .


"Iya donk sayang ."


"Yank , kak Johnny bangga lagi," celetuk Joy , Doyi yang tidak puas merebut handphone dari tangan istrinya, "siapin diri aja dari amukan om Prasetyo."


"Ya mau gimana lagi,gue harus bertanggungjawab sama anak orang , lagian gue emang Uda harus nikah si." Johnny tertawa membuat Doyi semakin yakin bahwa sahabatnya itu sudah mulai gila," Uda gue mau tidur , cuma mau info aja ke Lo ." Johnny pun mematikan telponnya.


"Gila, bakalan semarah apa om Prasetyo sama kak Jo entar. Mikirin aja buat aku merinding."


"Tapi aku salut si, walapun brengsek dan mukanya kaya jin sangean Jo tetap mau bertanggungjawab" Joy mengangguk , " Uda ayo tidur ." Doyi memeluk istrinya mesra,sambil mengelus perut istrinya yang belum terlalu besar.


"Kasihan banget ya ceweknya kak Joh ,hamil tiga bulan gak ada yang tahu." Suara Joy tenggelam dalam peluka Doyi .


"Kamu kesana ya besok,temani dia ngobrol kasihan Yang , nanti aku jemput kalau Uda pulang kerja." Joy mengaguk lagi , mungkin memang sudah saatnya Johnny bertemu dengan wanita yang tepat untuk di nikahi .

__ADS_1


Happy Reading My Daisy 🌼


by reading we know someone's character without having to meet🤗


__ADS_2