
"Ingeeeeeeeees!"
Suara ibu-ibu yang masih terlihat muda dengan energi prima, menggema di dalam rumah. Menuruni tangga rumahnya satu per satu mencium jejak yang tertinggal dari anak perempuan yang di cari.
"Ini anak mana sih? Punya anak perempuan satu, kayak punya anak laki selusin."
Memindai ruang tengah, dapur, ruang tivi, tapi nihil.
"Ganny, mana adik kamu?" bertanya pada anak lelakinya yang bermain pubg di sofa dengan nada melengking dan urat leher menonjol.
"Kendorin dikit Ma, kayak ga tahu tabiat Inges aja, mana lagi dia kalau ga di toko Pak Karse."
"Astaga anak itu."
***
Inges Dinarina Permana
"Itu nama aku, cantik kan, ada kesan matre juga sih dari kata 'dinar' yang merupakan nama mata uang negara-negara Timur Tengah. Jangan kaget juga nanti kalau kalian mengetahui nama kakak cowokku, yang pasti ada selipan dari mata uang sebuah negara. Ga tahu deh papa mikirnya apa pas ngasih kita nama."
"Umurku genap tujuh belas tahun dua minggu yang lalu. Sebentar lagi mau naik kelas tiga SMA. Uwuuuu, udah ga sabar deh pengen cepat-cepat selesein sekolah. Kenpa aku pengen cepet-cepet selesei? Karena aku punya cita-cita yang mau aku wujudkan setelah tamat sekolah. Cita-cita aku sedari kecil. Cita-cita yang bisa bikin jari lentikku ini nari-nari di atas keyboard menekan setiap tombol dengan cepat dan di lihat banyak orang. Mengkalkulasikan satu per satu harga barang yang di beli orang. Ya, cita-citaku menjadi seorang kasir."
***
"Beng-beng 3 kotak, bihun padamu 4, wafer selamat 2, mi telor dara 5, gery salut 4, sabun 10, kecap bango 4 botol," jari-jari Inges dengan cepat mengali, menjumlahkan setiap harga barang yang di beli oleh pelanggan toko Pak Karse tetangganya, "Total 367 ribu bu," sejak kelas satu SMA dirinya telah memagangkan diri di kios tersebut sebagai kasir paruh waktu Pak Karse sang pemilik toko kelontong, " Uangnya 400 ribu saya terima ya," meski awalnya mendapat tentangan dari ayah bundanya, Inges teguh pada pendirian ingin belajar menjadi kasir profesional dengan belajar tahap awal di kios tetangganya itu, "Kembaliannya 33 ribu, ini bu, terima kasih, barangnya sudah di bungkus di depan ya."
"Makasih mba Inges, mari."
"Sama-sama." Inges melipat tangannya di depan dada melepas kepergian pembelinya.
"INGES!"
"Astaghfirullahal'azim Mama, ngagetin deh."
Kenalin, ini Nyonya Elia Permana, Emak gue, si juragan wadah plastik ramah lingkungan yang lagi booming. Emak gue ini lagi semangat-semangatnya jualan, door to door, rumah ke rumah, karena lagi ngejar target naik jabatan jadi manajer di kelab jualannya. Paadahal cuma demo masak tapi ngasih istilah party buat ngukus jagung doang.
"Kamu pake kalkulator mama lagi, mama ini mau pergi party, tahu ga sih." Elia berbicara dramatis mencak-mencak kaki sambil meraih kalkulator di atas meja, namun cepat-cepat di ambil Inges lagi.
"Mama mau pergi ngukus brokoli aja bilangnya mau party, ngukus ya ngukus aja, ngapain bawa kalkulator segala, jualan plastik juga."
__ADS_1
"Sembarangan, sini kalkulator mama. Biar jualan plastik juga yang beli pada jutaan keluarin uangnya."
"Mama, ih, Inges mau pakai. Tu lihat pelanggan Inges udah bawa nota dari depan."
"Emang mama pikirin."
"Ya pikitin dong ma, ini tu demi perjalanan Inges menuju masa depan. Lagian kan ada hape, mama hitung pakai hape aja napa!"
"Kamu itu ya, berani merintah orang tua, lagian rubah cita-cita kamu, kyak ga ada kerjaan lain aja."
"Bukan merintah mama, Inges ngasih saran, solusi, udah ah Inges mau ngitung nota nih dan Inges belum kepikiran cita-cita lain selain jadi kasir pro, titik."
"Mama balikin kamu ke dalam perut biar tahu rasa, ya."
"Boleh deh ma, Inges udah lupa rasanya di dalam perut."
"Eh ni anak! Mama ga mau tahu, balikin kalkulator mama, cepat!"
