
Inges berjalan malas menyusuri lorong panjang dengan deretan kelas-kelas hening yang di isi suara seseorang guru yang menjelaskan materi di depan kelas. Di saat murid lain berada di kelas, duduk manis dan medapat ilmu dari seorang guru, Inges harus keluar dari kelas menuju perpustakaan demi melaksanakan tugas mulia meringkas tiga bab materi pelajaran sejarah sebagai hukuman atas keterlambatannya datang ke kelas pak Mar'ah, guru sejarahnya. Dia benar-benar mewujudkan perkataannya yang ingin di hukum hari itu. Toh jika ia memaksakan diri mengikuti pelajaranpun, sudah pasti ia akan tertidur dan akan mendapat hukuman yang lebih parah. Jadi istilah 'Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali' tidak berlaku baginya. Ia memilih terlambat, menerima hukuman di awal, itu lebih baik. Meski celakanya, dia akan mendapat nilai di bawah KKM untuk pelajaran sejarah.
Inges menggeram saat mengingat bagaimana tawa mengejek yang di lemparkan teman-temannya saat pak Mar'ah menjejalnya dengan ceramah singkat, di saat yang sama Pipit mengucapkan kata ****** tanpa suara yang bisa ia lihat dari ekor matanya.
Sahabatnya itu memang kadang keterlaluan, tapi mereka sudah jengah dengan tingkah Inges yang masih saja mengharapkan Antox yang secara terang-terangan menolak Inges setiap Inges menarik perhatian ketua OSIS itu. Dan sekarang adalah puncaknya, Antox, meski secara tidak langsung, sudah mendeklarasikan hubungannya dengan Anggun, dan secara tersirat menyatakan 'berhenti berharap dan lupakan aku Inges'. Begitu kira-kira pesan Antox yang di tangkap Inges.
Inges melepaskan sepatu begitu tiba di depan pintu perpustakaan. Mengeluarkan desahan kasar dan putus asa. Bu Wati menyambutnya dengan senyuman, seperti sudah tahu kenapa Inges ada di sana saat jam pelajaran berlangsung. Empat puluh lima menit paling menyebalkan dalam hidupnya akan di mulai sekarang. Andai ia bisa merubah materi sejarah itu untuk meringkas cerita legenda kesukaannya saja seperti cerita Ken Dedes, Nawang Wulan atau kisah Putri Mandalika mungkin akan lebih menyenangkan dan membuat matanya betah terbuka.
Inges meletakkan buku catatan dan sebuah buku paket di atas meja. Melangkah menuju salah satu rak mencari buku referensi yang di minta pak Mar'ah sebagai tambahan untuk di ringkas. Pelajaran sejarah masa lampau, harus seribet ini. Kenapa selogan yang lalu biarlah berlalu dalam kurikulum pendidikan khusus pelajaran ini. Inges merasa kejengkelannya meluap. Dan hebatnya, buku yang ia cari berada di tingkatan paling atas. Seperti mengejeknya, buku itu bertengger mengolok-olok Inges yang tinggi badannya tidak mungkin mencapainya meski sudah berjinjit maksimal. Lengkap sudah penderitaannya. Inges menyerah, sebelum akhirnya sebuah dada bidang menabrak halus bagian belakang tubuhnya.
Inges berjingkat kaget, ingin berbalik tapi sebuah tangan menahannya. Tangan itu bertumpu ringan di pundaknya. Untuk beberapa saat waktu seperti berjalan lambat. Meski samar, Inges bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur aroma tubuh seseorang yang kini mengambilkan buku yang ingin ia raih tadi.
"Mau ambil buku yang ini?"
"Ah, iya." Inges mengingat-ngingat kemungkinan dirinya mengenal suara itu atau tidak, nihil. Inges berbalik. Mereka berhadapan. "Terima kasih." ucapnya dengan senyuman. Asing, Inges tidak mengenali siswa yang menolongnya. Bukan adik kelas, tidak mungkin teman seangkatan, tapi tidak pernah melihatnya juga di deretan kakak kelas. "Permisi." Inges melewati si siswa tanpa berniat melakukan pembicaraan lagi.
Siswa itu tersenyum miris saat Inges melewatinya begitu saja. Aneh. Ia merasa tersinggung, kenapa wajah rupawan nan tampannya tidak berfungsi dengan baik di depan Inges. Meski mereka belum saling mengenal, setidaknya tadi ia cukup percaya diri bahwa Inges akan mengajaknya bicara lebih lama, lebih lama dari sekedar berucap terima kasih.
Siswa itu duduk berjarak satu bangku dari Inges. Berdecih. Inges tak juga merasa terusik dengan kehadirannya. Apa kabar tampang keceku? Begitu bunyi tanya dalam hatinya. Merasa tidak di tanggapi, siswa itu berpindah pada kursi tepat di samping Inges.
"Mata kamu sakit, rabun?"
Berhasil. Inges menoleh, menghentikan tangannya menulis ringkasan.
"Minus setengah, kenapa?" jawab Inges polos.
"Pantes."
"Tapi masih oke kok biarpun aku ga pake kaca mata atau softlense." jawab Inges lagi, dan kembali menulis.
"Kamu kelas berapa?"
"Dua."
__ADS_1
"Ga sopan."
Inges menoleh, "Maksudnya?"
"Tanya balik dong!"
Inges diam beberapa saat melihat pada si siswa yang sepertinya murid baru, kemudian menulis lagi pada buku catatannya tak peduli permintaan siswa laki-laki itu.
