
Hari ini hari pertamaku di jauh dari kampung dan tinggal disebuah apartemen yang notabene di kategorikan dengan kemewahan namun bagiku hanya seperti tempat menampung keluh kesah dan lelahku saja karna di tempat ini aku akan menjalani hidup baruku.
Kringgg kringgg...
Bunyi dari handphone ku nyaring disitu tertulis nama makwekku iya makwek ku sudah seperti ibu bagiku karna dia yang merawatku hingga aku menyelesaikan s2 ku di universitas negri di daerahku meski dengan beasiswa dan dengan usia ku yang masih duapuluh dua tahun aku sadah menyelesaikan study magister bisnisku.
Meski aku merantau karna hinaan dan cemooh lingkungan namuan aku mendedikasikan diriku bekerja untuk membahagiakan ibu dan mak wek serta pak wek ku.
Makwek hanya menanyakan keadaanku dan ternyata ibuku sedang dirumah makwek dan akhirnya kami ngobrol bertiga.Meski ibu ku tetap menyayangiku namun aku tidak bisa menerima kebaikan bapak tiriku yang selalu mengungkit apa yang pernah ia berikan.
Biaya kuliah bahkan uang yang ibuku berikan akan di ungkitnya saat ia merasa kekurangan uang untuk anak kandungnya.Meski diluar terlihat biasa saja namun itu yang kualami dan kurasakan selama dua puluh tahun.
Papa yang baru saja aku jumpaipun sudah memiliki kehidupannya meski aku belum sekalipun berjumpa dengannya.Hari ini hari minggu dan aku belum memiliki kenalan yang bisa aku ajak keluar sekedar mencari makan atau ke salah satu swalayan untuk mencari kebutuhan rumah.
__ADS_1
Aku memesan grab dari aplikasi yang ada di handphone ku dan aku tak menyadari bahwa orang yang tinggal berhadapan dengan flat ku pun juga keluar.Aku menunggu sambil memainkan ponsel ku di depan lobby apartemen, setelah menunggu sepuluh menit grab pesanan ku sudah tiba dan aku langsung otw ke tempat tujuanku.
Aku mencari beberapa bahan makanan dari sayuran daging dan ikan meski ku beli dalam jumlah yang sedikit namun aku bersyukur uang yang diberikan makwek ku masih cukup hingga dua bulan kedepan.Makwekku tidak memiliki anak dan hanya akulah yang dia miliki sebagai anak.
Aku selalu diberikan uang jajan yang cukup bahkan lebih karna pakwek dan makwek ku punya kebon karet dan sawit yang lumayan jika hanya untuk keperluan bulanan jauh dari kata cukup bahkan bisa ditabung.Meski mereka hidup hemat dan seadanya namun merek aselalu menjadikan keperluanku sebuah prioritas utama.
Hingga aku melampirkan lamaran pekerjaan pakwek bahkan melarangku dan menyruhku mengelola kebun sawit dan karetnya saja.Meski aku ingin namun saat ini aku akan membuktikan pada lingkungan makwek dan pakwek bahwa pendidikanku dapat berguna dan aku bisa bekerja tak bergantung pada makwek pakwek.
Makwek ku selalu megkhawatirkan aku jika aku sakit karna aku paling tidak bisa terkena hujan dan aku juga alergi dingin.Makwek selalu memperhatikanku selama ini memperhatikan kenyamananku dan kelayakam hidupku.Meski aku terlahir bukan dari rahimnya namun akau memperlakukan makwek dan ibuku selalu sama .
Aku selalu merasa insecure dengan keadaanku makanya makwek selalu memberikan fasilitas yang sebenarnya berlebihan untukku.
Aku membalas wa makwek dengan sukacita dan besok aku akan cari mobil sesuai dengan uang yang dikirim makwek ku.Sebenarnya bukan ibuku tak peduli padaku hanya saja aku yang melarang agar ibuku tidak memberikan aku uang atau fasilitas lainnya karna aku tak mau bapak tiri ku mengungkit itu.
__ADS_1
Aku berjalan keluar dan menunggu grab yang ku oesan sampaidan langsung cuss kembali ke flatku.Sampai di flat ku aku segera menata belanjaanku dan membersihkan dapur serta memebersihkan flat yang akan ku huni selama aku bekerja disini.
Tak terasa sudah maghrib dan aku memutuskan untuk mandi.Setelah mandi aku sholat dan mengaji sedikit.
tokk tokk tokk..
Aku yang baru selesai mengaji langsung keluar dan membuka pintu.
"Maaf mas ada yang bisa saya bantu?"aku bertanya
"Tolong bantu pasangkan gas saya telfon teman saya sedang dalam perjalanan" jawabnya dingin
"ohhhh... sebentar saya ganti dulu mas" aku jalan masuk kekamar san berganti pakaian.
__ADS_1