
Alleta hanya mengikuti wanita yang memimpin didepannya, mengarah ke kamar utama yang tempatnya paling besar di mansion ini.
" sebelah sini Nyonya " ucap seorang pelayan sambil mengulurkan tangan ke pintu utama guna menyambut Alleta.
" anda tunggulah disini, kami akan segera kembali"
Ujar sang pelayan dan pergi dari situ di ikuti oleh pelayan lainnya.
Kamar ini begitu mewah dan indah, hanya saja disini tidak ada bunga, tidak ada warna, dan tidak punya cahaya yang cukup. Tampak tidak berseri, gelap bahkan sangat jauh dari yang di bayangkan gadis itu.
'bahkan kamar ini benar - benar seperti tuan muda Elliot.' Alleta membatin
Alleta yang semakin kalut Karena tidak bisa lari menemukan sebuah ide yang cemerlang. Tidak peduli Malam ini dia tidur di tengah hutan tampa ada sinyal ponsel yang penting dia tidak mau melewati malam pertama dengan pria yang katanya lebih kejam dari psikopat dalam drama yang pernah ia tonton di tv.
" maaf, bisakah aku kembali ke mobil sebentar?" tanya Alleta pada beberapa pengawal yang sedang berjaga disana.
"apakah ada sesuatu yang tertinggal Nyonya? Biarkan kami yang mengambilnya untuk anda" ujar sang pengawal dengan sopan.
" tidak,,, ini sesuatu yang sedikit pribadi. Gelang pemberian ibuku mungkin jatuh di dalam mobil saat aku turun tadi."
mendengar itu para pengawalpun menyetujuinya. Karena Bagaimanapun itu adalah sesuatu yang berharga bagi Alleta.
"silahkan Nyonya kami akan mendampingi anda"
Satu menit, dua menit bahkan sudah hampir sepuluh menit mencari. Alleta hanya pura - pura tidak menemukan benda yang sebenarnya tidak ada. Ya, sebenarnya gelang itu hanya sebuah alasan agar dia bisa mengelabui para pengawal.
" Nyonya... Jika gelang itu belum ditemukan, biarkan kami yang mencarinya. Mohon Nyonya membali kekamar pengantin!" ujar sang pengawal sedikit memerintah.
" itu....tidak bisa, harus aku yang menemukannya." ujarnya terbata.
'aaiisss.. orang - orang ini tidak bisakah berhenti mengikutiku?' batinya mengeluh.
__ADS_1
Saat semua orang dibuat sibuk setenga mati olehnya. Gadis itu benar- benar melakukan apa yang ada dalam pikirannya. Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa dalam hati ia sudah mulai menghitung. Satu, dua dan.....
" Nyonya!!"
" Nyonya muda mencoba untuk kabur, cepat kejar dia! Dan bilang pada pengawal di belakang untuk tidak membiarkanya lolos keluar."
semua orang dihebohkan dengan pengantin wanita yang ingin kabur.
Alleta sembari menenteng ππͺπ¨π© π©π¦π¦ππ΄ yang ia lepas, mengangkat gaunnya tinggi ia terus berlari mengikuti kemana langkah kaki membawanya. Ia tidak mau hidupnya berakhir menjadi istri dari pria yang mengerikan dan hidup tampa sosialisi dihutan ini.
"cepat itu dia!!"
' sial! mereka bahkan tidak menyerah untuk menangkapku' Alleta membatin.
Gadis itu bahkan bisa melompati papan yang cukup tinggi dan mengangkat gaunnya tampa keanggunan sama sekali.
Melihat pohon besar menjulang tinggi bagaikan dewa penolong untuknya. Ia buru buru meprangkak dan ingin bersembunyi di balik pohon besar itu dalam kegelapan. Namun lagi- lagi takdir tidak berpihak padanya. Kakinya tidak sengaja menginjak duri, dan..
"itu disana, ayo cepat temukan dia kalau tidak kita bisa di penggal kalau membiarkanya kabur."
Alleta begitu terkejut mendengar ucapan Para pengawal itu. Apa mungkin mereka benar - benar dipenggal jika pengantin wanitanya kabur? sungguh sangat mengerikan. Namun Alleta tidak begitu peduli yang ia pikirkan saat ini ialah bagaimana caranya agar cepat pergi dari sini. Alleta sempat mencabut duri dari kakinya dan merobek ujung gaun yang dia pakai untuk mengikat kakinya yang sakit. Lalu ia berdiri dan membuang ππͺπ¨π© π©π¦π¦ππ΄ ke sembarang arah dan kembali berlari.
" ayo Alleta semangat, kau pasti bisa" batinya menyemangati.
Tampa terasa langkahnya membawa dia kesebuah tempat tersembunyi di belakang rumah utama.
" cepat kejar dia! Dia pasti berada disekitar sini"
Derapan langkah terus mendekat dan semakin ramai. Dan dalam keadaan mendesak dengan segala kepanikan, dia masuk begitu saja pada sebuah ruangan yang mirip perpustakaan.
Tempat ini begitu sunyi, hanya ada buku, cahaya lilin dan juga pintunya yang tidak terkunci.
__ADS_1
"dimana dia? Tadi ada disini?!"
suara ribut Para pengawal yang berada diluar membuat jantung Alleta hampir mau copot. Seketika lututnya terasa lemah, dengan tenaga yang tersisa ia menyandarkan tubuhnya di pintu agar semakin tertutup.
Satu detik,dua detik bahkan hampir satu menit tidak ada suara apapun, dia berpikir keadaannya sudah cukup aman. Tapi tiba - tiba...
" siapa kau?" suara yang begitu jantan membuat jantungnya berhenti berdetak.
" siapa kau yang berani masuk kemari?" sebuah belati mirip pedang terulur didepan mata gadis itu. Sekilas dia melihat wajah itu, wajah yang sangat tampan bahkan melebihi tuan muda kedua.
Warna bola matanya sangat hitam samar - samar memancarkan segelintir aura dingin.
Wajah yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Akan tetapi sang pemilik wajah buru - buru menutupinya dengan lengan kemeja. Alleta tidak bisa bahkan hanya untuk berkata - kata. Dalam penerangan yang tidak cukup dia masih bisa melihatnya dengan jelas. Pria ini bertubuh tinggi, berbadan atletis, tubuhnya dipenuhi dengan otot - otot yang seksi juga mata setajam elang yang sangat indah dan menawan. Rahang yang tegas juga suara yang berat dan kas, benar - benar seperti malaikat.
"siapa kau yang berani masuk ke ruangan ini?" sekali lagi pria itu bertanya dan menodong pisaunya lebih dekat ke wajah Alleta.
Tapi gadis itu seakan tidak takut, ia masih diam dalam keterkejutannya.
"Bukankah ini potongan gaunnya. Dia pasti ada didalam"
suara para pengawal menghancurkan momen yang berharga ini. Pria itupun menarik kembali belatinya dan buru- buru berlari ke sisi lain ruangan itu.
Brukk!
Laki - laki itu bahkan menabrak sebuah lemari yang jelas - jelas ada didepan mata. Meski pencahayaan disini tidak cukup terang, tetapi lemari itu masih bisa dilihat dengan jelas.
"Nyonya mengapa anda berlari..."
" aku,,, aku rasa aku baru saja melihat hantu.."
"hah?" para pengawal yang berhasil masuk kedalam ruangan itu mendapati Nyonya muda termenung dalam diam.
__ADS_1