
Saat rei kembali ke apartemennya dia berhenti di depan pintu flat tiwi.Rei sebenarnya ingin mengetuk pintu flat tiwi namun ragu karna sudah jam sebelas malam.Rei membawa kopi dan cake untuk tiwi namun rei ragu untuk mengetuk pintu.
Hati rei gelisah sebelum memastikan keadaan tiwi.Rei mengambil ponselnya lalu mendial nomor tiwi.
tutttt..tuttt...
"Assalaamualaikum mas" salam tiwi
"Eh waalaikumsalam dek, tiwi kok belum tidur?" tanya rei
"Hemm mas tadi manggil tiwi apa?" tanya tiwi
"Hehh maaf tiwi kelepasan.Tiwi kalau belum tidur bukain pintunya dong" pinta rei
"Oh sebentar ya mas" tiwi mematikan telfon dan keluar kamar membukakan pintu
__ADS_1
"Ada apa mas?" tanya tiwi
"Mau mastiin aja tiwi masih sehat soalnya mas kuwatir liat tiwi tadi.Nih buat tiwi" sambil menganggsurkan kopi dan cake yang di bawa rei ke tiwi
"Oh makasih mas, malah ngerepotin mas" jawab tiwi
"Gk kok wi soalnya sekalian aja.Duduk situ yuk sebentar sambil ngobrol, kali aja kan kamu butuh tempat buat sandaran" goda rei yang buat muka tiwi merah padam karna malu
"Oh ayok mas lagian dua cup kopi ga akan abis sama tiwi ini mas" jawab tiwi sambil mengikuti langkah rei menuju kursi yang dekat dengan lift
Huuhhhh tiwi membuang nafas kasar.
Jadi mas sebenernya tiwi bukan orang yang mau ngumbar masalah pribadi tapi karna mas denger dan biar ga jadi salah paham atau mas bingung jika nanti ada yang datang keseni dan bilang orang tua tiwi ada tiga mas.
Jadi tiwi itu punya ibu kandung yang nikah lagi itu orang tua tiwi yang pertama.Terus yang kedua papa tiwi yang nikah lagi dan tinggal di jawa tengah.Yang ketiga bude dan pakde yang sudah angkat tiwi jadi anak mereka dan tiwi panggilnya makwek pakwek.
__ADS_1
Tiwi itu dari kecil jauh sama papa mas , mungkin bisa dibilang orang tua tiwi egois menurut tiwi.Ibu yang dengan egoisnya ingin menjadi seorang guru dan papa yang menjadi kepala rumah tangga merasa tersingung karna ibu gk mau ikut papa pindah tugas.
Karna mereka tiwi akhirnya diangkat anak oleh makwek pakwek. Awalnya tiwi gk mau ibu nikah lagi tapi karna waktu ibu nikah tiwi masih sekolah dasar kelas satu yang masih enak dibohongin jadi ibu menikahlah dengan bapak yang sekarang mas
Tiwi gk mau ikut ibu karna tiwi gk suka sama bapak tiri tiwi, sampai pada akhirnya tiwi kelas empat sekolah dasar dan disitu tiwi diangkat menjadi anak oleh pakwek dan makwek karna mereka tidak punya anak, sejak itu ibu jarang nemuin tiwi dan bahkan papa tiwi gk pernah sekalipun jengukin tiwi.
Secara garis besar tiwi itu gk pernah liat wajah papa tiwi sampai kemarin umur tiwi dua puluh satu tahun mas dan selama itu tiwi hanya memendam rindu sama papa hanya tau cerita sosok papa tiwi.Semua orang menghina tiwi karna gk punya papa semua orang ngerendahin tiwi karna tiwi anak angkat mas.
Tiwi gk mau kok sebenarnya diangkat anak tiwi juga ga mau ditinggal papa mas.Apa salah tiwi sampai semua orang menghina menghujat bahkan merendahkan tiwi.Selama ini tiwi diem mas karna tiwi merasa seperti itu bahkan tiwi gk pernah punya temen karna temen tiwi hanya mau manfaatin tiwi aja mas.
Sampai pada saat tiwi putusin buat cari papa sendiri dan akhirnya tiwi bisa ketemu papa meski dalam keadaan tiwi kecewa.Tiwi kecewa karna merasa hidup tiwi gk berguna buat ibu atau papa mereka bahagia bersama hidup mereka tapi disini tiwi yang menderita.Tiwi bahagia liat mereka bahagia tapi mereka tak pernah sedikitpun peduli sama keadaan tiwi mas.
Tangis tiwi makin pilu dan membuat rei langsung memeluk tiwi menyandarkan pada dada rei.Tiwi yang menangis sesenggukan mulai sedikit tenang dan mulai terdengar dengkuran halus dari bibir mungilnya.Rei tersenyum saat merasa jika tiwi tidur dalam pelukannya.
Rei membawa tiwi ke flatnya karna pintu flat tiwi terkunci dan rei tidak tau paswordnya.Rei membawa tiwi ke kamar tamu yang ada di flatnya.Dia menidurkan tiwi dengan hati hati dan lembut agar tak mengusik tidur tiwi.
__ADS_1
Rei berjanji akan melindungi tiwi dan akan menjaga serta membahagiakan tiwi.Rei menatap wajah sendu tiwi yang sembab karna terlalu lama menangis.Rei menyingkirkan rambut di wajah tiwi dan memandang penuh sayang.