Camping Berujung Maut

Camping Berujung Maut
Agatha Missing (Amalie)


__ADS_3

Jantungku terpacu saat mengetahui Agatha tiba-tiba menghilang. Padahal, baru lima menit yang lalu dia berdiri di sampingku. Aku berusaha berfikir positif. Mungkin saja Agatha kembali ke tempat camping kami. Sebab, William mengatakan sebelumnya bahwa pengambilan video akan dilanjutkan besok hari.


Dengan sifat Agatha yang tak suka membuang waktu, aku sangat yakin dia sudah di tenda sekarang. Aku menghembuskan nafas pelan sambil berusaha membuang fikiran negatif yang mengambang dibenakku.


Aku melihat Jason. Dia tampak sibuk dengan handphonenya. Sepertinya dia sedang menelpon seseorang. Kutebak, dia tengah menghubungi Agatha. Wajahnya berubah kesal saat dia menjauhkan handphonenya dari telinga dan melihat layarnya. "Sialan, rupanya disini tak ada jaringan." Keluh Jason disertai umpatan.


"Akan kucari Agatha sebentar dear." Jason menepuk pundakku dan memberikan sebuah senyuman yang menenangkan. Ah, dia selalu saja seperti itu. Jason tahu apa yang harus dia lakukan saat aku merasa cemas seperti ini. Dia pun pergi meninggalkanku bersama William dan Albert yang sudah terlelap di sampingku.


Aku menatap dua pemuda ini. Albert bersandar di pundak William dan William meletakkan kepalanya di atas kepala Albert. Oh, so sweet sekali. Mereka terlihat sangat akrab saat tertidur. Berbeda sekali saat mereka membuka mata dan saling melemparkan tatapan kebencian. Aku harap suatu hari nanti mereka bisa akur dan menjadi sahabat karib. Tapi sepertinya hal itu tidaklah mudah.


Aku menggigit bibir bawahku. Senyum jahat mulai terukir di wajahku. Tanganku bergerak cepat untuk mengambil handphone di saku celana. Pikiran jail mulai menguasaiku. Aku membuka layar handphoneku dan menekan ikon kamera disana. Dengan cepat, aku mengambil gambar kedua pemuda tampan ini.


Seketika tawaku pecah saat melihat hasil jepretanku sendiri. Aku bukan menertawakan Albert. Tawa itu untuk William, wajahnya sangat lucu dengan riasan yang membalut di wajahnya. Uh, andai saja dia membuka mata dan memperlihatkan bola matanya yang berwarna abu-abu. Aku yakin pasti banyak sekali orang di luar sana yang akan tertipu dan mengira dirinya seorang wanita.


Aku mengambil nafas panjang guna menghentikan tawaku yang tak berniat untuk mereda. Tiba-tiba, nafasku tercekat saat mendengar ada langkah kaki yang mendekatiku. Langkahnya terdengar sangat jelas karena di tempat ini banyak sekali daun kering.


Pikirku, itu adalah langkah kaki milik Jason. Refleks, aku menoleh ke sumber suara lantas mengernyit karena tak menemukan siapapun. "Siapa disana?!" Tanyaku setengah teriak. Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara jangkrik saja yang menggema. Entah mengapa suasana ini membuatku tidak nyaman.


Aku menelan salivaku dengan susah payah. "Agatha? Apa itu kau?" Tanyaku kembali. Lagi-lagi hanya kesunyian yang kudapatkan. Jantungku berdetak tak karuan saat melihat siluet seseorang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar disana. Aku memicingkan mata seraya memfokuskan penglihatanku pada sosok itu.


Dia memakai topeng putih dan jubah hitam. Penampilannya persis seperti malaikat pencabut nyawa yang biasanya meneror orang-orang di dalam film. Tangan kanannya menggenggam sebilah pisau pemotong daging.


Seketika tenggorokanku mengering dan peluh di dahiku bercucuran deras tatkala orang bertopeng itu menggerakkan pisaunya di leher seperti mengancamku. Mataku membulat dan tubuhku gemetar hebat saat dia mulai berjalan ke arahku.


"Wi-Willi...Albert..." Aku mengguncang pundak William dan Albert agar mereka segera terbangun. Tapi tak ada respon yang berarti dari mereka. Seketika aku menyesal telah mencampurkan obat tidur itu di dalam sup mereka.


Aku berusaha mengatur nafasku. Sekarang bukan waktunya untuk menyesali hal itu Amalie. Yang harus kulakukan adalah menyelamatkan diriku dari orang bertopeng itu. Terlambat! Disaat aku ingin beranjak pergi, dia menarik rambutku dari belakang.


"Arghhh!" Aku meringis kesakitan sambil memegangi rambutku. Rasanya, kulit kepalaku juga akan dicabut olehnya.


"Lepaskan aku!" Ucapku sambil berusaha melepaskan diri darinya. Tapi usahaku tidak membuahkan hasil karena aku memanglah gadis yang lemah. Bahkan, Agatha saja bisa mengalahkanku. Tunggu dulu, Agatha? Tidak! Orang bertopeng ini bukanlah Agatha. Disaat seperti ini harusnya aku tidak berfikir yang aneh-aneh. Bisa saja dia adalah orang lain Amalie. Tapi Agatha tiba-tiba menghilang...

