
Sesaat kemudian undian segera di laksanakan. semua mata menatap, setiap mata menatap dan jantung siapa pun di tempat itu berdenyut kencang dalam penantian itu. dan apa yang di kahawatirkan Abdul Mutollib menjadi kenyataan. ternyata yang keluar dari hasil undian adalah ' Abdullah, putra kesayanganya. seketika itu tubuh beliau seolah tercabut tulang-tulangnya. lunglai bagai pakayan basah yang hendak di jemur. hatinya bagai di patuk ular berbisa. tanpa di beri aba-aba, semua orang menutup mulut, dan tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. sungguh seandainya yang retpilih bukan Abdullah, Abdul Mutallib berniat mengadakan pesta sebagai uapan rasa sukurnya, namun takdir berbicara lain.
Sumpah telah terucap, undia telah keluar. tibalah detik-detik mendebarkan itu. Dengan menenteng sebuah golok tajan, ' Abdul Mutollib menuntun tangan Abdulah, menuju diantara berhala Ishaf dan Naila. bapak dan anak ini saling berpegangan tangan sembari saling meyakinkan dalam hati bahwa semua baik-baik sajah seperti halnya yang dia alami nabi Ibrahin dan Ismail. putra ke sayanganya ketika berdua berjalan dengan langkah dimantap-mantapkan masyatakat yang hadir mulai kasak-kusuk. terutama keluargah dari Fatimah bin Amr bin Adiy dari Klan Makhzum, ibu Abdullah. 'satu-satunya istri Abdul Mutollib Dari klan Quraisy yang mempunya pengaruh yang cukup kuat di mekah. mereka tidak bisa menerima keputusan ini meski pun telah memahami sumpah yang telah di sampaikan Abdul Mutollib. akhirnya mereka sepakat untuk menghentikan pembuhuhan itu denggan mencoba berbicara baik-baik pada Abdul mutollib.
" wahai Abdul Mutollib, apa sebenarnya yang akan anda lakulan?..
" aku akan memenuhi sumpahku !..
__ADS_1
Abdul amutollib. sekoyong-koyong mereka menyahut.
"Tidak, anda tidak boleh membunuh putra anda sendiri. jika anda bersi keras melakukukanya, niscaya orang-orang seantero zazirah arabbiah akan melakukanya karenah mereka meniru aap yang anda lakukan saat ini.bagai mana jika hal ini menjadi sebuah tradisi?
seolah tak mempedulikan semua itu , Abdul Mutollib tetap teguh menjalankan pendirianya untuk menjalankan sumpahnya. tak ayal hal ini memantik Al- Mughirah bin Abdullah sesepu dari kalan makhzum turun tangan. bagamanpun juga, ia meras bahw putra F atima, masi ada ikatan saudara denganya harus di selamatkan. dengan penuh wibawah ia memegang tangan Abdul Mutollib sabil berkata tegas menyiratkan kesunghuhanya.
lalu seorang menyambung perkataan al- Mughirah.
__ADS_1
"Wahai Abdul Mutollib, temuilah seorang dukun di hijaz yang memilili pembantu dari golongan jin! mintalah keputusan darinya, jika harus menyembeli Abdullah sembelilah dia!"
Teguran itu membuyarkan pikiran Abdul Mutollib.
mungkin secara tak langsung beliau al-mughirah berhasil meyakinkanya akan perasaan istrinya. perasaan seorang ibu yang akan berpisah dengn buah hatinya. sangan mungkin hati seorang istri kini sangat sakit dan pedih, hancur berserahkan mendengar putra kesayangan mereka hendak di korbankan oleh suaminya sendiri. akhirnya di terima usulan tersebut.
Berangkatlah Abdul Mutollib menuju Hijaz dengan di temani oleh beberap putra dan sekelompok orang Quraisy. sepanjang jalan menuju Hijaz beliau tak henti -hentinya mnmbaca doa agar Abdulah terbebas dari jeratan sumpahnya sendiri yang pernah di ucapkanya. perjalanan itu terasa begitu ringan meski pun sebenarnya bertempur mati-matian melawan mentari yang menyengat tanpa ampun. melawan amukan padang pasir yang setiap saat siap membenamkan mereka hidup-hidup. kadang angin panas padang pasir masuk tanpa permisi menghantam paru-paru. semua itu mereka tak hiraukan sama sekali.
__ADS_1