
Tanganku mengusap kasar liquid yang hampir menetes ke pipiku. Aku terus berlari meski nafasku tersengal dan ototku mulai melemah karena kelelahan. Peluh di dahi serta leherku bercucur deras. Sementara, jantungku berpacu hebat. Aku harus berlari sejauh mungkin. Ditambah, benakku yang tidak berhenti mencemaskan Jason di sana. Aku harap dia baik-baik saja dan berhasil menyelamatkan dirinya dari orang bertopeng itu.
Pandanganku menatap seluruh pohon yang menjulang tinggi disekitarku. Aku bingung harus mengambil jalan yang mana. Sepertinya aku tersesat. Tidak ingin terhenyak terlalu lama, aku pun mengambil jalur ke kanan.
Sesekali aku meneriaki nama kedua pemuda itu sambil berharap mereka akan mendengarku di suatu tempat. "Willi! Albert!" Ucapku sembari menoleh ke arah belakang. Aku menghela nafas lega. Orang bertopeng itu tidak mengejarku.
"Arghh!!" Kakiku tersandung akar pohon yang besar. Tubuhku terlempar ke depan dan pergelangan kakiku terasa ngilu. Aku mencoba menggerakkannya namun hanya rasa sakit yang kudapatkan. Tangisku pecah seketika. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa berjalan lagi.
Sebuah tangan menepuk bahuku. Mataku membulat dan nafasku tiba-tiba berhenti. Ekor mataku melirik pelan ke arah samping dan kulihat dua pemuda yang kukenal tengah berdiri disana. Mereka menatapku kebingungan. Saat itu juga aku melepaskan nafas dengan perlahan dan mengusap mataku yang terasa lembab karena air mata.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Albert dengan suara yang amat pelan. Hanya orang bodoh yang akan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja meski dalam situasi seperti ini. "Iya." Dan akulah orang bodoh itu! Aku tak ingin merepotkan siapa-siapa lagi. Aku tak ingin membuat mereka mencemaskanku. Dan aku hanya ingin Jason kembali dalam keadaan hidup dan pergi secepatnya dari tempat ini.
"Dimana Jason?" Tanya William seraya menatap sekitar.
Aku menggelengkan kepala dan tertunduk dalam. "Dia menahan orang bertopeng itu dan memintaku pergi." Ujarku dengan suara parau. Cairan bening kembali jatuh dan mengenai kaos hitamku.
Wiliam berkacak pinggang dan menghembuskan nafas kasar. "Jadi sekarang hanya tinggal kita bertiga ya." Ucapnya dan langsung kubantah dengan tatapan tajam bak sebuah silet yang baru saja keluar dari bungkusnya. "Jason masih hidup!"
William membalas tatapanku dengan raut tak bersahabat. "Sebaiknya kau kubur kepercayaan butamu itu. Orang itu membawa kapak. Satu tebasan saja, Jason pasti terkapar." William meludah. "Kau kira karena apa aku lari? Sok berani sekali dia." Sambungnya dengan sinis.
Perkataannya itu seperti jarum yang amat runcing. Pisau yang sangat tajam dan racun yang amat mematikan. Dia berhasil merusak keyakinanku yang dengan susah payahnya kubangun sejak memutuskan meninggalkan Jason bersama orang bertopeng itu. Seketika pandanganku menipis dan berembun. "Dia pasti kembali..." Lirihku. Tanganku mengepal dan bulir-bulir air mataku jatuh dengan sendirinya.
Albert berjongkok di sampingku dan mengusap punggungku. Dia mendekatkan bibirnya di telingaku. "Am, berhentilah menangis. Jason pasti tak akan suka jika kau menangis seperti ini." Bisiknya. Aku menatap Albert sejenak sampai akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang dia minta. Benar, Jason tidak akan suka jika aku menangis. Albert tersenyum tipis menatapku.
Kemudian, Albert beralih pada William. "Will, minta maaf pada Amalie." Ucapnya tenang.
__ADS_1
"What?" Tanya William dengan raut yang aneh. Aku tau, William tak akan meminta maaf padaku. Dia itu hanya memikirkan diri sendiri. Pemuda berhati dingin dan bermulut pedas.
"Sudahlah Albert, harga dirinya terlalu tinggi. Akupun tak berharap dia meminta maaf padaku."
"Tidak Amalie, dia ketua klub dan seharusnya dia bertindak lebih bijaksana. Bukannya malah membuatmu semakin terpuruk. Apa aku salah Will?"
William menghembuskan nafas. Dia menjulurkan tangannya padaku. "Maaf Amalie." Aku melongo saat dia mengatakan kata maaf. Ini seperti suatu keajaiban. Aku menerima jabatan tangan William dan tersenyum kecil. "Tak apa Will." Ujarku.
***
Saat ini, kami tengah berada di tempat camping. Kami tak tau lagi harus kemana. Ditambah, pergelangan kakiku yang terkilir. Akhirnya, Albert memberikan usul untuk kembali kesini sambil mengobati kaki ku terlebih dahulu. Kemudian, esok pagi kami akan mencari tempat yang lebih aman.
