Cashier Wanna Be

Cashier Wanna Be
6 Horang Kaya


__ADS_3

Sudah dua hari setelah kejadian di lobi sekolah, Inges tidak masuk mengikuti pelajaran. Kakaknya, Ganny Eurondra Permana, sudah mengirimkan surat keterangan dokter yang menyatakan Inges di haruskan beristirahat selama tiga hari. Untung banyak dia. Padahal hanya pusing karena telat makan, tapi dia merengek pada dokter yang memeriksanya agar di berikan surat keterangan sakit. Ngotot minta seminggu tapi dokter hanya mensyaratkan tiga hari.


Arya sedikit nekat pada jam istirahat hari itu. Melihat mba As yang kewalahan tanpa Inges, dia masuk ke ruang kantin menggantikan Inges. Bukan keteraturan yang terjadi, para siswi makin histeris dan ngelunjak begitu melihat Arya yang menjadi pegawai mba As. Entah sial atau untung, mata mba As berbinar-binar melihat hasil jualannya. Meski suasana sedikit tidak terkendali dan terkesan brutal karena Arya, uang hasil jualan kantin hari itu naik empat kali lipat. Berbanding terbalik dengan perkiraan mba As yang mengira dirinya akan merugi karena para siswi yang histeris belanja ingin di layani Arya.


"Mas Arya, eh, den, dek, alah keblibet, Arya, ini tadi waktu anak-anak belanja di kasih kembalian ga sih, kok uang kecil kayaknya utuh.


Arya yang sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan potongan kardus mengangkat bahu. "Ga ada yang minta kembalian mba, pada ngasih uang doang terus minta jajan dan minuman yang mereka pengen."


As dan Ratna saling lihat tak percaya.


"Ini gimana ceritanya?


"Mba As rugi ya? Berapa? Biar saya gantiin."


"Rugi apanya, ini malah untung, tapi kebanyakan mas, den, Arya."


"Panggil Arya aja mba!"


"Uangnya halal ga ini, mba As takut nanti kuburnya sempit."


Arya tertawa.


"Halal kok mba, mereka tadi sadar kok ngasih uangnya, saya udah mau ngasih kembalian tapi kebanyakan bilang ga usah."


"Gitu ya?"


"Hai Ar." Rania datang dengan dayang-dayangnya.


"Hai," Arya dengan senyumnya membalas sapaan Rania, membuat siswi populer itu besar kepala, "mba As saya masuk kelas dulu, udah sepi kan, udah ga perlu di bantu." Arya memasang niat kabur melihat Rania yang mulai kegenitan.


"Eh iya, makasih lho mba As udah di bantuin."


Arya benar-benar berlalu pergi, Rania menorehkan wajah kesal bercampur marah. Cowok incarannya itu, meski tidak ada Inges di sana, masih saja susah di dekati.


"Arya!"


***


"Totalnya 476 ribu pak," Inges menerima lembaran uang berwarna merah dari pembelinya, "kembalian 24 ribu, terima kasih, barangnya sudah di bungkus di depan ya sama mbok Min."


"Sama-sama mba Inges, dari kemarin full ngasir ya, ga sekolah?"


"Lagi sakit pak."


"Kenapa malah kerja."


"Ini obatnya, lagi ngobatin diri sendiri ini, jadi kasir mah saya obatnya kalau sakit."


"Aneh ya mba Inges."


"Emang pak, saya juga ga ngerti sama diri saya sendiri." Inges cekikikan.


"Kalau gitu saya permisi mba, mari."


Inges melanjutkan permainan Woody Puzzlenya setelah pelanggannya pergi. Belum ada pelanggan lain yang datang ke toko pak Karse yang menjadi tempat kerjanya.


"Mbok Min kalau mau istirahat, istirahat aja, udah siang ini, nanti gantian sama Inges."


"Mba Inges ga pulang? Nanti di cari mamanya lho."


"Aduh mba tinggal nyebrang kan saya, gampang."


"Tapi kan lagi sakit mba."


"Udah sembuh, udah, mbok Min istirahat aja, biar Inges yang jaga."


"Ya sudah, mbok istirahat dulu, nanti kita gantian."


"Hm." Inges makin asyik dengan gamenya.


Meski tangannya sibuk bermain game Inges bisa menangkap suara langkah kaki yang memasuki toko, tapi keseruan game itu seakan lebih menarik matanya pada layar ponsel dari pada harus melihat siapa yang datang.


"Siang, selamat datang, ambil aja barang yang mau di beli, keranjang ada di pojok." Ujarnya masih dengan mata mengarah ponsel.


"Siang Nges." Mendadak Inges menghentikan permaimannya.


"Arya? Ngapain kamu di sini?"


