
Yuda menatap Isma dan juga Abah Dadang. Tak di sangka dirinya yang di sangka maling, malah duduk bersama di meja makan.
Isma menatap Yuda. Tatapan Yuda nampak mencurigakan di mata Isma.
"Mungkinkah dia mengguna - guna abah?" terka batin Isma.
"AAAHHHH... GAWAT KALAU BENAR TERJADI" teriak hatinya.
"aku harus melindungi abah. Walaupun si abah rada gelo, tapi dia tetap abahku" Gelo dalam bahasa sunda berarti gila. Emang gak ada akhlak si Isma yah, menyebut abah sendiri dengan sebutan gila.
"abah mau masak apa? Biar Isma aja atuh" ucap Isma pada abahnya yang entah memasak apa sehingga keluar asap tebal.
"Tidak anakku. Abah sudah merasa bersalah, telah menuduh nak Yuda yang bukan - bukan" jawab Abah dengan wajah yang dipaksakan di ganteng - gantengkan.
"Ini adalah penebusan dosa abah nak"
Duskkkkk.... Masakan abah meletup menyembur wajahnya.
"Ohok... Ohok..." Abah Dadang terbatuk tersedak asap.
"abah tidak apa - apa?" tanya Yuda.
Isma menatap seram Yuda.
"jangan so perhatian yah!" larang Isma.
Yuda menatap Isma, kemudian tak menghiraukan ucapannya barusan. Diapun lalu berdiri dan berjalan menuju tempat abah Dadang.
Ismapun curiga, Yuda akan melakukan hal yang buruk pada abahnya.
"HAHHHH... GAWAT! Bagaimana kalau orang itu mau membekam abah dengan sempaknya?" batin Isma.
"Abah bisa kehabisan napas karena baunya lalu pingsan. Setelah itu, dia pasti mau merampas harta kami"
Ismapun berdiri kemudian berjalan mengikuti mereka.
"apinya jangan terlalu besar atuh bah. Jadinya kan gosong" ucap Yuda.
Yudapun menurunkan api kompornya.
"emang apa yang abah masak?" tanya Yuda.
"tumis garam"
"cuma garam doang?" bingung Yuda.
"ada kangkungnya sebagai bumbu"
"atuh kebalik abah. Garamnya yang sedikit, kangkungnya yang di banyakin"
"eh si abah mah. Abis atuh garam" sahut Isma.
"sini biar aku yang masak" Isma menyerobot, membuat Yuda menepi.
"ayo bah kita mah sebagai lelaki harus mengalah" ucap Yuda.
"eh Barakokok kamu mah. Ya gak boleh ngalah atuh. Lelaki teh kan imam" jawab abah Yuda.
"tapikan Isma anak abah. Sudah sepatutnya atuh abah di layani sama Isma" jawab Yuda.
"Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di surat Al - Ankabut ayat 8 :
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ حُسْنًا ۗ
wa washshoinal-ingsaana biwaalidaihi husnaa,
"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya." jelas Yuda.
"nah Isma sedang melakukan kewajiban ini bah"
Abah pun menundukkan kepalanya. Yuda bingung melihatnya.
"Yudaaaaaaa" tangis abah Dadang memeluk Yuda.
"eh kenapa bah?" bingung Yuda.
"ABAH TERHURAAAA" teriaknya.
__ADS_1
"terharu bah"
"iya ituh" abah melepaskan pelukannya.
"apaan sih abah lebay!" ucap Isma.
Isma sedikit menatap Yuda.
"Ternyata orang ini pintar berdalil" batin Isma.
"tapi tunggu dulu. Yang pintar berdalil, belum tentu orang baik. Contohnya ada tuh *******"
"kamu cemburu yah. Abah peluk Yuda" tunjuk abah.
"Hahhhh!?!? Untuk apa aku cemburu?" sangkal Isma.
"kan kamu udah lama gak di peluk abah" jawab Abah.
"ehhh aku mah lebih rindu di peluk ibu" jawab Isma.
Abah Dadang pun terdiam mendengar perkataan Isma barusan. Ternyata benar, Isma belum ikhlas dengan kepergian ibunya.
"aku rasa, aku juga rindu padamu Aida" hati abah Dadang merasakan kesedihan. Ruang rindu pada istrinya kembali muncul.
Isma yang melihat abahnya jadi terdiam, dia merasa jadi tidak enak dengan perkataannya.
"perasaan canggung apa ini?" batin Yuda. Melihat keheningan di depan matanya ini. Diapun harus melakukan sesuatu agar mereka kembali ceria lagi.
"baiklah aku ke meja dulu" pamit Yuda.
Dia pun berjalan. Lalu pura - pura tergelincir dan terjatuh. Yuda berharap dengan dirinya terjatuh dapat membuat mereka tertawa dan bercanda kembali.
Alhasil dia pun menatap mereka. Mereka hanya terdiam heran menatap Yuda.
"kenapa kamu ini?" heran Isma dengan ekspresi Datar.
"GAGAAALLLL" teriak hati Yuda.
"hey kamu tidak apa - apa?" ucap abah Dadang menghampiri.