"Maaaa, ih kalau Inges ga pakai kalkulator ngitung belanjaan pembeli itu kesannya ga profesional gitu lho ma, ga ada suara ribut mencet-mencet, jari lentik inges juga ga optimal shownya kalau ga pakai kalkulator, udah mama berangkat aja partynya, nanti ngitung pakai hape, atau pinjam kalkulator senior mama, bunda Galih, ya!"
Bagi pak Karse dan tiga orang karyawan tetap toko itu, keributan yang di lakukan Inges dan mamanya adalah hal biasa. Elia harus banyak-banyak menarik napas dalam untuk menghadapi anaknya sendiri. Sebelum benar-benar menjadi tontonan pembeli di toko tetangganya, ia memilih bijak untuk mengalah, dan sepertinya ia harus membeli kalkulator baru.
"Kalkulator kamu rusak lagi ya karena keseringan kamu pakai latihan?"
***
Tidak ada motivasi yang pasti yang menyebabkan Inges bercita-cita menjdi seorang kasir. Hanya saja, ketika kecil dulu, ia senang melihat ayahnya menulis dengan mesin ketik, waktu itu komputer belum setenar sekarang, ayahnya sangat mahir memakai mesin ketik itu. Inges selalu menjadi penonton ketika ayahnya bekerja dengan mesin ketik di rumah.
Dulu, ketika kecil, Inges juga sering di ajak mamanya belanja ke toko. Di sana ia melihat para ksir yang menghitung barang dengan mesin kasir manual. Mungkin ini adalah alasan terkuat Inges dan membuat dirinya bercita-cita menjdi seorang kasir. Dia senang melihat kasir di toko membaca kode harga yang tertera salah saru bagian dari bungkus barang tersebut sambil memencet-mencet tombol pada mesin kasir. Inges juga senang mendengar irama yang di timbulkan akibat dari sentuhan jari kasir dengan tombol mesin kasir.
"Mba Inges, ini tolong di hitung."
"Iya, sini bu, maaf ya mama saya agak lebay." tangan Inges menerima nota dari seorang pembeli dan mulai menghitung belanjaan.
"Udah biasa mba Inges," pembeli itu tertawa, "Tapi mba Inges beneran mau jadi kasir aja, ga mau jadi yang lain?" tanya pembeli itu.
"Benar bu, saya dari kecil pengen jadi kasir aja."
"Kenapa bisa begitu mba? Memang apa bagusnya jadi kasir."
__ADS_1
"Total belanjanya 576 ribu, saya suka aja lihat jari-jari saya menari di atas kalkulator." jawab Inges sambil mengangkat tangan dan menggerakkan jari-jarinya di depan wajah pembeli itu.
"Gitu ya mba."
"Iya." Inges tertawa cengengesan dan mengambil uang yang di sodorkan padanya.
***
Masa lampau seorang Inges, masa sekolah dasar.
Siapa yang mau maju ke depan ayo, ceritakan tentang keinginan atau cita-cita kalian."
"Saya bu guru, saya bu guru, saya bu guru." beberapa anak mengangkat tangan termasuk Inges kecil.
"Iya ,Inges dulu deh, sini!"
Inges keluar dari meja dan melangkah ke depan kelas.
"Ayo sekarang kasih tahu teman-teman kamu besok kalau sudah besar Inges mau jadi apa."
"Teman-teman, cita-cita Inges kalau sudah besar nanti mau jadi seorang kasir."
Semua temannya termangu, termasuk sang guru.
"Bu guru, kasir itu apa?" seorang murid laki-laki bertanya, guru itu terkesiap, seperti tidak siap mendengar apa yang Inges ungkapkan dan pertanyaan yang di ajukan muridnya.
"Inges sayang, cita-citanya bisa di ganti yang lain ga? Jadi dokter aja, atau pengacara seperti papa kamu, atau jadi polisi wanita, guru, perawat yah!"
"Ga mau," jawab Inges polos, "Inges mau jadi kasir, teman-teman kasir itu yang ada di toko-toko itu lho tempat kita bayar belanjaan." jelas Inges semangat dan percaya diri.
Mendengar penjelasan Inges temannya terdiam sesaat, tak lama keriuhan terjadi karena tawa mereka. Inges merubah wajah cerianya menjadi datar seketika.
"Inges cita-citanya ga keren, hahaha."
"Inges mau jadi kasir."
"Inges tukang tempat kita bayar kalau ke supermarket."
"Setop, setop, setop, tenang semuanya, tepuk tangan dulu dong buat Inges." beberapa murid memberikan tepuk tangannya namun lebih banyak dari mereka hanya diam saja.
__ADS_1
"Anak-anak bu guru, apapun cita-cita kalian, kalian harus raih dengan sungguh-sungguh. Inges mau jadi kasir, boleh. Nanti harus jadi kasir yang baik, yang jujur. Kasir juga punya tanggung jawab besar lho, ya!" guru itu membesarkan hati Inges berbalik mendukungnya.
"Sekarang Inges duduk ya, gantian sama teman yang lain."