
"Jalan setapaknya di depan sana Will." Tutur Agatha seraya menunjuk semak-semak dengan rumput yang sangat tinggi. William menaikkan alisnya sebelah, mempertanyakan keahlian Agatha sebagai penunjuk jalan. Bukannya tak percaya, tapi semak itu memang seperti tak memiliki jalan setapak.
"Kenapa diam?" Tanya Albert dengan polosnya.
"Lihat saja sendiri. Itu hanya semak-semak." Sahut William sembari menunjuk rumput yang tumbuh tinggi tersebut.
Agatha menghela nafas. "Makanya dibuka dulu!" Membagi rumput tinggi itu menjadi dua bagian. Satu ke arah kiri dan satu ke kanan. Dan tara! jalan setapak yang Agatha maksud ada di baliknya. "See?" Ucap Agatha memandang William remeh. Bola mata ambernya menatap jauh ke jalan setapak di depannya lantas meninggalkan ke empat orang itu di belakang.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya rombongan manusia itu berhenti di sebuah tempat yang dikelilingi oleh pohon yang rimbun. Tanahnya ditumbuhi oleh rerumputan setinggi mata kaki. Namun, ada juga bagian yang tidak ditumbuhi oleh rumput. Sangat cocok digunakan sebagai tempat untuk membakar api unggun berukuran kecil.
"Aku akan memasak dulu." Ucap Agatha dengan nada datar. Gadis itu meletakkan tas ranselnya dan mengikat rambut panjangnya. Dia tak bisa memasak dengan rambut terurai. Bisa-bisa rambut itu termakan oleh mereka semua.
"Hei Jason! Bantu aku mendirikan tenda." Panggil William setengah teriak pada Jason. Pemuda itu menatap Amalie dan tersenyum licik. Lalu beralih mendekati william yang sudah sibuk memasang tenda.
Sementara Albert tak tau harus melakukan apa. Dia hendak menghampiri Agatha dan membantunya menyiapkan makanan bersama Amalie yang baru saja bergabung dengannya.
"Albert, bisakah kau pergi mencari kayu bakar? Jangan berdiri saja seperti orang bodoh!" Hina William dengan pandangan yang masih fokus pada tenda. Albert memutar bola matanya yang hitam pekat.
"Ya! Aku akan segera kembali dengan kayu yang banyak, hingga kau saja bisa kubakar dengan kayu itu." Ucap Albert penuh kesal karena William tidak pernah mengatakan hal baik pada dirinya. Yang selalu Albert dengar dari mulutnya hanya kata-kata pedas. Sangat tidak cocok dengan image William yang sekilas terlihat ramah.
Jason melirik ke arah Amalie, begitu pula dengan Amalie. Mereka seperti merencanakan sesuatu. Entah rencana macam apa yang akan mereka lakukan.
Albert pun kembali sambil memeluk ranting pohon yang banyak. Dari ukurannya, sepertinya itu bukanlah ranting pohon melainkan batang pohon yang besar. Dia pun menjatuhkan ranting itu tepat di depan dua tenda yang sudah berdiri kokoh.
Brughh!!
Albert menjatuhkan rantingnya dengan keras. Tampaknya dia tengah melampiaskan kekesalannya pada ranting yang tak bernyawa itu.
"Apa?!" Tanya Albert pada sepasang mata abu-abu yang tengah menatapnya dingin di dalam tenda itu. William mengabaikan pertanyaan Albert lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar kertas. Kemudian berbaring di samping Jason yang sudah terlelap. "Dia menyebalkan sekali." Sambung Albert.
Di sisi kanan tenda ada Agatha dan Amalie yang sedang menyiapkan makanan sambil tertawa ria. Mereka menoleh saat mendengar kegaduhan yang dibuat oleh Albert.
__ADS_1
"Oh, rantingnya sudah ada." Agatha berdiri dan melangkah ke dalam tenda. Dia ingin mengambil sesuatu di dalam tasnya. Saat dia membuka resleting tasnya, tampak sebilah pisau pemotong daging di atas tumpukan bajunya. Agatha menoleh sekilas pada Amalie dan Albert disana. Memastikan bahwa mereka tidak melihat kearahnya.
Dengan gerakan cepat Agatha mengambil pisau tersebut dan menjepitkannya di punggung. Lalu, dia pun mengambil korek gas dan menghampiri tumpukan ranting itu dengan langkah santai. Dia menatap Amalie. "Amalie, kau lanjutkan sisanya ya. Aku akan menyalakan api." Pinta Agatha dan dibalas anggukan oleh Amalie.
Albert mendekati Agatha, dia berjongkok di sebelahnya. "Sini biar aku saja. Ini bukan pekerjaan seorang gadis." Albert tersenyum manis pada Agatha.
"Baiklah." Singkatnya.
Jason melangkah keluar tenda. Meninggalkan William sendirian di dalam sana. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menghampiri Amalie yang masih sibuk dengan supnya.
"Dear..." Jason memanggil Amalie dengan manja.
"Heum?" Amalie melirik sekilas lalu kembali hanyut dengan bumbunya. Dia mengangkat panci yang berisi berbagai macam potongan sayuran itu dan memberikannya pada Amalie. Lalu kembali pada Jason dan merangkulnya.
