
"Kak tampang gue jelek ya? Menurut kak Ganny, kak Yudhi, Inges cantik atau enggak sih?"
Dua laki-laki yang duduk di depan itu saling lihat mendengar pertanyaan penumpang di belakang mereka. Jarang-jarang Inges menanyakan masalah klasik yang di tanyakan wanita seperti itu.
"Standar lo Nges, di bilang cantik enggak di bilang jelek juga ga hancur-hancur banget sih." jawab Ganny asal.
"Aaakh, lo kakak gue bukan sih? Ga pernah lo bikin gue seneng. Percuma gue ngomong sama lo." omel Inges, "Kak Yudhi, sebagai cowok normal kak Yudhi lihat Inges gimana?"
"Eh buset, lo kira jawaban gue tadi dari orang ga normal."
"Emang kak Ganny ga normal, buktinya sampai sekarang ga punya pacar."
"Woy ga ngaca lo, tuh spion nganggur."
"Diem deh, kalau kak Yudhi yang jawab Inges bakal percaya, soalnya antara kita bertiga kayaknya kak Yudhi yang paling waras."
"Wah, kebangetan nih anak." geram Ganny lagi, kesal.
"Kamu cantik kok Nges." Yudhi berharap Inges menanyakan masalah seperti ini saat mereka hanya berdua saja, setidaknya ia bisa membumbui jawabannya dengan gombalan pada adik sahabatnya itu.
"Skala satu sampai sepuluh, nilai cantiknya kamu sembilan koma lima." sambung Yudhi penuh keyakinan, sudah lama ia menaruh hati pada Inges tapi tidak enak harus diketahui Ganny.
"Beneran kak Yud."
"Serius." jawab Yudhistira gugup di belakang setir.
"Kenapa sih lo Nges? Cacingan lo nanya beginian?"
"Ah, ga sudi gue curhat sama lo, kak Yudhi nanti diem di rumah ya, Inges mau curhat."
"Woy bayik, lo masih sekolah ya, awas lo main cinta-cintaan." ancam Ganny.
"Gue lagi tuli kak, kalau lo yang ngomong, gue mendadak tuli."
"Di ajarin nih anak, awas lo gue lapor ayah."
"Cih, lapor aja, gue lapor balik lo simpan majalah dewasa di kamar."
"Eh asyem, bukan punya gue, punya Riko tu sengaja ninggalin di kamar kakak, lagian lo kapan lihatnya sih, prasaan lo ngasir mulu kerjaannya."
"Tau, tapi pasti deh lo ngintip-ngintip, ngaku deh lo!" sergah Inges, kemudian berdecak sebal, "Ya kak Yudhi dengerin curhat Inges, Inges lagi hatinya patah ini, remuk gitu kayak apa ya, kayak mi mentah kalau di remas gitu deh pokoknya, hancur hiks hiks."
"Apaan sih lo Nges?" Ganny melunak melihat tampang sedih adiknya, walau mereka jarang akur, tetap saja secara naluriah Ganny tidak suka jika ada yang menyakiti sang adik, "Lo patah hatinya beneran atau ilusi?" tanya Ganny.
"KAK GAN! mulut lo tu ngeselin tau, ya beneran lah."
"Ya biasa aja jawabnya, ga usha ngegas gitu, terus siapa yang bikin hati adek kakak ini patah, cowok yang tadi di depan lo itu?"
"Bukan, gue malah ga kenal tu cowok."
"What, serius lo ga kenal?"
"Kayaknya murid pindahan."
"Oooh pantes."
"Inges sudah punya pacar?" kali ini Yudhi bersuara, tak tahan ingin tahu kebenaran dari cewek yang di incarnya itu.
"Enggak, Inges kayak secret admirer gitu sama cowok ini." Yundhi menghembuskan napas kelegaan yang samar, "Inges suka sama dia sejak kelas satu."
"Terus?"
"Dia sekarang jadian sama cewek lain, hiks hiks, Inges kan sedih jadinya."
Baik Ganny atau Yudhi sama-sama menarik napas dalam, cukup miris mendengar ungkapan adik kecil mereka yang baru mengenal cinta.
"Si cowok tahu ga lo suka sama dia?" tanya Ganny lagi.
"Kayaknya sih enggak." jawabnya ragu, tangis bombay Inges mereda.
"Bagus deh, ga usah pacar-pacaran dulu lah Nges, lo polos banget tahu ga sih, kakak ga suka lo deket-deket sama temen-temen cowok lo yang pastinya lagi labil-labilnya," pernyataan bijak Ganny membuat niat Yudhi mendekati Inges luntur, nyalinya menciut.