"Aku udah nolongin kamu lho." kata murid itu lagi merasa di abaikan.
Inges diam lagi, kali ini mengeluarkan desahan kasar.
"Aku tadi sudah bilang makasih lho kalau kamu lupa, jadi kamu maunya apa? Kalau ga ikhlas ya udah aku balikin lagi buku ini ke tempat yang tadi, aku bisa ambil pakai kursi, tadi memang niatnya aku mau ngambil kursi tapi keburu kamunya dateng tau ga sih." ungkap Inges sedikit jengkel, ia ngos-ngosan dan sepertinya itu kalimat terpanjang yang ia ucapkan seumur hidup.
Siswa itu tertawa sedikit keras, untungnya tidak ada murid lain selain mereka di sana, hanya bu Wati yang mengawasi dan sesekali menggeleng melihat tingkah mereka, Inges memutar bola matanya malas kemudian mencatat lagi ringkasan sejarahnya.
"Oke, kamu menang."
Di luar dugaannya siswa itu duduk diam dan manis. Membiarkan Inges menulis dengan tenang sambil sesekali melihatnya. Awalnya Inges risih, tapi diabaikannya mengingat wajah sang guru sejarah nanti yang akan marah kalau ia tidak meringkas dengan baik, sesuai namanya, Mar'ah.
***
Tepat pukul tiga siang, Inges keluar dari ruang OSIS setelah rapat selesai. Ia sudah ingin keluar sedari tadi karena melihat kehadiran Anggun mengikuti rapat itu meski bukan termasuk anggota OSIS. Apa lagi alasannya kalau tidak menemani sang ketua OSISnya, menjadi pacar setia, membuat mata-hati Inges sakit-sakitan selama rapat berlangsung. Ia ingin melayangkan protes tapi takut terlihat menyedihkan. Hanya giginya saja yang digemertakkan dan menjawab malas-malasan saat Antox bertanya masalah keuangan.
Inges bersandar di bawah pohon flamboyan menunggu jemputannya datang. Sesekali mengipasan tangan di depan wajah karena kegerahan. Sebuah mobil Honda Jazz keluaran terbaru yang tidak ia kenali sebagai mobil yang aka menjemput, berhenti di depannya. Perasaan ayahnya tidak membelikan mobil baru untuk kakaknya Ganny. Tiba-tiba saja si empunya mobil itu keluar.
Tebak siapa! Jeng jeng jeng
"Mau ikut aku sekalian?" tanya siswa baru itu penuh keyakinan. Ia bersandar pada mobilnya sambil membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
Kenapa orang ini selalu muncul di depannya? Kenapa mereka bisa pulang di waktu yang sama? Tapi kalau dugaannya tidak salah kelas tiga memang pulang lebih terlambat dari jam yang seharusnya karena harus mengikuti les tambahan.
Dugaannya benar, sepertinya siswa itu kakakkelasnya. Beberapa kakak kelas wanita yang melihatnya di hampiri berbisik-bisik tidak jelas melewati Inges dan murid baru itu.
__ADS_1
"Enggak deh, makasih. Udah ada yang jemput." tolak Inges halus. Berusaha sopan daripada nanti di protes lagi. "Silahkan duluan!" usirnya lebih halus lagi.
"Kamu yakin? Lagi panas lho ini."
"Yakin kok, yakin banget malah."
"Memangnya siapa yang mau jemput kamu?"
Inges mengeluarkan geraman tertahan. Hari ini cukup berat baginya dengan kejutan Antox, hukuman pak Mar'ah, dan usikkan mirid baru, sekarang di tambah lagi, bonus menyebalkan mungkin.
Inges diam saja merasa tidak punya kewajiban menjawab pertanyaam itu.
Siswa itu berdecih kesal dengan pengabaian Inges.
"Lihat mata orang yang ngajak kami ngomong, itu baru sopan." ceramah siswa itu.
Inges masih diam, kali ini dia akan benar-benar bertingkah menyebalkan, bodo amat.
"Eh, kamu beneran ga mau jawab, ga mau aku antar pulang, nanti kamu nyesel lho." ujarnya lagi dan berhasil membuat Inges menambah rasa jengkelnya.
"Makasij lho tawarannya, tapi Inges beneran ga mau, ga minat malah, kakak pulang aja, ga apa-apa, saya sudah ada yang jemput." kali ini Inges menjawab dengan suara halus manja yang di buat-buat layaknya drama, yang ia rasa orang akan jengkel juga mendengarnya.
Siswa itu mengeluarkan tawa seperti di perpustakaan tadi. Inges cuek bebek.
"Kamu lucu, aku suka kamu." kata siswa itu di sela tawanya, tapi Inges menulikan telinga.
Mobil Avanza berwarna putih berhenti di depan mobil Brio hitam. Kaca penumpang mobil itu di turunkan. Kepala kakaknnya muncul dari sana.
"Kasir, ayo pulang!" panggil Ganny dengan suara cempreng menyebalkan.
Inges menegakkan badan, "Duluan," ucapnya pada sang kakak kelas yang belum ia ketahui namanya.
Siswa itu masih memperhatikan Inges yang berjalan menjauh. Sepercik rasa tertarik muncul di hatinya. "Kasir?" gumamnya pelan, "Bukannya tadi dia sebut namanya Inges?" tertawa pelan "Menarik."
__ADS_1