
Falsh back
Dalzen duduk di Kursi, lalu meronggoh ponsel yang ada di atas meja kerjanya. setelah itu ia menghubungi nomor seseorang disana.
"KENAPA DIA BELUM DATANG JUGA? Dalzen berbicara dengan nada tinggi.
"Gua udah ngelakuin apa yang lo suruh. Masalah dia datang atau enggak, itu gak ada kaitannya sama Gua."
"Bisa jadi Kau tidak memberikan kartu itu!"
"Awalnya si begitu, " Sesuai permintaan lo Gua udah ngejagain dia, selalu ada buat dia, Apa lo tau? Perintah lo itu bikin Gua tertarik dengannya." jawab seseorang di seberang sana, sambil tertawa ria.
"Brani-braninya Kau menaruh hati padanya!
"HAHAHA... dia bukan milik lo lagi kan?"
Dalzen menggempalkan tangan. lalu berdiri kemudian memukul meja kerjanya.
"KAU.. !!"
"Gua cuman mau ngingetin, kalau lo udah ninggalin dia selama 7 tahun. menggantungkan hubungan kalian tanpa kepastian. dan sekarang seenaknya lo datang di kehidupan dia yang sudah hidup bahagia.
Lalu orang itu memutuskan sambungan telfon secara sepihak.
Dalzen kembali duduk lalu menyandar bahunya. Kepalanya mengadah ke atas sambil menjambak rambutnya dengan keras. dia merasa frustasi. adik yang ia percayai selama ini malah menyukai wanitanya. Kemungkinan besar laporan aktifitas wanitanya yang di berikan adxnya beberapa waktu silam adalah berita bohong. memikirkan itu membuat Dalzen barteriak seperti orang gila.
"tuk, tuk, tuk"
Dalzen menghenikan Aktivitasnya itu.
"Masuk"
"Jangan Gumun, Tadi Gue ngerasain ada hawa aneh di sini, makanya Gue ketuk pintu dulu." kata orang itu seakan-akan mengerti apa yang ada di kepala Dalzen. Dia Aldi, sekretaris Dalzen sekaligus sahabat karibnya.
"Gw mau kasih tau, kalo di bawah ada cewek lagi yang mau nglamar kerja." jelas Aldi lalu duduk di atas meja yang ada di depan Dalzen. Dalzen memasang muka datar. tidak tertarik dengan berita yang di bawa sekretarisnya itu.
"Aku tidak membutuhkannya lagi"
"Kau serius?, Apa wanitamu sudah ketemu?"
"hmmm.. "
"Apa wanitamu itu punya saudara kembar?"
__ADS_1
Dalzen tidak menjawab.
"Wanita yang di bawah sangat mirip sekali dengan Wanitamu" Lanjut Aldi. lalu meletakkan ponselnya di depan Dalzen.
"Pakaian yang dia pakai mirip sekali dengan yang di foto." Aldi juga meletakkan foto polaroit berukuran 4x4 di samping ponselnya itu.
Dalzen menatap Aldi sekilas, lalu mengambil kedua benda tersebut secara bersamaan. kemudian melihatnya secara bergantian.
mata Dalzen membulat. itu benar-benar wanitanya! Dalzen berdiri, lantas ingin segera menemui sosok wanita yang sangat ia rindukan. dan Melupakan semua rencana yang telah dia susun sejak kemarin.
ketika tangannya hampir meraih ganggang pintu
" Dia tidak akan jadi berkerja disini jika Kau menemuinya sekarang."
Aldi mengingatkannya akan hal penting itu.
"Kalau begitu temui dia, katakan perusahaan membutuhkan sekretaris baru. dan berikan kontrak kerja yang sudah Ku buat kemarin."
"Kau benar-benar akan memberikan posisiku untuk wanitamu?" protes Aldi dengan wajah yang dibuat memelas.
Dalzen membalikkan badannya. lalu metap Aldi dengan tajam. Aldi membalasnya dengan menyengir kuda.
"Ah, tidak masalah juga jadi kariawan biasa, toh gajiku akan di bayar dua kali lipat dari biasanya" lanjut Aldi lalu turun dari meja lantas melenggang keluar sambil bersiul. melewati Dalzen yang masih berdiri disana.
Aldi menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah Dalzen, yaitu Menemui wanita kesayangannya itu menerima map yang di berikan wanita Dalzen lalu membukanya perlahan. Sekilas Dia membaca Tulisan besar yang paling menonjol. "Lisa Ahya Tanasya" setelah itu Aldi menyunggingkan senyumnya. ia hanya membaca nama Lisa. tanpa mau bersusah payah melihat berapa Nilai IPK Lisa di sana. baginya percuma saja, mau Lisa mendapatkan nilai IPK bagus ataupun jelek, Lisa tetap akan diterima di perusahaan ini.