"Gue ga mau ngikutin jejak lo kak, ga punya pacar sampe jadi anak kuliahan gitu. Gue udah bisa tebak lo sampai umur empat puluh lo bakal belom nikah, masa depan lo kayaknya suram deh kak."
"Kelewatan lo Nges, gue cuma larang lo pacaran, lo do'ain gue yang enggak-ga."
"Kakak sih pacaran kok di larang, coba lihat Dilan sama Milea, Acha sama Iqbal, ah ga seru kali kak jaman SMA ga pacaran, ga ada yang di inget." oceh Inges.
Yudhi geleng-geleng kepala mendengar curhatan Inges.
__ADS_1
"Yud, mampir ke minimarket bentar deh!"
"Ngapain?"
"Mau beli deterjen buat nyuci otak ni anak."
"Cih, norak lo bang. Mampir ke stationary kak Yud, Inges mau beli kalkulator."
"Nah loh, rusak lagi pasti punya lo yang lama." sahut Ganny.
"Iya rusak, sekarang kak Ganny yang beliin, pakai uang yang tadi mau di pakai beli deterjen, Inges ga mau tahu."
"Busyet ni bocah."
***
Siang itu, saat jam pelajaran matematika di tiadakan karena para guru mengadakan rapat dan sisiwa hanya di berikan tugas agar mereka diam di kelas. Menjadi kebebasan yang hakiki bagi siswa dengan minat rendah pada pelajaran hitung-hitungan. Obrolan tidak berfaedahpun terjadi di seantero kelas, di segala penjuru sekolah. Begitupun dengan Inges dan antek-anteknya.
"Nama lo unik deh Nges, kenapa lo ga di panggil Dinar aja, Dinar kayaknya oke." sahut Pipit.
"Terserah lo pada manggil gue apa, yang penting tu panggilan nyangkut di deretan nama gue, ga masalah."
Nila, Bages, Sulton ikut bergabung dengan mereka.
"Sodara lo banyak ya Nges." timpal Sulton.
"Gue cuma berdua sama kak Ganny."
"Siapa bilang? Dollar, dirham, yen, rupiah, rupe, mau lo kemanain?" sanggah Sulton yang membuat tawa mereka keluar, kecuali Inges. Ia tersenyum licik.
"Sultonul Asyiqin bokap lo pasti pikirannya lagi kosong waktu ngasih lo nama."
"Maksud lo?"
"Lo ga nyadar ada selipan kata Nul di antara nama lo, mulai sekarang gue panggil lo Nul seumur hidup lo." tawa para wanita meledak, membuat Sulton menggaruk kepala kesal.
"Terserah lo Nges, asal lo seneng."
Lo juga berdua, Inges menunjuk dua temannya yang lain.
"Bokap lo pada lagi bingung kayaknya pas ngasih nama sampai nyelipin nama piaraannya di nama kalian."
"Ya lo pada, satunya nama burung satunya nama ikan." jawab Inges asal.
"Huuuuu ga lucu lo Nges."
"Biarin, yang jelas gue menang."
"Diantara kita kayaknya Bages deh bokapnya yang paling waras ngasih nama, Rahma Bages, simple, bagus, nama marga Arab lo enak di dengar." kata Nila.
"Omong-omong masalah nama, lo udah move on kan Nges dari si Susan?"
"Lo tebak aja, ini baru tiga hari sejak dia gelendotan sama si Anggun."
"Tapi gue seneng deh Nges lo ga jadi sama si Udin." timpal Bages.
"Hm, makasih do'anya." Inges menjawab malas.
"Coba bayangin kalau lo nikah sama dia, pas nama mempelai cowoknya di sebut, 'Sawaludin Susanto' kayak ambigu gimana gitu, cowok ada nyempil nama ceweknya tu anak, 'Susan'." kata Nila
"Bapaknya mikirin apa ya sampai ngasih nama gitu." ucap Bages.
"Setelah nikah lo ganti sebutan jadi Nyonya Susan, Nges, kayaknya ga banget." imbuh Pipit.
"Kalian ga ada bahasan lain, pening gue denger."
"Nges!" suara Antox terdengar dari pintu kelas Inges.
"Nah panjang umur tu anak."
"Siap-sia Nges kita bully lo." Pipit tersenyum jahil.
Antox mendekat.
"Apaan?" kata Inges pada Antox.
"Uang dari anak-anak, dana buat seragam MOS."
"Ooh."
__ADS_1
"Nama-namanya udah ada di dalam." .antox menyerahkan amplop putih berisikan uang.
"Nanti gue catat."
"Antox, kita mau ada yang di tanyain, lo duduk dulu."
"Apaan?"
Inges melotot tak setuju, teman-temannya tak peduli. Antox mengambil salah satu kursi yang tidak di pakai, bergabung dengan kawan-kawan Inges.