***


"Mba As yakin ini alamat Inges?"


"Yakinlah, mba As sering ke sana kalau mamanya Inges bikin party."


"Party?"


"Bukan party yang itu, tapi apa ya, kayak demo alat masak, kita masak juga sambil di ajarin pakai alatnya juga sama mamanya Inges."

__ADS_1


"Oo ngerti kok mba, mama saya juga pernah ikut kayak gitu."


"Arya mau ke sana? Ke rumah Inges? Tapi masih jam belajar kan ini." Arya yang di tanya memberi senyuman misterius.


"Jangan bilang siapa-siapa mba!" cowok tampan itu berlalu pergi setelah mengerlingkan sebelah matanya pada mba As.


"Heh, dasar anak muda."


***


"Ngapain kamu di sini?"


"Jenguk pacar aku, emang ga boleh."


"Eh, jangan sembarangan ya!"


"Aku ga sembarangan, sejak kemarin kita sudah resmi jadian, satu sekolah juga udah tahu." Inges mendadak panik. Kenap cowok ini bisa muncul di hadapannya sekarang.


"Tadi aku ke rumah kamu, kata orang rumah kamu di sini."


"Apa? Kamu ngapain ke rumah aku? Siapa yang ngasih tahu alamat aku? Gila ya kamu."


Arya tertawa senang. Inges mulai merah padam.


"Mba Inges, mbok udah selesai, mba Inges boleh istira...eh ada pelanggan, kayaknya baru ya?" Mbok Min mesam-mesem pada Arya, "Beli apa mas Gan?"


"Bukan pelanggan mbok!" Inges menyambar sengit.


"Mba Inges jangan judes gitu dong, ini pelanggan ganteng gini masa di judesin, giliran bapak-bapak kumisan aja mba Inges ramah, gimana to mba Inges."


Inges menjambak rambutnya kuat, tidak berniat menjaga imagenya di depan Arya.


Arya tersenyum memperhatikan cewek di depannya. Baru kali ini ada cewek yang tidak melakukan drama sok cantik nan menjijikkan di hadapan seorang Arya. Selama ini wanita yang mengejarnya mati-matian memperlihatkan kecantikan fisik mereka dengan topeng make up setebal dempul tembok.


"Bodo ah, Inges pulang dulu, mbok Min yang jaga."


Inges keluar dari meja kasir, berjalan melewati Arya yang masih setia berdiri di depannya.


"Permisi mbok." Arya mengikuti Inges yang berjalan cepat.


"Lho kok ga jadi belanja? Mas eh den, nak Gan, kok malah ngejar mbak Inges?"


Saat tiba di halaman rumah Inges.


"Bawa ekor lo Nges?" tanya Ganny melihat Inges yang diikuti laki-laki di belakangnya.


"Iya, potongin gih biar lepas." Jawab Inges asal.


Arya mengulurkan tangan.


"Kenalin kak, saya Arya, temannya Inges, kakak kelas sekaligus pacar."


"Eh buset." Ganny berubah sangar, "Maksudnya apa ni Nges?"


"Lo tanya aja!"


"Lo demen sama adek gue?"


"Kita ngobrolnya di dalam aja, gimana kak, ga enak ngoming sambil berdiri gini."


"Mau ngatur gue lo? Eh, tapi bener juga sih, lo tamu di sini," Ganny sedikit lunak, "masuk!"


Inges berdecak sebal.


"Gimana sih lo kak, sangar lo ga all out."


"Behave Nges, katahuan bokap nyahok lo."


Ayah Inges adalah seorang pengacara sekaligus pebisnis yang menjunjung tinggi etika dan moral. Dia mendidik anak-anaknya agar bersikap santun pada orang lain. Hanya saja didikannya sedikit gagal pada Inges. Anak perempuannya itu cenderung selengekan, cuek, cadas, dan sulit di atur. Inges lebih suka bersikap apa adanya. Kalau tidak suka dia akan mengatakan tidak suka, begitupun sebaliknya. Berlaku juga sikap itu pada Arya, Inges tidak suka cowok itu, atau mungkin belum suka.


Arya berjalan penuh percaya diri, alih-alih takut, ia malah yakin kakak kandung Inges itu akan mendukungnya.


"Ambilin minum Nges!"


"Gila lo kak."


"Inges!" Ganny menyebut nama adiknya penuh peringatan.


"Iya tahu gue."


"Jadi lo beneran suka sama Inges?"


"Saya serius kak suka sama Inges."


"Lo bilang kakak kelasnya Inges, sekarang lo kelas tiga?"


"Iya."

__ADS_1


"Jurusan lo?"


"IPA."


"Lo pinter matematika?"


"Lumayan kak."


Inges datang menyela introgasi Ganny pada Arya, "Minum, udah ya gue mau makan."


