Camping Berujung Maut

Camping Berujung Maut
Korban Mutilasi (Jason)


__ADS_3

Setelah William dan Albert sadar sepenuhnya, aku mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. William, dia terdiam cukup lama. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku pun menghela nafas pasrah.


"Kuharap kalian berdua bisa bekerjasama untuk menemukan Agatha." Pintaku pada kedua partnerku itu. Disaat seperti ini mereka harusnya bisa mengerti. Ditambah dengan kemunculan orang bertopeng itu. Mereka berdua mengangguk paham.


Aku pun beralih pada Amalie. Sedari tadi dia hanya diam saja sambil mendengarkan penjelasanku pada dua orang ini. Kedua tangannya tidak berhenti meremas ujung bajunya. Apa dia masih trauma? Aku pun menggenggam tangannya guna memberinya sedikit rasa aman.


"Sebaiknya kita kembali dulu ke tenda." Ujarku dan langsung disetujui oleh dua pemuda itu. Kami pun segera beranjak dari tempat itu sambil mengumpulkan barang bawaan kami. William membawa kursi lipatnya. Sementara Albert mengambil kamera dan menyampirkan pada lehernya. Lalu dia mengangkat kotak riasan Amalie.


"Biar aku yang menunjukkan jalan." Aku menawarkan diri secara sukarela. Sebenarnya, sudah beberapa kali aku kembali ke tenda dan karena itulah akupun telah menghapal jalan menuju tempat camping kami. Amalie memberikanku senter yang ia pegang dan bersembunyi di belakangku.


Disepanjang perjalanan, hanya cahaya bulan yang menemani kami kala itu. Yang terdengar hanyalah langkah kami yang sedang menginjak daun kering.


"Apa kalian tidak berfikir itu Agatha?" Tanya Albert dan membuat langkah kami berhenti bersamaan. Aku menoleh padanya dan hendak membela Agatha. Tapi Amalie langsung berkata, "A-aku pun memikirkan hal yang sama."


Mataku membelalak mendengar tuduhan Amalie pada Agatha. "Dear, untuk apa Agatha melakukannya?" Tanyaku pada Amalie. Tidak kusangka, Amalie bisa berfikiran seperti itu pada Agatha.


"Di pulau ini hanya ada kita berlima Jason." Sambung Amalie dan membuatku tidak bisa membantahnya. Apa yang dikatakan olehnya tidaklah salah. Karena, kami memang telah membooking pulau ini agar tidak ada yang mengusik kami untuk membuat film.


Aku bisa melihat cairan bening itu jatuh di pipi Amalie. Sontak aku langsung memeluknya dalam dan mengusap punggungnya. "Tenangkan dirimu." Aku melirik William. Dia lagi-lagi terdiam dan enggan berkomentar apapun. Mengapa tingkahnya sangat aneh?


"Aku harap dugaanku salah Jason." Lirih Amalie yang masih membenamkan wajahnya di dadaku.


"Ya, dugaanmu itu s-" Kalimatku terhenti saat mendengar ada langkah kaki yang berjalan mendekati kami. Mungkinkah orang bertopeng itu lagi? Aku segera mengarahkan senter dan mencari keberadaan orang itu.


"Albert, jaga Amalie sebentar." Aku melepaskan Amalie dari dekapanku dan berjalan dengan perlahan. Bola mataku bergerak kesana kemari mencari orang itu.

__ADS_1


"KYAA!!"


Aku tersentak kaget. Itu suara teriakan Amalie. Dengan cepat aku menoleh ke arah belakang. Ah shit! Orang bertopeng itu sudah disana. Kali ini dia membawa kapak berukuran sedang. Sialnya, Amalie  terjatuh saat hendak menyusul William dan Albert.


"Willi! Albert! Tunggu Aku!" Panggil Amalie sambil menyentuh pergelangan kakinya. Aku segera berlari menghampiri Amalie ketika orang bertopeng itu mulai menyeret kapaknya mendekati Amalie.


"Amalie!" Aku memegang kedua tangan orang bertopeng itu dan mendorongnya menjauh dari Amalie. "Pergi!" Teriakku sekuat tenaga pada Amalie.


Amalie menghapus air matanya dan menggeleng cepat. "Tidak Jason, aku tidak akan meninggalkanmu." Sahutnya dengan suara yang bergetar.


Aku tau dia sangat ketakutan. "Kau tidak pandai berbohong." Gumamku seraya mengeratkan peganganku pada orang bertopeng itu.


"Amalie! Jangan keras kepala dan dengarkan aku kali ini saja. Aku tidaklah lemah dan cengeng sepertimu! Jangan memikirkanku karena aku bisa menyelamatkan diriku sendiri!" Bentakku dengan nada yang tinggi dan sangat menusuk.


