Cashier Wanna Be

Cashier Wanna Be
5 Rania


__ADS_3

Layaknya hari-hari yang dahulu, Inges berada di kantin saat itu namun kali ini lebih awal, sebelum tempat itu ramai dan penuh.


"Nges, bisa bantu mba As totalin nota-nota ini ga sebelum kita tempur?"


"Boleh mba, sering-sering aja kyak gini, Inges suka pakai kalkulator." jawab Inges yang langsung mengambil alih nota-nota dan mulai menekan tombol kalkulator dengan gerakan cepat dan bersemangat.


"Tambah mahir ya sekarang." seloroh mba As.


"Hm, udah terlanjur jadi hobi."


"Kayaknya tambah valid mau jadi kasir."


"Iya mba, libur semester besok saya mau masukin lamaran ke swalayan dekat rumah, kalau papa ngasih ijin sih." Inges masih bisa bekerja meski sedang bicara


Kelakuan Inges tertangkap sepasang mata elang yang sejak awal mengintainya tanpa Inges sadari. Murid laki-laki itu di kelilingi beberapa teman perempuannya, tapi mata dan pikirannya tertuju pada Inges yang sedang menghitung di balik etalase, membuat teman wanita si murid laki-laki jengah dan mengikuti arah pandang mata itu.


"Udah nih mba, totalnya udah Inges tulis, debit sama kredit juga, ada lagi ga yang mau di hitung?"


"Ada sih Nges, tapi nanti deh, udah banyak yang mau kesini tuh."


Mba As menunjuk gerombolan anak yang menuju kantin.


"Ya udah." Inges melepas buku besar, nota dan kalkulator di atas meja, mulai melayani para siswa yang ingin mengganjal perut mereka dengan menu dan jajanan yang tersedia di kantin itu.


Menit-menit berlalu, kerumunan makin bertambah, tempat itu tak juga sepi, mungkin karena jam pelajaran kosong semua murid tumpah ruah di sana. Inges sedikit kewalahan begitupun mba As dan seorang pegawainya, Ratna. Satu per satu para siswa di layani dengan sabar dan teliti, jika tidak begitu mereka bisa saja salah mengingat berapa jumlah uang yang di beri si pembeli.


Keringat Inges bercucuran, ia duduk di salah sati kursi dan bersandar dengan napas naik turun saat pengunjung kantin mulai surut. Hanya beberapa anak yang berdiri di depan etalase dan di layani mba As. Kipas angin berukuran sedang yang bertengger di tembok tidak banyak membantu. Inges perlu tambahan kipas dan minuman dingin. Wajahnya merah karena kepanasan.


Gerombolan anak perempuan datang mendekat di balik etalase, mereka sudah di sana sedari tadi, dan sedari tadi pula menyasar Inges.


"Nges ,minta air mineral dong." sebut salah seorang murid wanita.


"Sebentar ya, biar mba As yang ambil."


"Saya maunya Inges yang ambil mba As." ujar si murid.


"Udah mba, biar Inges yang ambilin," Inges bangkit dari duduknya, "Air mineral aja kak Rania?" tanya Inges ramah.


Rania tersenyum merendahkan melihat Inges menyodorkan air botol di atas etalase.


"Mau roti juga deh Nges," ujarnya lagi.


Inges mengambilkan roti di dalam salah satu etalase,


"Yang selai nanas," Inges berpindah ke etalase yang terdapat roti dengan selai nanas,


"Eh, mau yang coklat aja deh Nges," ujarnya lagi ketika Inges hendak menyerahkan roti selai nanas, Ingespun kembali ke etalase dan mengambil roti isi coklat.


"Hmm, rotinya ga jadi deh Nges, mau kripik kentang aja." ujar Rania yang mendapat hembusan kasar Inges, Inges berusaha sabar meladeni sang kakak kelas.


"Keripiknya mau rasa apa?" tanya Inges dengan nada sopan yang di paksa, giginya bergemeretak kuat.


"Yang rasa original ya Inges." jawab Rania dengan nada merendahkan.


Inges menyerahkan kripik kentang rasa oroliginal, " Ada lagi kak Rania cantik jelita?'


