
Pagi itu, di sebuah ruangan yang tidak terlalu kecil. Tampak beberapa roll film berserakan di lantai dan lima buah kamera tergeletak tidak jauh darinya. Lalu, di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah meja panjang. Di atasnya ada setumpuk kertas yang sangat tebal.
Tiba-tiba, empat orang manusia memasuki ruangan itu dengan langkah yang cepat. Seorang gadis bersurai panjang mendekati setumpuk kertas itu dan menepuknya satu kali.
"Semalam, aku membuat naskah ini." Tuturnya sambil menatap ketiga orang tersebut. Wajah gadis itu terlihat sangat kelelahan dengan mata yang sudah berair. Bahkan karena terburu-buru, dia lupa memakai pelembab bibir ataupun sekedar menyisir rambutnya. Dia hanya mengikat rambutnya asal dan berangkat ke kampus secepat mungkin.
Dua pemuda itu mendekatinya, meninggalkan seorang gadis berambut sebahu yang masih terdiam di ambang pintu.
"Ini naskah untuk ending film kita Agatha?" Tanya pemuda yang tengah asik mengemut permennya. Sementara satu pemuda dengan wajah baby face di sampingnya sudah terduduk. Hanya fokus pada lembaran kertas yang ia baca.
"Iya. Aku sudah menulis berbagai macam ending di dalamnya. Semoga kalian suka." Ekor mata Agatha melirik kesal pada pemuda yang duduk di kursi itu. Mengingat, karena siapa dia tidak tidur semalam dan paginya harus datang dengan penampilan seadanya. Pemuda itu! dia selalu saja menyuruhnya untuk merevisi naskahnya. Dia kira menulis itu hanya soal mengetik saja? Agatha bahkan harus memeras otaknya untuk mendapatkan tulisan yang layak untuk dinikmati.
"Agatha, apa kau sempat tidur?" Gadis berambut sebahu itu pun membuka mulut setelah terdiam beberapa menit. Dia berjalan mendekati Agatha. Keningnya mengerut menunjukkan ekspresi penuh kekhawatiran pada Agatha. Benaknya mempertanyakan apakah Agatha sempat mandi sebelum ke kampus. Sebab, penampilan gadis itu kurang enak dipandang. Agatha menyentuh dagunya alih-alih untuk berpikir.
"Sepertinya belum Amalie. Hoammm...aku mengantuk sekali..." Agatha menepuk-nepuk mulutnya guna menutup mulutnya yang tengah menguap. Amalie menggelengkan kepala dan langsung mendorong Agatha mendekati sebuah kursi. Memaksanya untuk duduk disana.
"Tidurlah sejenak saat kami membaca naskahmu." Pinta Amalie dengan ramahnya.
"Baiklah..." Agatha pun melipat tangannya di atas meja dan segera membenamkan wajahnya disana. Sementara, ketiga orang itu tenggelam dalam naskah yang dibuat Agatha.
"Sepertinya ending di naskah ini bagus." Ucap Amalie masih sibuk membaca puluhan kata di kertas itu.
"Menurutku ini juga menarik." Sahut pemuda di sampingnya.
"Ini juga" Lanjut Amalie.
"Arghhh! aku tak bisa memilih." Teriak pemuda itu kebingungan.
***
Langkah kaki seorang pemuda berhenti tepat di ambang pintu. Kakinya yang panjang enggan memasuki ruangan dengan papan nama bertuliskan 'Klub Film' tersebut. Dia mengulum bibir saat memutuskan untuk mendekatkan telinganya pada pintu yang terbuat dari kayu itu.
Kebisingan di dalam ruang klub film terdengar jelas. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Tapi satu hal yang pemuda itu yakini bahwa mereka pasti tengah mendiskusikan adegan penutup dalam film pendek yang mereka buat.
Pemuda itu menarik kepalanya dan berdiri dengan posisi sempurna. Dia menggerakkan bahunya sambil merapikan sweater abu-abu yang melekat di tubuhnya. Bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman yang indah. Hingga, matanya yang sipit nampak sedang tertutup. Setelah merasa penampilannya sudah layak, tangan besar pemuda itu kini memutuskan untuk memutar gagang pintu.
__ADS_1
Krieettt...
Pintu kayu itu berdecit. Spontan tiga manusia yang berada di dalam ruangan menoleh untuk mencari tahu siapakah yang masuk. Wajah mereka yang serius, seketika berubah ramah saat melihat pemuda berkulit putih itu berdiri disana.
"Hey Albert, kau terlambat." Ucap salah satu pemuda dengan rambut gondrong. Tampak tonjolan besar dipipi kanannya karena masih mengemut permen.
"Aku tahu..." Balas Albert dengan langkah santainya dan meletakkan tas hitamnya di atas meja. Lalu duduk tanpa melepas senyuman di wajahnya.
"Ahaha, sepertinya dia baru saja bangun tidur." Ledek Amalie yang duduk di samping pemuda itu dan sukses membuat Albert kehilangan senyumnya. Mengapa Amalie bisa tahu? semua orang juga akan berpikiran seperti Amalie jika objek yang dimaksud tampil dengan muka bantal dan rambut yang masih berdiri.
"Lihat wajahnya." Lanjut gadis itu diselingi tawa kecil. Albert mendengus keras dan segera menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya. Dia makin geram saat Amalie tertawa dengan keras.
"Jason! tutup mulut pacarmu itu, sebelum aku menyumpalnya dengan kertas." Kesal Albert. Cukup kesal hingga membuat Jason menutup mulut Amalie dengan telapak tangannya yang besar. Gadis itu menepuk-nepuk punggung tangan Jason lalu menggigitnya.
