
Sinar matahari membias melewati celah-celah tenda yang terbuka sedikit. Nampak seorang gadis berambut sebahu masih terlelap. Dia membalikkan tubuhnya ke samping. Tangannya merasakan sesuatu yang bulat disana. Dia mulai meraba-rabanya.
Amalie membuka matanya paksa. Jantungnya berpacu hebat saat menyentuh pada bagian yang bisa dia tebak adalah untaian rambut. Nafas gadis itu tercekat sesaat ketika kepalanya menoleh dengan cepat. Amalie membulatkan matanya. Genangan air mata mulai menyembul dan seketika tangisnya pecah.
"JASOONNN"
William dan Albert tersentak kaget mendengar jeritan Amalie. Mereka menghampiri Amalie dengan langkah sempoyongan karena belum sadar sepenuhnya.
"Amalie, ap-" Kalimat William berhenti. Matanya terbuka sangat lebar. Seolah bola matanya akan keluar saat itu juga. Disana, dia melihat kepala Jason terkulai bak kelapa yang masih utuh. Dengan tangan dan kaki yang sudah memisah dari tempatnya. Tubuhnya sangat mengenaskan. William memalingkan wajahnya, tak kuasa melihat salah satu anggotanya terbaring naas seperti itu.
Albert menarik tangan Amalie dan segera memeluk gadis malang itu. Amalie memukul pasrah dada bidang Albert "Di-dia sudah be-berjanji akan kembali h-hi-dup hiks..hiks...hiks..." Ucapnya terbata-bata. Tampaknya dia sangat terpukul akan kepergian Jason. Mengingat, karena dirinyalah Jason harus menahan orang bertopeng itu seorang diri.
"Harusnya aku yang dibunuh bukan Jason." Amalie menyalahkan dirinya. Isakannya semakin meledak. "Am, aku dan William juga bersalah dalam hal ini. Kami lari begitu saja saat melihat orang bertopeng itu muncul." Ucap Albert sendu. Albert melirik pada William. Pemuda itu tengah mengambil air. Kemudian berjalan mendekatinya dan Amalie.
"Minumlah dulu Am." William memberikan gelas plastik itu pada Amalie. Albert pun melepas pelukannya untuk memberikan sedikit ruang agar Amalie bisa meneguk air. "Thanks." Singkat Amalie dan dibalas senyum penuh penyesalan oleh William.
Mereka semua terdiam. Tenggelam dalam kesunyian. Terperosok menuju jurang penuh rasa bersalah. Diam-diam William mengusap ujung matanya karena lembab. Albert hanya tertunduk dalam sambil mengatupkan kedua tangannya. Lalu Amalie masih menangis tersedu-sedu.
Tap tap tap
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar lagi. William menoleh cepat, mencari keberadaan pembunuh keji itu. "Ada apa Will?" Tanya Albert heran. Raut wajah William begitu ketakutan. Tangannya gemetar hebat. "Aku mendengar suara langkah kaki." Ucapnya tanpa melepaskan fokusnya.
Albert bisa mendengar detakan jantungnya. Seakan-akan jantungnya sudah bersiap untuk meloncat keluar. Albert menggenggam erat tangan Amalie. Dia merasa harus melindungi Amalie. Jika Jason masih bersama mereka, dia juga pasti akan meminta Albert menjaga Amalie. Begitulah pemikiran Albert saat ini.
Lensa William menangkap sosok berjubah hitam sedang menatap ke arahnya. Dari balik pohon besar dan kering itu. William berjalan mundur. Dia berbisik pelan pada dua orang di sebelahnya. "Aku hitung sampai tiga, kita langsung lari." Ucapnya sambil terus menatap orang bertopemg itu. Albert dan Amalie mengangguk mantap.
William mulai menghitung. "1..." mereka mundur perlahan, "2..." semakin menjauh, "3...lari!" Seru William. Tetapi seseorang tiba-tiba muncul dan menghadang mereka. Gadis itu bersurai panjang dan menatap tajam ke depan.