Mungkin dengan kalimatku barusan, Amalie akan merasa sakit hati. Tapi, aku tak punya pilihan lain. Bagaimanapun juga, dia harus lari dan menyelamatkan dirinya. Amalie tidak mengatakan apa-apa. Dia  bangkit dan menatapku disana. "Kau harus kembali hidup-hidup. Berjanjilah!"


"PERGI SEKARANG!" Pungkasku dengan tatapan penuh amarah. Aku melihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Dan dia pun segera berlari meninggalkanku.


"Maafkan aku Amalie." Batinku.


Sekarang, hanya tinggal aku saja dan orang bertopeng ini. Tiba-tiba, dia menendang perutku. Seketika genggamanku terlepas dan tubuhku terhempas ke tanah. Dia kuat sekali hingga tulang punggungku terasa remuk.


"Arghhh" Dia menginjak dadaku dengan kaki kanannya. Aku bisa merasakan perih saat dia memberikan kekuatan pada sepatu besarnya. Orang bertopeng itu menatap kapaknya. Dia mengangkatnya hingga di atas kepalanya dan sudah siap menebaskan kapak itu padaku.


Namun, gerakannya kugagalkan dengan menarik kaki kanannya hingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Saat dia terjatuh ke tanah, aku segera bangkit dan melarikan diri ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


***


Malam ini terasa begitu panjang. Aku tak bisa berhenti begitu saja karena orang bertopeng itu tengah mengejarku dari belakang. Staminaku sudah terkuras begitu banyaknya. Aku mencoba menoleh untuk melihatnya. Jantungku seakan berhenti berdetak, jarak di antara kami begitu sempit. Akupun menambah kecepatanku. Begitupula dengan orang bertopeng itu.


"Hosh...hosh...hosh..." Aku menelan air liurku. Kapan dia akan kelelahan? Sepertinya hanya aku yang merasakan kelelahan disini. Bisakah aku mengatakan bahwa orang bertopeng ini bukanlah seorang manusia melainkan malaikat pencabut nyawa yang datang untuk membawa nyawa kami berlima.


Dia tertawa keras. Suaranya sangat menyeramkan hingga bulu kudukku ikut berdiri dibuatnya. Disela-sela pelarianku ini, aku mendengar suara gagak yang terbang di atasku. Perasaanku menjadi tidak enak. Mengingat sebuah mitos yang mengatakan bahwa gagak membawa malapetaka.


Tidak sampai disitu saja. Ketika aku melintasi pohon besar di depanku. Di atasnya bertengger seekor burung hantu. Dia menatapku dengan raut datar. Ini tidak lucu. Keberanianku tiba-tiba menghilang begitu saja.


TAK!!


Sebuah kapak melayang dan menancap pada batang pohon di depanku. Aku merasakan ngilu dibagian kanan dan cipratan darah mengenai pipi serta leherku. Aku menoleh pelan dan mendapati lengan kananku telah jatuh di atas tanah.


"Arghh!!" Aku meraung saat merasakan sakit yang luar biasa. Ujung lenganku mengeluarkan darah bak aliran sungai yang sangat deras. Aku hendak menutup luka ini namun orang bertopeng itu tidak memberiku kesempatan. Dia menendangku dengan sepatu besarnya hingga aku jatuh tersungkur.


Orang bertopeng itu mencabut kapaknya dan menyeretnya mendekatiku. Kemudian, dia kembali tertawa menyeramkan. Sementara, aku hanya diam membisu. Kesadaranku perlahan menghilang karena lenganku tak berhenti mengeluarkan darah. Kepalaku pusing. Dia menendang pinggangku. Seketika tubuhku terlentang. Aku bisa melihat wajahnya yang tertutup topeng.


"S-si-siapa kau?" Gagapku. Dia tak menghiraukan pertanyaanku. Aku menghela nafas pasrah saat dia mengangkat kapak itu dan menebas kaki kiriku.


"Argghh!!" Aku meraung merasakan sakit bukan main. Lalu, dia pun menebas kaki kananku. Aku tak bisa lagi berteriak. Tubuhku sudah di ujung tandus. Hanya air mata yang membanjir keluar. Nafasku terasa begitu berat. Kini dia menebas lengan kiriku. Sekarang aku sudah terbaring mengenaskan. Tak bisa bergerak namun ragaku masih disini. Akan lebih baik jika dia langsung membunuhku saja. Aku memutuskan menutup mataku dan menunggu orang keji itu mencabut nyawaku.


"Hei Jason, buka matamu dan lihat wajah ini baik-baik."


Sontak aku membuka mataku dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Setelah puas menyiksaku, akhirnya dia membuka mulutnya. Tangannya bergerak untuk membuka topengnya. Mataku membulat saat melihat wajahnya. Ternyata semua ini adalah rencananya. Dia menyeringai sambil menatapku.

__ADS_1


"Selamat tinggal Jason." Ucapnya sambil mengangkat kapaknya dan menebas leherku. Seketika semuanya menjadi gelap.


Bersambung...


__ADS_2