"Arghh!" Melepas tangannya dari mulut Amalie dan mengusapnya. Amalie melanjutkan aksinya dengan memukul lengan Jason dengan tangan rampingnya.
"Tak terasa sama sekali." Bibir Jason menyungging ke bawah seraya menyindir gadis di sampingnya itu.
Sementara, pemuda yang duduk tak jauh dari keduanya mulai terusik karena kegaduhan yang tercipta. Dia tak bisa mencerna setiap kalimat di naskah itu jika suasananya sangat berisik. Dia mengetuk-ngetuk meja sebagai tanda agar mereka semua kembali tertib. Dan benar saja, Amalie dan Jason langsung diam dan melanjutkan kegiatan membacanya yang sempat tertunda tadi.
Sebenarnya siapa pemuda ini? dia adalah William. Ketua klub film di kampus mereka. Sejak memasuki semester kedua kuliahnya, William memutuskan untuk bergabung dengan klub film. Dalam waktu yang singkat, dia berhasil memperoleh jabatan sebagai ketua klub film dan menggantikan seniornya yang sudah berada di tingkat akhir.
"Amalie, bangunkan dia." Perintah William dengan tegas. Membuat Amalie mau tak mau harus menurut karena jabatan pemuda itu. Tangan Amalie bergerak untuk membangunkan Agatha.
"Agatha, bangun..." Bisik Amalie di telinga Agatha. Dia menggoyangkan pundak gadis itu. Agatha tersentak dan segera mengambil sikap duduk yang sempurna. Mata gadis itu yang tadinya sayu, sekarang membengkak bak sehabis ditonjok. Agatha melemparkan tatapan datar pada pemuda di depannya, sang ketua klub film.
"Cuci wajahmu." Tukas William sembari menatap ke sisi lain, tak ingin melihat wajah Agatha yang merusak pemandangan. Jujur saja, William tak suka melihat gadis berpenampilan kacau. Menurutnya, seorang gadis itu haruslah tampil feminim dan rapi. Contoh kecilnya adalah Amalie. Dia adalah gadis selalu mengutamakan penampilan. Tapi, Amalie memiliki nilai minus di mata William. Dia tidak bisa diam atau sekedar duduk manis bak seorang putri raja.
"Ya!" Pekik Agatha yang tak ingin berlama-lama. Dia pun beranjak meninggalkan ruang klub.
Brak!!
Agatha menutup pintu dengan sangat keras. Membuat semua yang berada di dalam ruangan tersentak kaget.
"Sebenarnya, darimana kita mendapatkan penulis se barbar Agatha?" Tanya Albert dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Lupakan itu dan mulailah membaca!" Ucap William tanpa melepaskan pandangan pada naskah di tangannya.
Beberapa menit kemudian...
William memindahkan setumpuk kertas yang sudah dibaca ke sisi kanannya. Lalu, meletakkan selembar naskah yang menurutnya lumayan. Iya, lumayan! Menurut seorang William, naskah bergenre thriller adalah cerita yang bisa membuatnya merinding, ketakutan dan mual di saat yang bersamaan.
Kriieettt....
Agatha membuka pintu dan kembali dengan wajah yang sudah lumayan untuk dipandang. Bibir keringnya pun berwarna segar karena telah diolesi pelembab bibir. Dia pun langsung duduk kembali di tempatnya.
"Kami sudah memilih naskah terbaikmu." Ujar William sembari melipat tangannya di atas meja dan menunjukkan sedikit raut kepuasan disana.
"Tidak! itu pilihannya sendiri." Bantah Amalie sembari melipat tangannya di dada. Bibirnya pun mengerucut karena tak suka dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu. William menghembuskan nafas.
"Kau baca saja jika tak percaya." Menyerahkan naskah itu pada Amalie. Gadis itu mengambil naskah tersebut dengan kasar dan mulai membacanya. Jason yang duduk di sampingnya pun ikut membaca bersama Amalie.
Amalie meletakkan naskah itu di atas meja setelah selesai membaca. Dia menggigit ujung bibirnya. Amalie benci mengatakan ini, tapi William memang ahli dalam memilih naskah untuk diadaptasi menjadi film pendek. Kini dia tak bisa membantah lagi.
"Yahhh...kau benar Wil. Dari semua naskah itu, yang ini paling bagus." Ucapnya dengan suara yang sangat pelan. William dengan pendengaran tajamnya tentu saja dapat mendengar kalimat Amalie. Bibirnya tersenyum miring.
"Sekarang kita diskusikan tempat pengambilan adegan terakhir." Ucap William dengan semangat.
"Memangnya kalian memilih naskah yang mana?" Tanya Agatha penasaran. Amalie pun memberikan naskah itu pada sang penulis.
"Hmm...ini naskah terfavoriteku. Kebetulan sekali Alen juga memberikanku rekomendasi tempat yang cocok." Ucap Agatha bersemangat. Rasa kantuknya pun tiba-tiba menghilang saat mengetahui naskah inilah yang terpilih.
"Kapan kalian bertemu?" Tanya William heran.
"Semalaman aku menelpon dengannya dan meminta beberapa pendapat mengenai adegan penutup di film kita." Jelas Agatha.
"Woah, dia sangat membantu kita. Sampaikan ucapan terima kasih dari klub film." Ucap Amalie dan dibalas anggukan oleh Agatha.
"Dan kau!" Amalie menunjuk Albert, membuat pemuda itu kebingungan.
"Aku?" Albert menunjuk dirinya sendiri. Merasa heran dengan sikap Amalie.
__ADS_1
"Siapkan mentalmu karena adegan terakhir adalah..."
Bersambung...