"enggak bah. Cuma tergelincir" jawab Yuda.
Namun ketika hendak berdiri...
Srekkkkkkk.... Suara celana Yuda sobek.
"Hah!?" kaget Yuda. Yang sobek pas bagian belakang pula.
"Astagfirullah" kaget abah Dadang "Bolong Yud" ucapnya.
"pppffftttt..." Isma menahan ketawanya.
"Hahaha... Kamu ini " ngakak abah Dadang.
"itulah gak hati - hati sih hahahahahaha" ketawa abah Dadang semakin keras.
Dengan keadaan malu, Yudapun berjalan pergi sembari menutupi area celananya yang sobek.
"hahahahahahahahaha" ngakak Isma.
"sob...sobeknya panjang se... Kali haha" Isma tertawa memegangi pundak abahnya.
Di balik terbahak - bahaknya abah Dadang tertawa. Dia melihat Isma yang sedang tertawa lepas.
"aku belum pernah melihat dia tertawa seperti ini lagi semenjak kepergian Aida" batin Abah Dadang.
"terima kasih Yuda" ternyata abah Dadang mengetahui Yuda tadi yang pura - pura jatuh. Namun dia yakin kalau celana sobeknya itu bukan settingan, melainkan asli tanpa rekayasa haha.
*****
Setelah berjamu makan, Yudapun di ajak oleh abah Dadang ke kandang ayam dan kambingnya. Dia di ajari cara merawat dan memberi makan hewan ternaknya. Abah Dadang mengajari Yuda secara mendalam dan sejelas mungkin. Yudapun mengerti dengan apa yang di jelaskan abah Dadang.
"nah untuk mengetahui ayam sudah ingin makan apa belum? Kita pegang kotoran ayamnya"
"oh begitu" Yudapun mencolek kotoran ayam.
"kenapa kamu mencoleknya? Abah cuma bercanda"
__ADS_1
"Hah!?!?" kaget Yuda. Dengan segera Yudapun mengelapkan tangannya pada papan yang ada di sana.
"hahahaha" abah Dadang kembali tertawa kembali.
Yudapun mencium bau tangannya.
"woeeekkkkk... Bau" ucapnya.
"haha" Abah Dadang tertawa.
"abah ini bercanda mulu" kesal Yuda.
"haha maaf maaf"
"aku mau membasuh tangan dulu"
"ohoho baiklah.. Baiklah"
Yudapun pergi untuk membasuh tangannya dengan sabun. Kemudian iapun kembali lagi.
"sudah gak bau?" tanya Abah Dadang.
"enggak haha" jawab Yuda terkekeh. Dirinay jadi merasa lucu sendiri pada dirinya. Mau aja di kerjai sama abah Dadang.
Setelah selesai mengunjungi kandang dan cara mengelolanya. Merekapun kembali ke dalam rumah.
Senja sudah menghiasi langit. Pertanda matahari pamit. Kemudian merekapun pergi untuk pergi ke mesjid untuk melakukan sholat magrib sampai isya berjamaah.
Ketika hendak pulang, teman - teman Isma pun mulai kepo, Kenapa Yuda dekat sekali dengan abah Dadang.
"itu siapa yang dengan abah kamu Ma?" tanya Wati.
"sepupu kamu?" timbrung Nia.
"sodara kamu?" Lisa tak mau kalah.
"ataukah pacar kamu?" terka Wati.
"Ehhhh.... Sembarangan" sangkal Isma.
"lumayan manis orangnya" ucap Lisa menatap Yuda.
"siapanya kamu atuh? Jadi penasaran" tanya Lisa.
"bukan siapa - siapa" jawab Isma.
"eh... Gening?" heran wati yang artinya "eh... Kenapa?"
"dia itu katanya hanya kerja di peternakan abah aja" lanjut Isma.
"emangnya abah kamu bisa ngegaji?" heran Nia.
"yah bisa atuh. Abah Dadangkan pensiunan PNS" jawab Lisa.
"udah atuh ngapain kepo sama dia" henti Isma.
"yah da manis atuh Ma" ucap Lisa.
"iya ih" jawab Nia dan Wati serentak.
"udah atuh ayo pulang" ajak Isma kemudian berjalan pergi.
"eh si Isma mah" kesal Lisa.
Merekapun lalu pulang ke tempatnya masing - masing. Dan Isma kini dia harus pulang bersama abahnya dan dengan orang yang sudah ia sebut maling di siang tadi. Yuda.
"kenapa gak pake peci?" tanya Isma pada Yuda. Dia heran mengapa dia sendiri yang tidak menggunakan peci.
"oh enggak aja" jawab Yuda.
"lagian peci kan bukan rukun sholat" lanjutnya.
"hah?" bingung Isma.
"yang penting rambut jangan menghalangi dahi ketika sujud. Toh, waktu wudlu kan aku basuh rambut sedikit. Lalu ku sisirkan ke pinggir"
"ouh begitu"
__ADS_1
Merekapun sampai di rumah. Isma jadi bingung kembali, kenapa Yuda ikut ke rumah nya kembali. Apakah dia mau menginap di rumahnya?
TBC