
"Siapkan mentalmu karena adegan terakhir adalah..."
Amalie sengaja memotong kalimatnya.
"Oh tidak," Albert memutar bola matanya kesal. "Agatha! berikan naskah itu." Sambung Albert yang sudah berdiri dan merebut kertas yang di pegang oleh Agatha. Lalu membaca isi naskah itu. Amalie tertawa jenaka melihat tingkah polos pemuda itu.
"Puas sekali kau mengganggunya." Sindir Jason yang mulai merasa cemburu. Dia merasa bahwa pacarnya tersebut lebih dekat pada Albert ketimbang dirinya.
"Tidak Jason, aku hanya suka melihat wajah konyolnya saat marah." Amalie membela diri dan mulai memeluk Jason.
"Hangatnya..." Batin Amalie.
"Shit! Agatha, teganya kau membuat karakter utamamu mati dengan mengenaskan." Protes Albert. Mulutnya tak henti menyumpahi sang penulis. Mengapa? karena dialah orang yang harus melakoni si pemeran utama dalam film itu. Padahal, dirinya baru dua bulan ini bergabung dengan klub film. Tapi lihatlah! betapa semena-menanya mereka pada dirinya.
"Ck, orang yang pantas kau salahkan itu William, bukannya aku." Agatha tak mau kalah. Tuduhan Albert padanya bahkan tak berdasar karena jika dibandingkan bad ending, Agatha lebih menyukai happy ending. Tapi, orang itu! si ketua klub yang rese dan tak mau mendengar pendapat orang lain. Dia yang meminta Agatha untuk membuat ending yang mengenaskan.
Sementara, William hanya menghela nafas. Jarinya bergerak guna memijat keningnya yang sakit karena kegaduhan anggotanya. Mereka kekanakan sekali. Bisakah sehari saja mereka tidak membuat dirinya kesulitan? William kembali mengetuk meja. Kali ini dia memasang raut yang sangat manis. Semanis gula hingga membuat para semut mengerubunginya dan membawanya pergi.
"Jadi...bisakah kita kembali fokus teman-teman? karena kita juga harus meminta izin pada dosen." Ucap William dengan senyum terpaksa. Cukup terpaksa hingga Agatha pun merasa mual melihatnya.
"Dimana tempatnya Agatha?" Lanjut William dengan wajah yang sudah berubah datar. Amalie mengernyit melihat perubahan ekspresi William. Sontak gadis itu bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika William itu sebenarnya adalah psycopat gila yang sedang menyamar? Mengingat bahwa pemuda itu sangat menyukai adegan sadis dalam naskah yang dibuat oleh Agatha. Amalie menggelengkan kepalanya guna membuang jauh-jauh pikiran anehnya.
"Pulau XX tak jauh dari sini. Kita hanya perlu menggunakan perahu untuk transportasi kesana. Nah, di pulau itu nanti ada jalan setapak masuk ke dalam hutan. Disana ada lokasi yang cocok untuk pengambilan adegan terakhir di film kita." Jawab Agatha sembari menjelaskan detail tempatnya.
__ADS_1
"Hmm...baiklah. Kalian ada saran lain?" William beralih pada ke empat orang yang sedari tadi hanya menyimak penjelasan Agatha.
"Aku ikut saja." Ucap Amalie diikuti oleh anggukan mantap Albert. Jason menggigit bibirnya, sebuah ide muncul dibenaknya.
"Bagaimana jika kita sekalian mengadakan camping khusus untuk klub film? Sudah lama sekali kita tak mengadakan camping. Kau juga belum pernah merasakannya kan Albert?" Ucap Jason penuh semangat.
"Iya hehe." Albert menggaruk tengkuknya tak gatal.
"Yah...itu ide yang bagus." Amalie mengangguk pelan sambil mengulum bibirnya.
"Camping ya? aku tidak mengadakannya karena anggota klub film tidak pernah bertambah lagi sejak kejadian itu." William menatap serius mereka semua kecuali Albert. Sebab, hanya Albert saja yang belum mengetahui sejarah kelam klub film satu tahun yang lalu. Kejadian yang tidak pernah bisa mereka lupakan.