"Oh tidak! Itu Agatha!" Pekik Albert. Dia menarik Amalie dan menghalau Agatha agar tetap di tempatnya. "Jangan mendekat."
"Dia memegang pisau." William menimpali. "Kita akan mati disini..." Tangis Amalie pecah. "Please Am, jangan menangis." Pinta William yang menoleh cepat ke arah belakang. Pembunuh keji itu masih terdiam di sana. William menelan salivanya saat pembunuh itu memiringkan kepalanya.
Mereka berlari dan terus berlari. Di tengah hutan ini, mereka tidak berniat untuk berhenti. William sudah berada di depan Albert dan Amalie. "Ouch!" Amalie tersandung akar pohon dan terjatuh. Lututnya mengeluarkan darah segar. Dia menangis. William menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Kau tak apa-apa Am?" Tanya Albert dan dibalas anggukan olehnya. Amalie berusaha berdiri. Dia menggigit bibirnya dan melangkah dengan pincang.
"Hei, cepatlah!" Panik William dan segera berlari meninggalkan mereka berdua. Amalie meringis.
"Aku tak bisa." Ucapnya pasrah. Kakinya terasa perih sekali. "Pergilah Albert, tinggalkan saja aku disini." Albert menatap Amalie tak percaya. "Tidak." Tolak Albert mentah-mentah. Amalie tersenyum hambar. "Aku akan menyusul Jason." Albert membelalak.
__ADS_1
"Naiklah ke punggungku!" Perintah William. Ternyata dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Amalie dan Albert disana. Gadis itu terdiam, membuat William geram dan mendecak kesal. "Cepatlah sebelum kita semua mati konyol karena kau." Tukas William.
"Hei Will kau-" Amalie mencegat Albert dan segera naik ke punggung William. Kemudian, mereka berlalu dengan langkah cepat.
"Albert!" Panggil William dengan nafas yang terengah-engah. "Mereka masih mengejar kita?" Lanjutnya tanpa mengurangi kecepatan larinya. Albert menoleh ke belakang untuk memeriksa kedua orang itu. Mereka menghilang.
"K-ku-rasa mereka berhenti mengejar kita?" kata Albert. William mengernyit, otaknya sedang mencerna kalimat Albert yang lebih terdengar seperti pertanyaan. William memutuskan untuk menoleh dan mencari tahu sendiri. Agatha dan pembunuh keji itu tak ada disana. Dia menghentikan langkahnya. Begitu pula Albert.
"Am, kau bisa turun sekarang." Ucap William sambil berjongkok sedikit. Agar Amalie bisa turun dari punggungnya. "Thanks Willi," kata Amalie. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tanah yang lembab itu. Tangannya mencabut daun hijau yang tumbuh liar di sampingnya. Lalu menaruh daun itu di lututnya seraya mengusap air matanya.
William tampak tidak tenang. Dia berjalan mondar-mandir di depan Amalie. Sementara Albert hanya diam membatu sambil menggigiti kukunya.
"Agatha akan membunuhku!" Tutur William frustasi. Kalimat itu sukses membuat Albert dan Amalie menatapnya. William berjongkok di depan Amalie. "Am, kau masih ingat Bella kan?" Amalie mengangguk dengan raut serius. Mana mungkin dia bisa melupakan Bella.
Bella adalah salah satu anggota yang punya peranan penting bagi klub film. Jika Albert pemeran laki-laki maka Bella adalah pemeran perempuan. Hanya saja, Albert belum bergabung dengan klub film pada saat itu.
"Ku kira ini ada hubungannya dengan kematian Bella." Amalie menatap William dengan raut penuh tanya. "Will, jangan bilang k-" William tertawa menyedihkan. "Aku membunuhnya." Lirih William. Amalie tersentak kaget. "Apa maksudmu Willi? Aku benar-benar tak paham." Amalie terbata-bata.
Albert yang diam-diam menyimak pembicaraan keduanya tiba-tiba tak bisa mengeluarkan suaranya. Seolah pita suaranya direnggut begitu saja. "Aku membunuhnya dengan mulut pedasku." Sambung William.
__ADS_1
Bersambung...