
Isma Adirafarha, seorang gadis cantik berjilbab berusia 19 tahun yang suka bermain video musikali. Dia selalu goyang-goyang disana untuk menghibur dirinya dan orang lain. Dengan pesona kecantikannya itu tentu saja banyak pengikutnya di akun sosial medianya.
Pip... Pip... Calon mantuuuu... Pip... Pip... Calon mantuuu...
"kyaaaaa!!! Cantik bet" komen seorang pria pengikut setia videonya.
Sorry bang jago, ampun bang jago,,, tew,,,tew,,, tew.
Tapi membuat video seperti itu hanya dilakukannya di waktu luang saja, Dia juga bekerja di sebuah toko ponsel dan laptop.
"kamu itu. Suka bener goyang - goyang kayak gitu?"
"emangnya kenapa atuh abah?"
"yah ajak abah atuh"
"oh ya udah atuh hayukk"
Akhirnya merekapun berjoget bersama.
Hingga setelah selesai, akhirnya merekapun duduk bersama.
"Isma, katanya kamu maling jambu mang Oleh lagi yah?"
"hah kata siapa bah?"
"kata Wati"
"eh masa orang se sholehah Isma, nyolong jambu atuh bah?"
"minggu kemarin juga, Abah lihat kamu maling kedongdong mang udin"
"eh?" kaget Isma "hehe" diapun terkekeh.
"gak boleh gitu atuh. Dosa"
"enggak Dosa atuh bah. Kan itu tumbuhan milik Allah, jadi bebas dong untuk semuanya"
"kamu ini melawan mulu"
"bah, aku mau ke teman - teman dulu yah.." Ismapun pergi meninggalkan Abahnya.
"eh tunggu..." Abah Dadang berusaha menghentikan Isma. Tapi dia tak terhentikan.
"hahhh... Bagaimana aku mengajarinya, Aida" bingung Abah Dadang menatap foto almarhumah istrinya.
*****
*****
"Wahah Alhamdulillah. Akhirnya aku telah selesai menuntut Ilmu di pesantren ini" Ucap Yuda dengan semangat keluar dari gerbang pesantren.
"sekarang aku tinggal melakukan sunah rosul, yakni berdagang atau berbisnis untuk mendapatkan tujuh dari sepuluh rizki ku"
Yudapun berniat pergi menuju pamannya di Bandung, bernama Naufal. dia sudah tahu ingin berbisnis apa. Dan bahan - bahannya bisa dia dapatkan di tempat pamannya itu. Diapun menaiki mobil truk pengangkut barang untuk pergi menuju pamannya itu.
Ketika Truk itu sudah sampai di Bandung, Yudapun harus turun karena berbeda arah. Dan terpaksa harus berjalan melanjutkan perjalanannya itu.
Dan ketika di perjalanan, Yudapun menginjak permen karet di sepatunya. Iapun lalu memetik sebuah ranting pohon kecil untuk membantu menghilangkan permen karet itu.
Setelah permen karet itu sudah terbuang. Yudapun menatap ranting itu.
"HAHHHH!?" teriak Yuda.
"Astagfirullah, ampuni aku ya Allah" ucap Yuda mengangkat kedua tangannya berdo'a berharap tuhan mengampuninya.
"seharusnya aku ijin dulu pada pemiliknya. Aku seharusnya tidak lancang memetik ranting ini. Aku harus minta maaf pada pemiliknya" ucap Yuda.
Kemudian ia pun melihat seorang ibu - ibu yang melewatinya. Diapun memanggilnya, ibu itupun berbalik.
"ada apa jang?" tanya Ibu itu.
"anu... Pemilik pohon ini siapa yah?"
"Oh itu milik Haji Dadang, rumahnya udah pindah di desa Cilepeng, di desa sebelah"
"Oh begitu. Makasih ya bu"
__ADS_1
"emangnya ada apa?"
"ini bu aku teh udah lancang memetik ranting pohon untuk membuang permen karet yang aku injak"
"atuh padahal mah gak apa - apa atuh"
"eh gak bisa gitu atuh ibu. Nanti kalau pak Haji Dadangnya gak ridho gimana? Nanti di pertanggung jawabkan di akherat atuh"
"oh iya atuh kalau gitu mah. Saya mau ke warung dulu"
"oh iya ibu. Hati - hati yah"
"iya. Makasih yah"
"iya"
Yudapun melangkahkan kakinya. Namun iapun membalikan badan dan memanggil ibu itu lagi.
"iya apa lagi?"
"Desa Celepeng teh ke arah mana?"
"tinggal lurus, Jang"
"Oh" Yuda beroh ria.
"Kenapa gak pake HP atuh? Kan jaman sekarang udah canggih"
"iya juga ya" Yuda baru sadar. Yudapun segera mengambil HP nya di tasnya.
"makasih ya bu"
"iya, sama - sama" jawab ibu itu.
