Cashier Wanna Be

Cashier Wanna Be
2 Antox


__ADS_3

Pukul 09.15 adalah jam istirahat pelajaran bagi semua murid yang ada di SMA Bina Bangsa. Para siswa siswi biasanya akan terbagi menjadi beberapa kubu dalam mengisi jam istirahat itu. Bagi murid dengan tingkat intelegensi tinggi dan perut terlatih menahan lapar dan kenyang sendiri hanya dengan membaca, akan menghabiskan waktu di perpustakaan. Ada pula beberapa murid dengan tingkat keimanan di atas rata-rata murid lain, bahkan melewati tingkat ketaqwaan guru mereka, akan menghabiskan waktu di pelataran tempat ibadah. Lain lagi halnya dengan murid yang tingkat intelegen standar ke bawah, tak tahan dengan lapar karena memang orang tua mereka tidak mengurusi sarapan mereka lagi, di tambah kurangnya kadar taqwa tentu saja akan menghabiskan waktu di kantin sekolah tercinta.


Inges mungkin tidak termasuk dalam ketiga golongan itu. Inges yang terlalu peka, sudah sangat tahu di mana ia bisa mengasah kemampuan ngasirnya meski dia sedang di lingkungan sekolah. Tidak jauh-jauh dari hitung-menghitung uang, Inges akan menghabiskan waktu di kantin pastinya. Tidak sebagai siswa yang haus dan lapar tingkat dewa, tapi ia akan bertidak sebagai orang yang membantu mba As melayani para murid yang sudah berjejal meronta ingin mengisi perut mereka.


"Nges, lo ga bisa apa jam istirahatnya kayak murid normal lain? Sekali-kali lo ikut kita makan napa?" kata Pipit, teman sebangku Inges.


"Emang gue ga normal apa, gigi lo tu behelin, ngomong ga di sensor," Inges misuh-misuh sendiri. "Bisa aja sih, tapi lagi pengen ngasir dulu guenya. Lagian kasihan mba As, cuma berdua sama mba Ratna ladenin setengah dari murid sekolah ini. Syukur-syukur kalau semua bisa kontrol perut, bisa sabar di layani, ini kadang otak juga ga di kontrol, kadang bayar kadang enggak, uang cuma sepuluh ribu, belanja lima ribu, eh minta kembaliannya tiga puluh. Asem ga tu?" jelasnya lagi.


"Emang ada yang begitu?"


"Banyak kali Pit, malah ada yang belum ngasih uang tapi bilangnya sudah. Ga tahu deh otak ama naluri mereka kemana. Lagian gue udah resmi anggota Kopsis sejak kelas satu." Inges hampir berlalu tapi Pipit menahan tangannya lebih dulu.


"Kok bisa ya dulu pas hari terakhir MOS lo langsung kepilih masuk anggota OSIS, jadi bendahara pula?"


"Ga ngerti juga, tanya ke kak Lale aja sono, udah ah kayaknya udah rame, gue ke kantin, lo ama Nila aja, atau Bages deh!"


"Hm, lo jalan aja!" sahut Pipit sambil merapikan buku-bukunya.


Tiba di ruang kantin setelah melewati pintu khusus di belakang, Inges mendapat geraman dari mba As, sang penjaga tetap kantin SMA Bina Bangsa. Sudah pasti karena kedatangannya yang sedikit terlambat.


"Jangan manyun mba As, cantiknya geser lho."


"Cepat ke bagian timur, yang banyakan murid laki tu, jangan sampai ga ngasih bayar."


"Sip mba."


Setelahnya, Inges beraksi melayani permintaan teman seangkatan, adik kelas hingga kakak kelasnya yang berbaur berlomba sambil berteriak menyebut pesanannya. Inges sudah terbiasa dengan rancauan mereka. Semua menyodorkan tangan berisi uang. Di saat-saat seperti itulah Inges harus jeli bin teliti. Mata, kepala dan tangannya harus bekerjasama sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan dalam menyediakan pesanan, memberi kembalian dan mengingat siapa dan berapa jumlah uang yang ia terima. Meski kisaran belanja sisiwa sekolah lebih rendah dari prmbeli di toko pak Karse, tapi melayani pembelian para siswa termasuk lebih sulit. Mungkin dikarenakan seluruh siswa tumpah ruah dalam satu kurun waktu saat jam istirahat itu.


Hampir dua puluh menit bekerja Inges akhirnya bisa duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kantin. Tangannya memegang potongan kardus air minum yang ia robek tadi. Bergerak turun naik jongkok, kesana-kemari ternyata membuatnya gerah kepanasan.


"Mba As, minta teh botol dua."


"Oke." Mba As yang tadinya ingin tertawa melihat Inges beringsut mengambilkan dua buah teh botol dingin di lemari pajangan.


Satu buah teh botol di habiskan Inges kurang dari satu menit. Dirinya memberi lembaran uang pada mba As, kemudian membawa satu botol teh yang belum ia minum menuju pintu ke luar, tapi...


"Mba As minta air botol satu." suara cempreng seorang siswa yang sangat di kenal Inges membuatnya berbalik melepas handle pintu dan kembali ke ruang kantin.


"Eh, Antox, mau beli apa?"


"Udah di ambilin sama mba As." jawab Antox sambil tersenyum tipis.


"Udah ya? Ada yang mau di beli lagi?" Inges menyodorkan satu botol air yang di terimanya dari mba As pada Antox. "Pelajaran bu Laily ya?"