Dimulai ketika tokoh utama wanita mereka tiba-tiba ditemukan meninggal dengan leher terikat pada pohon besar di dalam hutan. Tidak ada yang tahu apa penyebab meninggalnya gadis itu. Hingga, klub film pun terpaksa di skors satu bulan demi penyelidikan kasus kematian gadis itu. Tapi, pada akhirnya polisi hanya menyimpulkan bahwa gadis itu meninggal karena bunuh diri.
Albert yang menyadari suasana diantara ke empat orang itu berubah menegang, pun menepuk tangannya satu kali. "Kalau begitu mari adakan camping!" Seru Albert dan sukses memecah ketegangan diantara mereka. "Ah! maksudku untuk merayakan bergabungnya Albert di klub film." Sambungnya seraya tersenyum kikuk.
"Albert Einstein?" Tanya Agatha dengan ekspresi anehnya. Senyum Albert tiba-tiba menghilang. "Ck, lupakan saja."
William mengetuk meja lagi. Entah sudah berapa kali dia mengetuk meja itu hari ini. Mungkin si meja pun sudah bosan di ketuk olehnya.
"Besok!" Seru William dan membuat mereka semua menatapnya. "Besok kita berangkat, jangan lupa membawa perlengkapan camping juga." William berdiri, lalu meninggalkan ruangan itu sambil memasukkan tangan ke saku celananya.
"Oh?" Albert memiringkan kepalanya. "Oke..."
__ADS_1
***
Di tengah lautan yang luas. Di atas air tenang yang berwarna biru tua itu. Tercipta gumpalan air pada bagian perahu yang menyentuh permukaan air laut. Gemercik air membasahi wajah Agatha dan Amalie yang tengah terduduk di bangku paling belakang perahu. Karena perahu yang bergerak sangat cepat, angin laut pun berhembus kencang menerpa wajah ketiga pemuda yang berdiri di depan mereka bak jagoan dalam film-film superhero.
"Pulaunya sudah terlihat!" Seru Albert kelewat semangat. Amalie tertawa melihat tingkahnya. Sementara Agatha, hanya terdiam seribu bahasa seperti sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian,
Perahu itupun menepi di pesisir pantai. Mereka berlima turun dari perahu sambil mengangkut barang bawaan mereka. Setelah semuanya sudah turun dari perahu, sang pemilik perahu dengan cekatan membalikkan kapalnya untuk kembali ke pulau seberang.
"Seminggu lagi saya akan menjemput kalian." Ucap pria tua itu dan segera bertolak meninggalkan mereka. Dia pergi tanpa mendengarkan jawaban dari kelima pemuda itu. Nampaknya, pria tua itu sedang sibuk sehingga pergi dengan terburu-buru.
Amalie menatap William penuh curiga. "Seminggu?" Lalu, Amalie melemparkan tasnya. "Kau tidak mengatakan kita akan tinggal seminggu Willi!" pekiknya dengan keras. Sementara Albert dan Jason sudah menutup kupingnya.
"Hei jangan menuduhku! dia kusuruh kembali tiga hari lagi, bukannya seminggu. Argghhh!" William membela diri lantas mengacak rambutnya frustasi. William berlari mendekati air laut "Pak tua! kau tuli ya?!" William meneriaki perahu itu, yang bahkan sudah tak terlihat lagi di lensanya yang berwarna abu-abu. William mendecak. "Ayo pasang tenda. Agatha! tunjukkan jalannya." Ucap William lantas melangkah pergi. Disusul oleh Agatha dan Albert di belakangnya.
Amalie membuang muka dan mengerucutkan bibir. "Aku bahkan hanya membawa pakaian seadanya." Amalie mendengus dengan keras dan mengikuti ketiga orang itu.
"Dear." Panggil Jason lantas membuat Amalie berhenti dan membelalak kaget. Wajar jika Amalie terkejut. Sebab selama mereka pacaran, Jason hanya memanggilnya dengan nama saja. Lalu sekarang, mengapa dia mendadak romantis? Amalie menoleh pada Jason dengan senyum yang merekah. "Ada apa bayi besarku?" Ucapnya sambil mengambil langkah beriringan dengan Jason.
"Sebenarnya..." Jason menghentikan kalimatnya dan memutuskan untuk berbisik di telinga Amalie. "Hoooo." Gadis itu mengangguk seraya memasang senyum aneh saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jason. "Menarik."
Bersambung...
__ADS_1