Ibu itupun kembali membalikan badannya. Namun Yuda memanggilnya lagi. Ibu itupun membalikkan badannya.
"apa lagi atuh?" rengek Ibu itu.
"ini" Yuda memberikan sebuah bingkisan.
"apa ini?"
"eh gak apa - apa atuh"
"eh udah terima aja" paksa Yuda.
Dengan tersenyum ibu itupun menerima pemberian dari Yuda.
"makasih atuh yah"
"iya bu, sama - sama"
Yudapun pergi melangkahkan kakinya pergi menuju rumah pak Dadang.
"eh nama kamu siapa?" tanya Ibu itu.
"Yuda, bu" jawab Yuda menoleh, kemudian berjalan kembali.
Setelah bertanya - tanya pada warga sekitar, Yudapun akhirnya sampai di rumah pak Dadang. Diapun lalu mengetuk pintu rumah pak Dadang itu.
Pak Dadangpun membukakan pintunya. Dia menatap bingung pemuda yang ada di depannya itu.
"Assalamualaikum" salam Yuda.
"Waalaikumsalam" jawab Dadang.
"ada apa yah?" tanya pak Dadang.
"perkenalkan namaku Yuda. Ini benar dengan pak Dadang?"
"iya?"
"sebenarnya aku kesini ingin meminta maaf karena telah memetik ranting pohon yang ada di kampung sebelah. Mohon maaf aku telah lancang memetiknya tanpa seijin bapak"
"hah?" bingung pak Dadang.
"Apa ini teh? Dia jauh - jauh dari kampung sebelah hanya untuk meminta maaf karena memetik ranting?" batin Abah Dadang.
__ADS_1
"atau ini trik penipuan?" prasangka batin Abah Dadang.
"apakah bapak memaafkan aku dan ridha aku memetik ranting itu?"
Abah Dadang hanya terdiam merasa bingung. Benarkah ini? Di zaman ini, masih ada orang yang meminta maaf hanya karena takut pemilik pohon tak ridha pohonnya di petik.
Yudapun mengeluarkan uang sebesar lima puluh ribu.
"apa segini cukup?" tanya Yuda.
"hmmm... Tapi kalau menipu? Kenapa juga dia mengeluarkan uang?" batin Abah Dadang benar - benar bingung.
"tunggu, ayo masuk dulu" ajak Abah Dadang.
"baiklah pak"
Abah Dadangpun kemudian duduk di sebuah sofa, namun Yuda masih berdiri.
"ayo duduk" ucap Abah Dadang mempersilahkan duduk.
"oh makasih pak" Yudapun kemudian duduk.
"Hmmmm... Benar - benar akhlak yang baik" batin Abah Dadang.
"kamu asalnya dari mana?"
"aku sih berasal dari Ciamis. Kemudian setelah aku lulus pesantren di Tasik, aku berniat untuk menemui uwa ku di Cihasem" uwa dalam bahasa sunda berarti paman.
"kemudian aku menginjak permen karet, dan memetik ranting pohonmu untuk membuangnya. Sekali lagi minta maaf"
"ouh begitu"
"lulusan pesantren?" kaget Abah Dadang.
"pantesan akhlaknya mulia"
Tiba - tiba lampu ide muncul dari kepalanya.
"Kalau dia jadi suami Isma pasti bagus. Anak tidak ada akhlak itu mungkin luluh oleh orang ini"
"Ya Allah, apakah ini petunjukmu?"
"kerjamu apa jang?"
"Ouh tidak. Aku belum kerja. Tapi alasan aku menemui uwa ku di Cihasem aku mau mulai berbisnis untuk mendapatkan tujuh dari sepuluh rizkiku"
"Huahhhh!!" kaget hati Abah Dadang.
"itu dari salah satu hadist" lanjut batinnya.
"kalau begitu. Berapa yang bapak mau, agar bapak ridha aku memetik ranting itu"
Abah Dadangpun memejamkan matanya, kemudian membuka matanya kembali.
"tidak usah kamu bayar" ucap Abah Dadang.
"wahhhhhh" senang Yuda.
"tapi kamu harus bekerja di peternakan saya selama dua bulan. Apa kamu bersedia?"
Darma terdiam. Hanya karena memetik ranting, dirinya harus bekerja selama dua bulan.
"apa setelah itu bapak akan ridha?"
"iya" angguk Abah Dadang.
"baiklah kalau begitu" jawab Yuda setuju.
"kalau begitu, kamu tinggalah dulu di sini. Kebetulan ada kamar kosong"
"eh bolehkah?"
"iya"
"makasih kalau begitu"
Akhirnya Yudapun menyetujui dirinya bekerja di peternakan Abah Dadang. Dia melakukannya dengan ikhlas, walaupun tidak di gaji. Yang Yuda inginkan hanyalah agar Abah Dadang meridhai Yuda memetik ranting pohon itu.
__ADS_1
"akan ku jodohkan kalian berdua hehe" batin Abah Dadang.
TBC