Di saat itu Lisa melihat seseorang yang tidak asing di matanya keluar dari ruang yang tak jauh dari tempat Lisa berada. Lisa mencoba mengingat dan menarik memori lamanya. namun sejurus kemudian fokusnya tubuyarkan
"Tunggu sebentar ya Nona Lisa"
Lisa mengangguk.
Aldi membawa map itu keruangannya. Setelah itu mengambil map yang berisi surat kontrak kerja lisa disana.
Lisa menunggu dengan jatung yang berdebar. tangannya panas dingin. Lisa meremas ujung roknya untuk meredakan rasa gugup sambil memejamkan mata dan menggit bibirnya. Lisa berdoa kepada Tuhan berharap perusahaan ini mau menerimanya disini.
Tanpa Lisa ketahui seseorang tengah mempertikan tingkah lakunya itu.
Aldi kembali dengan menenteng map di tangannya. Mata Lisa tertuju pada map berwarna senada dengan map yang ia bawa tadi.
Lihatlah ijazahku kembali lagi. Sebaiknya Aku tidak perlu berharap terlalu tinggi, Karana akan menyakitkan sekali terhimpit oleh harapanku sendiri
Lisa tersenyum kecut ketika map itu di letakkan di hapannya. tangannya terulur untuk mengambil map tersebut. Namun, ketika tangannya baru di atas udara, lelaki dihadapannya ini menjabat tangannya secara tiba-tiba
__ADS_1
"Selamat ya Nona Lisa, Anda di terima berkerja disini." dan ini kontrak kerja Anda."Aldi mendorong map itu beberapa cm lebih maju. lantas membukanya
"Anda bisa tanda tangan di sini" jelasnya lalu mengambil pulpen dan memberikanya kepada lisa.
Lisa terdiam menatap map itu.
"B-bapak serius?" lisa menyadari kata yang keluar dari mulutnya barusan. Lantas menatap lelaki di hadapnya itu. Jika dilihat lelaki itu mungkin seumuran dengannya. Bukankah tidak pantas jika di pangil Bapak?
"Maaf, saya tidak bermaksut
"Ah tidak apa-apa, panggil saja Aldi. Umur kita cuman selesih 3 bulan kok"
"Dari mana Anda tau?" Lisa mengerut keningnya. Seingatnya dia belum pernah mengatakan tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya di depan pria ini.
"map yang kau bawa tadi yang memberi tahuku"
Lisa menggangguk mengerti. Lantas melakukan tugasnya yang tertunda beberapa detik yang lalu. Sukses menandatangani ketas itu, Lisa merasa ia telah melakukan kecerobahan besar. Bagai mana bisa ia menandatangani sebuah surat kontrak, sedangkan dia sendiri belum tau pekerjaan apa yang akan dia lakukan nanti. Lisa membaca keselurahan isi dari surat itu. Matanya membulat. Antara percaya dan tidak. di satu sisi dia sangat senang, di sisilain bagai mana jika Aldi salah memberikan surat?
"S-sekretaris?
"iya, Apa kau tidak suka?"
"B-bukan begitu, C-coba Kamu katakan posisiku yang sebenanya"
"Kau Akan menjadi sekretaris CEO perusahn ini.'
Lisa tersenyum bahagia, matanya berkca-kaca. Sungguh posisi yang tidak pernah ia duga. melihat itu Aldi juga ikut tersenyum. bagi Aldi Lisa adalah gandis yang manis. terlintas pertanyaan di pikirannya, bagai mana reaksi Dalzen ketika berhadapan dengan Lisa secara langsung ya? Menerkamnya? Menciumnya? atau- Aldi menyengir dan mnggelangkan kepalanya.
Melihat itu Lisa mengira bahwa Aldi sedang menertawakan dirinya. dengan cepat Lisa mengusap butiran air mata di kelopak matanya.
Aldi berhenti menyengir. "Maaf,"
"Mulai besok Kau sudah bisa berkerja disini"
"Baik" Lisa mengangguk mantap. "Kalu begitu Aku Permisi" Lisa mengambil tasnya lalu berdiri.
"Tunggu, "boleh Aku minta nomormu?"
Lisa mengangguk tanda setuju.
Aldi mengambil posel di dalam saku celannya, lalu memberikananya pada Lisa. Lisa mengetik nomornya di sana, kemudian mengembalikan posel itu. Lantas pergi meninggalkan Aldi.
Senyuman licik terpancar di wajahnya.
__ADS_1