Inges sudah tahu, kakak kelasnya itu mau mengerjainya, tapi yang tidak ia mengerti kenapa tiba-tiba dia harus berurusan dengan salah satu siswa populer yang menyebalkan itu. Terlihat jelas Rania memandangnya tidak suka.


Kejadian itu tak lepas dari mata siswa lain yang ada di sana, termasuk Antox, Anggun, Pipit, Bages, Nila dan si murid baru.


"Minta mi goreng buat Tina, tapi Inges yang bikin ya!" ujarnya dengan nada merendahkan yang kentara.


"Kalau buat mi itu tugas Mba Ratna," sela mba As.


"Tapi saya mau Inges yang bikin mba As," Rania bersikeras.


Antox yang mendengar temannya di rendahkan merasa tersulut, ia bangun bereaksi.


"Inges!" teriak Antox dari tempat makannya.


"Bisa gabung sama kita di sini, kita ada rapat mendadak buat tentukan warna seragam MOS besok." ujar Antox dengan suara yang naik satu oktaf.


Nila, Bages, Pipit dan Sulton saling melirik bingung, rasa-rasanya mereka tidak sedikitpun membicarakan masalah yang di maksud Antox.


Inges tak kalah kaget, tapi ia mengerti Antox mau menyelamatkannya.


"Lanjut deh Tox, gue ngikut aja apapun hasil rapat." Inges menolak secara tak langsung pertolongan Antox.


Antox sedikit geram, membuat Anggun menggeleng tak mengerti.


"Lo mending ke sini, atau gue yang ke sana seret lo." ancam Antox.


"Eh Sawal, I can handle it."


Rania melirik sebal, , Antox makin geram. Perang tersembunyi itu di mulai.


"Jadi gimana mi gue?" tanya Rania ketus.


"Sebentar kak Rania sayang, mau Inges yang bikin kan? Di tunggu ya!" ujar Inges ramah.


Inges meninggalkan Rania dan teman-temannya menuju ruang lain untuk membuat pesanan Rania.


Di dapur kantin.


"Kakak ngapain?" Inges melihat si murid baru di depan kompor dengan air yang mendidih di panci.


"Kok bisa ada di sini?" tanya Inges bingung.


"Bikin mi goreng, satu lagi, panggil gue Arya." Inges bersandar di tembok menunggu Arya menyelesaikan pekerjaannya. Masalah yang ia hadapi kompor di dapur itu hanya memiliki satu tungku.

__ADS_1


"INGES, GUE GANTI PESANAN, BIKIN MI KUAH RASA SOTO!" ujar Rania dari luar dapur.


Inges mendengkus, Arya hanya tersenyum.


"Ga usah di dengar, biar aku kasih yang ini, dia pasti diam." kata Arya.


"Pantas, sekarang aku ngerti kondisinya." suara Inges dengan nada datar.


"Dia tadi gedor-gedor Nges, waktu mba As rebus air, dia maksa masuk." mba As tiba-tiba masuk dan menyahut.


Pintu belakang yang di pakai keluar masuk anggota dan pegawai kantin memang terhubung langsung dengan dapur kantin. Tidak ada yang menyadari Arya sudah ada di sana sejak tadi.


"Masnya murid baru itu ya, yang di omongin murid-murid cewek kalau nongkrong di sini?" tanya mba As penasaran.


"Jangan panggil mas dong mba, kok saya kayak tua banget."


"Udah kan mi-nya, biar aku..."


"Biar aku aja," sambar Arya cepat.


"Eh lho kok." Arya melewati Inges dengan mi goreng di tangannya. Inges mengikuti di belakang.


"Ini mi goreng kamu Rania." Arya menyodorkan sepiring mi goreng pada Rania.


Semua murid yang tersisa di sana terkesiap, Rania apalagi, dia sampai salah tingkah dan tersipu malu di pandang mata elang Arya.


"Kok Arya yang bikin ya, Inges udah malas ya jadi anggota kantin." kata Rania membuat Inges memutar bola mata mendengar namanya di sebut.


