Cashier Wanna Be

Cashier Wanna Be
7


__ADS_3

"Gue?" Sulton menunjuk wajah dengan telunjuknya sendiri saat Inges bertanya mau jadi apa dirinya besok, "Sesuai permintaan takdir, yang jelas gue harus punya banyak uang."


Tidak ada yang bereaksi dengan jawaban Sulton, baik Inges, Bages, Nila atau Pipit.


"Standar, semua orang di muka bumi ini juga tujuannya itu, uang, hidup buat nyari uang, yang spesifik dong, yang jelas, kayak Inges, udah jelas. Kasir."


"Latar belakang gue ekonomi menengah ke bawah geng, masang standar tinggi juga ga mungkin, apa gu e masuk pendidikan satpam kali ya?" celetukan Sulton kali ini membuat Inges menoleh.


"Otak lo mulai kerja Nul."


"Gue jadiin satpam batu loncatan kayaknya asik, kalau langsung dapat tempat kerja gue bisa sambilan kuliah."


"Pencerahan lo, gue dukung."


"Lo mentok kasir, seriusan Nges?" Sulton melempar tanya.


Nila yang tadinya serius dengan sebuah novel mini lebih dulu menanggapi, "dia mah jadi gembel juga halal, keturunan Permana gitu lo."


"Gue satpam, Nila nyasar bank, Pipit ngejurus perawat, lo ga ada niat nyari cita-cita yang lebih bonafit?"


"Sialan, calon satpam aja blagu lo," sebuah buku catatan melayang ke wajah Sulton. "Kasir tu kerjaan paling stabil, banyak ga banyak pembeli tetap di gaji."


"Kalau itu jawaban lo, lo di bawah standar gue banget sih Nges, menjurus ****."


Tawa kecil tak terhindarkan timbul antara kawanan teman sekelas itu, jam pelajaran yang kembali kosong, karena Pak Maliki yang katanya keluar kota mengisi seminar sains membuat mereka bebas sementara dari jejalan rumus Fisika.


"Cuma di profesi itu tangan gue bisa bergerak lincah di atas keyboard sambil dilihatin orang," Inges menjawab datar, tak peduli tawa yang ia timbulkan.


"Banyak kali Nges kerjaan yang bisa bikin lo ngetik, teller bank, penulis, akuntan..."


"Yang paling sedikit intensitas mikirnya cuma kasir Nul."


"Berarti lo beneran **** Nges, ga mau mikir, gue masih mending."


"Bodo."


"Yang butuh pencerahan lo Nges." Sulton belum berhenti.


"Gue udah bilang kan Ton, Inges jadi gelandangan juga ga bakal bikin kekayaannya keluarganya habis."


"Lo ga tahu turunan Permana?"


"Udah Pit, ga usah disahutin, bikin emosi." pantang bagi Inges pamer latar belakang keluarganya.


"Gue do'ain lo jadi ilmuan, biar lo ga berhenti-berhenti mikir sampai mati."


Koor mengaminkan dari semua teman yang mengelilingi meja Inges terdengar sampai seantero kelas, membuat mereka menarik perhatian yang lain di sana.

__ADS_1


"Taik kalian."


Tawa kemenangah membahana keluar dari mulut Sulton membuat Inges ingin melempar buku paket Fisika yang halamannya mencapai angka dua ratus, tangan Inges sudah menggantung di udara sebelum sebuah suara mencegatnya.


Arya muncul di pintu setelah menyebut namanya dengan suara keras, mata penghuni kelas itu tertuju pada satu titik. Arya dengan tenang berjalan penuh percaya diri menuju meja Inges.


"Sumpah, gue pengen jadi kuman sekarang," gumam Inges yang hanya di dengar kelompoknya.


Semua menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.


"Ada apa?"


"Telpon dari kak Gan," Arya menyodorkan ponselnya.


"Kenapa ga langsung nelpon gue?" Tanya Inges penuh curiga. Arya mengangkat bahu. Penghuni lain melanjutkan kegiatan mereka begitu melihat tujuan Arya.


Sejak Ganny memberi Arya persetujuan untuk mengejarnya, Arya semakin berani menunjukkan ketertarikannya pada Inges di lingkungan sekolah. Meski begitu Inges belum tertarik sama sekali oada Arya.