"Terima kasih Albert." Ucapku pada Albert yang akan beranjak dari tendaku. Aku merasa harus berterima kasih padanya karena telah menopangku sampai ke sini. William juga membantuku, tapi dia sudah di luar saat Albert mengurut pergelangan kakiku bak seorang tukang urut profesional.
"You'r welcome." Balasnya dengan senyum tulus. "Jika kau butuh sesuatu, aku dan William ada di luar." Sambungnya seraya menepuk bahuku. Lalu pergi setelah kubalas dengan anggukan pelan.
Albert merapatkan tubuhnya di sebelah William. Di atas tanah yang tak beralaskan rumput. "Kau terlihat sangat aneh Will." Ucapnya sembari mendekatkan telapak tangannya di depan api.
William hanya terdiam kaku menatap kobaran api itu. Dia seperti memikirkan sesuatu. "Aku memikirkan Agatha." Albert menoleh cepat dan menatap William tak percaya. Begitu pula dengan aku yang menguping disini. Seketika aku terkekeh, ternyata William manusia normal juga.
"Ternyata kau diam-diam ada perasaan padanya."
"Bukan seperti itu. Hanya saja," William memberikan jeda pada kalimatnya. Dia berusaha mengatur mimik wajahnya agar tetap kaku. Oke, aku benci itu.
"Jika saja orang bertopeng itu benar-benar Agatha. Bisa saja dia sedang mengincarku." Aku melotot, kurasa aku tahu alasan mengapa William membuat wajahnya tak berekspresi seperti itu. Dia berusaha menutupi rasa takutnya. Entah mengapa, aku kasian padanya.
__ADS_1
Dan ada satu hal yang mengganjal dibenakku. Mengapa Agatha akan mengincar William? Aku kembali meletakkan fokusku pada pembicaraan mereka.
"Untuk apa Agatha melakukannya?"
Oh, Albert memang selalu sepemikiran denganku. Aku tersenyum bangga untuk Albert.
"Entahlah. Aku hanya mengikuti instingku," Balas William datar. Aku memutar bola mataku jengkel. Mendengarnya saja membuatku ingin sekali memukul kepalanya. Dia tak pandai berbohong. "Haaaahhh." Aku menghembuskan nafas panjang. Mungkin ini adalah hembusan terpanjang yang pernah kulakukan.
Kutarik ranselku, dengan sekejap mata aku menjadikannya sebagai bantal. Lalu, mendaratkan kepalaku dan melampiaskan kekesalanku di atasnya. Untungnya, ranselku hanya berisi baju. Sehingga, hanya rasa empuk yang kurasakan. Aku menutup mataku dan memutuskan untuk terlelap daripada harus mendengarkan omong kosong William disana.
10 menit kemudian,
Mataku terbuka paksa. Aku tak bisa tertidur. Semua kejadian hari ini malah kembali terbayang ketika aku mulai menutup mataku. Ugh, tanganku memijat pelipisku. Mataku menatap lurus pada ransel milik Agatha.
"Mungkinkah aku harus memeriksa isinya?" Tanyaku pada diri sendiri. Tanganku tergerak dan segera menyambar ransel hitam itu. Kuambil handphone di saku celanaku dan menyalakan flashlight untuk memberiku sedikit penerangan.
Aku mengarahkan cahaya pada ransel Agatha. Perlahan, aku menarik resleting di bagian yang paling besar. Nafasku tertahan saat mulai membuka isinya. Oh, hanya ada tumpukan baju dan beberapa lembar salinan naskah film kami. Aku melepaskan nafasku dengan penuh kelegaan.
Nafasku kembali tertahan saat sebuah kilauan kecil menyembul di bagian paling dasar ransel tersebut. Di bawah tumpukan baju itu, ada sesuatu disana. Jari-jari rampingku langsung menumpahkan semua isi ransel tersebut.
Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kutemukan. Ada sebuah celurit, pisau dapur dan beberapa buah silet. Aku langsung memutar otakku dan berfikir dengan keras. Untuk apa Agatha membawa benda-benda ini? Oke, aku bisa mengerti dengan pisau dapur. Kami menggunakannya untuk memotong sayuran. Tapi celurit dan silet?
Aku menyentuh kepalaku, rasanya otakku akan meledak hanya dengan memikirkannya saja. Aku termenung sejenak. Ku kira kami baru saja tiba di pulau ini. Semuanya baik-baik saja sampai Agatha tiba-tiba menghilang. Lalu, orang bertopeng itu muncul entah dari mana. Jason belum juga menampakkan batang hidungnya dan sekarang ransel Agatha dengan benda-benda tajam ini.
"Agatha, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" Batinku.
__ADS_1
Aku kembali mengemas isi ransel Agatha dan menyimpannya ke tempat semula. Lalu, mencoba untuk terlelap sejenak. Setidaknya, aku harus mengumpulkan tenaga sebelum bertemu orang bertopeng itu lagi. Aku harus membuktikannya dengan mataku sendiri, jika dia memang benar-benar Agatha.
Bersambung...