
Sudah 1 minggu Ami di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula Zira bolak balik untuk sekolah dan menemani Ami. Keadaan Ami sudah cukup membaik. Traumanya juga berangsur angsur menghilang namun tidak sepenuhnya. Ami masih trauma terhadap ruangan sempit dan tua.
"Zira, kapan aku pulang. Bosen di sini terus." tanya Ami kepada Zira
"sabar Ami, paling cepat ya besok lusa lah. Tuh liat lukamu masih sakit kan. " jawab Zira dengan menunjuk bagian yang terluka.
" sebenarnya udah nggak sih, eh besokkan weekend, kamu nginep di sini aja ya. Biar Ayah sama Ibu pulang. Yayaya ayolah. " kata Ami dengan sedikit merengek.
" hmm ya udah deh, bentar aku izin dulu ke bunda kalo nggak pulang. Ntar ngomel lagi kalo nggak izin. " kata Zira kemudian beranjak menghubungi bundanya.
" halo, bun. Zira izin nggak pulang ya. Ami minta di temenin disini. "
" iya baik baik di sana ya. "kata bunda memberikan izin kepada Zira.
" oh ya Ra, kemaren gimana lombanya? Juara nggak? " tanya Ami setelah Zira mendekat ke arahnya.
" Alhamdulillah juara 1, makasih ya doanya. " jawab Zira dengan bangga.
Ya lomba pramuka itu sudah di adakan saat Ami masih di rumah sakit. Jadi Ami tidak bisa hadir untuk memberikan semangat kepada Zira, tapi Ami selalu mendoakan agar Zira bisa memenangkan lomba itu.
" hohoho pastinya lah. Maju tingkat kabupaten dong. Ah andai aku ikut pasti serukan. "
__ADS_1
" iya, 3 bulan lagi. Sebelum ujian akhir. Dan semoga aja aku bisa melewati semuanya ya. " kata Zira dengan semua harapannya.
" tenang aja, Zira yang ku kenal nggak pantang menyerah kan. Kalo ketinggalan pelajaran tinggal panggil Ami aja, siap membantu. Hahaha. " kata Ami dengan tangan diangkat seperti hormat saat upacara bendera.
" hahaha bisa aja kamu."
Mereka bedua tertawa dalam kebersamaan yang selalu mereka nantikan.
"oh ya, gimana caranya kamu ketemu sama aku waktu itu? " tanya Ami penasaran. Karena Dia baru sadar saat sudah ada di rumah sakit.
" o..oh... Itu si,"
Ucapan Zira terpotong karena ketukan dari pintu.
"eh Aku buka dulu ya. " kata Zira mengalihkan pembicaraan.
*terimakasih bagi yang mengetuk pintu* batin Zira.
" eh ada Abang Amdan, dari mana mau kemana Bang?" tanya Zira setelah membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Amdan, kakak Ami.
"huh kamu ada tamu bukannya di suruh masuk malah di tanya, di depan pintu pula. " ucap Amdan dengan menonyor kepala Zira.
__ADS_1
" hehehe ya maaf Bang, ayo silakan masuk. Anggap aja rumah sendiri ya. " kata zira dengan merentangkan sebelah tangannya mempersilahkan masuk.
" rumah sendiri dari hongkong, ini rumah sakit bambang. " jawab Amdan dengan tangan di pinggang.
" awokwokwokwok"
' Zira, kau berhasil membuatku tersenyum lagi.
Kau berhasil membuat tawaku kembali. Kau berhasil menghilangkan kegelapan dari anganku.
Kau membuatku merasa aman saat berada di sampingmu.
Aku terus berdoa, semoga kau sehat selalu. Dan menemani hari hariku.'
~DIARY AMI~
oh ya sedikit info
Ami lebih suka menuliskan semua isi hati dan masalahnya di buku diary pribadinya dan hanya dia yang tahu, orang tuanya pun tak ada yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya Ami tuh sedikit tertutup gitu.
Zira lebih suka bercerita tentang masalahnya kepada bundanya. Menurut Zira bunda akan mendengarkan keluh kesahnya dan memberikan saran juga kepada Zira. Dan yang pasti bisa menjaga rahasianya. Kecuali rahasia terbesarnya.
__ADS_1