"Kenapa Ganny Eurondra?" sapa Inges pada kakaknya di seberang sambungan.


"Jangan mimpi lo, pokoknya lo yang jemput atau gue nginep di sekolah, gue ga mau pulang sama~" ucapan Inges menggantung dengan mata melaser Arya.


"Kurap sapi, taik kebo, kutu kambing, kudis kuda, koreng ayam, kurang asem lo emang." deretan umpatan Inges mengalir lancar dengan suara naik dua oktaf untuk Ganny. Inges mengembalikan ponsel Arya begitu sambungan terputus.


Sirat wajah kemenangan Arya terpancar tanpa halang meski dirinya di sambut tatapan sinis Inges, "nanti gue tunggu di lobi." Menyisakan satu kerlingan pada Inges, Arya segera keluar dari kelas itu dengan kedua tangan tenggelam dalam saku celananya.


Tanpa berusaha keras, Arya akan selalu tampak...keren.


Tatapan lain mengarah pada Inges, tak lain dari Pipit, Nila dan Bages. Sulton pergi, tidak tertarik kalau bahasan mereka mengarah pada asmara.


"Ngapain lo pada, ngelihat kayak gitu?"


"Gimana ceritanya?" Nila membuka lebih dulu.


"Lo cerita kalau mau kita bantu!" Desak Pipit.


Inges menarik napas dalam.


Taik.


***


Begitu Inges menyelesaikan cerita bagaimana Arya bisa dekat dengan Ganny, dan perlakuan yang dia alami dari Rania temponhari, ke tiga sekawan Inges itu memutuskan sedikit mengetatkan oenjagaan mereka pada Inges. Sekarang saja mereka mengiring Inges menuju kantin untuk menjalankan tugas mulianya. Bak pahlawan yang akan mengemban tugas suci, tiga pengawal Inges itu berjalan penuh waspada lengkap dengan mata siaga mengelilingi Inges.


"Kalian lebih kelihatan norak bin aneh dari pada hebat kalau begini, tahu ga?" Inges mulai jengkel.


"Lo kayak ga ngehargai bantuan kita deh Nges."

__ADS_1


"Gue hargai, berapa?" canda Inges garing, "lagian ini masih rame, di sekolah pula, mustahil kali Rania Wijaya mau ngapa-ngapain gue, telmi lo pada."


"Kalu dia nekat nimpuk lo pakai bola tenis dari belakang?"


"Gue timpuk balik."


"Kalau dia naruh racun dalam makanan lo, lo tamat gimana?


"Gue gentayangin dia sampai mati juga, kita lanjutin perang di alam barzah," entah siapa yang bertanya yang penting Inges menjawab.


"Kalau dia sekap lo di kamar mandi?"


"Ya di sana tugas kalian, nyariin gue."


Langkah teman-temannya kembli normal.


"Gitu ya Nges, jadi kita guna kalau lo di culik Rania?"


"Hm, sama waktu ulangan kalau gue ga bisa jawab."


***


Inges bingung sendiri melihat rolling door kantin yang tidak terbuka. Sight jobnya sebagai kasir kantin mendadak libur tanpa tahu alasannya apa. As sepertinya sedang ada acara sampai tidak buka hari itu.


"Ya udah deh kita balik," lemas suara Inges.


Tiga dayangnya mengikuti patuh.


"Gue bawa roti lapis, cukuplah buat kita berempat," pengakuan Nila membuat mereka bernapas lega.


Tidak belajar juga menguras tenaga mereka dengan hal yang tidak berfaedah sekalipun beberapa jam tadi.


"Minumnya?" Bages menyela.


"Gue bawa air," ungkap Pipit, "sisa pelajaran bu Laily kemarin ketinggalan di kolong meja."


"Gue mau bilang jijik, tapi ya sudah lah, yang penting basah."


Tawa mereka menguar.


Begitu tiba di kelas, pandangan mereka tersita pada benda di atas meja Inges. Wadah berwarna biru toska yang akrab di mata Inges, bertengger di sana.


Kayak jualan emak gue, batin Inges.


Tidak ada yang berani memegang lebih dulu, mereka duduk sesuai formasi awal.


"Ada kartunya,"bisik pipit, "di bawah."

__ADS_1


Inges mengangkat wadah itu dengan satu tangan. Membaca kartu di tangan yang lain.


It's Arya, enjoy!


__ADS_2