
Beberapa tahu kemudian keluatga Abdul Mutollib. tepatnya pada bulan Jumadil Awwal empat pulu tahun sebelun turunya (Nabi Muhammad saw). Abdul Mutallib, yang saat itu telah memiliki beberapa anak putra kembali mengge-gerkan kota mekah. bagaikan seorang raja yang di kawal oleh para pengawalnya. beliau berjalan penuh wibawah menujuh ka'bah. dan di ikuti oleh putra-pitranya. sebuah keluargah yang begitu di segani dia Mekah itu berjalan tenang dan mantap, namun waja sang ayah menujukan kegelisahan yang tiada tara. namun ketampanan sang pemimpin quraisy ini masi terhias di wajahnya yang telah di penuhi dengan coletan kerutan yang menujukan kalu dia sudah semakin tua. akan tetapi rasa gelisa yang napak diwajahnya akan perihan sumpah yang telah dia asampaikan dikala itu.
Penduduk mekah terbelak menyaksiakan hal tersebut yang begituh aneh hari itu. mereka keluar rumah dengan penuh tanda tanya. sehari sebelumnya keluarga bangsawan Quraisy ini telah melakukan pembicaraan yang serius perihal sumpah yang di sampaikan Abdul Mutollib, waktu menggali sumur zamazam tersebut.
Mendengar hal itu kesepulu putranya tercengah lantaran kagetnya. tak percaya kalu ternyata kalau setelah dewasa, salah satu dari mereka harus merasakan pedihnya syatan pedang dari ayah mereka sendiri. sebenarnya urusan kematian bagi mereka bukanlah ahal yang menakutkan, apa lagi harus mati di tangan ayah mereka sediri untuk menuhi sumpanya bahkan mereka beranggapan itu merupakan kematian yang cukup terhormat. tapi yang membuat merekah sedih yaitu harus meliahat salah satu saudara mereka yang akan di korbankan dia hadapan mereka oleh ayah mereka sendiri tanpa berbuat apa-apa baginya. hal itu lebih pedih dari pada sebetan pedang beracun ketubuh mereka.
__ADS_1
Kini putra-putra Abdul Muyollib sedang binggun dan layak untuk binggung.
" wahai ayah, apa yang harus kami lakukan?. tanya putranya ketika mendengarkan penjelasan beliau
" tulislah nama-nama kalian pada anak panah!" dengan mantap mereka menjawab " ia" ayah
__ADS_1
Keesokan paginya mereka keluar menuju ka'bah untuk menentuka undian siapa yang akan di korbankan.
Ketika mentari mulai memamerkan keelokan cahayanya yang mengusir gelapnya malam, keluarga yang tengah di lipugi ke gelisahan itu telah berdiri dengan menguatkan diri mereka dengan menghadapi kekalahan untuk memenuhi supah sang ayah di hadapan jururamal kota. Bagi ' Abdul Mutollib sumpah tidak bisa di abaikan karena urusan ini berkaitan dengan tuhan. meski pun begitu beliau merasa limbung juga kalu seandainya yang di korbankan adalah " abullah. si bungsu kesayanganya yang kini ketampananya mulai mekar dengan tubuh yang begitu indah di pandang. untuk meneguhkan hatinya, beliau segera meminta peramal untuk segera melakukan undian. masyarakat hanya mampu melihat ketika pemimpin mereka menyerahkan beberap anak panah yang tela terterah nama-nama putranya.
Anak panah telah berada dalam genggaman juru ramal. semua mata tampa berkedip yang hadir disitu ingin melihat siapa yang akan keluar untuk di kobankan. Hati Abdul Mutlllib tegang. seandainya boleh memilih, mungkin beliau lebih memili menghadapi pasukan sepuluh ribu tanpa menghunakan apa-apa dari padah menunguh beberapa menit yang sangat mengerikan itu. apalagi beliau sambil menatap si bungsu Abdullah yang sangat tanpan. beliau sangat merasa pedih jika Abdullah yang akan menjadi korban dari sumpahnya. penantian itu serasa menyerahkan kepal sendiri kemulut singa padang pasir yang siap menerkam yang tengah kelapara.
__ADS_1
" maaf kalau ada bahasa yang tadak nambung yah"