
"Ami..hai.."
Ami mengerjapkan matanya karena merasa asing di ruangan ini. Ami baru saja sadar dari tidurnya yang panjang. Ami menengok ke kanan, ada Zira dan senyum manisnya. Terlihat raut bahagia tergambar jelas di wajahnya.
"Ami.. Hai.. Mau minum?" tanya Zira dengan pelan.
Ami hanya mengangguk sebagai jawabannya. Zira mengambil gelas yang ada di atas meja kemudian membantu Ami minum. setelah minun tadi, Ami meracau sambil menangis histeris.
"aku dimana? Ini dimana? Hiks.. Ibu..hiks Zira... Zira tolong Ami. Sakit Zira... Sakit hiks... "
*sepertinya cukup dalam ya,* batin Zira
" Ami, ini Zira. Aku ada di sini. "kata Zira dengan lembut, mencoba untuk menenangkan Ami dan memeluknya agar Ami tenang.
" sakit Zira, hiks. Mereka memukulku Zira. ZIRA TOLONG AKU. HUWAA. " Ami terus berteriak.
" Ami, tenanglah kumohon. Ami jangan seperti ini. " Zira masih mencoba untuk memeluk Ami meskipun Ami masih saja memberontak dan berteriak.
__ADS_1
Zira kemudian memencet tombol untuk memanggil dokter yang ada di rumah sakit ini. Dokter datang bersama perawat yang ada dan mulai memeriksa Ami. Zira harap cemas dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Setelah selesai pemeriksaan...
" dokter, sepertinya dia trauma ya? " kata Zira setelah doker memeriksa Ami lalu memberikan obat tidur. Dan Ami akhirnya menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
" iya kamu benar, tapi ini nggak akan lama. Paling nggak ya 2 sampai 3 kali terapi cukup untuk mengurangi rasa trauma itu. Yang penting kamu harus tetap di sampingnya dan memberikan rasa aman kepada Ami. " kata dokter yang memang lumayan dekat dengan Zira.
" yah akan aku usahakan untuk itu. "kata Zira dengan penuh harap.
" cepet sembuh ya Mi," bisik Zira di telinga Ami
"Ami nggak kenapa kenapa kan? " tanya Ayah Ami, sedangkan Ibu Ami sedang mengusap kepala anaknya dengan derai air mata.
" maaf Ayah, Zira nggak bisa jagain Ami. Maaf. " kata Zira merasa bersalah.
" nggak ada yang perlu di maafkan Zira, ini semua adalah cobaan untuk kita semua, agar kedepannya kita jadi lebih waspada. " kata Ayah dengan tersenyum.
__ADS_1
*bagaimana pun Ami di temukan karena Zira, aku tak akan membuatnya merasa bersalah. * batin Ayah.
" Zira kamu nggak terluka kan," tanya bunda merasa khawatir terhadap anaknya.
"kalo Zira ada apa apa, cerita aja ya, jangan di pendam sendiri," kata papa Zira.
"Zira nggak kenapa kenapa bun, pa. Zira cuma lelah aja. Pengen istirahat. " kata Zira dengan dengan memeluk bundannya.
" ya udah kita pulang dulu aja, besok pagi kita ke sini lagi, ya." kata papa kemudian pamit kepada orang tua Ami.
Saat di perjalanan pulang....
"Zira, " panggil papa dengan suara lembut, mencoba menenangkan Zira. Papa tahu Zira ada di titik terendah saat ini.
" Pa, Zira nggak tahu harus gimana? " jawab Zira dengan air mata yang masih terbendung, dia tidak mau orang lain melihatnya di titik terendah, dan orang tuanya tahu akan hal itu.
" Zira tahu kan apa yang harus kamu lakukan saat ini. " jawab Bunda dengan suara lembut juga.
__ADS_1
" yah semoga pilihanku tidak salah. Doakan aku ya pa, bun. " kata Zira dengan menatap jalanan.
" selalu sayang. " jawab keduanya bersamaan.