"Dia ga malas, memang aku sengaja bikin buat kamu." Inges mulai sebal melihat apa yang terjadi, ia berniat pergi dari sana tapi sebuah tangan menahannya.


"Tadi kamu mau ganti pesanan kan minta mi kuah, tapi aku sudah bikin mi goreng di dapur karena ga mau dia capek," Arya mengarahkan dagu pada Inges yang tangannya masih ia genggam. Inges berusaha melepaskan diri tapi Arya mengeratkan genggamannya.


Antox dan teman-temannya yang lain ikut menyaksikan kejadian langka itu.


"Jadi bisa ga mulai sekarang kamu ga ganggu atau usil lagi sama Inges!" kata Arya dengan nada lambat dan jelas pada Rania.


Semua mata di ruangan itu melihat pada Inges dan Arya, Rania terlihat tidak suka, begitupun Antox yang terlihat geram.


"Karena Inges baru saja setuju jadi pacar aku." sambung Arya yang begitu jelas tanpa keraguan. Membuat bola mata Rania hampir terlepas dari tempatny. Begitipun Antox, Pipit dan kawan-kawan Inges yang lain yang ada di sana merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Inges tertawa keras yang di buat-buat, menggema di ruangan itu, lambat-lambat suara tertawanya hilang berganti geraman, ia menghentakkan tangan tapi belum juga bisa lepas dari Arya.


"Ini ga lucu ya kak, bisa lepas ga?" bisiknya pada Arya, "Gue ga suka."


"Tentu saja, tapi nanti." bisik Arya pada Inges. Inges manarik napas dalam menahan emosinya.


"Bisa kan Rania, jangan ganggu Inges lagi?" Rania terlihat akan murka, wajahnya berubah merah menatap nyalang pada Inges.


"Mati gue." kata Inges pelan.


Rania pergi dari hadapan Arya dengan wajah penuh amarah, bagaimana bisa cewek sepopuler dirinya kalah dalam sekejap oleh seorang Inges untuk memikat Arya Mawwali Sa'id. Dibanding dirinya, Inges hanya murid biasa dan tidak populer. Siswa dan guru mengenalnya karena mengetahui Inges yang bercita-cita menjadi seorang kasir dan menjabat bendahara OSIS sejak kelas satu. Itu saja.


Para guru belum juga memasuki ruang kelas. Jam pelajaran masih di kosongkan hingga tengah hari. Tidak ada pemberitahuan pada siswa kapan rapat guru itu akan selesai.


Inges sudah berada di kelas. Begitupun teman-temannya yang lain. Pipit, Bages dan Nila kini mengelilinginya dengan wajah penuh tuntutan penjelasan tentang apa yang mereka dengar di kantin tadi. Inges tidak peduli dan mengabaikan ke tiga temannya, lebih memilih sibuk membaca buku cerita legenda yang ia pinjam di perpustakaan.


"Lo ga cerita, pertemanan kita bubar." Pipit bersuara paling awal.


"Kayaknya lo bakal jadi trending di sekolah deh Nges." kata Nila kemudian.


"Lo ga pernah cerita kenal lama sama kak Arya, pantes aja lo langsung move on dari Antox."


Inges memejamkan mata dengan perasaan kesal, ingin sekali berteriak pada tiga teman gaulnya itu.


"Dari tadi juga gue udah bilang gue ga kenal, tau namanya aja baru tadi,sumpah, ngapain gue bohong." jelas Inges untuk ke sekian kalinya.


"Kalian nanya lagi kita beneran berantem deh sekarang." sambungnya jengkel.


Ketiga temannya menarik napas dalam berjamaah. Mereka mulai menerima penjelasan Inges.


"Apa kabar lo besok-besok Nges kalau berurusan sama kak Rania, lo tahu kan gimana kasarnya dia kalau sama orang yang dia anggap musuh." kata Bages.


"Tau gue."


"Terus apa tindakan lo?"


"Ya kita lihat aja nanti, kan sekarang gue ga di apa-apain."


"Mikir apa tu lagi si murid baru, baru juga nongol di sini udah bikin rusuh, ga tahu apa Rania cewek brandal." umpat Pipit.