__ADS_1


Bulir-bulir air mata pun berhasil lolos dan membasahi pipiku. "A-Agatha, apa itu kau?" Lirihku dan tentu saja tidak akan digubris olehnya. Amalie bodoh! Mana ada maling yang mau mengaku. Aku meraung saat dia semakin mengeratkan genggamannya pada rambutku.


Sorot mataku melirik ke arah pisau itu. Dia mulai memainkannya di depan wajahku. Air mata semakin membanjiri pipiku saat dia perlahan meletakkan sisi tajam pisaunya pada leherku. Sementara tubuhku juga sudah mulai kelelahan. Aku tak bisa lagi melawan. Kututup mataku guna meminimalisir rasa takutku. Mungkin, inilah akhir hayatku.


"Selamat tinggal dunia." Batinku.


Dugghh!!


Genggaman yang mencekik rambutku sedari tadi akhirnya bisa bernafas dengan lega.


"Amalie!" Seseorang memanggilku. Aku sangat mengenal pemilik suara ini. Dia adalah Jason. Aku membuka mataku dan melihat orang bertopeng itu sudah jatuh di tanah. Dia berdiri sambil menyentuh dadanya. Jason mendorongnya hingga menabrak pohon. Orang bertopeng itu menendang perut Jason dan membuatnya terpental.


"Jason!" Pekikku saat melihat Jason mendarat di tanah. Sementara orang bertopeng itu sudah melarikan diri. Jason ingin mengejarnya, tapi dengan cepat aku mencegahnya. Sebab, orang itu membawa senjata dan aku tak ingin Jason terluka karena itu.


"Kau tak apa-apa?" Tanya Jason padaku dan langsung kubalas anggukan. Walau sebenarnya tubuhku masih gemetar karena tadi hampir menemui kematian. Terlambat sedikit saja, mungkin aku sudah tidak berada di dunia ini lagi.


Tanpa aku sadari, ternyata keningku mengerut dalam karena cemas. Melihat hal itu, Jason tiba-tiba mengacak rambutku dan melemparkan senyuman manis padaku. Sayangnya, senyum itu tidak bisa membuatku merasa tenang. Aku mencemaskan hal lain. Agatha, dimana gadis itu berada? Aku tidak ingin menuduhnya. Tapi di pulau ini hanya ada kami berlima.


"Di tenda juga tak ada?"


"Iya."


"Bolehkah aku mencurigai Agatha? Ah tidak mungkin Amalie. Untuk apa Agatha melakukannya." Batinku.


"Kau tak usah cemas. Kita akan mencarinya setelah dua orang itu terbangun."


"Baiklah."


Hari pun mulai gelap. Namun William dan Albert belum juga bangun dari tidurnya. Untung saja ada senter sebagai sumber penerangan kami. Klub film memang selalu membawa alat semacam ini saat pengambilan video. Sebab, tak jarang kami pulang dalam keadaan sudah gelap gulita. Syukurlah aku bisa menggunakannya sekarang.


Aku menepuk lenganku karena merasakan sengatan nyamuk yang menembus kulitku. Rasanya sangat sakit. Aku ingin sekali pulang ke tempat camping, tapi karena mengingat kejadian tadi akhirnya kuurungkan niatku.

__ADS_1


"Lebih baik kau pergi ke tenda duluan," Ucap Jason.


"Tidak mau. Bagaimana jika orang itu datang lagi?"


Sebelum Jason menjawabku, William pun terbangun.


"Hooaammm..." William membuka matanya sembari meregangkan tubuhnya. Seketika William mendorong Albert menjauh darinya.


Brughh!


Albert jatuh tersungkur ke tanah. Kemudian, William menatap sekitar dengan raut kebingungan. Dia beralih pada kami berdua. "Kita dimana?" Tanya William.


Aku mengarahkan lampu senter itu pada wajah William. Pemuda itu menipiskan pandangannya karena cahaya yang silau tersebut. Aku sedikit menyampingkan sorotan senterku dan terdiam, perhatianku jatuh pada bola mata abu-abunya yang indah. Sudah kukatakan sebelumnya kan. Dia tampak seperti wanita dengan riasan itu.


"Kita masih di tempat yang tadi." Sahut Jason.


"Oh." Singkatnya. William menyentuh wajahnya. Mungkin dia merasakan sesuatu yang lengket membalut di wajahnya. "Apa ini?" Kali ini dia melemparkan tatapan tajam padaku. Aku hanya memasang wajah innocent dan pura-pura menatap ke arah lain.


William mendecak dan merogoh sakunya untuk mengambil handphone. Aku bisa melihat mata William yang melotot saat bercermin di handhponenya. "A-M-A-L-I-E!" Ucapnya penuh penekanan. Seakan-akan dia akan memberiku pelajaran saat itu juga. Dia hendak mendekatiku namun Jason menghalanginya.


"Sekarang bukan saatnya kita bertengkar." Jason memasang wajah serius. Membuat William kembali terduduk dan mencabut kasar tisu yang berada di kotak riasan milikku.


"Apa maksudmu huh?" William mengusap wajahnya dengan tisu itu.


"Agatha menghilang dan ada-" Kalimat Jason terpotong saat Albert terbangun sambil menguap.


"Hoaammm..." Albert terduduk sambil mengucek-ngucek matanya. "Berapa jam aku tertidur?"


"Lima jam." Sahutku sambil mengarahkan senterku padanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2