
" yang pasti tidak mungkin dengan putra sulung Yang jelek dan cacat. Dia tidak waras dia tidak mungkin akan menikah. Kau akan menikah dengan putra kedua. Sudah tidak usah menangis lagi" Rara mengatakan ini dengan ekspresi yang sangat serius
Merasakan tekanan batin yang sangat berat membuat Alleta tidak bisa bahkan hanya untuk sekedar tersenyum.
Apa pilihan hidupnya hanya sebatas menyetujui? Atau apakah dia punya kesempatan untuk lari?
Waktu begitu cepat berlalu. Entah sejak kapan keputusan itu dipilih.
Tok! tok! tok!
" masuk" sahut Alleta
Nyonya Rose masuk membawa gaun yang begitu cantik dan anggun dan memberikannya kepada Alleta.
" Alleta... Malam ini kita harus bertemu dengan tuan besar Wilson. ayahmu memberikan gaun ini untukmu. Pakailah gaunnya,, ibu akan merias wajahmu" Nyonya Rose mencoba tetap tenang saat mengatakan ini.
" terserah..." jawab Alleta datar
" Alleta ..."
nyonya Rose mencoba untuk tidak memberi jarak dengan Alleta. Bertahun tahun lamanya Alleta putri tirinya yang dia anggap seperti putri sulungnya bahkan sedikitpun tidak pernah memberinya muka. Meski begitu ia tidak pernah patah semangat, Nyonya Rose hanya berharap suatu saat Alleta akan tau bahwa betapa besar cintanya untuk gadis itu. Dia tau Alleta adalah gadis yang baik, hanya saja mungkin dia butuh waktu menerima Semua yang terjadi.
__ADS_1
" sudahlah.. Tidak usah bersandiwara lagi,,, anda senangkan kalau saya pergi dari rumah ini" Alleta mengatakan ini dengan tersenyum sinis
" Alleta maafkan ibu...." Nyonya Rose tidak tau harus mau ngomong apalagi
" ibu..?"
Nyonya Rose ketika mendengar kalimat ini keluar dari bibir Alleta, terdiam mematung beberapa saat. Bertahun - tahun untuk pertama kalinya putrinya ini memanggilnya ibu. Namun kalimat berikutnya membuat ia tersadar kembali.
" jika anda ingin saya memanggil anda ibu, maka lakukanlah ini untukku" Alleta mecoba untuk memprovokasi ibu tirinya.
" apa yang harus aku lakukan?" tanya Nyonya Rose
saat mengatakan ini, Alleta tidak bisa bahkan untuk bernafas dengan baik, dia tau ini mungkin sangat sulit untuk ibu tirinya.
" Alleta.. Maaf,, Aku tidak bisa melakukan ini. Orang yang kita hadapi saat ini bukan Orang sembarangan. Jika kita bermain - main dengan mereka, aku tidak akan menjamin konsekuensi apa yang akan kita terima. Ini adalah pilihan yang baik untukmu saat ini, Jadi pikirkan ini baik - baik. Kau mungkin membenciku karena hal ini, tidak masalah,,teruslah seperti ini.. Ini juga lebih baik"
Nyonya Rose mengatakan ini dengan perasaan yang pasrah setelah itu dia meninggalkan Alleta yang tertegun mendengar kalimat terakhir dari ibu tirinya.
tampa terasa air mata Alleta jatuh begitu saja, dia benci ibu tirinya yang selalu baik kepadanya, bahkan sampai saat ini dia mencoba untuk membuat ibunya membencinya tapi nyatanya ibu tirinya selalu baik kepadanya.
Andai saja perempuan itu bukan ibu tirinya, Alleta tidak akan pernah membencinya sedalam ini. Dulu pada saat ayahnya belum menikah dengan ibu tirinya dia begitu menyayangi Alleta bahkan perhatiannya tidak pernah teralihkan.
__ADS_1
Alleta gadis itu begitu bahagia setiap harinya. Kebahagiannya itu hilang semenjak ayahnya menikah lagi. Dia merasa perempuan yang menjadi ibu tirinya saat ini telah merenggut semua kebahagiannya. Terlebih setelah kehadiran adik tirinya, seakan kebencian itu memupuk dalam dirinya.
Selama diperjalanan, didalam mobil Alleta tidak mengatakan apapun.,hanya perasaan yang sangat cemas yang ada dalam dirinya saat ini.mereka diantar oleh supir pribadi menuju kediaman tuan wilson.
Sebuah bangunan yang sangat luas dan menjulang tinggi ini sungguh sangat luar biasa. Di ibu kota bahkan tidak ada seorangpun yang punya kediaman semewah ini.
" di depan keluarga tuan Wilson, pasanglah muka yang enak dipandang! Jangan sampai ekspresimu itu membuat malu keluarga kita." ketus tuan wilson melihat wajah putrinya yang cemberut.
"ayo...ayo kita masuk"
beberapa orang pengawal dan pelayan di keluarga wilson berlarian menyambut kedatangan calon menantu keluarga besar tuan dan Nyonya Wilson.
" mari Tuan, Nyonya dan Nona muda." semua orang membungkukkan tubuhnya untuk mereka, benar - benar penyambutan yang luar biasa.
" aku akan menyusul, aku,, aku sangat gugup, bisa tinggalkan aku sendirian dulu?" sebenarnya Alleta saat mengatakan ini tidak benar - benar gugup. Dia hanya beralasan untuk mencari celah agar terhindar dari perjodohan konyol yang ia benci.
Menurutnya kesempatan ini tidak akan datang kedua kali, dan dia tidak akan mau kehilangan momen yang berharga ini. Para pengawal juga tidak mengikutinya dan dia berjalan menjauh setelah mendapatkan kesempatan yang bagus ini.
" yang benar saja! Aku bahkan tidak mengenal pria itu, tapi harus menikahinya demi menyelamatkan perusahan." gerutu Alleta .
Dia bahkan tidak peduli seberapa pengaruhnya keluarga itu. Apa memang tidak punya pilihan lain? Meskipun ayahnya dan tuan Wilson berteman sejak lama, dia tidak berfikir perjodohan ini akan terjadi . Bukankah seharusnya perjodohan ini terjadi karena hubungan pertemanan? Kenapa malah menjadi jaminan untuk menolong sang ayah? Pertemanan yang sangat aneh, pikir Alleta.
__ADS_1