Alarm kewaspadaan seakan menyala otomatis di kepala ketiga teman Inges. Profil Rania sangat mereka hafal. Selain sebagai murid populer, Rania juga suka main kasar pada semua orang yang dia anggap musuh. Pernah ada murid yang keluar dari sekolah itu berkat di bully oleh Rania dan teman-temannya. Merasa berkuasa karena sang ayah sebagai orang terpandang dan penyumbang terbesar di setiap acara yang di adakan sekolah membuat Rania kadang lupa daratan dan bertindak semena-mena.


Mungkin itu pula yang membuat Antox ingin menyelamatkan Inges tadi. Mereka tidak ingin Inges berurusan dengan kakak kelas brandal itu.


Satu jam sebelum jam pulang yang seharusnya, bel panjang berbunyi nyaring. Sesuai dugaan para murid, rapat guru kali ini akan berlangsung lama dan mereka pastinya akan pulang lebih cepat. Kegaduhan tak terelakkan. Teriakan kesenangan menggema di seantero sekolah. Salah satu kesenangan yang hakiki sebagai siswa sekolah selain guru yang tidak datang mengajar adalah jam kepulangan yang di percepat. Kenikmatan yang jarang mereka alami.


Inges masih berada di kelas dengan ke tiga temannya. Pipit, Bages, dan Nila bisa saja pulang lebih dulu karena mereka mengendarai motor sendiri. Tapi meninggalkan Inges sendiri yang belum di jemput, setelah tersangkut masalah dengan Rania, sepertinya bukan pilihan yang tepat.


"Kita tungguin lo sampai kak Ganny datang."


"Coba lo telpon lagi Nges."


Inges mencari kontak sang kakak, berharap telponnya di angkat kali ini.


"Hallo kak Gan, bisa jemput sekarang?"


Teman-temannya bernapas lega, panggilan Inges di terima.


"Masih ada kelas? Inges pulang cepat nih."

__ADS_1


Mereka kembali tegang, kenyataan tak sesuai harapan.


"Oke gue pakai taksi, tapi jangan salahin gue lo di semprot mama di rumah Ganny Eurondra Permana." ancam Inges menjawab sang kakak.


"Ya udah minta tolong kak Yudhi kalau gitu, cepetan!" Inges menutup sambungan.


"Jadi siapa yang mau jemput lo?" tanya Pipit.


"Kak Yudhi, temen kak Ganny."


Wajah ketiga teman Inges terlihat lega.


Tak lama Antox datang dari arah pintu mendekati Inges yang masih berkumpul.


"Nges, gue antar pulang ya?"


Semua tatapan tertuju pada Antox yang sedang membuka helm full face-nya.


"Mimpi apa lo."


"Inget Anggun woy."


"Pahlawan kepagian."


Sahut ke tiga teman Inges.


"Sorry Tox gue ga suka pakai motor, muka gue rada sensitif kalau kena debu," jawab Inges berbohong, "Lagian jemputan gue udah on the way, lo lanjut aja."


Meski Inges terdengar merendahkannya Antox tak ambil pusing, keselamatan Inges yang paling utama saat ini.


"Serius lo udah ada yang jemput?" tanyanya lagi.


"Hm, tanya aja mereka." jawab Inges.


"Ya udah, gue duluan kalau gitu."


Antox berbalik meninggalkan Inges dan ketiga temamnya.


"Apa perasaan gue aja ya, Antox berubah sejak tadi dia dengar ungkapan lo."


"Gue curigation dia bakal mutusin Anggun terus nembak lo."


"Gue juga mikir gitu, waktu kejadian di kantin tadi, Antox kayak marah gitu dengar kak Arya ngumumin lo jadi pacarnya Nges."


Ujar ke tiga teman Inges bergantian.


"Guys guys guys, please ya jangan ngelantur, gue udah cukup pusing hari ini." kata Inges menanggapi sambil memijit pelipisnya, "Kalian kalau mau pulang, mending pulang aja deh!"


"Punya ilmu bela diri lo kalau kak Rania nyerang tiba-tiba?"