"Lo tahu ga Inges suka sama lo sejak kelas satu?" Pipit memulai omongan.
"Masa? Gue pernah ngerasa sih, tapi kayak ga yakin gitu."
Wajah Inges memerah. Temannya masa bodo.
"Inges suka sama lo, dia patah hati lo jadi sama Anggun."
"Bener Nges?" tanya Antox.
"Ya gitu, kayak yang lo denger." jawab Inges pasrah.
"Kalau gitu lo jadi yang ke dua mau?"
"Anjing, ga sudi gue."
Teman-temannya tertawa menikmati, Inges berdecak sebal.
"Sekarang lo Nges, kasih tahu Antox alasan lo suka sama dia, buka sekarang!" tuntut Bages.
"Capek kita setahun dengar curhatan lo tentang nih kampret."
Inges menarik napas, "Gila memang kalian."
"Ya jawab aja biar Antox tahu terus nyesel ga nyaut lo." kompor Sulton.
Inges menguatkan mental, mengumpulkan keberanian, dia sudah terlanjur basah, ya sudah, biar sekalian nyemplung, pikirnya.
"Fine, berhubung kita umat yang berpendidikan dan mampu mengolah kata dan perasaan dalam keterbukaan, gue ungkap sekarang," kata Inges memulai penjelasan, "Gue suka sama Antox, karena dia cerdas, bukan pintar ya, cerdas nih, beda lo artinya."
"Tahu kali Nges, lanjut!"
"Gue pernah diskusi aja gitu sama bu Laily, kebetulan waktu itu dia lagi ngoreksi kerjaan siswa, ngoreksi kerjaan lo," Inges mengangkat dagu pada Antox, "Beliau muji-muji lo, di bilang lo-nya cerdas, di kasih soal baru, bahkan yang melenceng dari materi lo bisa jawab, dari sana sih awalnya gue punya rasa lebih, tapi jauh sebelumnya kayaknya waktu MOS terakhir deh, waktu lo minta bekal gue, gue udah notis lo Tox." jelas Inges terlampau jujur. Teman-temannya melebarkan mulut berjamaah.
"Tapi lo jangan geer, sekarang lo udah punya pacar, baik-baik aja lo sama anak orang," terangnya lagi sambil mati-matian menguatkan diri, "Gue sih udah ikhlas bin ridho, ga ngarep lagi, kalau dulu gue ga hitung tampang lo, sekarang gue hapus lo dari daftar cowok idaman gue karena tampang sama nama lo yang ga banget kata mereka-mereka ini." ungkap Inges tanpa ragu.
"Eh, *****, kita di bawa-bawa." kata Sulton.
Antox hanya menunjukkan wajah datar tak terbaca, yang lain terkagum-kagum dengan keberanian Inges menceritakan perasaannya.
"Bagus deh." kata Antox dengan nada kecewa yang samar.
"Udah kan, udah puas kalian? Gue ke kantin dulu, bentar lagi istirahan ke dua." Inges beranjak dari duduknya.
"Tapi lo ga apa-apa Nges?" tanya Pipit khawatir.
"Ya enggak apa-apa kali Pit, udah ya gue ke kantin."
Inges berlalu keluar dari ruang kelas. Menyisakan Bages, Nila, Pipit, Sulton dan Antox yang masih mencerna keadaan.
"Pit, lo yang paling tahu perasaan Inges, lo yakin dia fine-fine aja gegara ni kampret?" suara Sulton, menbuat Antox melayangkan tinjunya pada Sulton, "Sakit Sawal."
"Ga yakin sih sebenernya, dia suka lo dari kelas satu lho Tox, tiap lo ulang tahun, Inges beli kue tapi di kasih ke kita, suka nanya-nanya tentang lo sama Oyiq gimana lo di kelas, suka nungguin lo kalau belum pulang setelah rapat, ga peka emang lo." jawab Pipit.
"Obsesi dia selama ini cuma dua, jadi pacar lo sama jadi kasir." tambah Nila.
"Masa sih Inges segitunya sama gue?" tanya Antox tak percaya, "Kenapa dia ga ungkapin dari dulu?"
"Jadi sekarang obsesi Inges tinggal satu, jadi kasir doang."
"Kalau dia yang ungkapin duluan emang lo mau terima?"
"Enggak." jawab Antox asal,
"Kurang asem lo emang," Antox mendapat timpukan buku dari empat orang temannya itu.
"Sakit woy, gue belum selesai ngomongnya," sambarnya cepat, "Kalau dia yang nembak gue ya gue bakal tolak, tapi gue yang bakal nembak dia, ****."
"Serius lo?"
__ADS_1
"Tinggal cerita deh sekarang, lo-nya udah sama Anggun kan, tuh di cariin, bubar guys, kita ke kantin."