Bu Laily sang guru Kimia mewajibkan mereka membawa sebotol air yang boleh di minum selama pelajaran berlangsung. Siswa yang tidak membawa minuman akan di suruh keluar kelas membeli air kemasan.

__ADS_1


"Iya, ini aja Nges. Yang, ada yang mau di beli lagi?" tanya Antox pada seorang siswi di belakangnya yang luput dari pandangan Inges.


Inges membeku. Menatap sejenak pada murid wanita lawan bicara Antox. Sosok itu ia kenal. Salah satu siswi populer kelas satu, adik kelasnya.


Anggun.


Jadi Anggun dan Antox pacaran?


"Minta air botol juga deh Yang." ujar Anggun sambil melingkarkan tangannya di lengan Antox.


Inges tersenyum getir. Perih.


"Nges, minta airnya satu lagi."


"Eh, iya." Inges berjongkok, mengambil air botolan yang terpajang di etalase bagian bawah.


"Udah kan, yakin air aja?" tanya Antox lagi pada Anggun, Anggun mendongak melihat wajah Antox yang juga menatapnya. Mereka bertukar senyum, membuat adegan romantis yang memuakkan Inges.


"He-eh, air aja Yang."


"Ga sekalian bon cabe Tox, kayaknya kalian lagi anget-angetnya, tambah bon cabe bias panas gitu." Inges sedikit sarkas, tidak menyangka kalimat-kalimat itu akan keluar dari mulutnya.


"Thanks ya Nges, lai kali deh bon cabenya." ujar Antox sambil berbalik meninggalkan Inges yang mendapat tepukan bahu dari mba As.


"Nges, nanti siang kita rapat setelah sekolah ya, jangan bolos." Antox kembali menengok yang hanya memunculkan kepalanya di pintu.


"Iya."


Setelah Antox benar-benar menghilang Pipit, Bages, dan Nila datang mendekati Inges.


"Nyesel kan lo?" kata Pipit.


"Keasyikan ngasir sih lo." timpal Nila.


"Cari yang lain deh Nges. Lo ga capek dari kelas satu ngarepin Antox yang ngelihat lo aja malesnya minta ampun. Lo terima kak Ronny aja deh!" Bages menambahi.


"Lo mau nangis di sini? Mending tunda deh, keburu pak Mar'ah datang. Mau lo di hukum lagi, dapat nilai merah besok di pelajaran Sejarah?" kata Pipit yang diiyakan Nila dan Bages.


"Hm, gue emang lagi pengen di hukum."


"Sinting, kayak ga tahu tabiat pak Mar'ah aja. Ayo gais!" mereka membubarkan diri, setelah bel masuk berbunyi dua menit yang lalu.


***


Hari terakhir MOS seorang Inges.

__ADS_1


Inges duduk sendiri di sebuah bangku permanen yang terbuat dari beton yang ada di depan tiap ruangan kelas SMA Bina Bangsa. Ia menikmati bekal yang di siapkan ibunya di bawah pohon rindang di sela-sela jam istirahat MOS terakhir hari itu.


"Hai, kamu Inges kan?" Inges menoleh, melihat pada orang yang mengulurkan tangan di depan wajahnya. Tak berapa lama Inges membalas jabatan tangan itu dengan senyum ramah.


"Antox."


"Inges."


"Boleh gabung di sini."


"Boleh, duduk aja, bebas kok, bukan saya yang punya bangkunya."


Antox mengambil posisi di samping Inges. Membuat Inges salah tingkah dengan gerakan gesit Antox yang langsung bergerak akrab.


"Boleh minta bekalnya juga?"


"Eh, oh ya, ambil aja. Mama siapin lumayan banyak, kalau makan sendiri aku juga ga kuat." Inges menggeser wadah berisi nasi gulung ala Jepang yang di buatkan mamanya ke depan Antox.


"Makasih. By the way, selamat ya kamu satu-satunya murid baru yang kepilih jadi anggota inti OSIS."


"Oh, itu, biasa aja." Inges tertawa ringan sambil melihat ke sembarang arah.


"Kamu punya koneksi, mungkin kakak atau keluarga yang sekolah di sini?" Inges kembali melihat pada Antox dengan tatapan tajam. Merasa tidak siap mendapat pertanyaan seperti itu.


"Enggak, kakak saya ga sekolah di sini, saya juga ga punya keluarga yang sekolah di sini, saya juga ga tahu bagaimana para senior memutuskan memilih saya." jelas Inges cepat.


"Wesh, santai Nges. Aku ga nuduh kamu KKN lho."


"Aku juga ga ngerasa sih kamu nuduh aku, cuma jawab pertanyaan kamu aja." jawabnya santai.


Antox menepuk-nepuk pundak Inges, membuat Inges kembali salah tingkah.


"Bekal kamu enak, boleh nambah?"


"Habisin juga ga apa-apa." Inges mengambil botol minum yang seragam dengan warna wadah bekalnya. Meneguk cairan dari botol itu.


"Botol minum kamu bagus, warnanya sama kayak kotak bekal kamu." Antox tiba-tiba meraih botol minuman itu dari tangan Inges, dan meneguk teh manis yang menjadi isi minuman botol itu.


Inges speechless.


Dia dan Antox baru saja kenal tapi mereka telah bertukar minum dari lubang botol yang sama.


"Makasih ya makanannya. Aku gabung sama yang lain dulu." pamit Antox dengan senyum lebar.


Inges membisu, apa-apaan itu tadi?

__ADS_1


__ADS_2