
Saat ini Dalzen sedang berada di ruangan CCTV perusahan. Dia melihat Lisa dari layar komputer tersebut. Awalnya Lisa bersikap biasa saja, tetapi setelah kepergian Aldi dia menjukan sikap yang sangat luar biasa. Lihatlah, Lisa meremas rok mini yang ia kenakan dan mengigit bibir bawahnya. Rasanya ingin sekali Dalzen mencicipi bibir itu sekali lagi. Pertama kali ia merasakan manisnya rasa bibir Lisa pada 7 tahun yang lalu. hari itu menjadi yang pertama kali dan yang terakhir kalinya untuk Dalzen.
Dan beruntung sekali adegan itu berakhir sebelum Aldi datang kembali. Lelaki manapun akan tergoda tak terkecuali rubah berkepala merah yang satu itu.
Dalzen menggempalkan tangannya ketika Aldi memminta Nomor Lisa. dia hanya menyuruh Aldi untuk menemui wanitanya dan menerima Lisa untuk berkerja di perusahaan ini. bagi Dalzen, Melakukan tindakan diluar perintah, itu merupakan pelanggaran. Dan setiap pelanggaran harus ada hukumannya. Dasar rubah berkepala merah, gerutu Dalzen di dalam hati.
Dalzen segera menemui Aldi saat itu juga. Dengan langkah cepat ia menuju ruangan Aldi dan mendapati Rubah itu tengan bersantai dengan meletakkan kedua kakinya di atas meja. santai sekali, seperti di pantai.
"Berikan Ponsel mu" Dalzen menadahkan tangannya kedepan muka Aldi.
"Sudah Gwe tebak" Aldi memberikan ponselnya itu ke pada Dalzen. Kemudian berisiul sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
Dalzen membuka Ponsel Aldi lalu mencari nama Lisa disana. sebelum menghapus nomor itu, ia mengirimkan nomor Lisa ke kontaknya melalui via wa terlebih dahulu, kemudian menghapus nomor itu sekaligus bekas kiriman tersebut.
"Untung tadi gwe nyatet nomornya" Ujar Aldi memanamanasi.
Mendengar itu Dlzen menghampiri Aldi.
"Dimana kau menulisnya? Berikan padaku!"
Dalzen menatap Aldi dengan tajam. yang di tatap masih tetap bersiul tak perduli.
Merasa kesal, Dalzen mencarinya di beberpa tumpukan kertas yang ada di menja Aldi.
__ADS_1
"hey apa yang kau lakukan?"
Dalzen terus mengobrak-abrik setiap tumpukan kertas itu, sehingga banyak kertas yang berjatuhan dilantai.
"Percuma kau mencarinya di sana, Kau cari di setiap sudut ruangan ini pun akan percuma, karna aku sudah menulisnya disini" Ujar Aldi menunjuk jari telunjuknya ke depan dada. Dalzen menghentikan aksinya, lalu mendekati Aldi.
"Buka bajumu"
"Apa kau sudah gila?"
"Kau buka bajumu! atau aku yang akan membukanya?"
Dalzen meninggikan suara. Tampak Aldi menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan pilihan yang di tawarkan Dalzen.
Dalzen mencopot Dasi yang ia kenakan. Dengan gerakan cepat ia memegang kedua tangan Aldi dengan satu tangannya, dan tangan yang satunya lagi mengikat tangan Aldi. Setelah terikat, Dalzen membuka kancing baju Aldi satu persatu.
"Di mana kau menyimpannya?"
"Kau sudah gila ya! Aku hanya bercanda Bodoh!" Maki Aldi.
Aldi mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Lain halnya dengan Dalzen. ia menyunggingkan senyumnya, menatap Aldi dengan tatapan puas.
"HEY! MAU KEMANA KAU DALZEN?"
__ADS_1
"LEPASKAN AKU!"
Danlzen tak mengbrisnya, lantas melenggang pergi begitu saja.
Setibanya di kos , Lisa melemparkan tas slempangnya di atas tempat tidur. lalu ikut merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling dengan kuat. Lisa tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Karna ia merasa sangat senang sekali, akhirnya bisa mendapatkan pekerjaaan.
Tiba-tiba ia tetingat sesuatu, buru-buru ia mengambil tas slempangnya lalu menghubungi ibu.
"Assalamualaikum bu"
"waalaikum salam nak"
"Bagai mana keadaan Ayah bu?" Lisa sangat mencemaskan keadaan ayahnya karna beberpa hari yang lalau ibunya sempat mengatakan bahwa ayah sering mengeluh kesakitan.
"Sudah membaik nak"
"Alhamdulliah, ibu sehat kan?"
"ibu sehat nak, kamu tidak usah kawatir" ujar ibu meyakinkan.
"iya nak, apa yang di katakan ibumu itu benar," masalah oprasi, Ayah sudah mengiklaskan semuanya nak, mungkin sudah nasip Ayah seperti ini." Sambung ayah.
"Tidak. Ayah tidak boleh bicara seperti itu."
__ADS_1
Lisa memberi tahu ibu dan Ayahnya, bahwa Harapan ayah untuk di operasi tidaklah sia-sia. karna sebentar lagi Lisa akan segera menghujutkannya. Lisa juga memberitahu bahwa dia juga di trima berkerja di perusahaan besar yang ada di jakarta. Mendengar berita itu, kedua orang tuanya sangat senang dan bahagia.