"Lo kira gue bocah tiga tahun apa, udah deh kalian pulang aja, gue nunggu jemputan di depan, dan kak Ranis ga mungkin senekat itu mau nyerang gue, kalian parnonya kebangetan."


Inges segera beranjak diikuti ketiga temannya meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi sejak tadi. Mereka berpencar ketika tiba di halaman tengah sekolah, Inges menuju lobi, yang lain menuju parkiran motor.


Di lobi, Arya sudah menunggu Inges yang kemudian berdiri dari duduknya setelah melihat kedatangan Inges.


"Ya Tuhan, panjang banget sih drama hari ini." gumam Inges kesal.


Inges terus berjalan berniat melewati Arya tanpa mau repot-repot menyapa pria itu. Arya tak tinggal diam. Kali ini dia merentangkan tangannya menghadang Inges.


"Apa lagi sih?" ucap Inges dengan suara lemah, sepertinya ia memang benar-benar pusing dan lelah. Di tambah lagi Inges lupa dirinya belum makan karena sibuk meladeni Rania tadi.


"Kamu sakit?" Inges menepis pelan tangan Arya yang mencoba menggapai keningnya.


"Misi ya kak."


"Oke, kita ga pulang bareng,"ucap Arya membatalkan niatnya mengantar Inges, "Tapi lo nunggu jemputannya di sini aja, lo sakit, gue cariin minum."


Kali ini Inges menurut, dirinya memang sakit dan tidak berdaya menolak. Tidak ada yang tahu jika Inges mengalami stres dan telat makan bisa mengganggu kesehatannya. Dan sekarang dia mendadak pusing.


Inges duduk di bangku panjang yang tersedia di lobi, sementara Arya mencari minuman untuk Inges yang sudah tidak bertenaga. Jarak lobi dan kantin yang cukup jauh membuat Arya harus berlari agar bisa kembali lebih cepat.


Inges duduk bersandar menahan pusingnya yang semakin hebat. Bisa jadi ia kan tidur di sana.


"Wah jago akting juga ya lo cewek kasir." Inges membuka mata, masalah baru mendatanginya.


"Gue ga nyangka di balik tampang polos lo, lo ternyata bisa selihai itu ngerayu kakak kelas." Inges di kelilingi Rania dan antek-anteknya. Mereka menatap jijik dan tidak suka pada Inges.


Inges membuka mata menegakkan badan,


"Percaya deh kak, Inges ga ada hubungan apapun sama kak Arya, kalau mau kakak rayu balik deh kak Arya, nanti juga pasti mau sama kak Rania."


Rania berdecak sebal, tangannya tiba-tiba meraih kerah baju Inges dan menariknya kasar, "Bacot lo ya, udah berani lo nyautin gue." teriak Rania marah. Sialnya tidak ada satpam yang berjaga di sana karena mengatur lalu lintas para siswa yang pulang dengan motor.


Inges makin sakit, dia benar-benar tak bisa melawan.


"Sebentar lagi kak Arya datang, kalau dia lihat lo kasar gini dia bakal ilfeel, percaya sama gue, behave kak." hasut Inges, itu satu-satunya cara yang terpikir agar Rania melepasnya.


Rania berpikir, menimbang perkataan Inges, tangannya tak juga terlepas dari kerah baju Inges malah semakin di eratkan.


"Gue pegang kata-kata lo kalau lo ga punya hubungan atau rasa sama Arya, paham?"


Inges, memejamkan mata menyanggupi ancaman Rania, cengkraman wanita itupun terlepas, dan Arya tiba di sana dengan napas tersengal.


"Astaga Inges, lo beneran sakit nih, mana minumnya Arya, tadi gue udah nawarin Inges tapi dia bilang lo udah ngambilin." ucap Rania manis nan ramah, berubah drastis di depan Arya.


"Makasih kak Rania udah perhatian sama Inges, kak Rania emang baik." tanggap Inges dengan rasa muak yang tertahan.


Arya memindai apa yang terjadi, dia tidak sebodoh itu untuk langsung percaya.

__ADS_1


__ADS_2