"Buset nih anak, tamu lo ni."


"Lo wakilin gue kak, gue laper." Seru Inges yang meninggalkan Arya sendiri dengan Ganny. Ganny hanya geleng-geleng melihat tingkah adiknya.


"Lo lihat kan tingkah adik gue, dia orangnya serampangan, cuek, gila ngasir, masih mau lo sama adek gue?" Ganny sengaja mengumbar kejelekkan adiknya sendiri, Ingin melihat reaksi Arya yang mungkin akan mundur setelah tahu kejelekan adiknya.


"Saya tahu kok kak, makanya saya suka sama dia."


"Kuat juga lo. Ada lagi, Inges ga suka terasi, ga bisa pedes, ga suka nyuci baju, nyapu, ngepel apalagi, alergi dingin, ga suka debu tapi malas bersih-bersih, suka kentut sembarangan, dan yang paling penting cita-citanya jadi kasir."


Arya manggut-manggut mencatat info yang di berikan Ganny di kepalanya.


"Cita-cita adik gue jadi kasir, otaknya memang agak geser dikit, dan cita-citanya ga bisa di ubah kayaknya," Ganny tampak serius, "jadi lo tahu kan penghasilan kasir, tahu profesi itu tak menjanjikan, masa depan adik gue suram bung." Ganny melihat wajah Arya yang serius mendengarkannya.


"Sebagai kakaknya, gue mau masa depan adik gue cerah tentu saja," Ganny kembali mulai memutar-mutat pembicaraan, "jadi gue harus menyeleksi secara ketat cowok yang suka sama adek gue yang langka ini, lo punya modal apa deketin adik gue?" akhirnya setelah berputar-putar Ganny menanyakan maksudnya.


"Adduh, bangs..." Ganny refleks berdiri saat kepalanya di pukul benda keras, "apaan sih lo Nges, sakit ini, gimana kalau gue gegar otak."


"Aamiiin, gue do'ain lo beneran gegar otak biar otak lo kerjanya bener," Inges duduk bergabung dan duduk di seberang Arya, "jangan dengerin kakak gue."


Arya berusaha menahan tawa, melihat tingkah polah dua bersaudara di depannya.


"Gue lagi nyeleksi, introgasi pacar lo."


"Kita ga pacaran," sambar Inges.


"Kita udah resmi kak kemarin, semua orang sudah tahu di sekolah." sanggah Arya cepat.


"Ini mana yang bener sih."


"Ya gue lah, kak Arya, mending pulang, kita ga ada hubungan."


"Ada, kamu pacar saya, saya datang jengukin."


"Gue ga sakit."


"Tapi kemarin sakit, tadi juga ga masuk, itu apa namanya?"


"Gue udah sembuh."


"Ya syukur, tapi gue mau tetap jenguk."


"Woy, bisa diem ga, kalian ga lihat ada gue." kata Ganny dengan nada tinggi.


"Jadi, lo jawab dulu pertanyaan gue, lo punya modal apa, kalau cocok sama standar gue, gue kasih restu."


"Kak Gan!" teriak Inges.


"Diem lo!"


"Gue punya saham di perusahaan papa gue, asuransi pendidikan sampai S3, investasi di beberapa kafe, gue punya produk minuman sendiri, barber shop, satu distro dan gue punya saham di bursa efek, apa itu cukup?" jawab Arya lancar, selancar jalan tol.


"Wow, what the..., lo orang kaya?" tanya Ganny dengan air liur yang hampir menetes.


"Hm, kaya itu relatif, di banding papa gue, gue ga ada apa-apanya."


"Kalau lo bandingin sama papa lo, gue ini apaan? Amoeba kali ya, kuman gitu."


Inges melempar satu bantal sofa pada wajah Ganny.


"Biasa aja, kamseupay lo kak, malu-maluin."


"Cih, ngaku deh lo juga ngiler."


"Gue?" Inges tertawa buatan, "Ga tu, dia ga punya supermarket yang bisa gue jadiin tempat kerja jadi kasir, jadi lo GAGAL Arya." Inges tersenyum penuh kemenangan.


"Yang bener aja lo Nges, otak lo gesernya kebanyakan." Ganny mulai nyolot.


"Terserah gue," Inges meninggi, "kendorin dikit kak, ga usah pake urat."


"Wait!" kata Arya dengan nada yang lebih tinggi, "Tahu supermarket Hiro?"


Inges dan Ganny menoleh bersamaan pada Arya.


"Tahu." kata Ganny, Inges mengangguk.


"Itu punya bokap gue."

__ADS_1


"Hah?"


"Sorry gue lupa, gue juga punya saham di sana." Arya menjawab lagi.


__ADS_2