"Aku sudah mencampurnya." Bisik Amalie di telinga Jason. Membuat pemuda berambut gondrong itu tersenyum tipis. Dia menarik Amalie ke dalam tenda yang kosong. Tangan besarnya menarik resleting tenda agar dua manusia yang sedang bercengkrama dengan alam itu tidak melihat aksinya.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Albert seraya menatap siluet dua orang itu. Bayangan mereka terlihat dari luar tenda karena sinar matahari membias dan mengenai tenda itu. Menciptakan bayangan yang menampilkan dua manusia yang nampaknya sedang beradu mulut disana.
Albert memicingkan matanya. Rasa penasarannya sudah naik ke ubun-ubun. Yah, walaupun kelihatannya Albert seperti pemuda yang agak nakal. Tapi percayalah, dia hanya seorang pemuda polos yang tidak tau apa-apa soal percintaan atau semacamnya. Bahkan saat ini, Albert sedang berpikir keras dengan apa yang dua sejoli itu lakukan disana.
***
"Cut!" Pekik William sambil melempar topinya ke tanah. Keningnya mengerut bukan main. Ini terjadi karena Albert. Pemuda itu sedari tadi tidak memberikannya adegan yang memuaskan. Jika dihitung, ini sudah kali ke 75 William mengucapkan kata 'cut'
Albert mendecak tak karuan. Dia terbangun dari posisinya yang terbaring di atas tanah. "Sekarang apa lagi Will?!" Tanya Albert tak kalah kesal. Dia tak tau, dibagian mana lagi dirinya akan mendapatkan kritikan.
Sejak dua jam yang lalu, kelima orang itu sudah mulai mengambil rekaman untuk adegan terakhir di film pendek mereka. Di tempat yang tidak jauh dari lokasi camping mereka. Tepatnya di sisi barat pulau ini. Sekilas, tempat ini terasa lebih mencekam karena banyak sekali pohon tua yang sudah mengering dan lapuk oleh usia. Ditambah, suara jangkrik terus saja berdengung dan memecah kesunyian.
William melipat tangannya. "Actingmu amatir sekali," kata William.
Albert mengerang, darahnya serasa mendidih mendengar cacian William. Jika diingat-ingat, Albert rasa dia sudah ber acting dengan penuh penghayatan. Amatir? Hei! Jika dirinya amatir, mengapa mereka malah menerimanya? Bahkan menjadikannya sebagai aktor di proyek mereka. Albert tidak bisa menerima hal itu.
__ADS_1
Albert mengepalkan tangannya "Gantikan aku Will..." Pintanya seraya menunduk dalam.
"Ha?" William menaikkan alis kanannya.
"Aku bilang, gantikan aku!" Bentak Albert. Membuat semua orang yang ada di tempat itu menatapnya heran. Baru kali ini mereka melihat Albert dengan raut yang sangat kesal.
"Albert, tenanglah." Amalie menyentuh pundak Albert untuk menenangkannya. Amalie akui, Albert memang manis saat kesal. Namun, itu hanya berlaku jika Albert kesal karena dijahili. Dan saat ini, dia benar-benar kesal karena tingkah William. Jika diumpamakan, Albert itu seperti singa yang sedang tertidur. Kapan kau membuatnya terbangun, maka tamatlah riwayatmu.
"Ah shit!" William mengacak rambutnya frustasi. "Rekamannya kita lanjutkan besok saja." Lanjutnya lantas menjatuhkan tubuhnya di batang pohon yang sudah tumbang. Pohon itu berada di sisi kanan Albert.
"Amalie, kau bawa supnya?" Tanya Jason sembari mendekati Amalie. Gadis itu mengangguk. Lalu mengambil panci yang berisi sup.
"Lebih baik kalian dinginkan kepala dengan makan sup ini bersama-sama." Ajak Amalie dengan ramah.
"Kau saja yang makan. Aku tak lapar." Tolak William.
"Ck, ayolah Will." Bujuk Jason. Sementara Amalie menarik tangan Albert dan memaksanya duduk di sebelah William.
"Duduk dan makan ini." Perintah Amalie.
"Hmm, baiklah." Albert mengalah.
30 menit kemudian,
"Hoaammm...aku mengantuk sekali." Ucap William sembari mengerjapkan matanya berkali-kali. Entah mengapa kelopak matanya terasa begitu berat, hingga bola matanya yang abu-abu pun hampir tak terlihat.
"Aku juga mengantuk bukan main Will...hoaammm..." Albert menepuk-nepuk mulutnya. Lalu menggerakkan mulut layaknya sedang mengunyah.
"Kerja bagus dear..." Jason memuji Amalie. "Hahaha, biasa saja." Amalie tertawa jenaka. "Apa aku sudah boleh mendandani William? Aku dendam sekali padanya." Ucap Amalie berapi-api. Membuat Jason tersenyum aneh. "Ayo mulai."
Senyuman di wajah Amalie merekah, dia segera meraih kotak make up yang berada di ujung batang pohon ini. Jason mengedarkan pandangan keseluruh tempat itu. Menyadari bahwa satu orang diantara mereka menghilang. Agatha! Dimana gadis itu? Tiba-tiba dia sudah tidak ada.
__ADS_1
"Oh iya dear." Jason berkacak pinggang lantas melihat ke arah Amalie. Gadis itu tengah asik memasang lipstik di bibir William. Dia menoleh pada Jason. "Agatha dimana?" Lanjut Jason kebingungan.
Bersambung...